
" ***Assalamu'alaikum,,, dan selamat pagi menjelang siang reader's.
Selamat menjalankan ibadah puasa. Mohon maaf lahir dan batin apabila selama ini othor ada salah. Baik dalam penulisan cerita ataupun komentar2 untuk para writer yang lain.
Semoga amal ibadah dan puasa kita selama bulan Ramadhan ini, diterima Allah SWT. Aaminn,,,
Tetap jaga kesehatan dan salam love and peace dari othor
❤❤✌✌."
ππππππππππππππππππππππππππππππππππ
" Terimakasih,, untuk semuanya. Aku pergi,, dan aku mohon,, jangan lupakan aku. " ucap Zehan parau dan perlahan menghilang.
Sontak Alish langsung menjerit,,
" Tidaakkk,,!! Kakak jangan pergi. "
Zehan masih tersenyum, semakin lama dirinya semakin menghilang.
" Maafkan aku,,. Dan terimakasih,, aku menyayangimu. " Dan Zehan pun menghilang.
" Tidaakkk,,,!! " Alish menangis, begitu juga dengan Rahmad.
Rahmad segera beranjak masuk kedalam kamarnya dan mencari ponselnya untuk menghubungi Minah, istrinya.
Sementara itu, Alish masih menangis sambil terisak.
" Jangan pergi, Kak. Aku mohon,, aku kesepian tanpa Kakak. Aku janji, aku tidak akan pernah melupakan Kakak. Aku juga menyayangimu, Kak. "
Zehan mendengar itu semua sesaat sebelum dirinya benar-benar menghilang. Hatinya sedih dan sakit melihat Alish menangis, tetapi hatinya juga terasa hangat saat Alish mengatakan bahwa Alish juga sayang padanya.
Zehan tersenyum lalu benar-benar menghilang.
Didalam kamar Rahmad,, dia tengah merasakan panik saat Alish mengatakan kalau Zehan sudah pergi. Dan dirinya semakin panik saat sang istri tidak mengangkat telepon darinya karena panggilan diseberang sana sedang sibuk, mungkin sedang menghubungi orang lain.
Setelah sekian lama berusaha menghubungi ponsel sang istri, akhirnya panggilan itu tersambung juga.
📞 Rahmad : " Hallo,, Assalamu'alaikum, Bu. "
📞 Minah : " Wa'alaikumsalam, Mas. Baru saja aku mau menelepon Mas. "
📞 Rahmad : " Bagaimana keadaan Ze, Bu,,? Perasaan Mas sejak tadi tidak enak. "
📞 Minah : " Saat ini, Ze kita sedang dalam penanganan dokter, Mas. Baru saja, kondisinya menurun. Detak jantungnya menghilang, dan saat ini sedang ditangani oleh dokter. Aku baru saja memberitahukan Tuan dan Nyonya. Kita do'akan saja, semoga Ze dapat bertahan dan bisa kembali sehat seperti dulu. "
📞 Rahmad : " Ya sudah, Bu. Mas segera datang kesana. Kalau nanti ada apa-apa, jangan lupa hubungi Mas lagi ya. "
📞 Minah : " Iya, Mas. Hati-hati bawa mobilnya, ini sudah malam. "
__ADS_1
📞 Rahmad : " Iya, Bu. Assalamu'alaikum,, "
Rahmad pun mengakhiri panggilan teleponnya dan bersiap untuk kerumah sakit. Untuk sesaat, Rahmad melupakan Alish, yang saat ini sudah pergi dari rumah Rahmad.
Setelah rapi, Rahmad pun beranjak keluar setelah meraih kunci mobilnya. Disaat sampai ruang tamu, Rahmad baru teringat Alish. Dan dilihatnya Alish sudah pergi.
" Hahh,,, kemana anak itu pergi,,? Aku sampai lupa dengannya, karena terlalu panik tadi. " gumam Rahmad lalu keluar dari rumah itu dan tak lupa mengunci pintu rumahnya.
Rahmad pun pergi kerumah megah yang ada disebelahnya, untuk mengambil mobil majikannya yang biasa dia pakai untuk mengantar jemput majikannya.
Dan disaat yang sama pula, orangtua Zehan keluar dengan tergesa-gesa.
" Mad,, kau sudah tahu,,? " tanya Sabilla.
" Sudah, Nyonya. Tuan, kita berangkat sekarang,,? ".
" Iya, Mad. Ayo cepat,,. " perintah Mark Lee, ayah Zehan.
Mereka pun bergegas masuk kedalam mobil dan mereka pun segera pergi kerumah sakit. Rahmad melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untung saja, jalanan sudah mulai agak sepi, jadi mereka lebih cepat sampai rumah sakit.
Sementara itu,, Alish berjalan dengan gontai. Wajahnya memerah dan matanya mulai sembab karena menangis.
" Ternyata, hari ini datang juga. Hari dimana dia akan pergi meninggalkanku. Entah kenapa, hatiku terasa sakit dan sangat sedih. Dadaku sesak,,. Mengapa aku baru menyadari kalau aku ternyata sudah jatuh cinta padanya,,? " gumam Alish.
Merasa sudah berjalan cukup jauh, dan kakinya mulai merasa lelah, akhirnya Alish pun memesan taxi online untuk mengantarnya pulang. Karena memang jarak rumah Rahmad dan Alish cukup jauh. Akan sangat melelahkan dan membuat kaki bengkak bila harus berjalan kaki.
Rahmad, Mark dan Sabilla berjalan dengan tergesa saat melewati lorong rumah sakit. Tak lama, mereka melihat Minah sedang berdiri, dengan panik didepan ruangan VIP, tempat Zehan dirawat.
" Bagaimana,, Nah,,? " tanya Sabilla begitu mereka sampai ditempat Minah berdiri.
" Masih belum selesai, Nyonya. Para dokter masih ada didalam. " jawab Minah dengan suara bergetar karena takut terjadi hal-hal yang tidak mereka inginkan.
Belum sempat Rahmad bicara, pintu ruangan itu terbuka. Dua orang dokter keluar dengan menggela nafas lega. Mereka pun segera menghampiri.
" Bagaimana keadaan anak saya, Dokter,,? " tanya Mark khawatir.
" Beberapa saat yang lalu, keadaannya memang sangat mengkhawatirkan. Detak jantungnya sempat berhenti. Untunglah,, dapat kami atasi. Dan saat ini, keadaan nya sudah lebih baik. Walaupun masih koma, tapi setidaknya lebih baik dari kemarin. Kita tunggu dalam dua sampai tiga hari, apabila kembali seperti tadi, kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Banyak-banyak lah berdo'a, Tuan dan Nyonya. " jelas salah satu dokter.
Sabilla merasa lemas, dan dapat ditahan oleh Mark supaya tidak jatuh. Sementara Minah dan Rahmad kembali menitikkan airmatanya.
" Terimakasih, Dok. " Mark berusaha tegar.
" Sama-sama, Tuan. "
" Boleh kami masuk, Dok,,? " tanya Sabilla lemah.
" Silahkan, Nyonya. Tetapi harus bergantian ya, jangan terlalu banyak orang. "
__ADS_1
" Baik, Dok. Sekali lagi, terimakasih. "
" Baiklah,, kalau begitu kami permisi, Tuan, Nyonya. "
Mark dan Sabilla hanya mengangguk, lalu masuk kedalam ruang rawat Zehan. Rahmad dan Minah tahu diri, hanya bisa duduk, menunggu diluar.
Rahmad mengelus punggung Minah pelan. Rahmad kembali teringat pada Alish.
" Bu,, " Minah menoleh kearah Rahmad.
" Ya, Mas,,. " Rahmad menghela nafas.
" Ada yang mau Mas ceritakan. "
" Apa, Mas,,? "
" Beberapa saat yang lalu, sebelum Mas telepon kamu. Ada seseorang yang datang kerumah. "
" Siapa,, Mas,,? "
" Dia seorang gadis muda. Kira-kira usianya baru duapuluh tahun. Dan yang menjadi masalah bukan itu, tetapi niatnya datang kerumah, Bu. "
" Ada apa toh, Mas,,? Mbok ya kalau ngomong itu jangan setengah-setengah. " Minah geregetan.
" Gadis itu datang untuk menyampaikan pesan dari Ze, Bu. "
Rahmad pun mulai menceritakan kedatangan Alish bersama Zehan dan tentang permintaan maaf dari Zehan. Minah mendengarkan dan sesekali menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Tapi Minah tidak memotong cerita Rahmad.
" Makanya tadi Mas telepon kamu. Itu karena gadis itu tiba-tiba menjerit dan bilang Ze kita minta maaf untuk yang kesekian kalinya dan mengucapkan terimakasih, lalu pergi. Gadis itu menangis dan menjerit jangan pergi pada Ze. Mas panik,,, lalu berlari kedalam kamar dan menelepon mu. "
" Benar-benar terdengar mustahil, tapi kenapa gadis itu sepertinya bisa dipercaya,,? Siapa nama gadis itu, Mas? ".
" Dia bilang namanya Alish. Dan saat Mas keluar dari kamar, setelah selesai menelepon mu, gadis itu ternyata sudah pergi. Karena panik ingin ke rumah sakit, Mas tidak sempat mencarinya. "
****
~~ ****Bersambung
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤❤✌✌✌**
__ADS_1
****