
" Menikah,,?" tanya Alish. Zehan mengangguk.
" Ya. Dan sekarang aku juga butuh data-data mu agar asistenku bisa segera mengurusnya. " jawab Zehan.
" Tapi nanti kalau ditanya Pak Rt, kita bilang apa,,?" tanya Alish.
" Kita bisa menikah secara agama dulu, supaya tidak menjadi fitnah. Setelah ini kita kerumah Pak RT dan meminta tolong padanya untuk mencari seseorang yang dapat menikahkan kita. " jawab Zehan membuat Alish terdiam melongo.
" Kak,, ini menikah lho. Bukan hal yang main-main,,. Jangan bertindak sembarangan. Lagipula bukankah aku sudah bilang, kita bisa bersama apabila orangtuamu merestui. " Alish mengingatkan.
" Aku tahu. Siapa yang bilang aku main-main,,? Aku serius. Lebih baik sekarang kita masuk dulu, kita bicarakan lagi didalam. Setelah itu, kita kerumah Pak RT, oke,,?. " tegas Zehan membuat Alish tidak bisa berucap apa-apa lagi.
Zehan berjalan meninggalkan Alish yang masih terdiam, sambil membawa dua buah koper besarnya. Alish menghela nafas panjang lalu berjalan mengikuti Zehan.
" Cepat, buka pintunya. " ucap Zehan begitu mereka sampai didepan pintu rumah Alish.
Alish merogoh tas nya dan mengambil kunci di dalamnya. Dia pun membuka kunci pintu itu. Zehan masuk kedalam dan meletakkan kopernya di dekat lemari Alish.
Zehan lalu duduk di kursi dapur dan minum segelas air yang tersedia diatas meja.
" Seperti nya aku harus membeli beberapa perabotan untuk kita. " ujar Zehan setelah meneliti rumah Alish.
" Kak,, bisa kita bicara serius sekarang,,? " tanya Alish yang ikut duduk berhadapan dengan Zehan.
" Oke,,. Bicaralah,,. " balas Zehan seraya menatap Alish.
" Kakak benar-benar sudah memikirkan ini semua,,? Kakak benar-benar serius,,? " Alish memulai pertanyaanya.
Zehan mengangguk sebagai jawaban.
" Kita akan menikah,,? " Zehan kembali mengangguk.
" Lalu Kakak tinggal disini,,? " Dan lagi-lagi Zehan hanya mengangguk.
" Lalu bagaimana dengan restu dari orangtua Kakak,,? " Zehan menarik nafas sebelum bicara.
" Bukankah kau bilang surga seorang anak laki-laki ada di ibunya,,? " Alish mengangguk.
" Dan aku akan menikahi mu hanya dengan restu dari ibuku. Beliau sudah merestui kita, bahkan beliau juga akan datang saat kita menikah nanti. Begitu juga dengan Paman dan Bibiku, mereka akan datang. Begitu semuanya siap, kita akan memberitahu mereka. " jelas Zehan.
" Lalu Ayahmu,,? " tanya Alish dengan hati-hati.
__ADS_1
" Beliau mengusirku, oleh sebab itu mulai hari ini aku akan tinggal disini bersamamu. " Alish terdiam.
" Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan. Sekarang aku minta data-datamu. Cepat,, " lanjut Zehan.
Alish pun beranjak dari duduknya dan berjalan kearah lemarinya. Alish membuka lemari itu dan mencari sesuatu. Dikeluarkannya sebuah map coklat dan memberikan nya pada Zehan.
Zehan menerima nya dan membukanya. Di fotonya satu persatu berkas-berkas milik Alish. Dari mulai KTP, Surat kelakuan baik dari kepolisian, hingga kartu keluarga. Hanya tinggal mengurus surat kesehatan saja.
Karena tinggal seorang diri, maka kartu keluarga itu hanya terdapat nama Alish seorang. Dikirimkan nya foto-foto itu ke Rayhan.
" Segera urus semua. Aku tunggu secepatnya, dan terimakasih. "
Zehan mengirim pesan pada Rayhan.
" Baik, Tuan. Saat ini juga saya urus semuanya. Akan saya kabari lagi begitu semua sudah selesai. "
Rayhan membalas pesan Zehan.
" Sudah,,. Habis maghrib, kita kerumah Pak RT. Besok kita menikah secara agama dulu. Setelah semua berkas beres, baru kita nikah resmi. " ujar Zehan.
" Kakak yakin,,? " tanya Alish memastikan.
" Baiklah. Kalau begitu, aku akan memasak untuk makan malam dulu. " ujar Alish pasrah.
" Tidak usah masak. Kau mandi saja dan segera bersiap-siap. Setelah dari rumah Pak RT, kita makan diluar. " Lagi-lagi Alish menghela nafas.
" Baiklah,,. " ucapnya pasrah.
Alish pun mengambil handuk dan baju gantinya lalu masuk kedalam kamar mandi.
" Baiklah,, aku akan segera mencatat, barang apa saja yang harus aku beli. " gumam Zehan.
Satu persatu dicatatnya perabotan yang harus dibeli dan mengganti beberapa barang lama dengan yang baru. Dari mulai kasur besar dengan ranjangnya, lemari es, mesin cuci, blender, mixer hingga dispenser. Dan barang yang harus diganti, yaitu lemari baju, kompor gas, rak piring, meja makan dan kursinya.
Zehan juga akan mulai memperbaiki rumah itu agar terlihat lebih baik. Sebenarnya Zehan ingin membeli rumah baru untuk Alish, hanya saja Zehan takut Alish menolak untuk pindah. Lebih baik diperbaiki dulu untuk sementara.
Tak berapa lama kemudian, Alish keluar dari kamar mandi.
" Kakak sedang apa,,? " tanya Alish.
" Sedang mencatat barang-barang apa saja yang harus aku beli. Dan rumah ini ingin aku perbaiki sedikit, supaya lebih nyaman. " jawab Zehan.
__ADS_1
" Tapi Kak,,,. "
" Tidak ada kata tapi. Aku ingin kau tinggal ditempat yang lebih baik dan nyaman. Hei,, aku ingin membeli rumah ini, dimana rumah pemiliknya,,? Apa dia mau menjualnya,,? " tanya Zehan dengan semangat membuat Alish semakin terkejut.
" Kak..!!! " pekik Alish.
" Apa,,? " jawab Zehan santai.
" Sudah,,. Kau istirahat dulu, sebentar lagi maghrib. Setelah shalat, kita langsung kerumah Pak RT. " lanjut Zehan.
" Kakak muslim,,? " tanya Alish.
Zehan kembali duduk di kursi dapur dan tersenyum.
" Aku mualaf. Papaku asli Korea, dan Mamaku asli pribumi. Mereka Kristiani termasuk aku. Setelah orangtuaku meniggalkan ku pergi ke Korea untuk mengurus perusahan Kakek, aku disini bersama Paman dan Bibi. "
" Kau pernah bertemu dengan Paman Rahmad, kan,,?. Aku belajar padanya, dan setelah satu belajar dan meyakinkan diri, aku memutuskan untuk indah agama. Saat itu, usiaku baru berusia enam belas tahun, dan masih labil. "
" Aku akui, aku sempat salah pergaulan. Karena kekecewaan ku pada Papa dan Mama yang tega meninggalkan ku selama bertahun-tahun. Aku menjadi nakal dan mengenal dunia malam. Tapi aku bukan pemain perempuan. "
" Sifatku berubah, menjadi arogan, pemarah dan sulit diatur. Sering pergi ke bar dan pulang dalam keadaan mabuk. Membantah setiap nasihat yang keluar dari Paman ataupun Bibi. Dan puncaknya, saat Mama dan Papaku kembali ke sini, aku bertengkar dengan Mama. Hingga kecelakaan itu pun terjadi. " cerita Zehan panjang lebar.
" Kau yang menyadarkanku saat jiwaku terombang-ambing. Kau menyadarkan ku, dan mengajari kasih sayang, saling menolong, bersikap sabar dan ikhlas. Aku beruntung, Tuhan masih memberikan kesempatan kedua untukku. Aku ingin belajar lagi, menjadi muslim yang lebih baik. " lanjut Zehan. Alish mendengarkan dengan mata yang sudah berkabut.
******
~~ ****Bersambung lagi ah,,,
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤❤✌✌✌**
****
__ADS_1