
Keesokan harinya,,
Rayhan dan William datang kembali kerumah sakit dengan membawakan sarapan untuk Alish. Mereka memutuskan untuk pulang, saat dokter sudah memperbolehkan pasien sudah boleh dikunjungi, dengan syarat harus satu persatu dan dengan menggunakan baju khusus.
Alish bersikeras untuk menginap dan menunggu Zehan di dalam ruangan. Walau sedikit risih karena harus menggunakan baju khusus,, namun Alish tetap berusaha keras untuk bertahan.
William mengetuk pintu begitu mereka sampai didepan ruang ICU, tempat Zehan dirawat. Alish menoleh kearah pintu dan dilihatnya William sedang mengintip.
Alish keluar dari ruangan itu,, setelah dia membuka baju khusus yang dipakainya. Alish keluar dengan tersenyum namun dapat terlihat dengan jelas wajah sayu dan mata pandanya.
" Pagi,, Kakak ipar. "
" Selamat pagi, Nona. "
" Pagi juga, Willi,,, Kak Ray. " sahut Alish dengan suara yang serak.
" Ini,, Willi bawakan sarapan untuk Kakak ipar. " William menyerahkan paper bag yang berisikan makanan yang tadi dia bawa dari rumah. Masakan sang Mommy.
Ya,, Mommy Sarah sudah sampai di Indonesia saat tengah malam. Mereka akan bergantian datang kerumah sakit. Saat ini,, Mommy melanjutkan istirahat nya, setelah pagi tadi membuatkan sarapan untuk suami dan anaknya. Mommy Sarah juga membawakan untuk Alish.
Alish menerima paper bag tersebut namun sambil menggeleng.
" Terimakasih,,. Tapi Kakak belum lapar. "
" Ayolah,, Kak. Dari kemarin siang Kakak ipar belum makan apa-apa. Jangan sampai Kakak ipar juga jatuh sakit nantinya. Hyeong bisa marah padaku. " bujuk William.
" Dan sebaiknya Nona pulang dulu untuk sekedar mandi dan istirahat. Biar saya dan Tuan Choi yang menemani Tuan Zehan. " lanjut Rayhan.
" Tapi,,,, "
" Tidak ada tapi-tapian,,,. Sekarang Kakak ipar pulang dulu. Mandi,, ganti pakaian lalu sarapan. Jangan lupa istirahat sebentar. Aku sudah menyuruh supir untuk menunggu didepan dan mengantar Kakak ipar pulang. " William memotong ucapan Alish.
Alish merasa terharu dengan perhatian yang diberikan oleh William dan juga Rayhan. Walaupun Alish tidak terlalu kenal dan akrab dengan mereka,, namun mereka masih tetap menghormati dan perhatian pada Alish.
" Terimakasih,,,. Baiklah,,, Kakak akan pulang. Kalu nanti ada apa-apa,, tolong segera kabari Kakak. "
" Siap,, Kakak ipar. "
Dengan berat hati, Alish memutuskan untuk pulang sebentar. Untuk mandi dan berganti pakaian. Dia juga nanti akan membawa pakaian ganti, supaya tidak terlalu sering meninggalkan Zehan.
Alish menatap untuk sesaat pintu ruang ICU,, lalu kemudian beranjak pergi. Di setiap langkah,, Alish selalu memanjatkan do'a untuk suami tercintanya.
Sesampainya di pintu depan rumah sakit,, Alish dihampiri seorang pria.
" Nona Alish,,,? " tanya pria tersebut.
" Iya, Pak. Saya Alish. "
" Mari silahkan masuk kedalam mobil, Nona. Tuan William sudah memerintahkan saya untuk mengantar Nona pulang. " ujar pria tersebut dengan sopan.
" Terimakasih, Pak. "
Alish pun mengikuti pria tersebut ke sebuah mobil. Pria tersebut membukakan pintu belakang mobil untuk Alish.
" Silakan, Nona. "
" Terimakasih. "
Alish pun masuk dan pria tersebut menutup pintu mobil. Dengan setengah berlari, dia berpindah ke pintu kemudi. Pria itu masuk dam mulai menyalakan mobilnya.
Mobil pun melaju, keluar dari area parkir rumah sakit tersebut. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Alish pun tak lupa menyebutkan alamat rumah nya pada pria itu.
__ADS_1
Setelah hampir satu jam,, mobil yang mengantar Alish pun tiba didaerah dekat rumah Alish. Dia pun turun dan tak lupa mengucapkan terimakasih.
Dengan jalan kaki,, Alish berjalan menyusuri gang masuk ke rumahnya. Air matanya kembali mengembang dipelupuk matanya, saat dia membuka kunci pintu rumah.
Memang biasanya hal tersebut dilakukan oleh Zehan. Dada Alish kembali terasa sakit dan sesak, membayangkan suaminya itu sedang berjuang untuk tetep bertahan hidup.
Dengan ujung jarinya, Alish segera menghapus air mata tersebut. Sambil menghela nafas panjang, Alish pun masuk kedalam rumah. Rumah yang sudah direnovasi penuh oleh Zehan, kembali membuat air mata Alish kembali keluar.
Dengan langkah yang terasa berat,, satu persatu tangga, mulai dinaiki Alish. Air mata nya kembali lolos saat Alish membuka pintu kamar, dan melihat foto pernikahannya dengan Zehan, yang memang sengaja Zehan pasang didalam kamar.
Alish berusaha untuk tegar dan kuat. Dia beranjak masuk kedalam kamar mandi,, untuk membersihkan tubuhnya. Sejak kemarin memang dia belum sempat mandi.
*
*
*
Sementara itu,,,
Di sebuah tempat dengan yang kosong, sunyi dan sepi. Ruangan yang berwarna putih tanpa ada jendela ataupun pintu.
Sepasang mata terbuka,, setelah lama tertutup rapat. Mata itu menelusuri seluruh isi ruangan putih tersebut. Ditatapnya tempat itu dengan seksama,, berusaha untuk mengingat tempat itu dan mengingat apa yang telah terjadi.
Mata itu tiba-tiba saja membelalak dan berair. Dia ingat tempat itu,, dan dia pun mengingat kejadian yang sudah dialaminya, hingga dia bisa sampai ketempat itu lagi.
Ya,,,. Dia adalah Zehan. Dia berusaha bangun dari duduknya dan berdiri. Dia menggelengkan kepalanya,, air mata nya sudah jatuh, mengalir di pipinya.
" *Tidak,,,. Kenapa aku kembali ketempat ini,,? Apakah kali ini, aku benar-benar sudah mati,,?. " ucapnya, berusaha untuk tidak percaya.
" Alish,,,. Apakah kali ini, aku benar-benar akan berpisah dengan mu,,,? Berpisah ruang,, tempat dan waktu, untuk selamanya. "
" Maafkan suamimu ini, sayang. Aku belum benar-benar bisa membahagiakanmu,, namun aku kembali harus pergi. Ikhlaskan aku,, agar aku dapat pergi dengan tenang, sayang*. "
Zehan kembali duduk,, dan mengenang serta mengingat kembali kisahnya bersama sang istri. Pertama kali pertemuan,, hingga akhirnya bisa menikah.
Hanya satu yang Zehan sesali. Dia merasa belum bisa membahagiakan Alish. Bahkan,, dia juga belum mempunyai keturunan saat dia mati sekarang.
Zehan menundukkan kepalanya, keningnya bertumpu dilengannya, yang dia letakan diatas lututnya. Mulutnya hanya mengucapkan satu nama,, Alish.
*
*
*
Setelah mandi,, berganti pakaian dan sarapan,, Alish memutuskan untuk kembali kerumah sakit. Alish juga membawa beberapa pakaian ganti dalam tas yang dibawanya.
Memesan ojek online untuk mengantarnya kerumah sakit. Setelah menyalakan lampu depan dan mengunci pintu, Alish pun meninggalkan rumahnya.
Alish menunggu ojek online nya di lapangan pinggir jalan. Dan setelah menunggu beberapa menit,, ojek itupun sampai. Alish naik ke motor tersebut setelah menyebutkan nama dan tempat tujuannya.
Motor itu pun melaju, menuju rumah sakit. Alish sengaja memilih motor,, supaya lebih cepat sampai dan tidak terjebak macet.
Alish sampai dirumah sakit setelah setengah jam perjalanan. Dia pun bergegas masuk setelah membayar ongkos ojeknya. Alish memicingkan matanya,, saat melihat William dan Rayhan dengan seseorang yang tidak dikenalnya, duduk dikursi depan ruang ICU.
" Will,,, " panggil Alish.
William menoleh, diikuti oleh Rayhan dan pria asing tersebut. William beranjak dari duduk nya.
" Kakak ipar,,,. Kenapa sudah kembali,,,? Kakak tidak istirahat,,,? " tanya William, sedikit cemas dengan kesehatan Kakak iparnya.
__ADS_1
Alish hanya menggeleng,, lalu meletakkan tasnya, dikursi samping Rayhan duduk.
" Kenapa kamu diluar,,,? " Alish balik bertanya.
" Ada Mommy didalam. Dan ini Daddy ku. " William memiringkan badannya, agar Alish melihat dengan jelas pria asing tersebut.
Pria tersebut memang sangat mirip dengan William,, namun terlihat lebih berumur dan dewasa. Pria tersebut bangun dari duduknya lalu mengulurkan tangannya pada Alish.
" Jonathan,,, "
" Saya Alish, Tuan. " sahut Alish, sambil menyambut uluran tangan Jonathan.
" Jangan panggil dia Tuan,, panggil dia Daddy Jo. " William meralat ucapan Alish.
" Ohh,, baiklah. Daddy Jo,, "
Jonathan tersenyum, seraya melepaskan jabatan tangannya.
" Kapan orangtuamu sampai, Will,,? " tanya Alish seraya duduk disamping William.
Rayhan sudah pindah tempat duduk, saat Alish tiba tadi. William dan yang lainnya pun kembali duduk.
" Tengah malam tadi. Mommy langsung terbang kesini, begitu aku menghubungi nya. " sahut William.
" Ada perkembangan,,,? " tanya Alish lagi,, dan William menggeleng sebagai jawaban.
Alish menunduk sedih sambil menghela nafas. Harinya mulai merasa takut dan cemas. Dia masih belum siap, jika harus kembali ditinggalkan oleh orang yang dicintainya.
Pintu ruang ICU terbuka,, dan keluar sosok wanita berumur namun terlihat sangat cantik. Alish mengangkat kepalanya untuk bisa melihat siapa yang keluar.
" Siapa dia,,? " batin Alish.
" Dia Mommy ku. " ucap William, seakan bisa menebak apa yang dipikirkan Alish.
Saat Mommy Sarah datang menemui Papa Zehan,, Mommy Sarah memang belum sempat bertemu dengan Zehan dan Alish, karena harus segera kembali kenegaranya.
Mommy Sarah keluar dengan berlinang air mata dan tangannya menutup bibirnya. Dia benar-benar tidak sanggup melihat keadaan keponakan sekaligus anak kesayangan nya itu, tengah terbaring lemah tak berdaya. Berjuang melawan maut.
" Mom,,, " William bangun dari duduknya diikuti oleh Jonathan.
Jonathan mendekat lalu memeluk Sarah. Tangisan Sarah semakin kencang hingga bahunya bergetar. Jonathan mengusap punggung Sarah,, berusaha untuk menenangkan.
Jonathan membawa Sarah untuk duduk, saat Sarah mulai tenang. Namun saat melihat Alish, Sarah mendadak berhenti lalu menatap Alish.
" Dia Kakak ipar, Mom. "
Seketika Sarah langsung memeluk Alish dan tangisannya kembali pecah. Alish pun ikut menangis.
*
*
*
~~ **Bersambung,,
Mohon maaf,, othor baru sempat up. Othornya sudah seminggu ini sakit,,,. Ini juga up,, berusaha dengan susah payah,, menahan pusing dan dada sesak karena batuk.
Semoga readers semua maklum,, dan do'akan semoga othor cepat sehat dan bisa up tiap hari lagi.
Jangan lupa like, vote dan comment nya, biar othor tambah semangat lagi. Masukan juga di kolom favorit dan bintang lima nya nya,,.
__ADS_1
Terimakasih,, dan dalam love and peace dari othor,,
❤❤✌✌**