The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
TGH 71


__ADS_3

*Assalamu'alaikum,,


Mohon maaf,, apabila selama beberapa hari ini othor tidak bisa up,,, karena othor kehabisan kuota internet.


Hari ini othor up lagi sedikit,, dan mudah-mudahan bisa up setiap hari. Doakan saja yang terbaik ya buat othor,,


Happy reading*,,


*


*


*


Alish, William dan Rayhan bergegas menuju ruang ICU. Mereka mengintip kedalam dari balik kaca. Air mata Alish kembali lolos,, bahunya bergetar menahan isak tangisnya.


William dan Rayhan menatap sendu, tubuh Zehan yang terbaring kaku dan tubuhnya ditempeli banyak alat. Hati mereka seakan teriris.


" Sama seperti dulu, Ray. " ucap William pelan namun masih dapat terdengar oleh Rayhan.


Rayhan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ingatan nya kembali ke kejadian yang sama beberapa bulan lalu.


Zehan kembali terbaring diruang ICU,, dan lagi-lagi dalam keadaan koma. Benar-benar persis seperti dulu. Entah bagaimana dengan sikap kedua orangtuanya Zehan apabila mereka tahu hal yang sama kembali menimpa Zehan.


William pun segera menghubungi sang Mommy, begitu juga dengan Mama Sabilla, Ibunya Zehan.


Mommy Sarah menangis sambil berteriak tidak mungkin, sementara Mama Sabilla jatuh pingsan sebelum William selesai bicara. William hanya bisa menghela nafas panjang.


Mommy Sarah langsung memesan tiket untuk ke Indonesia saat itu juga. Dan dia mendapat tiket untuk penerbangan malam hari.


Mommy Sarah kembali teringat saat dia kembali ke indonesia beberapa minggu yang lalu untuk menemui sang Kakak, di perusahaan nya.


Flashback on,,,


Braakk,,,


Mommy Sarah membuka pintu ruangan Papa Zehan dengan kasar, membuat si pemilik ruangan tersentak kaget.


" Oppa,,,!!! "


Papa Zehan yang bernama Mark Lee kembali terkejut begitu melihat siapa yang datang. Dia menelan salivanya dengan susah payah.


" Sarah,,,. " ucapnya pelan.


Sarah berjalan mendekat ke meja Mark dengan wajah tegang sekaligus menahan kesal. Tangannya mengepal kuat, berusaha menahan emosinya.


" Maksud Oppa apa,,,? " tanya Sarah sambil menggebrak meja.


" Memangnya apa yang sudah ku lakukan, Sar,,? " dengan santainya Mark balik bertanya, membuat Sarah semakin geram.


" Oppa tidak usah berpura-pura bodoh atau pura-pura lupa dengan apa yang sudah Oppa perbuat pada anak kesayangan ku. Kenapa Oppa mengusir Ze,,,? " Sarah mulai mengeluarkan tanduknya.

__ADS_1


Lagi-lagi Mark hanya bisa menelan salivanya, dan itupun terasa sangat susah. Dilihatnya wajah adik satu-satunya itu, yang sudah memerah karena marah.


" Aku tidak mengusirnya, memang dia yang ingin pergi, meninggalkan semua fasilitas yang sudah kuberikan. " Mark membela dirinya.


Sarah tersenyum sinis mendengar jawaban Kakaknya itu, merasa dirinya tidak bersalah.


" Oh ya,,? Bukankah itu karena kau hanya memberinya dua pilihan,,? Kenapa masih membela dirimu sendiri, dan merasa tidak bersalah,,,? " Lagi-lagi Mark tersentak kaget, karena adiknya itu bisa mengetahui kebenarannya.


" Kenapa,,? Oppa kaget,,,? Ze adalah satu-satunya keponakan ku sekaligus anak kesayangan ku. Bisa-bisanya Oppa ingin menjadikannya korban dalam bisnis. Dijodohkan,,,? Cih,,, apa Oppa sudah tahu bagaimana perempuan itu,,,? Ze itu manusia,, bukan barang yang bisa di per jual belikan untuk bisnis. Oppa sudah lupa, bagaimana menderita nya Ze dulu,,,? Dan sekarang,, Oppa melakukannya lagi,,? Dimana hati nurani mu sebagai seorang Ayah, Oppa,,,? ".


Mark hanya bisa diam sambil menundukkan kepalanya, diserang seperti itu oleh Sarah. Namun dalam hatinya, dia sama sekali tidak merasa menyesal karena sudah mengusir Zehan.


" Dengar,, Oppa. Bila Oppa sudah tidak mau menganggap Ze sebagai anak lagi,, Oppa bisa menyerahkannya padaku,, jangan diusir. Aku tidak terima, bila anak kesayangan ku itu kembali menderita seperti dulu karena keegoisan Oppa."


" Bila Oppa tidak mau merestui pernikahan Ze,, maka aku yang akan merestui mereka, dengan catatan,, Ze bahagia. Aku akan membuat pesta resepsi yang meriah untuknya, dengan atau pun tanpa restu dari Oppa. "


" Dan satu lagi,,, bila Oppa sudah tidak menganggap Ze sebagai anak lagi,,, maka mulai saat ini juga,, jangan pernah anggap aku sebagai adik Oppa lagi. "


Mark seketika langsung mengangkat kepalanya, matanya membulat dan menatap Sarah penuh dengan tanda tanya.


" Kenapa,,? Itu sudah menjadi keputusan ku. Bila Oppa mau aku maafkan Oppa dan mau dianggap sebagai Kakak lagi,, maka datang temui Ze dan restui pernikahan nya. Bila tidak,,, maka jangan pernah mendapatkan maaf dariku, Oppa. "


Mark kembali terkejut mendengar ucapan Sarah. Sarah menatap tajam kearah Mark, lalu pergi begitu saja dari ruangan Mark. Sarah pun bahkan mengabaikan panggilan dari Kakak satu-satunya itu.


Flashback off,,,


Sarah menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. Kakaknya itu ternyata benar-benar sangat egois dan keras kepala.


Jo sangat tahu dan paham, kalau istrinya itu sangat menyayangi keponakan satu-satunya itu. Jo pun bergegas merapikan pekerjaannya dan bersiap untuk pulang.


Tak lupa juga, Jo mengatakan pada sang asisten yaitu Junhoe untuk sementara waktu, semua urusan pekerjaan, diserahkan pada Jun. Dan Jun menyanggupi nya, karena memang tidak ada rapat ataupun proyek yang terlalu mendesak.


Jo pun segera pergi dari kantornya dan pulang kerumah. Sementara Sarah sedang merapikan pakaian dan beberapa barang yang akan dibawa ke Indonesia.


Jo dan Sarah segera berangkat, begitu mereka sudah membersihkan diri dan pamit pada para pelayan dirumah itu. Sarah terlihat begitu banyak melamun, dalam perjalanannya menuju Bandara.


Jo melirik sang istri dan menghela nafas. Dengan lembut, Jo menggenggam tangan Sarah, membuat Sarah tersadar dan menoleh kearah Jo. Jo tersenyum lembut, berusaha memberikan kekuatan untuk Sarah.


" Ze pasti kuat, sayang. Berdo'a lah yang terbaik untuk nya. Dia pasti akan bisa bertahan, karena ada istrinya yang akan selalu menemani nya. "


Air mata Sarah kembali lolos, keluar dari matanya. Sarah mengangguk dan berusaha untuk tersenyum. Hatinya terus saja mengucapkan do'a untuk Zehan.


*


*


*


Kita kembali kerumah sakit,,,


Alish terduduk dengan lesu dikursi tunggu, didepan ruang ICU. Dia ditemani oleh William dan Rayhan. Wajahnya mereka bertiga benar-benar sedih dan sembab.

__ADS_1


Tak lama kemudian,, terdengar suara langkah tergesa mendekat kearah mereka bertiga. Alish, William dan Rayhan mengangkat wajah mereka untuk melihat siapa yang datang.


Sepasang wanita dan pria setengah baya, berhenti didepan mereka. Alish mengenali salah satu mereka, yaitu Mama Zehan. Alish segera berdiri dari duduknya dan langsung memeluk wanita baya tersebut.


Wajah cantik di usia yang mulai senja itu, terlihat pucat dan matanya tak kalah sembab dari Alish. Mama Zehan pun membalas pelukan Alish.


Sementara William dan Rayhan menatap pria baya tersebut dengan tatapan sinis dan kesal. Bila William terlihat dengan sangat jelas, berbeda dengan Rayhan. Dia berusaha tetap bersikap sopan pada pimpinan tertinggi di perusahaan nya tempat dia bekerja tersebut.


" Ray,,. Will,,,. Bagaimana keadaan Ze,,? " tanya Mark sedikit cemas.


William langsung berdiri dari duduknya dan menatap tajam pada Papa Zehan.


" Memang Papa masih peduli dengan Hyeong,,? Bukankah Papa sudah mengusirnya dan tidak menganggapnya lagi sebagai anak,,? " William balik bertanya dengan sinis, namun dia tetap berusaha untuk tidak kasar. Bagaimana pun juga, pria tua yang ada di hadapannya itu adalah Kakak kandung sang Mommy.


Alish sedikit terkejut mendengar ucapan sinis William. Ini bukan pertama kalinya, dia melihat Ayah kandung dari suaminya itu. Beberapa minggu yang lalu, Alish pernah bertemu dengan Papa Mark. Alish perlahan melepaskan pelukan Mama Zehan.


" Ma,,, " panggil Alish lirih.


Mama Zehan, Sabilla kembali mengeluarkan air matanya. Tangannya dengan lembut mengusap pipi Alish. Sabilla berusaha untuk tersenyum, menguatkan Alish.


Papa Zehan, Mark hanya diam mendengar pertanyaan William. Namun tangannya mengepal kuat. Mark kemudian menatap kearah Alish. Sangat terlihat jelas dimata William, bagaimana Mark memandang Alish dengan jijik dan merendahkan.


" Kau sebagai istri, bagaimana ini bisa terjadi,,,? " tanya Mark tiba-tiba pada Alish. Alish cukup terkejut.


" Alish tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, Pa. " jawab Alish dengan suara sedikit bergetar.


" Jangan memanggilku Papa,,!! Sejak awal aku tidak pernah merestui atau menganggapmu sebagai menantu ku. Camkan itu,,,!! ".


Alish merasa dadanya terasa sesak dan sakit,, namun tidak berdarah. William semakin mengepalkan tangannya kencang mendengar ucapan Mark pada Alish.


Ingin rasanya William memukul wajah pria tua itu, jika dia tidak mengingat keadaan mereka yang masih ada dirumah sakit. William tidak mau membuat keributan. Hanya saja, William merasa harus segera membela Kakak iparnya itu.


" Maaf, Pa. Ini rumah sakit, jangan membuat keributan. Perlukah Will mengingat kan kembali ucapan Mommy pada Papa tempo hari di kantor,,,? " William sengaja menyebut Mommy nya.


Mark mengeraskan rahangnya,, tangannya sudah mengepal kuat. Namun Mark memilih diam, mengingat keadaan sekitar.


Mereka pun kembali duduk. Sabilla memilih duduk disamping Alish, begitu juga dengan William. Dia berusaha melindungi Alish. Mark hanya bisa pasrah duduk disamping Rayhan.


*


*


*


~~ Bersambung,,


Jangan lupa,, ditunggu like dan vote nya. Tambahkan juga di favorit dan bintang lima nya.


Salam love and peace dari othor,,


❤❤❤✌✌✌

__ADS_1


~~


__ADS_2