
" Pa,,,. Papa kenal dengan Ayah Alish,,,? " tanya Alish kemudian.
Mark menatap Alish dan mengangguk.
" Dia adalah orang yang sangat penting dalam kehidupan Papa dulu. Bahkan Papa berhutang nyawa padanya. "
Mata Zehan Alish membulat sempurna. Mereka benar-benar kaget dengan ucapan Papa Zehan.
Mark menarik nafas panjang sebelum akhirnya bercerita.
" Papa dulu sama seperti mu, Ze. Lebih senang tinggal disini daripada di Korea, tempat Kakekmu. Sejak kecil, Papa sudah tinggal disini, bersama dengan Bibi Maria,, adik dari Nenekmu. "
" Dan Papa berteman dengan seorang anak laki-laki, yang hangat dan ceria. Dia anak tetangga dari Bibi Maria. Anak itu adalah Abdullah,, Ayah dari istrimu, Ze. "
Alish dan Zehan lagi-lagi dibuat terkejut dengan cerita Mark. Namun mereka hanya diam,, mereka ingin mendengar lebih lanjut dari cerita Mark.
" Papa berteman dengannya,, dan Papa memanggilnya dengan Abdul tapi lebih sering Papa panggil Ab. Papa pun memilih bersekolah dengannya,, harus satu sekolah dan harus satu kelas. "
" Papa selalu bersamanya kemana-mana,, main, belajar bahkan tak jarang Ab menginap dirumah Bibi Maria dan tidur berdua dengan Papa. "
" Pertemanan kami terus berlanjut hingga kami sekolah menengah pertama. Dan ada seseorang yang tidak suka pada Papa dan berniat ingin berbuat jahat pada Papa. "
" Singkat cerita,, saat itu Papa sedang kekamar mandi. Namun saat baru sampai di depan gudang, tiba-tiba mulut Papa dibekap dan dimasukan kedalam gudang."
" Didalam gudang tersebut, Papa disiksa. Ditampar, dipukul, ditendang, bahkan Papa disiram dengan air dari selokan. Saat itu Papa bingung, apa yang membuatnya membenci Papa, bahkan dengan teganya menyiksa Papa. "
" Disaat Papa sudah tidak kuat dan setengah sadar, Abdul datang. Dia menolong Papa,, dia bahkan berkelahi dengan orang-orang yang menyiksa Papa, hingga akhirnya beberapa orang guru datang saat mendengar suara keributan. "
" Dan setelah itu, Papa pingsan, tak sadarkan diri. Papa sadar saat dirumah sakit. Abdul merasa sangat bersalah pada Papa karena tidak menemani Papa saat akan kekamar mandi. "
" Padahal itu semua bukan salahnya. Papa lah yang berhutang budi padanya. Karena selama ini selalu menemani Papa dan membela Papa. Hingga akhirnya Kakekmu tahu dan sangat marah. "
" Anak-anak yang sudah menyiksa Papa, dilaporkan oleh Kakekmu ke pihak yang berwajib. Mereka juga dikeluarkan oleh pihak sekolah. Namun karena kejadian itu pula yang akhirnya membuat Papa harus berpisah dengan teman sekaligus sahabat baik Papa satu-satunya. "
" Kakekmu membawa Papa kembali ke Korea dan melanjutkan sekolah disana. Dan semenjak itu pula, Papa hilang kontak dengan Abdul. "
" Saat Papa kembali kesini,, ternyata Abdul sudah pindah. Dan Papa tidak tahu keberadaannya lagi. Saat itu Papa merasa sedih, dan merasa kembali kehilangan sahabat terbaik Papa. "
" Dan berjalannya waktu, membuat pribadi Papa kembali dingin dan tertutup seperti dulu. Papa sempat mencari tahu keberadaan Abdul, namun nihil. Hingga akhirnya Papa bertemu dengan Alish. "
" Saat pertama Papa melihatnya, Papa merasa melihat wajah Abdul pada wajah Alish, namun saat itu juga, Papa menepis nya. Karena Papa marah pada Ze, menikah tanpa ijin dan restu dari Papa. "
" Papa hanya takut, kalau Alish itu sama seperti perempuan lain, yang hanya mengincar harta keluarga Lee. Oleh sebab itu, Papa melarang Ze untuk menikah dengan Alish. "
" Saat pertemuan kedua dirumah sakit,, Papa kembali melihat wajah Abdul dalam diri Alish tapi lagi-lagi Papa menepis nya. Karena saat itu Papa marah. Ze kembali kecelakaan dan kembali mengalami koma "
"Namun semakin lama, wajah Abdul dan Alish datang silih berganti dalam mimpi Papa. Papa merasa terganggu sekaligus penasaran, ada hubungan apa Alish dengan Abdul. "
" Hingga akhirnya, Papa memutuskan untuk bertemu dan bertanya langsung pada Ze dan Alish. "
__ADS_1
Mark mengakhiri kisah masa lalunya dan kembali menatap wajah Alish. Matanya semakin memerah dan berkaca.
" Katakan pada Papa, Lish,, dimana Ayahmu berada,,? " tanya Mark dengan parau.
Alish menatap sendu Papa Zehan sekaligus mertuanya itu. Alish pun sempat menitikan airmata, saat Mark bercerita.
" Ayah sudah lama meninggal, Pa. Ayah dan Ibu kecelakaan,, hingga akhirnya meninggal saat dalam perjalanan menuju rumah sakit. Saat itu, Alish masih kecil dan akhirnya Alish tinggal di Yayasan Bunda Ani, sahabat Ayah dan Ibu. " jawab Alish lirih.
Air matanya kembali mengalir dan membuatnya terisak, karena kembali mengingat kedua orangtuanya. Zehan merangkul dan mengusap bahu Alish.
Mark terkejut saat mendengar kalau sahabat baiknya itu ternyata sudah meninggal. Dan Mark semakin merasa bersalah pada Alish.
" Maafkan Papa, Nak. Papa semakin merasa bersalah pada Abdul karena sudah merendahkanmu, menghinamu dan membuatmu menderita. Maafkan Papa,, Alish. "
Dada Mark terasa sakit dan sesak,, karena rasa bersalah dan menyesalnya.
Alish menggeleng dan tersenyum kecil.
" Papa tidak bersalah,, jangan terus meminta maaf. Sebelum Papa minta maaf pun, Alish sudah memaafkan Papa. Dan Ayah juga pasti mengerti,, karena Papa ingin yang terbaik untuk anak Papa. "
Mark menatap Alish dengan mata yang berkabut. Bibirnya berusaha untuk tersenyum.
" Terimakasih,, Alish. Apakah Papa boleh datang ke makam Abdul, Lish,,,? " Alish mengangguk.
" Tentu saja boleh, Pa. Kapan Papa mau kesana,,,? "
" Sekarang boleh, Lish,,? "
" Tentu saja, sayang. Ze senang karena Papa sudah mau menerima, Alish. Benarkan Papa sudah mau menerima Alish,,,? " tanya Zehan pada Mark.
" Tentu saja, Ze. Apalagi Alish adalah anak satu-satunya dari sahabat Papa yang sudah tiada. Tentu saja Papa harus menyayangi nya sebagai menantu sekaligus sebagai anak sendiri. " jawab Mark membuat senyuman di bibir Alish dan Zehan mengembang.
" Dan Papa jangan lupa,, kalau saat ini, didalam rahim Alish sudah ada calon cucu Papa. Dan mereka kembar. " Mata Mark berbinar dan bibirnya tersenyum lebar.
" Benarkah,,,? " Alish dan Zehan mengangguk.
" Ya Tuhan,,. Terimakasih,, Nak. "
" Kita berangkat sekarang, Pa,,? " tanya Alish.
Mark langsung menganggukan kepalanya lalu beranjak dari duduknya. Diikuti oleh Zehan dan Alish.
Mereka bertiga pun keluar dari cafe tersebut dan pergi ke makam kedua orangtua Alish. Zehan dan Alish terpaksa menunda niat mereka untuk berbelanja.
" Kapan kau akan kembali kerumah Papa, Ze,,? Dengan Alish tentu saja. " tanya Mark begitu mereka sampai didepan mobilark.
" Nanti Ze akan bicarakan lagi dengan Alish, Pa. "
" Baiklah,,. Kita berangkat,, kalian naik mobil Papa atau naik mobil sendiri, Ze,,? " tanya Mark lagi.
__ADS_1
" Kami naik mobil sendiri saja, Pa. Setelah dari makam, kami berniat ingin berbelanja. "
" Baiklah,, Papa akan mengikuti mobil kalian. "
Mark masuk kedalam mobil, sementara Zehan dan Alish menyebrang dan berjalan menuju mobilnya.
Dengan beriringan, mobil Zehan dan Mark melaju menuju makam.
Tiga puluh menit kemudian,,
Kaki Mark sedikit bergetar, begitu dia turun dari mobil, saat mereka sampai di tempat pemakaman.
Bukan pemakaman elit,, hanya pemakaman biasa. Membuat dada Mark kembali sesak karena merasa bersalah. Dia benar-benar menyesal karena baru mengetahui keberadaan sahabat baiknya.
Dan ternyata, dia sudah kembali menghadap Sang Pencipta. Alish berjalan memasuki makam dan tangannya digandeng oleh Zehan.
Zehan tahu, kalau saat ini, hati sang istri kembali sedih karena datang ke makam orangtuanya. Mark mengikuti Alish dan Zehan dengan kaki yang sedikit gemetar.
Bukan gemetar karena takut,, tapi karena merasa tak sanggup, menerima kenyataan sahabat nya itu sudah berada di alam lain.
Dan saat Mark berdiri didepan dua buah makam yang hanya ditumbuhi rumput namun tetap terawat rapi,, bukan hanya kakinya saja yang gemetar, tubuhnya pun ikut bergetar.
Matanya menatap batu nisan yang bertuliskan nama Abdullah. Mata itu kembali berkabut,, dan dia pun terpaksa memejamkan matanya. Menetralisir rasa sesak dan sedih dihatinya.
Mark berjongkok disebelah makam Abdul sementara Alish berada di tengah-tengah makam Ayah dan Ibunya, bersama Zehan tentunya.
Mark memegang batu nisan milik Abdul. Dan sesaat kemudian, bulir bening yang keluar dari matanya mengalir di pipinya.
" Ab,,, "
Suara Mark serak dan parau dan terdengar sangat lirih. Seperti tercekat dan susah untuk keluar. Bahu Mark bergetar, karena menangis.
Dunianya seakan runtuh melihat makan yang ada didepannya.
" Aku datang, Ab. " ucap Mark lagi dengan suara sedikit bergetar.
*
*
*
~~ **Bersambung,,
Maaf,, othor kemarin ga up,,. othor keasyikan baca novel temen othor,, jadi lupa kalau belum up. Maaf ya,, othor kalau udah baca,, sering lupa waktu.
Jangan lupa untuk like, vote dan comment nya, Kakak.
Salam love and peace dari othor,,
__ADS_1
❤❤✌✌**
**