
" Aku menyayangimu tulus, dan aku ingin memberikan yang terbaik untukmu sebagai istriku. Tentu saja, rumah itu untuk calon anak kita nanti. Aku ingin rumah yang terlihat nyaman untukmu dan untuknya kelak. Apa kamu mengerti,,? " jelas Zehan lagi.
Alish mengangkat wajahnya dan menatap lekat Zehan. Alish mengangguk sambil tersenyum. Alish merasa terharu dengan semua perlakuan Zehan terhadapnya.
" Terimakasih,, " ucap Alish pelan dan lirih. Zehan membalas senyuman Alish dan mengangguk.
" Sama-sama, sayang. Sekarang lebih baik kita tidur. " ucap Zehan dan Alish kembali mengangguk.
Mereka tidur dengan posisi saling berpelukan. Untuk sementara, Zehan merasa itu sudah cukup. Dia tidak ingin memaksa Alish untuk melayani nya.
.
.
.
.
Waktu berlalu dengan cepat, dan tak terasa sudah satu bulan Alish dan Zehan sudah menikah. Namun masih ada peristiwa malam pertama. Zehan tidak pernah memaksakan naf*sunya pada Alish, sementara Alish sendiri sebenarnya merasa tidak enak pada suaminya.
Mereka sudah pernah membicarakan masalah itu, dan Alish ingin melakukannya dirumah mereka sendiri saat rumah itu sudah selesai direnovasi.
Renovasi rumah Alish sendiri sudah enam puluh persen, sudah lebih dari separuhnya dan sudah hampir terlihat bentuk rumahnya. Hanya tinggal finishing terakhir.
Zehan sendiri sudah sejak beberapa minggu lalu berusaha mencari lowongan pekerjaan. Hanya saja, masih belum ada yang pas dihati Zehan.
Dan dengan persetujuan dari Alish, Zehan memutuskan untuk sementara waktu ini, dia menjadi supir taxi online. Zehan berangkat saat Bejo dan kawan-kawan datang.
Setelah dia menyediakan minuman dan makanan ringan, Zehan akan berangkat mencari orderan. Padahal sayang banget ya,, mobil mewah begitu dijadiin taxi online.
Namun Zehan melakukan nya dengan senang hati. Selain untuk menambah pundi uang tabungannya, dia juga mencari kegiatan supaya tidak bosan.
Zehan mempercayakan sepenuhnya pembangunan rumah Alish pada Bejo. Tak lupa juga, Zehan selalu mengirimkan makan siang melalui online untuk Bejo dan kawan-kawan.
Tentu saja, Bejo dan kawan-kawan nya sangat senang dan merasa bersyukur akan kebaikan Zehan. Mereka dengan sekuat tenaga berusaha membuat rumah Alish benar-benar kuat dan bagus.
Alish sendiri masih dengan kegiatan pekerjaan nya menjadi pegawai toko. Dan setiap satu bulan sekali, dia akan berkunjung ke Yayasan Bunda. Tentu saja ditemani oleh Zehan.
Setiap minggu saat Alish libur bekerja, Zehan juga meliburkan dirinya dari menjadi supir taksi online. Zehan dan Alish akan membantu dan mengawasi Bejo dalam merenovasi rumah mereka.
__ADS_1
.
.
.
.
Zehan dan Alish tersenyum puas saat rumah mungil mereka sudah selesai direnovasi. Mereka berdua sangat berterimakasih pada Bejo.
Sementara Bejo dan kawan-kawan nya merasa bangga karena dapat menyelesaikan tugas mereka dengan sangat baik dan dipuji oleh Alish dan Zehan.
" Terimakasih untuk kerjasamanya, Mas Bejo dan yang lainnya. Saya dan Alish sangat puas dengan hasil kerja kalian. " puji Zehan sementara Bejo dan lainnya hanya bisa nyengir.
" Sama-sama, Mas. Kami juga berterimakasih pada Mas Zehan dan Mba Alish karena sudah mempercayakan pekerjaan ini pada kami. " sahut Bejo.
" Kami juga sangat berterimakasih pada kemurahan hati Mas Zehan yang selalu memberi kami lebih, sehingga kami bisa memperbaiki ekonomi keluarga kami. " ujar Firman.
" Setidaknya saat ini kami punya tabungan untuk berjaga-jaga sampai kami mendapatkan pekerjaan lain lagi. " sambung Yanto.
" Sudah cukup kalian berterimakasih pada saya dan Alish. Saya juga bisa memberi lebih karena saya memang ada, kalau tidak, ya paling hanya bisa memberi yang sepantasnya saja. " sahut Zehan merendah dan tidak ingin terus dipuji.
" Sekali lagi, terimakasih pada Mas-Mas semua yang sudah memperbaiki rumah peninggalan orang tua saya menjadi sangat bagus seperti ini. Saya benar-benar bahagia untuk saat ini. " ucap Alish dengan mata mulai berkabut karena mengingat almarhum kedua orangtuanya. Zehan segera menggenggam tangan Alish, berusaha untuk menguatkannya.
" Iya, Mba Alish. Sama-sama,, kalau begitu kami permisi ya Mas Zehan,, Mba Alish. " pamit Bejo dan diikuti oleh yang lainnya.
" Iya, Mas Bejo, Mas Firman, Mas Amir, Mas Yanto, Mas Lukman, dan Mas Ari. Salam untuk keluarga kalian. " ujar Zehan.
" Iya, Mas. " sahut Bejo dan yang lain bersamaan, Bejo pun pergi meninggalkan rumah Alish dan diikuti oleh kawan-kawan nya.
Mereka berenam pergi dengan hati puas dan senang. Uang mereka bekerja selama dua bulan, masih banyak tersisa untuk tabungan. Terutama untuk Bejo, yang istrinya sebentar lagi akan melahirkan.
Sementara itu, Alish dan Zehan masih berdiri didepan rumah mereka yang sudah selesai diperbaiki. Barang-barang mereka juga sudah dipindahkan kembali. Ada beberapa yang sudah dibuang oleh Zehan dan mengganti nya dengan yang baru.
Ada kasur, lemari pakaian, meja dan kursi untuk makan, kompor gas, semua sudah dibuang dan diganti dengan yang baru.
Zehan juga sudah membeli sebuah ranjang, lemari pakaian baru, rak piring, meja makan komplit dengan kursinya, kompor gas baru, lemari es dan tak lupa juga mesin cuci.
__ADS_1
Walaupun sebenarnya Alish pernah menolaknya tapi Zehan selalu bersikeras kalau itu semua untuk memudahkan segala keperluan Alish.
Zehan tersenyum, masih dengan mengenggam tangan Alish. Dia menatap wajah Alish penuh cinta.
" Lish,,, " panggil Zehan.
" Hmm,, " sahut Alish hanya dengan berdeham sebagai jawaban, karena dia masih mengagumi rumah barunya.
Zehan mendekat dan berbisik ditelinga Alish dengan lembut, membuat Alish sedikit bergidik karena geli.
" Bisa kita lakukan malam pertama kita dirumah ini nanti malam,,,? " bisik Zehan dengan sangat pelan dan lembut tapi dengan sangat sukses membuat Alish malu.
Blush,,,
Wajah Alish memerah karena mendengar ucapan Zehan yang sedikit mesum menurut Alish. Dia hanya terdiam dan menundukkan kepalanya.
" Kamu sudah berjanji padaku kan, apabila rumah kita telah selesai diperbaiki, kamu akan segera melakukan kewajiban mu sebagai seorang istri, dengan memberikan nafkah batin untukku. " bisik Zehan lagi, membuat wajah Alish semakin memerah seperti tomat.
Hanya masih terdiam dan semakin menundukkan kepalanya. Alish hanya mengangguk sebagai jawaban untuk Zehan.
Seketika wajah Zehan menjadi cerah dan sumringah. Zehan segera membawa Alish kedalam pelukannya, dan tersenyum.
" Terimakasih,,,. " ucap Zehan pelan.
******
~~ ******Bersambung lagi,,,,,
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤❤✌✌✌****
__ADS_1
****