
" Terimakasih, sayang,. " ucap Zehan lalu mulai memakan sarapan nya.
Alish hanya mengangguk sambil tersenyum kecut. Alish sedikit merasa risih dengan panggilan nya barusan untuk Zehan. Namun mau tidak mau, suka tidak suka, Alish harus tetap melakukan nya.
Alish pun kembali memakan sarapannya yang tadi sempat tertunda. Dia juga harus segera bersiap untuk berangkat kerja. Karena Zehan memang tidak melarang nya untuk tetap bekerja.
" Sayang,,. Nanti siang aku tidak bisa membawakan makan siang untukmu, karena aku ada janji bertemu dengan Rayhan. Kamu masih ingat dengan Rayhan, kan,,? " ujar Zehan setelah mereka selesai sarapan.
Alish yang tengah membereskan piring bekas makannya, menghentikan kegiatannya dan menatap Zehan sekilas. Alish nampak sedikit berpikir, dan tak lama dia pun bertanya.
" Rayhan,,,? Bukannya Pak Rayhan itu mantan teman satu tempat kerja Kakak kan,,,? " tanya Alish.
" Hubby,, sayang. Hubby,,,. Kenapa berubah lagi menjadi Kakak,,,? " protes Zehan sedikit kesal.
Alish melanjutkan kegiatan membereskan bekas makannya, berpura-pura tidak mendengar protes dari Zehan.
" Ada suatu hal yang ingin dibicarakan oleh Rayhan. Tidak apa-apa kan,,,? " .
Alish tersenyum sambil mencuci piring. Alish mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya.
" Tidak apa-apa, Hubby. Nanti aku bisa beli untuk makan siangnya. Tapi Hubby tetap ' narik' kan,,,? " tanya Alish.
' Narik ' yang dimaksud oleh Alish disini adalah pekerjaan Zehan sebagai sopir taksi online.
Zehan tersenyum saat Alish memanggilnya Hubby.
" Mungkin hanya sebentar, sayang. Setelah aku mengantarkanmu bekerja. " jawab Zehan.
" Hmm,,, baiklah. Kalau begitu, aku akan bersiap dulu. "
Alish kembali masuk kekamarnya unyuk bersiap, Zehan mengikuti dari belakang unyuk mengambil ponselnya.
Disaat Alish sedang bersiap, Zehan menghubungi Rayhan. Menanyakan pertemuan nanti siang. Namun Zehan masih belum membalas pesan dari William.
" Aku sudah siap, Hubby. " ucapan Alish membuat Zehan memasukan ponselnya kedalam saku kemeja.
Tak lupa juga, Zehan mengambil topi dan maskernya. Memang selama ini, setiap Zehan menjadi sopir taksi online, dia selalu memakai topi dan masker.
Zehan segera meraih tangan Alish dan menggandeng nya keluar dari kamar. Zehan tetap menggandeng tangan Alish saat mereka keluar dari rumah dan berjalan menuju mobil.
Seperti biasa, Zehan selalu membukakan pintu mobil dan memasangkan seatbelt untuk Alish. Membuat Alish selalu merasa istimewa karena selalu diperhatikan oleh sang suami.
Zehan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hanya perlu waktu sepuluh menit untuk bisa sampai ditempat kerja Alish.
Setelah Alish mengecup punggung tangan Zehan dan Zehan membalasnya dengan mencium keningnya, Alish segera masuk kedalam tokonya. Sementara Zehan mulai membuka orderan untuk taksi online nya.
Sambil menunggu, Zehan memakai sebuah earphones dan menghubungi William. Tak membutuhkan waktu lama, teleponnya pun tersambung.
[ " Ha,,,, " ]
__ADS_1
[ " Hyeong,,,!!!! " ] pekik suara diseberang telepon, membuat Zehan spontan melepas earphones nya.
[ " Hallo,,,? Hyeong,,,? " ] suara diseberang kembali terdengar, namun tidak kencang seperti tadi.
Zehan kembali memasang earphones nya. Dan mulai menghela nafas panjang.
[ " Will,,,,. " ]
[ " Ahh,, Hyeong,,!!! Ternyata benar ini kau. Mengapa semalam kau tidak menjawab panggilanku ataupun membalas pesanku,,? Apa yang sedang kau lakukan, hahh,,,??!! " ] berbondong pertanyaan dilontarkan William padanya, membuat Zehan memijit pelan pangkal hidungnya.
[ " Ada apa kau menghubungi ku,,? Dan darimana kau mendapatkan nomer ponselku,,? " ] Zehan balik bertanya.
[ " Cckkk,,,,. Memang kau benar-benar adalah Hyeong ku. Tidak diragukan lagi. Aku mendapatkan nomermu dari Rayhan. Kemarin aku datang menemuinya. " ] jawab William sambil berdecak kesal.
[ " Lalu ada apa kau menghubungi ku,,? " ] suara Zehan terdengar sangat datar dan cuek.
[ " Ohh,, Ayolah, Hyeong..!! Bisakah kita bertemu,,? Aku sangat merindukan Kakakku. " ] rengek William, membuat Zehan mendengus kesal.
[ " Baiklah,,. Nanti aku kabari lagi. " ]
[ " Ta,,, " ]
Zehan langsung memutuskan panggilan teleponnya, membuat seseorang yang jauh disana berteriak.
" Hyeonnggg,,,!!!!! "
*****
Zehan langsung menghampiri Rayhan, saat dia melihat sosok itu, tak jauh dari tempatnya berdiri.
" Sudah lama, Ray,,,? " tanya Zehan begitu dia sampai ditempat Rayhan dan duduk dihadapan nya.
" Belum lama, Tuan. " jawab Rayhan dengan sopan.
" Cckk,,, berapa kali sudah kubilang, aku sudah bukan bos mu lagi. Dan berhenti memanggilku Tuan. " protes Zehan sedikit kesal.
" Maafkan saya, Tuan. Tapi sampai kapanpun, Tuan tetaplah bos saya sekaligus sahabat saya. " Rayhan tetap bersikukuh, membuat Zehan menghela nafas.
" Hahh,,, baiklah. Terserah padamu saja. " Zehan mengalah.l
Zehan dan Rayhan pun memesan makanan terlebih dahulu, sebelum mereka memulai pembicaraan.
Mereka hanya berbicara sedikit masalah pribadi sambil menunggu pesanan mereka tiba. Rayhan juga sedikit bercerita tentang masalah perusahaan, yang beberapa kali terjadi masalah semenjak Zehan meninggalkan perusahaan.
Obrolan mereka terhenti untuk sesaat karena pesanan mereka datang. Zehan sedikit kepikiran dengan nasib perusahaan nya, setelah tadi mendengar cerita Rayhan.
Walau bagaimana pun juga, perusahaan itu dia rintis dari masih awal. Walaupun pemilik perusahaan itu masih sang Ayah, namun yang mengelola sejak awal adalah Zehan.
Ada sedikit rasa sedih dan cemas, namun Zehan berusaha untuk bersikap biasa. Mereka pun mulai makan sambil sesekali berbicara.
__ADS_1
Rayhan pun segera membicarakan inti dari pertemuannya setelah mereka selesai makan.
" Tuan,, kemarin Tuan Choi datang menemui saya dan mencari anda. Dia ingin bekerja sama dengan perusahaan kita namun dengan syarat harus anda yang mengelolanya. " jelas Rayhan to the point.
Zehan menghela nafas sambil memijat pelan pangkal hidungnya. Benar-benar menyusahkan, pikir Zehan.
" Apakah kau tidak bilang, kalau sudah tidak bekerja di sana lagi,,,? " tanya Zehan.
" Sudah, Tuan. Namun Tuan Choi tidak mau tahu, harus anda yang mengelola kerjasama itu. " jawab Rayhan, yang lagi-lagi membuat Zehan menarik nafas kasar.
" Lalu bagaimana dengan Presdir,,,? Apakah beliau tau,,,? " tanya Zehan lagi.
Terpaksa dia menyebut sang Ayah dengan sebutan Presdir. Rayhan hanya menggeleng sebagai jawaban.
" Kita ke kantornya sekarang. " perintah Zehan lalu beranjak dari duduknya, diikuti oleh Rayhan.
" Baik, Tuan. "
Setelah membayar, Rayhan segera menemui Zehan ditempat parkir.
" Lebih baik kita menggunakan mobil masing-masing. " Rayhan mengangguk, lalu berjalan menuju mobilnya, sementara Zehan masuk kedalam mobilnya.
Mereka mengendarai mobil mereka menuju perusahaan milik keluarga Choi. Setelah menempuh perjalanan sekitar hampir setengah jam, Zehan dan Rayhan pun sampai diperusahaan Choi's Corporation.
Zehan berjalan dengan santainya masuk kedalam perusahaan itu, diikuti oleh Rayhan. Rayhan pun menghampiri sekretaris William dan memberitahu nya kalau mereka susah ada janji.
Sekretaris William mengetuk pintu, dan mengatakan kalau ada tamu yang datang. Rayhan dan Zehan segera masuk setelah mereka mendengar suara William yang mengijinkan mereka untuk masuk.
Zehan masuk terlebih dahulu, diikuti oleh Rayhan. Zehan menundukkan kepalanya, sambil berjalan masuk. William mengalihkan pandangannya dari laptop nya dan melihat siapa yang datang.
William langsung berteriak histeris, begitu dia mengenali sosok dibalik topi dan masker itu.
" Hyeong,,,,!!!! "
******
~~ ***Bersambung ,,,,
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤❤✌✌✌***
__ADS_1
****