
Zehan menutup kedua matanya dengan lengan tangan kirinya dan lengan tangan kanannya berada di bawah kepalanya. Pikirannya melayang jauh, berusaha mengingat siapa dirinya dan bagaimana dia bisa meninggal.
Zehan hanya bisa menginggat namanya saja. Dia sendiripun bingung, dia hantu tapi dia bisa merasa lapar dan tidur. Sementara teman hantunya yang lain tidak seperti itu.
Tak lama kemudian, Alish keluar dari kamar mandi. Zehan mengangkat lengannya dan membuka matanya, melihat kearah Alish.
" Kok lama,,? Tadi katanya cuma sebentar. Aku sudah lapar. " keluh Zehan.
" Maaf,,. Aku mencuci seragam kerjaku dulu. Besok mau dipakai lagi, takutnya besok bau kalau tidak dicuci karena tadi kena air hujan. " jelas Alish seraya menjemur baju seragamnya.
" Kau betah tinggal ditempat seperti ini,,? " tanya Zehan seraya bangun dari rebahan nya dan duduk dipinggir kasur lantai.
" Menurut aku tempat ini lebih baik daripada aku harus tinggal dikolong jembatan. Benar kan, Kak,,? " ujar Alish dan balik bertanya.
Zehan menarik nafas, dan tatapannya menjadi kosong.
" Kau benar. Setidaknya ada tempat tinggal. Tidak seperti aku yang berkelana tidak ada tempat tujuan, bahkan hilang ingatan. Kau sendiri belum menjelaskan, kenapa bisa tinggal disini sendiri,,? " tanya Zehan.
" Kakak mau makan apa,,? " Alish balik bertanya.
" Ckk,, Apa saja, yang penting makan. Dan sebaiknya tidak usah mengalihkan pembicaraan. " Zehan berdecak kesal.
Alish menyalakan kompor dan merebus air di panci kecil. Dia berniat memasak mie instan, untuk mengisi perut dan membuat teh panas untuk menghangatkan tubuh karena cuaca yang cukup dingin. Diluar masih gerimis walau tidak deras.
" Aku akan menjelaskan nanti. Sekarang aku hanya punya mie instan untuk makan. Apa Kakak mau,,? " tanya Alish.
__ADS_1
" Terserah padamu,,,. Hei, kau belum menyebutkan siapa namamu,,? " hampir saja Zehan lupa.
Alish terkekeh sambil mempersiapkan bumbu mie instan dan dua gelas teh.
" Padahal kita sudah bicara sejak dari masih di halte. Bahkan Kakak sudah mengganti panggilan Kakak ke aku. Tadi Kakak manggilnya ' kamu ', terus berubah jadi ' kau '. Dan sekarang Kakak baru bertanya siapa namaku,,?" ejek Alish.
" Ckk,, tidak usah menertawakan ku. Jawab saja pertanyaanku,,? " Lagi-lagi Zehan berdecak kesal.
" Aku jadi kepikiran. Sudah menjadi hantu saja, Kakak judes banget. Dulu waktu masih hidup, Kakak seperti apa ya,,? Jangan-jangan pemarah seperti orang yang lagi sakit gigi,, " ledek Alish.
" Kau,,,!!! " geram Zehan menahan marah.
Lagi-lagi Alish tertawa, membuat Zehan semakin geram.
" Maaf,, maaf,,. Jadi hantu jangan jadi pemarah. Gantengnya nanti hilang. Nama aku Ghaziyah Alishbah. Aku biasa dipanggil Alish. " ucap Alish sambil mengangkat air panasnya dan menyeduh teh.
" Ghaziyah Alishbah,,,? Namamu unik. Apa ada artinya,,? " tanya Zehan dengan suara lebih lembut. Amarahnya sudah lenyap seketika.
Alish mengangkat mie nya yang sudah matang dan mengaduk mie itu dengan bumbunya.
" Ayah aku yang memberikan nama itu yang berarti pejuang yang cantik. Beliau berharap aku bisa berjuang untuk bisa bertahan hidup dari kejamnya dunia ini. " jelas Alish seraya memberikan semangkuk mie instan dan segelas teh panas ke Zehan.
Zehan meraih mangkuk yang berisikan mie instan itu dan teh panasnya. Mereka makan secara lesehan disamping kasur lantai.
Zehan mulai makan dan sesekali meniup mie yang masih panas itu.
__ADS_1
" Lalu sekarang dimana kedua orang tuamu,,? " tanya Zehan di sela-sela makannya.
Alish menghela nafas dan tatapannya berubah sendu. Alish hanya mengaduk-ngaduk mie instan nya.
Zehan berhenti makan karena melihat perubahan dari wajah Alish. Terselip sedikit rasa bersalah dalam hati Zehan.
" Mereka sudah meninggal saat aku baru saja lulus sekolah SD. Kemudian aku tinggal di salah satu yayasan yatim piatu dekat sini. Bunda disana sangat baik. Aku disekolahkan dan aku dengan sukarela membantu nya bekerja selepas pulang sekolah. Mendapatkan sedikit uang untuk membantu membayar uang sekolahku dan juga untuk adik-adik kecilku makan. Memang berat pada awalnya, tapi karena aku ikhlas menjalaninya, aku merasa tidak ada beban. Sekarang aku bekerja disalah satu toko waralaba yang cabangnya ada di mana-mana, begitu aku lulus sekolah. Dan aku hidup berhemat dengan tinggal ditempat murah seperti ini, karena sebagian uang gajiku, aku berikan untuk Bunda di yayasan itu. Aku ikhlas, asalkan adik-adik kecilku bahagia. " jelas Alish panjang lebar.
Zehan merasa terharu sekaligus prihatin dengan kehidupan Alish.
" Andai aku masih hidup,, aku ingin bisa membantu meringankan beban hidupnya. " batin Zehan sedih.
****
~~ **Bersambung,,
Jangan lupa untuk like, vote and comment nya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir di karya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai hasil pemikiran othor,, karena othor juga masih punya hati.
Salam love and peace dari othor,,
__ADS_1
❤❤❤✌✌✌**
****