
Keesokan harinya,,
" Sayang,, jangan lupa, nanti malam kita akan makan malam bersama dengan William. Pulang nanti, kamu tidak perlu memasak. " Zehan mengingatkan Alish, saat dia mengantarkan Alish bekerja.
" Baiklah, Hubby. Apakah nanti Mama akan datang lagi,,? " tanya Alish, yang masih belum turun dari mobil Zehan padahal mereka sudah sampai diseberang toko Alish bekerja.
" Emm,, seperti nya tidak, Sayang. Papa pasti akan curiga, kalau Mama sering menemui Willi. Dia pasti sudah bisa menebak, kalau Willi sudah bertemu dengan ku."
Alish tertunduk sedih seketika, dan Zehan melihat itu hanya bisa menghela nafas. Zehan membelai rambut Alish dengan lembut.
" Sabarlah sebentar lagi, Sayang. Percayalah padaku, Oke,,? " ucap Zehan lembut sambil tersenyum.
Alish hanya mengangguk, dan membalas senyuman Zehan.
" Apa nanti kamu akan narik, Hubby,,? " tanya Alish, mengalihkan pembicaraan.
" Tidak, Sayang. Aku akan kembali kerumah dan mulai mengerjakan gambar desain ku untuk proyek bersama Willi nanti. " jawab Zehan.
" Baiklah, Hubby. Kalau begitu, aku pun akan bekerja juga. Sampai jumpa nanti sore, Hubby. " pamit Alish seraya meraih tangan Zehan dan mengecup punggung tangannya.
Zehan membalasnya dengan mengecup kening Alish lembut.
" Assalamu'alaikum,,, " ucap Alish.
" Wa'alaikumsalam,,, " jawab Zehan.
Alish pun keluar dari mobil Zehan dan menyebrang jalan untuk sampai ke tokonya. Alish melambaikan tangannya sebelum masuk kedalam toko. Zehan membalas lambaian tangan Alish, lalu mulai melajukan mobilnya.
*
*
*
Zehan mulai berkutat dimeja, ruang tamu nya. Zehan mulai mencoret-coret diatas kertas, dan sesekali terdiam untuk berpikir. Zehan terlalu fokus mengerjakan gambar desain nya, hingga tak terasa hari menjelang siang.
Hingga suara adzan dzuhur berkumandang, membuat Zehan tersadar dan menghentikan kegiatannya. Zehan meraih ponselnya yang sejak pagi dalam mode silent.
Beberapa pesan masuk dan tidak disadari Zehan. Matanya tertuju pada sebuah nama dan langsung membuka pesan itu.
* Assalamu'alaikum,, Hubby. Apa kamu sudah makan siang,,? jangan lupa shalat dzuhur. *
Zehan tersenyum membacanya. Perhatian kecil namun sangat menyentuh hati Zehan. Perhatian yang selama ini hampir tidak pernah Zehan dapatkan dari orangtuanya dulu.
* Wa'alaikumsalam,, Sayang. Aku baru mau mau shalat, dan memesan makanan. Apa kamu sudah istirahat makan siang,,? *
Pesan Zehan terkirim dan langsung centang dua biru. Zehan tersenyum kecil, saat ada tulisan my wife mengetik. Tak lama kemudian, pesan baru masuk ke ponsel Zehan.
* Belum, Hubby. Masih bergantian, sebaiknya Hubby segera shalat lalu makan siang. love you,, *
Zehan tersenyum lebar membacanya. Hatinya seperti dipenuhi kebun bunga bermekaran. Walaupun mereka sudah beberapa bulan menikah, namun rasa saling memiliki seutuhnya, baru beberapa hari yang lalu.
* love you more, sayang,, *
Balas Zehan pada Alish.
Zehan segera memesan makanan dan setelah itu naik keatas menuju kamarnya, untuk menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.
Zehan kembali kemeja ruang tamu, setelah dia selesai shalat. Dia kembali meneruskan pekerjaannya sambil menunggu orderan makanannya datang.
Hingga tak lama kemudian, pesanan makanannya pun datang. Zehan pun mulai makan, sambil sesekali melirik kertas pekerjaannya.
Selesai makan, Zehan melanjutkan lagi pekerjaannya. Kembali menghitung dan kembali mencoret-coret kertas.
Zehan benar-benar terlalu fokus pada kerjaannya. Lumayan menguras otak, karena sudah terlalu lama, Zehan tidak berkutat dalam pekerjaan kantoran.
__ADS_1
Alarm di ponsel Zehan berbunyi. Zehan melihatnya lalu mematikan nya. Dia pun mulai merapikan kertas dan peralatan lainnya. Zehan naik keatas menuju kamarnya, setelah dia selesai merapikan meja.
Zehan memutuskan untuk mandi, lalu bersiap untuk shalat ashar. Setelah itu, menjemput sang istri. Zehan juga berencana untuk mengajak Alish pergi ke butik, membeli gaun untuk makan malam nanti.
Karena Zehan tahu, Alish tidak pernah membeli pakaian bagus dan sedikit mahal. Selama ini, Alish selalu hidup berhemat dan sederhana.
Saat ini, Zehan sudah berada didalam mobilnya, untuk menjemput Alish. Zehan menunggu beberapa saat didepan toko, karena memang masih sekitar sepuluh menit lagi, jam pulang kerja Alish.
Zehan menyalakan ponselnya, guna menghilangkan rasa bosannya menunggu. Terlalu asyik dengan ponselnya, hingga Zehan tidak menyadari kalau Alish sudah masuk kedalam mobil.
" Assalamu'alaikum,, Hubby. " ucap Alish, mengagetkan Zehan.
" Wa'alaikumsalam,,,. Sayang,, kamu sudah pulang,,? Sudah lama,,? " tanya Zehan, Alish hanya tersenyum.
" Belum, Hubby. Aku baru saja pulang, dan baru saja masuk ke mobil. " jawab Alish lembut.
" Maafkan aku, sayang. Aku terlalu fokus bermain ponsel. " sesal Zehan.
" Tidak apa-apa, Hubby. " lagi-lagi Alish tersenyum.
" Kita pulang sekarang,,,? " tanya Alish, Zehan menggeleng.
" Tidak, sayang. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat terlebih dahulu. " jawab Zehan.
" Kemana,,? " tanya Alish penasaran.
" Nanti kamu juga akan tahu. Kita berangkat sekarang. " Alish hanya bisa mengangguk.
Zehan pun menyalakan mobilnya lalu melakukannya ketempat yang yang ingin dituju nya.
Sesampainya di butik,, Zehan membelikan Alish beberapa gaun. Awalnya Alish menolak, karena harganya yang terlalu mahal, namun dengan sedikit paksaan dari Zehan, akhirnya Alish pun menerima nya dengan terpaksa.
*
*
*
Dan saat ini, Zehan dan Alish sudah berada didepan sebuah restoran, yang dulu dijadikan tempat Zehan, William, Rayhan dan teman-temannya berkumpul.
Zehan masuk kedalam restoran sambil menggandeng tangan Alish, dan mengatakan pada salah seorang pelayan kalau dia sudah ada janji dengan Tuan Choi.
Pelayanan tersebut, mengantarkan Zehan kesebuah ruangan VIP, yang berada di lantai atas. Pemandangan kota saat malam hari yang indah, dapat terlihat dengan jelas dari sana.
Alish terlihat sangat mengaguminya. Matanya berbinar cerah, dan bibirnya tersenyum. Zehan ikut tersenyum melihatnya.
" Will,,,. " panggil Zehan begitu mereka sampai.
William menoleh dan seketika dia terkejut sekaligus terkesima melihat Alish. William berdiri dari duduknya dan menghampiri Zehan.
" Hyeong,,,. Ini Kakak ipar ku,,? " tanya William.
Zehan hanya mengangguk sambil tetap tersenyum. William menatap Alish dari atas sampai bawah. Mengagumimu sosok wanita yang kini ada dihadapannya.
Hilang sudah rasa penasaran William akan sosok wanita cantik yang sudah dapat mencairkan hati seorang Zehan, si gunung es.
" Ternyata Kakak ipar ku benar-benar cantik dan manis. Pantas saja, Kakakku yang dingin bisa mencair. " celetuk William, membuat Alish merasa malu.
" Selamat malam, Kakak ipar. Perkenalkan,, aku William. Adik dari Kak Zehan. " William mengulurkan tangannya, dan Alish pun menyambutnya.
" Selamat malam juga, namaku Alish. " Mereka pun saling berjabat tangan.
__ADS_1
Cukup lama mereka berjabat tangan, membuat Zehan merasa kesal. Dengan geram, Zehan melepaskan tangan Alish.
" Jangan terlalu lama berjabat tangan. Ingat,, dia Kakak ipar mu. " ketus Zehan.
" Cih,,,. Dasar bucin,,, " William berdecih kesal, lalu kembali ketempat duduknya, diikuti oleh Zehan dan Alish.
William pun memesan makanan untuk nya, sementara Zehan memesan makanan untuknya dan juga Alish. Zehan tahu selera makan Alish yang tidak terlalu susah dan aneh.
" Kakak ipar,,,. Apa kau bahagia, hidup dengan gunung es ini,,? " tanya William tiba-tiba, membuat Zehan merasa kesal.
Zehan menatap tajam William sementara Alish justru tersenyum, lalu meraih tangan Zehan dan mengenggam nya.
" Tentu saja aku bahagia. Lagipula bagaimana bisa dia disebut gunung es, sementara bagiku dia adalah sosok pria yang hangat dan penyayang. " jawaban Alish, membuat senyuman Zehan mengembang.
" Tentu saja bisa, Kakak ipar. Dulu dia adalah gunung es yang tidak dapat disentuh. Bahkan untuk melihat senyumannya yang kecil saja, itu butuh keajaiban. Bicara saja hanya seperlunya, selebihnya diwakilkan oleh Rayhan. " ujar William yang lagi-lagi membuat Zehan menatapnya tajam.
" Mungkin dulu iya,, tapi sekarang tidak. Hubby ku ini, pria yang ramah, sabar dan baik hati.. " pujian dari Alish membuat hati Zehan dipenuhi dengan kupu-kupu dan bunga.
Uhuk,, uhuk,, uhuk,,
William tersedak salivanya sendiri, mendengar panggilan kesayangan untuk Zehan.
" Hubby,,,? Hyeong,,, kau di panggil Hubby,,,? Benarkah,,? " tanya William.
" Memang kenapa,,? " Zehan balik bertanya dengan ketus.
Seketika,, tawa William pecah. Bahkan sampai mengeluarkan air mata.
" Omo,,,!!. Jinjja,,???" tanya William disela tawanya. ( Ya ampun,,!! Benarkah,,???)
Zehan menyentil kening William dengan cukup keras, sementara Alish bingung dengan bahasa yang diucapkan oleh William.
" Aww,,!! Sakit, Hyeong,,!! " pekik William sambil mengusap keningnya.
" Itu baru kening mu. Setelah ini, mulutmu yang akan menyusul. " ancam Zehan tegas.
" Kau lihat Kakak ipar,, inilah sifat asli Kakak ku. " ujar William memprovokasi.
" Kau benar-benar mencari masalah,,! " geram Zehan sambil menggulung lengan kemejanya.
Alish segera menyentuh bahu Zehan dan mengusapnya lembut. Zehan menoleh, dan Alish hanya menggeleng. Zehan pun melunak.
" Ya Tuhan,,,!! " William menepuk dahinya.
" Maafkan aku Kakak ipar. Kami bukannya sedang bertengkar, memang sejak dulu kami kalau bercanda seperti ini. " William menjelaskan supaya Alish tidak salah paham.
" Aku mengerti. " ucap Alish sambil tersenyum.
Dan pesanan makanan mereka pun datang. Suasana sunyi untuk sesaat. Setelah itu, mereka mulai makan malam dalam diam. Hanya bunyi dentingan sendok dengan piring.
*
*
*
~~ ***Bersambung,,
Jangan lupa untuk like, vote, comment dan kopinya.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤✌✌***
__ADS_1