
* Assalamu'alaikum,,, dan selamat pagi.
Maaf,,othor baru up, kemarin lagi repot banget, sampe HP ga kepegang.
Happy reading,,
and lope sekebon buat kalian semua. "
*****
*
*
*
" Aku yang memilihmu dari pada harta dan jabatan. Aku butuh kasih sayang dan cinta dari mu. Aku merasa nyaman dan bahagia bersamamu. Jangan pernah lagi kamu mengatakan seperti itu,, Dan jangan lagi, airmata ini keluar dari mata indahmu. Aku mohon,,, dan aku sangat mencintaimu. "
Zehan melepaskan pelukannya dan mengecup kening Alish dengan lembut. Diusapnya pipi Alish yang basah karena airmata, dan kemudian dikecup nya juga kedua mata itu.
" Jangan pernah menangis lagi,,,. Dan jangan pernah tinggalkan aku. Tetaplah bersamaku, selalu,,,. Oke,,? "
Alish berusaha untuk tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Zehan kembali memeluk Alish, lalu merebahkan tubuhnya, dengan Alish yang masih ada di pelukannya.
" Sekarang kita tidur. Dan lupakan pembicaraan kita tadi, oke,, ? "
Lagi-lagi Alish hanya mengangguk tanpa menjawab. Hanya mengeratkan pelukannya sebagai jawabannya. Zehan kembali mengecup kening Alish, lalu mulai memejamkan matanya. Begitu juga dengan Alish, berusaha untuk tidur
Alish membenamkan wajahnya didada Zehan. Zehan yang menyadari itu, mengecup singkat kening Alish.
" I Love You,, sayang. " ucap Zehan pelan.
Alish tersenyum kecil dan hatinya kembali merasa tenang. Tak butuh waktu lama, Alish pun mulai terlelap. Zehan pun tersenyum saat mengetahui Alish sudah masuk kedalam dunia mimpinya.
" Aku berjanji padamu, sayang. Apapun yang terjadi,, dan bagaimana pun keadaanku,, aku akan selalu berada disampingmu. Walaupun aku harus hidup susah asalkan tetap bersamamu. Aku sangat menyayangi dan mencintaimu, istriku. " Zehan berucap dalam hati.
Perlahan,, Zehan menyusul Alish kedalam dunia mimpi. Mereka tidur tetap saling berpelukan. Alish seakan tidak ingin Zehan pergi,, begitu pun sebaliknya. Zehan memeluk Alish, karena takut Alish akan meninggalkan nya.
*
*
*
Sayup-sayup suara adzan subuh berkumandang. Zehan yang mendengarnya, sontak terbangun karena kaget. Dengan lembut, Zehan membangunkan Alish dan mengajaknya mandi bersama.
Mereka mandi bersama tanpa plus-plus. Benar-benar mandi besar, karena takut waktu shalat subuh terlewat. Selesai mandi, mereka langsung shalat berjamaah. Zehan terus berusaha menjadi imam yang baik untuk sang istri.
Setelah rapi shalat, Alish bergegas turun untuk membuat sarapan, sementara Zehan menghubungi Rayhan. Dan memberitahu nya kalau dia akan ikut kerjasama dengannya dan William.
Zehan yang kembali mengingat obrolan semalam dengan Alish, tiba-tiba dia teringat akan sang Mama, yang sudah lama tidak dijumpainya.
Dengan sedikit ragu dan cemas, Zehan menghubungi sang Mama. Setelah tiga kali berdering,, sambungan telepon pun diangkat.
" Hallo,,, ".
Suara sangat Mama terdengar serak, karena memang baru bangun tidur. Mata Zehan mulai berkabut,, dia sangat merindukan sang Mama.
" Hallo,,, "
__ADS_1
Suara diseberang kembali terdengar.
" Ma,,, "
Suara Zehan seakan tercekat saat akan bicara.
Tidak ada suara lagi, hanya terdengar suara orang berjalan. Mungkin sang Mama menjauh dari ranjangnya. Mungkin saja, ada Papanya disana.
Setelah beberapa saat,,,
" Ze,,, "
" Ma,,, "
" Ya ampun,, Ze. Mama kangen,, apa kabarmu, sayang,,? "
Suara Mama terdengar parau,, mungkin dia menahan tangis.
" Ze baik, Ma. Ze juga kangen Mama. Maafin Ze,, karena baru sekarang menghubungi Mama. "
" Tidak apa-apa, sayang. Mama sudah sangat senang kau mau menghubungi Mama. Bagaimana kabar menantu Mama,,? "
" Alish sedang membuat sarapan,Ma. Mama tadi masih tidur,,? Maaf,, kalau Ze sudah membangunkan Mama. "
" Tidak usah minta maaf,,, kapan pun Ze mau telepon Mama,, Mama akan sangat senang. Walau tengah malam sekalipun. "
" Mama apa kabar,,? Mama sehat,,? "
" Mama sehat, sayang. Papa juga sehat. Kau tidak menanyakan kabar Papa,,? "
" Mama pasti sudah tahu, kenapa Ze tidak bertanya. Sudah jangan dibahas. Ze cuma mau tanya,, apa Willi datang kesana,,? "
" Iya. Beberapa hari yang lalu,, saat dia baru saja tiba dari Korea. Dia menanyakan kabarmu. Mama tidak cerita apa-apa, hanya bilang kalau kau sudah tidak tinggal disini lagi. "
Sang Mama hanya tertawa mendengar gerutuan Zehan.
" Ma,,. Willi mengajak ku bekerja sama dengan perusahaan Papa untuk membangun perumahan elit. Mama tahu sendiri,, selain menjadi CEO diperusahaan Papa, Ze juga seorang arsitek. Willi memaksa Ze untuk bergabung. Bagaimana menurut Mama,,? "
" Apa Papa mu tahu,,,? "
" Tidak. Rayhan yang meng-handle semua. Papa hanya tahu tanda tangan saja. Ze bergabung dengan perusahaan Willi. Apa Mama akan marah,,? "
" Tentu saja tidak, sayang. Kau juga kan harus bekerja untuk memberi nafkah istrimu dan calon anak mu kelak. Oh ya,, bagaimana,,? Apa sudah ada tanda-tanda Mama akan segera mempunyai cucu,,? ".
" Ma,,,. Ihh,,, Mama ini,, membuat Ze malu saja. Ze baru unboxing Alish dua hari yang lalu. Bagaimana bisa sudah ada tanda-tanda,,? "
" Hei,,, bagaimana bisa,,? Kalian menikah sudah dua bulan lebih. Kenapa baru ***-***,,? ".
" Isshh,,, Mama. Selama dua bulan kemarin, Ze merenovasi rumah peninggalan orangtua Alish. Supaya lebih bagus dan lebih layak untuk ditinggali. Apalagi kalau nanti Ze diberi kepercayaan untuk mempunyai anak. Ze harus memberikan tempat tinggal yang nyaman untuknya, kan,,? "
" Kau benar, sayang. Kau benar-benar sudah berubah. Mama bangga padamu. "
" Terimakasih, Ma. Sudah dulu ya, Ma. Lain kali, Ze hubungi lagi. "
" Iya, sayang. Salam untuk menantu Mama. Kapan-kapan, Mama akan berkunjung kerumah kalian. "
" Iya, Ma. Love you,,, Ma. "
" Love you too, sayang. "
__ADS_1
Zehan mengakhiri panggilan teleponnya. Bibirnya tersenyum,, hatinya sedikit merasa lebih lega, karena sudah mendengar suara sang Mama. Dan sang Mama juga sudah memberinya ijin untuk bekerjasama dengan Willi.
Zehan beranjak dari atas ranjangnya dan turun kebawah, untuk melihat sang istri yang sedang memasak.
Alish tersentak kaget, saat ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya. Alish tersenyum, saat bibir Zehan mengecup tengkuk leher Alish.
" Masak apa, sayang,,? " tanya Zehan sambil menyandarkan dagunya dibahu Alish.
" Aku hanya memasak sayur sop dan balado telur. Apa tidak apa-apa, hubby,,? " Alish balik bertanya.
" Hmm,,, tidak apa-apa. Apapun masakanmu, akan aku makan. " jawab Zehan sambil mengecup leher Alish.
Walaupun merasa geli, namun Alish membiarkan suaminya itu. Alish mematikan kompor nya, dan memindahkan balado telur yang sudah dimasak nya kedalam piring.
Zehan melepaskan pelukannya. Dan membantu Alish mengambil mangkuk untuk menaruh sayur sop nya. Sementara Alish meletakkan piring yang berisikan balado telur keatas meja.
Zehan perlahan dan hati-hati, sedikit demi sedikit, Zehan memindahkan sayur sop yang berada didalam panci ke mengkuk besar yang dipegangnya.
Dengan beralaskan piring, mangkuk yang dipegang Zehan, tidak terasa panas. Zehan pun meletakkan nya keatas meja, setelah terasa cukup untuk dimakan berdua.
Alish mengambil kan nasi berserta lauk dan sayurnya untuk Zehan.
" Terimakasih, sayang. " ucap Zehan saat Alish meletakkan piring itu ke hadapan Zehan.
Alish hanya tersenyum sambil mengambil nasi dan lauk untuknya sendiri. Mereka pun mulai sarapannya.
Selesai makan, Zehan membantu Alish membereskan meja makan, sementara Alish mencuci piring.
" Sayang,,, kamu dapet salam dari Mama. "
Sontak Alish menghentikan kegiatannya lalu menoleh kearah Zehan.
" Mama,,,? "
" Hmm,, tadi aku baru saja menghubungi Mama. Aku rindu padanya sekaligus aku juga meminta pendapatnya tentang kerjasama bersama Willi dan Rayhan. " jelas Zehan.
" Mama apa kabar,,,? " tanya Alish.
Sebenarnya Alish juga sudah sangat merindukan Mama mertuanya itu. Hanya saja, Alish memendamnya selama ini. Karena sang suami tidak pernah membahasnya.
" Mama sehat. Mama bilang, kapan-kapan dia akan datang kesini. Dia juga merindukan kita. "
Mata Alish mulai berair. Hatinya merasa senang, karena Mama mertua nya ternyata masih mengingatnya sebagai menantu dan merindukan mereka. Alish terharu sekaligus bahagia.
Alish kembali melanjutkan kegiatan mencuci piringnya, agar Zehan tidak menyadari kalau Alish sedang menangis. Tangisan bahagia.
******
~~**Bersambung ,,,,
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
__ADS_1
❤❤❤✌✌✌**
*****