
" Kenapa nunggu di sini, Kak,,? " tanya Alish seraya mengecup punggung tangan Zehan.
Zehan tersenyum lalu mencium pucuk kepala Alish dengan lembut.
" Iya, memang aku sengaja. Sekalian mau ajak kamu langsung kerumah kontrakan baru. Sudah hampir semua barang-barang kita dipindahkan. " jawab Zehan membuat Alish sedikit terkejut.
" Jadi yang Kakak bilang tadi serius kalau hari ini kita langsung pindah,,? " tanya Alish dan Zehan hanya mengangguk.
" Tapi, Kak,,, "
" Sudah,,,. Ayo cepat,,!! Kita juga harus beberes di rumah kontrakan yang baru. Karena tadi Mas Bejo dan kawan-kawan hanya membantu memindahkan, sekarang giliran kita yang merapikan nya. " Zehan memotong ucapan Alish lalu menarik tangan Alish.
Sambil menghela nafas, Alish pun mau tidak mau terpaksa mengikuti langkah Zehan. Toh,, percuma saja bila dibantah karena semua sudah terlanjur terlaksana, pikir Alish.
" Disini tempat tinggal kita untuk sementara. " ujar Zehan seraya berhenti didepan sebuah rumah kontrakan yang sudah dikontrak nya.
" Ini bukannya rumah kontrakan nya Bu Romlah,,? " tanya Alish dan Zehan mengangguk sambil tersenyum.
" Ayo, kita masuk. " Zehan menarik lembut tangan Alish dan membawanya masuk kedalam yang cukup lumayan berantakan.
Zehan nyengir sambil menggaruk tengkuk lehernya.
" Maaf,,,. Aku belum sempat merapikan nya. Sekarang kamu bantu aku ya untuk merapikan nya. " ucap Zehan dengan nada memelas, membuat Alish lagi-lagi menghela nafas panjang.
Alish menggantung tas nya di sebuah paku. Dan dia pun mulai merapikan barang-barang miliknya. Menyusunnya supaya rapi dan dibantu oleh Zehan.
Disaat Zehan sedang membantu Alish merapikan rumahnya, Bejo dan kawan-kawan datang membawa barang terakhir.
" Mas Zehan,, ini semua yang terakhir. Dan ini kunci rumahnya. " ucap Bejo seraya menyerahkan sebuah kunci.
" Oh iya, Mas. Terimakasih,,,. Nanti biar saya cek lagi. " jawab Zehan.
" Iya, Mas. Kalau begitu kami permisi pulang dulu, dan terimakasih untuk cemilannya. Ini sisanya kami bawa pulang. " ujar Bejo setengah malu.
__ADS_1
" Iya, Mas. Ga pa-pa kok,, bawa aja. Besok jangan lupa ya, Mas Bejo. "
" Siap, Mas. Kamu pamit pulang ya, Mas. Assalamu'alaikum,,, " ucap Bejo dan diikuti oleh yang lain.
" Wa'alaikumsalam,,, " sahut Zehan dan Alish berbarengan.
Bejo dan kawan-kawan pun berbalik pulang, sementara Alish dan Zehan kembali melanjutkan bebenah rumahnya.
Mereka sempat berhenti merapikan rumah untuk shalat maghrib, setelah itu mereka pun melanjutkan kembali. Hanya tinggal sedikit barang saja yang belum dirapikan.
Saat suara adzan isya terdengar, disaat yang sama pula mereka berdua menyelesaikan pekerjaan mereka merapikan rumah.
Mereka bergantian untuk mandi dan shalat. Zehan juga tidak lupa memesan makanan, yang lagi-lagi melalui online. Karena Zehan tidak mau kalau Alish memasak setelah mereka merasa lelah setelah merapikan rumah.
Disaat Zehan sedang mandi, pesanan makanan mereka datang. Alish segera menyiapkan nya dimeja. Mereka akan makan setelah Zehan selesai shalat isya.
Alish juga menyiapkan dua gelas minuman untuk mereka, walaupun cuma air putih. Disaat Alish selesai menyiapkan makan malam nya, disaat yang sama pula, Zehan selesai dari shalat nya.
Alish dan Zehan makan dalam diam, karena memang itu yang seharusnya, tidak ada suara saat makan.
" Kak,,, " sapa Alish.
" Hmm,,, " Zehan menjawab dengan berdeham.
Alish duduk disamping Zehan diatas kasur tipisnya.
" Ini Kakak beneran serius mau merenovasi rumah peninggalan orangtua aku,,? " tanya Alish dengan suara pelan.
Seketika Zehan langsung menghentikan kegiatannya. Ditatap nya Alish dengan seksama.
" Kenapa kamu bertanya seperti itu,,? " Zehan balik bertanya.
Alish menggeleng pelan dan terlihat ragu untuk bicara. Zehan melihat ekspresi itu, dia meraih tangan Alish dan menggenggam nya.
__ADS_1
" Ada apa,,? " tanya Zehan.
" Aku takut kalau orang lain nanti akan berpikir kalau aku memanfaatkan Kakak. Baru satu hari menikah, Kakak sudah berbuat begitu banyak untukku. Sementara aku masih belum bisa melaksanakan kewajiban ku sebagai istri dengan semestinya. " jawab Alish pelan sambil menundukkan kepalanya.
Zehan tersenyum dan meremas tangan Alish dengan lembut.
" Jangan pedulikan apa kata orang. Aku hanya ingin kita mempunyai hunian yang lebih layak untuk keluarga kecil kita nanti. Lagipula sejak kapan kamu terlihat memanfaatkan ku,,? " ujar Zehan sementara Alish hanya terdiam.
" Aku menyayangimu tulus, dan aku ingin memberikan yang terbaik untukmu sebagai istriku. Tentu saja, rumah itu untuk calon anak kita nanti. Aku ingin rumah yang terlihat nyaman untukmu dan untuknya kelak. Apa kamu mengerti,,? " jelas Zehan lagi.
Alish mengangkat wajahnya dan menatap lekat Zehan. Alish mengangguk sambil tersenyum. Alish merasa terharu dengan semua perlakuan Zehan terhadapnya.
" Terimakasih,, " ucap Alish pelan dan lirih. Zehan membalas senyuman Alish dan mengangguk.
" Sama-sama, sayang. Sekarang lebih baik kita tidur. " ucap Zehan dan Alish kembali mengangguk.
Mereka tidur dengan posisi saling berpelukan. Untuk sementara, Zehan merasa itu sudah cukup. Dia tidak ingin memaksa Alish untuk melayani nya.
******
**Maaf cuma sedikit,, othor udah ngantuk banget, 🙏🙏🙏.
~~ ****Bersambung lagi,,,,,
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
__ADS_1
❤❤❤✌✌✌****
****