The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
TGH 21


__ADS_3

* Maapin ye,, othor baru bisa up.


Kemarin fokus bikin pesenan kue kering soalnya, alhamdulillah,, hasilnya lumayan.


Nah,,sekarang happy reading aja ya guy's,,*


Mereka pun pergi menggunakan taxi online yang sudah dipesan Alish dan sudah menunggunya di depan gerbang Yayasan. Selama perjalanan, mereka hanya terdiam tanpa ada yang bicara satupun.


Perjalanan yang agak lumayan jauh, menurut Alish. Hari menjelang malam begitu mereka sampai. Mobil berhenti di sebuah rumah sederhana, tapi nyaman. Dan disebelah rumah itu, terdapat sebuah rumah megah bak istana.


Alish dan Zehan turun dari mobil itu. Pandangan Zehan terus menatap rumah megah bakal istana yang ada di samping rumah sederhana itu. Sesak kembali menyerang dada Zehan.


" Benar ini rumahnya, Kak,,? " suara Alish menyadarkan Zehan.


Zehan mengalihkan pandangannya, dan kini menatap rumah yang ada dihadapannya. Zehan mengangguk lalu berjalan menuju rumah itu. Alish mengikuti dibelakang Zehan.


Alish mengetuk pintu rumah itu, begitu mereka sampai didepan pintu rumah itu.


Tok,, tok,, tok,,,


" Permisi,,! " seru Alish dengan agak kencang.


Tak lama kemudian, pintu rumah itu pun terbuka. Dan muncul lah seorang pria dewasa setengah baya. Dari raut wajahnya, memancarkan kesederhanaan dan keramahan. Zehan menatap sendu pria itu. Mata Zehan mulai berkabut.


" Selamat malam, Paman. Apakah benar ini rumah Paman Rahmad,,? " tanya Alish sopan.


Pria tersebut tersenyum seraya mengangguk.


" Benar, Non. Anda siapa,,? dan ada keperluan apa ya,,? " pria yang bernama Rahmad itu balik bertanya.


" Boleh saya masuk,,? Ada yang ingin saya bicarakan. "


Rahmad terdiam tak bereaksi. Matanya lekat menatap Alish.


" Emm,, ini mengenai Kak Zehan. " sambung Alish, membuat Rahmad tersentak kaget.


" Den Zehan,,? " Alish mengangguk.


" Silahkan masuk, Nona. " suara Rahmad sedikit bergetar begitu Alish menyebutkan nama Zehan.


" Silahkan duduk, Nona. " ucap Rahmad sopan.

__ADS_1


Alish pun duduk diikuti oleh Zehan disampingnya. Zehan masih menatap sosok Rahmad. Tatapan yang penuh dengan kerinduan. Pria yang sangat berjasa didalam hidupnya. Rahmad masuk kedalam, dan tak lama kemudian membawa dua cangkir berisikan teh hangat.


" Silahkan diminum teh nya, Nona. Maaf,, hanya bisa menyediakan ini. " ujar Rahmad seraya meletakkan cangkir tersebut didepannya dan Alish.


" Tidak apa-apa, dan terimakasih, Paman. Maaf merepotkan, dan saya mohon, jangan panggil saya Nona. Panggil saja saya Alish. " Alish tersenyum dan Rahmad hanya mengangguk.


" Maaf apabila kedatangan saya menganggu Paman Rahmad. "


" Tidak apa-apa, Alish. Tapi tadi kalau Paman tidak salah dengar, Alish datang kesini karena ada yang ingin dibicarakan tentang Den Zehan,,? " Alish mengangguk.


" Saya temannya Kak Zehan. Dan saya datang kesini karena saya ingin menyampaikan pesan dari Kak Zehan. "


Rahmad tersentak mendengar nya.


" Alish teman Den Zehan,,? Dan pesan apa yang Alish maksud,,,? "


Alish menarik nafas dan menghembuskan nya pelan.


" Kak Zehan ingin meminta maaf pada Paman. Saat ini dia merasa amat sangat menyesal karena sudah berbuat kasar dan menyakiti hati Paman. "


Lagi-lagi Rahmad tersentak, kaget.


" Dari mana Alish tau kalau Den Zehan pernah berbuat kasar pada Paman,,? "


" Karena Kak Zehan sendiri yang bilang pada saya, Paman. "


Rahmad semakin terkejut, wajahnya memucat. Kepalanya mengeleng tidak percaya.


" Tidak mungkin,,. Itu tidak mungkin terjadi. Karena setelah Den Zehan berbuat kasar pada Paman, dia mengalami kecelakaan. Tidak mungkin dia memberitahukan nya padamu. " Rahmad masih menggelengkan kepalanya.


Alish kembali melirik kearah Zehan, dan Zehan kembali mengangguk.


" Mungkin kedengarannya tidak mungkin, bahkan mustahil tapi inilah kenyataannya. Kak Zehan sendiri yang memberitahukan nya pada saya. Dan saat ini dia merasa amat sangat menyesal. Dia tulus ingin minta maaf pada Paman, agar dia bisa pergi dengan tenang. " jelas Alish yang lagi-lagi membuat Rahmad terkejut bukan main.


" Apa maksudmu,,? " suara Rahmad bergetar hebat.


" Kak Zehan bilang, dia akan pergi dengan tenang setelah dia minta maaf pada Paman dan Paman mau memaafkannya. Dan saat ini, dia ada disamping saya, sedang menatap Paman dengan sedih dan penuh harapan. "


Seketika Rahmad menoleh ke kursi kosong sebelah Alish duduk.


" Tidak mungkin,,, " pekik Rahmad tidak percaya.

__ADS_1


" Paman boleh tidak percaya, tapi ini adalah yang sebenarnya. Saat ini, Kak Zehan ada disebelah saya. Dan dia sangat berharap maaf dari Paman. Oh iya,, kalau Paman tidak percaya, Alish bisa menyebutkan pakaian yang saat ini Kak Zehan gunakan. "


" Oh ya,,? Benarkah,,? Lalu pakaian apa yang dia gunakan,,? " tantang Rahmad yang masih tidak percaya pada ucapan Alish.


" Kak Zehan menggunakan jaket warna army dengan warna merah dibagian salamnya. Celana jeans hitam, kaos putih, topi loreng dan headphone berwarna merah dan putih yang menggantung di lehernya. "


Mata Rahmad membulat sempurna. Mulutnya pun ikut terbuka lebar, mendengar ucapan Alish. Lagi-lagi, Rahmad menggelengkan kepalanya.


" Tidak mungkin,, ini tidak mungkin. " Mata Rahmad mulai berkaca, dan kembali menatap kursi kosong sebelah Alish.


" Paman tau pakaian itu kan,,? " tanya Alish dan Rahmad mengangguk.


" Itu adalah pakaian kesayangan Den Zehan, yang dipakainya terakhir kali, pada saat kecelakaan. " jelas Rahmad dan airmatanya mengalir di pipinya.


" Ahh,, benarkah Den Zehan ada disamping Alish,,? " suara Rahmad mulai parau karena menangis. Alish mengangguk.


Tubuh Rahmad terasa lemas, dan dia bersandar dikursi yang didudukinya. Matanya masih menatap kursi kosong sebelah Alish.


" Kak Zehan ingin minta maaf pada Paman. " sahut Alish.


Rahmad meraup wajahnya dengan kasar. Isak tangis mulai terdengar, bahunya pun mulai bergetar.


" Den,,,. Tanpa Aden minta maaf, Paman sudah memaafkan mu, Nak. Inikah yang membuatmu koma selama dua bulan lebih dan tidak bisa pergi dengan tenang,,? " ucap Rahmad pada kursi kosong sebelah Alish.


Air mata Zehan pun mulus mengalis di pipinya. Zehan menatap sendu kearah Rahmad.


" Terimakasih, Paman. " ucap Zehan pelan dan dengan suara yang bergetar.


***


~~ **Bersambung,,


Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.


Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.


Jangan menghina bila tidak suka, karena menulis itu tidak mudah.


Hargai karya pemikiran othor, karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.


Salam love and peace dari othor,,

__ADS_1


❤❤❤✌✌✌**


*****


__ADS_2