The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
Seasons 2 : Cowok Narsis dan Gadis Bar-bar # Bab 9


__ADS_3

William pamit setelah berbicara dan bermain sebentar dengan Alif. Sebenarnya William tidak tega karena harus meninggalkan mereka berdua dirumah tanpa adanya orang dewasa yang menemani.


Namun dia bisa apa,,? Dia tidak bisa seterusnya ada dirumah itu sementara dia sendiri mempunyai pekerjaan. Ingin menyewa baby sitter,, tidak mungkin juga. Fatimah pasti curiga.


" Aku harus melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan Fatimah. Kasihan,, bocah sekecil mereka hanya tinggal berdua dirumah. " Batin William sambil memandangi wajah polos Alif dan Ali.


" Om pulang dulu. Lain kali, Om akan datang lagi. Kalian berdua hati-hati dirumah. Jangan bermain api, listrik ataupun benda tajam, itu bahaya. Kalian paham,,? " Ali mengangguk diikuti oleh Alif yang masih belum mengerti apa yang dimaksud oleh William.


" Terimakasih ya, Om. Untuk makanan dan juga waktunya menemani kami bermain. " ucap Ali dan diangguki oleh William.


William tersenyum lalu mengusap lembut kepala Ali dan Alif bergantian.


" Om pergi ya,,, " pamit William.


" Iya, Om. Hati-hati,,, " ucap Ali.


" Ati ati ya Om,,, " ucap Alif dengan cadelnya.


William mengangguk sambil tersenyum. Dia melambaikan tangannya dan melangkahkan kakinya menjauh dari rumah itu.


William masuk kedalam mobilnya dan menghubungi salah satu anak buahnya. William meminta dua orang untuk mengawasi rumah Fatimah berserta penghuninya.


Setidaknya,, hanya itu yang bisa William lakukan untuk menjaga mereka sementara waktu.


William masih harus menyelidiki kasus penabrakan yang menimpa kedua orangtua Alif. Setelah itu selesai, William baru akan mulai melakukan pendekatan dengan Fatimah. Itu pun setelah dia mendapatkan restu dari sang Mommy.


*


*


*


Waktu pun berlalu dengan cepat,,,


Waktu seminggu yang diminta Tanaka untuk menyelidiki kasus penabrakan satu tahun yang lalu, sudah berakhir. Mereka telah mendapatkan titik terang dan beberapa bukti.


Zehan, William, Rayhan dan dibantu oleh Papa Mark dan Tanaka, sedang menyusun rencana. Tanaka datang ke Indonesia dengan menyamar dan menggunakan pesawat jet pribadi milik Papa Mark.


Selain karena kasus penabrakan itu,, Tanaka juga sudah sangat rindu pada anak dan istrinya. Anak satu-satunya Tanaka, yaitu Rayhan.


Langkah awal yang Papa Mark ambil adalah menarik semua saham dari perusahaan Smith. Dan tentu saja, itu membuat kondisi perusahaan Smith menjadi kalang kabut.


Hingga akhirnya, pemilik perusahaan Smith yaitu Kevin Smith, datang menemui Papa Mark, namun Papa Mark menolak. Dan yang akhirnya menemuinya adalah Zehan, William dan juga Rayhan.


Kini mereka berempat berada di ruangan Zehan. William dan Rayhan berdiri disamping Zehan yang duduk di kursi kebesarannya. Sementara Tuan Kevin Smith duduk dihadapan Zehan.


William menatap tajam Tuan Kevin. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal kuat. Ingin rasanya dia memberikan sebuah hadiah bogeman mentah pada Tuan Kevin, sebagai pelampiasan kekesalannya.


Zehan mengetukan jarinya pada meja kerjanya. Matanya menatap wajah Tuan Kevin yang masih kelihatan tampan walaupun sudah berumur. Wajahnya terlihat biasa, hanya menampilkan rasa cemas karena perusahaannya yang terancam bangkrut.


" Mau sampai kapan Anda tetap diam Tuan Kevin,,? " suara Zehan mengagetkan Tuan Kevin.

__ADS_1


" Waktu saya bukan hanya untuk melihat Anda diam membungkam dihadapan saya. " lanjut Zehan sambil menahan kekesalannya.


Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa nyawa dua manusia melayang sia-sia karena kelalaian seorang anak laki-laki dari keluarga kaya, hanya dianggap angin lalu.


Bahkan dengan sengaja nya, mereka menyembunyikan bukti dan saksi, hingga membuat keluarga korban tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menangis dan berusaha mengikhlaskan kepergian dua anggota keluarga mereka.


Dan yang membuat Zehan semakin geram adalah kedua korban meninggalkan seorang anak yang masih berusia satu tahun. Seorang anak yang masih disebut bayi itu tanpa adanya tunjangan apapun. Dimana hati nurani mereka sebagai manusia,,,?.


" Maafkan saya apabila kedatangan saya telah mengganggu waktu Anda, Tuan muda Lee." ucap Tuan Kevin basa-basi.


" Sudah tahu, kenapa masih datang,,? " ketus William masih dengan menahan kesal.


Rayhan menoleh lalu mencolek lengan William. Dia menggeleng pelan saat William menoleh kearahnya. Sementara Tuan Kevin menelan salivanya yang seakan tercekat.


" Bisa Anda segera katakan, apa maksud kedatangan Anda, Tuan Kevin yang terhormat,,? " Zehan sedikit menyindir.


" Saya datang kesini karena saya ingin bertemu dengan Ayah Anda, Tuan Muda Lee. "


" Mohon maaf,, Tuan Kevin. Papa saya sedang ada urusan lain. Anda bisa mengatakannya pada saya, maksud Anda datang kesini. " Zehan masih berusaha bersikap ramah.


" Baiklah, Tuan Muda Lee. Saya datang karena saya ingin bertanya, mengapa tiba-tiba saja, Ayah Anda menarik semua sahamnya dari perusahaan saya, Tuan,,? " tanya Tuan Kevin mulai serius.


William tersenyum mengejek, sementara Zehan hanya menaikan sudut bibirnya sedikit. Tidak terlihat kalau dia sedang tersenyum. Zehan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


" Anda bertanya, kenapa Papa menarik sahamnya,,? " ulang Zehan dan Tuan Kevin mengangguk.


" Setelah apa yang keluarga Anda lakukan, Anda masih berharap Papa saya menanam saham di perusahaan Anda,,? " Tuan Kevin mengerutkan dahinya, bingung dengan pertanyaan Zehan.


William ingin melangkah maju dengan tangan terkepal, namun ditahan oleh Rayhan. Lagi-lagi, Rayhan menggeleng pelan. Zehan tertawa kecil, seakan mengejek Tuan Kevin.


" Anda bertanya pada saya,,? Kenapa Anda harus balik bertanya, sementara semua itu keluarga Anda yang melakukannya. "


" Tuan,, saya mohon. Jangan membuat saya bingung. "


" Cih,,,. Sebaiknya Anda mulai berpikir lagi, Tuan Kevin. Saya yang akan membantu Anda untuk mengingatnya. " ucap William dengan geramnya.


" Satu tahun yang lalu,, tepatnya dibulan Desember,, di jalan raya Pahlawan,, di sebuah pertigaan jalan. Kecelakaan yang menewaskan sepasang suami istri. " lanjut William.


Tuan Kevin tersentak kaget. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Namun Tuan Kevin masih diam membisu.


" Anda ingat,,? Atau masih harus saya perjelas lagi,,,? " ucap William tegas, membuat keringat Tuan Kevin semakin banyak keluar. Dia mengeluarkan sapu tangan dan mengusap keringatnya.


Mulutnya masih diam terkunci. Tangannya saling saling bertaut. Wajahnya menunduk dan jantungnya berdetak kencang.


" Kami sudah mengetahui kejadian itu, Tuan Kevin. Begitu pun dengan Papa. Kami juga sudah mengumpulkan buktinya. Kejadian tabrak lari yang dilakukan putra Anda, hingga membuat seorang bayi berusia satu tahun harus menjadi yatim piatu. " jelas Zehan dengan tenang, membuat Tuan Kevin mengangkat wajahnya dengan matanya yang membulat.


Dia sedikit tidak percaya, kalau kasus penabrakan satu tahun yang lalu itu, bisa kembali muncul setelah dia mengeluarkan banyak uang.


" Dan kenapa Papa sampai ikut campur masalah ini, dan menarik semua sahamnya, itu karena adik perempuan korban adalah calon istri dari keponakan Papa. " lanjut Zehan membuat Tuan Kevin semakin membulatkan matanya.


Dia berusaha menelan salivanya yang terasa menyangkut di tenggorokannya. Jari tangannya masih saling bertaut.

__ADS_1


" Anda tahu perusahaan Choi,,,? Perusahaan yang terkenal di Korea dan di Indonesia,,? " tanya Zehan.


Tuan Kevin mengangguk pelan. Hatinya semakin tidak enak, saat Zehan menyebutkan nama keluarga Choi.


" William Choi adalah anak satu-satunya dari keluarga Choi, sekaligus pewaris tunggal dari perusahaan itu. Dia adalah keponakan Papa. Dan Fatimah,, adik perempuan korban tabrak lari itu, adalah calon istri William."


Duaarrr,,,


Ingin rasanya saat itu juga, Tuan Kevin tenggelam ditelan bumi. Tubuhnya melemas saat mendengar ucapan Zehan. Rasa takut menguasai hatinya saat ini.


" Papa dan Tuan Besar Choi, tentu saja tidak akan tinggal diam. Mereka sudah menyelidiki kasus itu. Dan mereka tinggal bertindak saja, untuk mengeluarkan semua buktinya dan membuat anak Anda mendekam didalam penjara untuk waktu yang lama. " lanjut Zehan.


Tubuh Tuan Kevin semakin lemas. Dia beranjak dari duduknya lalu berlutut didepan Zehan dan William.


" Saya mohon, Tuan. Jangan penjarakan anak saya. Saya akan melakukan apapun,, asalkan anak saya tidak dipenjara. " Tuan Kevin memohon sambil terisak. Dia menangis.


William semakin mengepalkan tangannya hingga kukunya menancap ditepak tangannya.


" Kau ingin melakukan apapun agar anakmu tidak dipenjara,,? " tanya William dengan geram. Tuan Kevin mengangguk.


" Baiklah. Aku tidak akan memenjarakannya,,,, "


Tuan Kevin langsung mengangkat wajahnya. Dia tersenyum penuh rasa terimakasih. Rayhan dan Zehan sedikit terkejut mendengar ucapan William, namun mereka masih tetap diam.


" Aku tidak akan memasukan anakmu kedalam penjara, tapi aku akan langsung membunuhnya dengan menabrak tubuhnya dengan mobilku. Bagaimana Tuan,,,? " William menyeringai dan menatap Tuan Kevin dengan tatapan ingin membunuhnya.


Deg,,,


Tuan Kevin menelan salivanya, senyumnya pun menghilang. Dia langsung menggeleng cepat. Air matanya kembali keluar.


" Tidak, Tuan. Jangan,,, "


" Kau hanya tinggal memilih. Ingin melihat anakmu tetap hidup tapi dalam penjara,,? atau ingin melihatnya tidak dipenjara tapi dalam keadaan mati,,? Silahkan Anda pikirkan baik-baik, Tuan. " lanjut William.


Zehan bergidik ngeri. Dia tidak menyangka kalu adik sepupunya itu bisa bersikap kejam. Begitu pun dengan Rayhan, dia sama sekali tidak pernah berpikir, kalau Tuan Muda yang sangat Narsis dan sedikit konyol itu, bisa begitu kejam.


*


*


*


~~ **Bersambung,,


Maaf,, baru sempat up hari ini. Kemarin baru ngetik setengah Bab, udah ketiduran.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, Kakak.


Salam love and peace dari othot,,


❤❤✌✌**

__ADS_1


**


__ADS_2