
*T*ok,, tok, tok,,
" Masuk,, " seru Rayhan dari dalam ruangan.
Dewi, si OB cantik yang sudah membuat detak jantung Rayhan tak beraturan, pun masuk setelah dia mendengar perintah.
" Permisi, Tuan. Saya mengantar pesanan Anda. " ucap Dewi dengan sopan dan senyum kecil yang menghiasi bibir tipisnya.
Deg,,
***Deg,,
Deg***,,
Detak jantung Rayhan kembali berdetak kencang dan tak beraturan, karena melihat senyuman gadis OB itu.
Dewi mendekat kearah meja Rayhan. Dia meletakkan secangkir kopi dan sepiring kecil kue Bolu pandan dengan taburan keju.
Rayhan mengernyitkan dahinya melihat piring yang berisi kue tersebut.
" Itu apa,,? " tanya Rayhan sambil menatap piring itu.
Dewi kemudian menegakkan tubuhnya lalu tersenyum.
" Maaf sebelumnya, Tuan. Itu kue Bolu pandan buatan saya sendiri. Saya memberikannya pada Tuan sebagai tanda terimakasih dari saya karena Tuan tadi sudah menolong saya. "
" Semoga Tuan mau berkenan untuk mencicipi kue buatan saya. Dan semoga Tuan suka. " jawab Dewi dengan wajah berbinar.
" Baiklah,, aku terima. Terimakasih untuk kue dan kopinya. " ucap Rayhan, berusaha menutupi rasa gugupnya karena terpesona akan wajah cantiknya si OB tersebut, saat dia tersenyum.
" Sama-sama, Tuan. Kalau begitu, saya permisi. " pamit Dewi dengan sedikit membungkukkan badannya.
Rayhan hanya mengangguk. Mata masih tetap menatap punggung Dewi yang mulai menjauh, keluar dari ruangan Rayhan.
Rayhan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi sambil menghela nafas panjang.
" Ya Tuhan,, ada apa dengan diriku,,? Kenapa jantungku selalu berdetak cepat dan kencang saat melihat senyumnya,,? " gumam Rayhan bermonolog.
Pandangan Rayhan tiba-tiba tertuju pada cangkir dan piring kue yang berada diatas mejanya. Tangannya pun meraih cangkir kpoi tersebut.
Perlahan, Rayhan menyeruput sedikit kopi tersebut, mencicip apakah sesuai dengan dengan seleranya.
Mata Rayhan membulat saat kopi tersebut masuk kedalam mulut dan mengalir mulus di tenggorokannya.
" Ini,,,,. "
Rayhan kembali meminum kopinya,, dan rasa kopi itu benar-benar pas dengan seleranya. Begitu kental, nikmat dan pas manisnya.
Selama ini, belum pernah ada yang bisa membuat kopi seperti yang dia inginkan. Ya,, seperti kopi yang dibuat oleh Dewi saat ini.
Rayhan pun meraih sepotong kue dan menggigitnya sedikit. Dan,, lagi-lagi Rayhan dia buat terkejut, karena rasa kue itu benar-benar enak. Lembut, manisnya cukup dan tidak membuat leher tercekik.
" Gadis itu berbakat. Kue dan kopi ini akan sangat laris kalau ada didalam menu sebuah cafe. " gumam Rayhan lagi.
Rayhan kembali menikmati kue dan kopi tersebut, hingga dia tidak menyadari, kalau Bos mudanya sudah berada dihadapannya.
" Ehemm,,, "
Zehan berdeham, dan membuat Rayhan sedikit terkejut kaget.
" Bos,,,. "
Rayhan meletakkan kue yang baru saja dia gigit separuh. Zehan menatap kopi dan kue yang ada diatas meja sang asisten.
" Sepertinya enak, Ray,,. " sindir Zehan seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan Rayhan.
Rayhan hanya tersenyum, dan wajahnya tersipu malu. Membuat Zehan mengernyitkan dahinya, heran.
" Hey,, hey,, hey,,. Ada apa dengan wajahmu,,,? " goda Zehan membuat Rayhan menundukkan wajahnya.
" Kau kenapa, Kawan,,,? " tanya Zehan.
__ADS_1
" Emm,,,. Aku tidak apa-apa, Ze. " jawabnya pelan.
Zehan semakin dibuat bingung dengan sikap Rayhan yang seperti ABG labil.
" Kau ingin menyimpan rahasia lagi dariku,,? " sindir Zehan dengan tegas, membuat Rayhan mengangkat wajahnya dan menatap sendu sang atasan.
" Bukannya aku ingin menyimpan rahasia,, hanya saja,,, aku masih belum tahu, apa yang sedang kurasakan saat ini. " jawab Rayhan lirih.
" Ceritakan,,,. " perintah Zehan tegas.
Rayhan menarik nafas panjang lalu mulai bercerita kejadian dengan OB cantik tadi.
" Bisa kau beritahu aku, apa yang sebenarnya terjadi padaku, Ze,,? " tanya Rayhan dengan wajah yang memelas.
Zehan tersenyum setelah mendengar cerita dari asisten sekaligus sahabatnya itu.
" Kau mau tahu,,,? " Rayhan mengangguk cepat.
" Itulah cinta, Ray. Cinta pada pandangan pertama. " jawab Zehan sambil mengulum senyumnya.
Rayhan tersenyum mengejek mendengar jawaban Zehan yang terdengar konyol baginya.
" Tidak mungkin,,, kau konyol, Ze. "
" Susah memang kalau berbicara dengan jomblo akut yang tidak pernah merasakan jatuh cinta. " ketus Zehan kesal.
Rayhan terdiam mematung. Pikirannya mencerna ucapan Zehan tadi.
" Benarkah aku jatuh cinta pada OB cantik itu,,,? Tidak,,, itu tidak mungkin. " batin Rayhan menyangkalnya.
" Terserah padamu, mau percaya atau tidak. Tapi jangan pernah menyesal saat kau telat menyadarinya. " lanjut Zehan tegas, seakan bisa mengetahui apa yang ada dipikiran Rayhan.
Rayhan kembali diam dan menatap wajah Bos nya yang terlihat serius itu.
" Tapi Ze,,, "
" Dia hanya OB, begitu,,? " Rayhan terdiam.
" Kau berpikiran picik kalau begitu. Ingatlah,,, semua manusia SAMA dimata Allah. Harta tidak dibawa mati. Semua keindahan dunia, baik itu harta, kemewahan dan kedudukan hanya bersifat sementara didunia ini."
Rayhan semakin diam membisu, bahkan diam seperti patung. Zehan menghela nafas panjang.
" Bukankah tadi aku baru saja bercerita padamu tentang William dan Fatimah,,? Dan kau tentu masih ingat, apa pekerjaan Fatimah. Apa William keberatan dengan itu semua,,? Tidak kan. Lalu kau,,,? "
Rayhan memejamkan matanya, mencerna semua ucapan Zehan. Dia juga mengingat cerita tentang William dan gadis pengamen jalanan.
" Mengapa aku harus malu hanya karena gadis itu OB,,? William yang statusnya sebagai pewaris perusahaan Choi saja, justru mengejar cinta seorang gadis pengamen. Haish,,, Ray,, Ray,,,. Dasar bo*doh." Rayhan mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
" Kau benar, Ze. Tidak seharusnya aku berpikir seperti itu. Semua juga pasti ingin bisa hidup layak dan berkecukupan. Namun kembali lagi, semua adalah takdir. " Zehan tersenyum, akhirnya sahabatnya itu sadar.
" Pikirkanlah lagi. Bahkan kalau perlu, shalat istikharah. Agar Allah memberimu petunjuk. " Rayhan mengangguk dan tersenyum.
" Terimakasih, Ze. "
*
*
*
Sementara itu,,
William sedang mengawasi rumah kecil nan sederhana dari kejauhan. Hatinya sudah sangat rindu, ingin melihat wajah gadisnya.
William tidak memperdulikan urusan kantor. Dia menyerahkan semua urusan pada sang asisten dan sekretaris nya.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya gadis itu keluar dengan menyandang gitar di punggungnya. Seorang anak balita dengan perban dikepalanya, berjalan mengikuti gadis itu.
Terlihat gadis itu sedikit membungkuk dan berbicara dengan anak balita itu. Anak itu tersenyum lalu mengangguk. Kemudian mereka duduk di sebuah kursi yang sudah cukup tua diteras.
Beberapa menit kemudian, seorang anak laki-laki berseragam SD datang dan menghampiri mereka. Anak itu menyalami dan mengecup punggung tangan sang gadis.
__ADS_1
William menatap semua kegiatan dirumah itu dengan seksama dari kejauhan. William menunduk dan sedikit bersembunyi saat gadis itu beranjak pergi dan melintasi mobil William.
Setelah gadis itu menjauh, William baru keluar dari persembunyiannya sambil menarik nafas lega.
William kadang bingung dengan dirinya sendiri. Dia biasanya begitu narsis dan sangat percaya diri. Namun saat melihat gadis yang dikaguminya itu, nyalinya menciut seketika.
William mengambil paperbag dari kursi sebelahnya yang berisi makanan untuk kedua anak kecil yang kini hanya berdua dirumah.
William keluar dari mobil dan tak lupa mengunci pintu mobilnya. Dia beranjak mendekat kerumah sederhana yang kemarin dikunjunginya.
Tok,, tok,, tok,,
" Permisi,,, " seru William sambil mengetuk pintu rumah Fatimah.
Tak lama kemudian, pintu pun terbuka dan keluarlah dua sosok anak kecil. William tersenyum melihat mereka berdua.
" Hai,, Boy. Apa kabar,,,? " sapa William.
Anak laki-laki yang tadi baru saja pulang sekolah, menatap William. Dia terdiam untuk sesaat, lalu tersenyum beberapa detik kemudian.
" Om,,,. " William tersenyum.
" Om yang kemarin udah nolongin adik aku kan,,? " William mengangguk.
Sementara bocah balita dengan perban dikepalanya itu menatap William dan Kakak laki-laki nya itu bergantian.
Bocah itu menarik-narik ujung baju sang Kakak. Anak laki-laki itu menoleh dan menatap sang adik. Dia tersenyum.
" Ade Alif,, ini Om yang kemarin udah nolongin kamu. Om ini yang bawa kamu kerumah sakit. Ayo,, ucapin apa sama Om nya,,? "
Bocah balita yang bernama Alif itu kemudian menatap William.
" Ma'acih ya Om,,, " ucap nya membuat William tersenyum lalu berjongkok. Dia mengusap lembut kepala Alif.
" Sama-sama, sayang. Kepala kamu gimana,,,? Masih sakit,,,? " tanya William lembut. Alif mengangguk.
" Macih, Om. Macih atit. " sahutnya polos. William kembali tersenyum.
" Obatnya jangan lupa diminum ya, biar cepet sembuh. Oke,,, "
" Ote, Om. "
William kembali berdiri. Lalu menyerahkan paperbag itu pada anak laki-laki yang ternyata adalah Ali. Adik satu-satunya Fatimah.
" Ini Om bawain makanan buat kamu sama adik kamu. "
Ali menatap paperbag itu tanpa menyentuhnya. Lalu Ali berganti menatap William.
" Tapi Om,,, " Ali terlihat ragu dan William tersenyum.
" Ambillah,,. Ini rezeki untuk kalian dari tangan Om. Jangan ditolak ya,, "
Ali mengangguk lalu tersenyum.
" Terimakasih, Om. " Ali pun meraih paperbag itu dengan mata yang berbinar bahagia.
William menatap haru kedua bocah laki-laki itu. Mereka yang hidup sederhana dan makan seadanya, begitu bahagia hanya karena menerima makanan darinya.
*
*
*
~~ **Bersambung,,
Jangan lupa tinggalkan jejaknya Kakak,,
Maaf,, kalau othor lama up nya. Semoga kalian semua sabar menanti.
Salam love and peace dari othor,,
__ADS_1
❤❤✌✌*
*