The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
TGH 36


__ADS_3

" Maafkan aku,,. Karena butuh waktu lama untuk mengingatmu dan mencarimu. " Zehan membuka pembicaraan.


" Jadi Kakak benar-benar masih hidup saat itu,,? " tanya Alish.


Zehan mengangguk lalu mulai menceritakan awal kejadian begitu dia bangun dari komanya.


" Begitu aku menghilang saat dirumah Paman Rahmad, aku sempat berada di sebuah ruangan yang semuanya berwarna putih. Tanpa jendela ataupun pintu. Entah sudah berapa lama aku berada disana hingga sebuah suara terdengar. Suara itu mengatakan, kalau aku akan segera kembali ketubuh asliku. Dengan catatan, aku akan melupakan semua ingatan, kejadian dan kenangan selama jiwaku berkelana. " Zehan berhenti sesaat dan kembali menatap Alish.


" Saat itu, aku sempat merasa ragu. Aku harus kembali tapi aku akan lupa padamu. Bila aku tidak kembali, aku akan terus menjadi jiwa yang melayang tanpa tentu arah. Aku bingung, lalu tiba-tiba saja, pandanganku gelap dan dunia seakan berputar-putar. Dan saat itulah, aku kembali ke tubuhku. " lagi-lagi Zehan berhenti sejenak.


" Disaat aku siuman dari koma, kata pertama yang kusebut adalah namamu. Orang tuaku bertanya, siapa Alish,,?. Saat itu merasa sangat familiar dengan nama itu tapi aku sama sekali tidak dapat mengingatnya. Bahkan kepala justru terasa sakit dan nyeri, disaat aku berusaha untuk mengingatmu. "


" Bayangan dirimu, dan kejadian yang aku alami selama bersamamu, selalu hadir dalam mimpiku. Hanya saja, saat itu wajahmu tidak terlihat jelas, hingga aku merasa penasaran, siapakah dirimu? Mengapa bayanganmu selalu menggangguku? Hingga aku sempat merasa drop hingga harus bolak-balik checkup. "


" Aku sempat melewati tokomu dan halte tempat pertama kali kita bertemu, dan lagi-lagi aku merasa familiar dengan kedua tempat itu. Begitu juga saat aku melewati lapangan dan hutan kecil yang dekat dengan rumahmu. Aku sempat turun dari mobil untuk melihatnya, aku seperti merasa pernah datang ketempat itu tapi aku sama sekali tidak ingat. "


Penjelasan Zehan berhenti untuk beberapa saat, karena pelayan mengantarkan pesanan mereka. Setelah mengucapkan terimakasih, Zehan bertanya pada Alish.


" Kau mau makan dulu atau mau aku melanjutkan ceritaku,,? "


" Kita makan saja dulu. Nanti baru kita lanjut lagi. " jawab Alish dan Zehan hanya mengangguk.


Mereka pun mulai memakan makanan mereka. Selesai makan, Zehan kembali melanjutkan ceritanya. Tak lupa juga, tangannya kembali menggenggam tangan Alish.


" Aku juga sempat melewati Yayasan Bunda, dan lagi-lagi aku merasakan sakit dikepalaku dan sesak didadaku, karena berusaha mengingat kembali, ada apa dengan Yayasan itu? Hingga hari ini, aku memutuskan untuk menguatkan tekad ku datang ke Yayasan. " lanjut Zehan dan tersenyum kecil.


" Aku bertemu dengan Andi. Dia yang membantuku kembali mengingatmu, seperti dulu saat aku hilang ingatan tentang siapa aku dan bagaimana aku kecelakaan. Kau tahu,, hatiku seakan dipenuhi dengan bunga-bunga saat aku kembali mengingatmu. Aku langsung datang kerumahmu, mengetuk pintu dan menunggu untuk beberapa saat. Tapi ternyata kau tidak ada. "


" Aku bergegas pergi ke toko, karena aku yakin, kau pasti ada disana. Dan ternyata aku benar. "


Zehan melebarkan senyumannya. Dan menatap Alish penuh cinta dan rindu. Sementara mata Alish mulai berkabut begitu Zehan menyelesaikan ceritanya.


" Aku ingin kita kembali bersama seperti dulu, apa kau mau,,? " tanya Zehan lembut dan penuh harap.

__ADS_1


Alish tersenyum untuk beberapa saat, tapi kemudian senyum itu perlahan memudar. Berubah menjadi wajah penuh kecemasan.


" Lalu bagaimana dengan keluarga Kakak,,? Bukankah Kakak berasal dari keluarga yang berada dan terpandang, sementara aku,,,? Apakah mereka akan bisa menerimaku apa adanya,,? " Alish balik bertanya.


Zehan terdiam untuk sesaat lalu tersenyum kecil.


" Kau tahu,, saat aku benar-benar sudah sembuh total, aku memang dikelilingi oleh harta. Semua yang aku inginkan, bisa aku dapatkan dengan mudah. Tapi hatiku tetap terasa hampa dan kosong. Saat itu aku masih belum mengetahui, apa yang salah dengan diriku, mengapa aku merasa tidak bahagia,? "


Zehan menggantung kan ucapannya dan kembali menatap lekat Alish.


" Kemudian aku sadar, itu semua terasa hampa karena tidak adanya dirimu. Walaupun kita hanya sesaat saling mengenal, tapi hatiku sudah merasa nyaman bersamamu. Bukankah tadi aku sudah bilang, saat aku kembali mengingatmu, aku merasa sangat senang dan bahagia. Jadi,, mau kan kau kembali bersamaku,,? ".tanya Zehan.


" Lalu keluarga Kakak,,? " Alish balik bertanya.


" Aku seorang laki-laki, bukankah kalau menikah, laki-laki tidak butuh seorang wali,,? " gantian Zehan yang balik bertanya.


" Memang tidak perlu seorang wali, tapi kita butuh restu mereka. Apa jadinya pernikahan tanpa adanya restu dari orangtua,,? Sedangkan kedua orangtua ku sudah tidak ada. " jawab Alish lirih. Zehan menghela nafas.


" Baiklah,, aku akan berusaha untuk bicara dengan mereka dan meminta restu mereka. Tapi aku tidak bisa berjanji, aku akan bisa mendapatkan restu dari mereka atau tidak. Maukah kau berjanji padaku, kita akan kembali bersama walaupun tanpa restu dari mereka? atau hanya mendapatkan restu dari salah satu dari mereka,,? ". jelas Zehan dan diakhiri dengan pertanyaan.


Senyum Zehan kembali merekah. Matanya kembali berkabut. Tangannya menggenggam erat tangan Alish.


" Terimakasih,,. " ucap Zehan lirih. Alish tersenyum dan mengangguk.


" Sebaiknya kita segera kembali ke toko. Waktu istirahat ku sudah hampir habis. " sahut Alish.


" Baiklah, kau tunggu disini, aku akan membayar dulu. " Zehan beranjak dari duduknya dan Alish mengangguk.


Hatinya merasa senang sekaligus khawatir. Senang karena ternyata Zehan masih hidup dan mereka bisa kembali bersama. Sekaligus khawatir dengan orangtua Zehan, apakah akan merestui mereka atau tidak, mengingat Alish hanya seorang anak yatim piatu yang hidup kekurangan.


" Sudah,,. Ayo kita pergi. " ajak Zehan membuyarkan lamunan Alish.


Alish mengangguk dan beranjak dari duduknya dan keluar dari cafe itu dengan tangannya yang digandeng mesra oleh Zehan.

__ADS_1


Zehan membukakan pintu mobil dan Alish membalasnya dengan tersenyum. Setengah berlari, Zehan memutar ke pintu mobil kemudi. Zehan masuk dan menyalakan mobilnya setelah dia memasang seatbelt.


Zehan melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah, karena dia masih ingin berlama-lama dengan Alish. Zehan dengan terpaksa berhenti di seberang toko Alish.


" Nanti sore aku akan menjemputmu. Kau pulang seperti biasa kan,,? " tanya Zehan dan Alish mengangguk.


" Baiklah,, Kakak hati-hati bawa mobilnya. Jangan ngebut,,. Aku keluar ya,,. " ucap Alish.


" Iya, sayang. Kau juga jangan terlalu lelah. " jawab Zehan


Blush,,,,


Seketika wajah Alish memerah, dia buru-buru keluar dari mobil Zehan. Dengan setengah belari, Alish menyebrang tanpa menoleh lagi karena malu. Zehan terkekeh melihatnya.


Zehan menarik nafas lega, dan mulai melajukan mobilnya lagi.


" Masalah yang satu sudah selesai, kini tinggal satu lagi. Masalah menghadapi orang rumah. Sepertinya akan sedikit sulit. " gumam Zehan.


****


~~ ***Bersambung dulu ye,,


Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.


Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.


Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.


Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.


Salam love and peace dari othor,,


❤❤❤✌✌✌***

__ADS_1


****


__ADS_2