The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
TGH 64


__ADS_3

* **Mohon maaf,,,readers ku ter lope lope.


Semalem othor mau up,,tapi masa udah seept banget. Pengen dilanjut ngetiknya, takut typo. Jadinya baru bisa up pagi deh,,


Happy reading,,guys**.**


*


*


Selesai sarapan dan mencuci piring,, Alish segera bersiap,, menyiapkan seragam kerjanya yang akan dipakai saat sudah tiba disana.


Zehan pun juga bersiap, untuk segera ke kantor William dan membicarakan kelanjutan kerja sama mereka.


" Nanti mau aku bawakan makan siang, atau kamu mau beli sendiri, sayang,,? " tanya Zehan di sela-sela kegiatannya mengganti pakaian.


" Emm,, lebih baik aku beli sendiri saja, Hubby. Takutnya nanti Hubby sibuk. " jawab Alish sambil memasukkan seragam kerja nya kedalam tas.


" Aku akan menyempatkan waktu untuk mengantarkan nya, sayang. " ucap Zehan, lalu memeluk Alish dari belakang.


Alish mengusap lembut tangan Zehan yang melingkar di perutnya.


" Tidak usah, Hubby. Sebaiknya kamu fokus untuk pekerjaan mu dulu. "


Zehan mengecup bahu Alish singkat lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Alish.


" Hmm,, baiklah sayang. Jika memang itu mau mu. " bisik Zehan ditelinga Alish.


Alish membelai pipi Zehan.


" Kamu tidak marah kan, Hubby,,,? " tanya Alish pelan.


" Tentu saja tidak, sayang. Bagaimana bisa aku marah padamu. " jawab Zehan sambil terus mengecup leher Alish.


" Terimakasih,,,. Sebaiknya kita berangkat sekarang. " ucap Alish.


" Baiklah,,,. " dengan terpaksa Zehan melepaskan pelukannya.


Zehan masih ingin berlama-lama memeluk Alish dan menghirup aroma tubuh Alish, yang seakan sudah menjadi candunya.


Alish tersenyum melihat wajah lesu Zehan. Alish mengecup singkat bibir Zehan.


" Vitamin untukmu. Harus semangat kerjanya. " ucap Alish, membuat Zehan tersenyum.


Zehan membalas mengecup bibir Alish, dan **********. Lidah Zehan menyusuri isi rongga mulut Alish. Tangan Zehan menahan tengkuk Alish, sementara tangan Alish melingkar dileher Zehan.


Zehan melepaskan tautan bibirnya, setelah merasa cukup puas. Dengan menggunakan ibu jarinya, Zehan mengusap bibir Alish yang basah karena saliva nya.


" Ini baru vitamin, sayang. "


Blush,,,


Wajah Alish memerah seketika karena malu. Zehan meraih tangan Alish kemudian menggandeng tangannya. Mereka keluar dari kamar bersama.


Setelah memastikan semua aman,, seperti peralatan listrik dan kompor,, Zehan segera keluar dari rumah,, tak lupa pula mengunci pintu rumahnya.


Zehan kembali menggandeng tangan Alish saat mereka berjalan menuju parkiran mobilnya. Zehan membukakan pintu mobil untuk Alish, setelah dia melepaskan penutup mobil.


" Terimakasih,,, " ucap Alish,, karena merasa tersentuh dengan sikap manis yang ditujukan Zehan padanya.


Dengan setengah berlari,, Zehan membuka pintu bagian kemudi, lalu masuk kedalam. Zehan mulai menyalakan mesin mobilnya,, dan melakukannya dengan kecepatan rendah.


Zehan sengaja melambatkan laju mobilnya, karena memang jarak yang tidak terlalu jauh. Dan benar saja,, tidak sampai dua puluh menit,, mereka sudah sampai diseberang toko Alish bekerja.


Alish segera meraih tangan kanan Zehan dan mencium punggung tangan suaminya itu. Sementara Zehan membalas nya dengan mengecup kening Alish.


" Assalamu'alaikum,,,, " ucap Alish sambil pamit.


" Wa'alaikumsalam,,, " jawab Zehan.


Alish keluar dari mobil dan melambaikan tangannya, kemudian dia pun menyebrang. Zehan menatap punggung Alish yang kian menjauh lalu masuk kedalam tokonya.


Zehan mengambil headphone dari dalam saku celananya, lalu memakai disalah satu telinganya. Zehan mulai menghubungi William.


" Will,,, "


" Hyeong,,, "

__ADS_1


" Kau dimana,,,? "


" Aku baru mau jalan. Kenapa,,? "


" Aku akan ke kantormu sekarang. "


" Baiklah,,. Aku akan segera berangkat. "


" Aku tunggu,,,. "


Zehan langsung mematikan panggilan telepon nya, tanpa memperdulikan sahutan dari Willi. Zehan kembali melajukan mobilnya, menuju perusahaan William.


Zehan juga sudah memberitahu Rayhan, untuk segera menyusulnya kesana. Zehan sudah memantapkan hatinya, untuk mengerjakan proyek yang diberikan oleh William padanya.


Tentu saja,, itu semua demi kesejahteraan hidup sangat istri dan calon anak mereka,, yang entah kapan akan hadir.


Jalanan mulai padat,, Zehan mengalami sedikit kemacetan. Hingga akhirnya, setelah setengah jam perjalanan yang cukup tersendat,, Zehan pun akhirnya tiba di kantor William.


Zehan masuk kedalam kantor tersebut,, setelah dia memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.


" Selamat pagi,,,. Saya ingin bertemu dengan Tuan Choi. " sapa Zehan pada salah seorang receptionist wanita.


" Selamat pagi,,,. Apa anda sudah membuat janji, tuan..? " tanya wanita tersebut.


" Sudah. Apakah beliau sudah datang,,? " Zehan balik bertanya.


" Belum tuan. Silahkan anda tunggu sebentar disana. "


" Baiklah,,. " sahut Zehan.


Baru saja Zehan ingin melangkah kan kakinya,, tiba-tiba saja,,


" Hyeong,,,,!!! "


Zehan menghela nafas dan membuangnya kasar. Sungguh dia merasa sangat malu dengan teriakan sang adik sepupunya itu.


William mendekat dengan setengah berlari lalu merangkul Zehan.


" Kau sudah lama,,,? " tanya William.


" Baiklah,,,. Kita segera naik keatas. " ajak William masih tetap merangkul Zehan.


Sungguh,,, Zehan benar-benar merasa sangat malu, dengan sikap tengil William. Mereka masuk kedalam lift,, dan William menekan tombol angka 25.


William masuk kedalam ruangannya, begitu mereka sampai dilantai 25. Zehan segera duduk disofa,, diikuti oleh William.


Baru saja William ingin membuka mulutnya,, Sekretaris William mengetuk pintu.


" Masuk,,,!! " pekik William.


Sekretaris itu membuka pintu dan kemudian masuk.


" Maaf, tuan. Ada tuan Rayhan datang. "


" Suruh dia masuk. " jawab William dengan tegas.


Rayhan pun masuk setelah mendapatkan ijin, sementara sekretaris William kembali ke ruangannya. Rayhan duduk disebelah Zehan.


" Bagaimana keputusan anda, tuan,,? " tanya Rayhan to the point.


" Hei,,, sudah kubilang,, kalau aku sudah bukan tuan mu lagi. " tegas Zehan.


" Maaf tuan,, tapi sampai kapanpun anda tetaplah tuan muda saya. " kekeh Rayhan.


" Hahh,,, terserah lah. "


" Bagaimana, Hyeong,,? " kali ini William yang bertanya.


" Aku ikut. Istriku dan Mama sudah mendukungku. " jawaban Zehan langsung membuat kedua pria yang ada di samping dan dihadapannya itu, tersenyum puas.


" Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kakak ipar. Dia benar-benar wanita hebat,, yang mampu menaklukkan seorang CEO kejam dan arogan. Besok aku tunggu di tempat biasa kita makan dulu. " ujar William sambil menaik turunkan alisnya, membuat Zehan berdecak kesal.


" Baiklah, Tuan. Saya akan segera membuat surat kerjasama nya. Saya permisi dulu. " pamit Rayhan.


" Ingat, Ray. Jangan sampai Papa tahu. " tegas Zehan.


" Baik, Tuan. Saya permisi. " Zehan dan William mengangguk, Rayhan pun keluar dari ruangan William.

__ADS_1


" Hyeong,, hari ini aku terlalu senang. Kita main basket. "


" Whattt,,,?? " Zehan membelalakan matanya.


" Ohh,, ayolah, Hyeong. Kita sudah lama tidak bermain. " bujuk William.


" Dimana,,? " Senyum William langsung mengembang.


" Tempat biasa. "


" Oke,,. "


William segera beranjak dari duduknya lalu berjalan ke sebuah pintu dekat rak bukunya.


" Kau mau kemana,,? " tanya Zehan bingung.


" Tentu saja ganti pakaian. Tidak mungkin aku bermain basket dengan menggunakan jas, bukan,,? " sahut William dengan santainya, lalu masuk kedalam ruangan itu.


Setelah menunggu beberapa saat,, William keluar dengan sudah berganti pakaian, membuat Zehan memandangnya dengan sinis.



" Are you serious,,,??? " tanya Zehan.


" Why,,,? Are you scared,,?? " ledek William.


" In your dream,,!!. " sahut Zehan.


Zehan pun keluar dari ruangan diikuti oleh William. Tak lupa juga, Willi membawa bola basket yang memang ada diruangan pribadinya tadi.


Kepergian mereka berdua, menjadi pusat perhatian seluruh karyawan di perusahaan itu.


" Apa yang kalian lihat,,? Apa kalian tidak mempunyai pekerjaan,,? " bentak William, sontak membuat para karyawan itu berlalu pergi ke tempatnya masing-masing.


" Kau mengingatkan ku akan sikapku dulu. " ucap Zehan sambil terus berjalan keluar dari kantor, dengan William yang berjalan di sampingnya.


" Jelas beda. Aku lebih tampan. " sahut William.


" Cih,,, benar-benar narsis. "


Mereka pergi dengan menggunakan mobil mereka masing-masing, menuju lapangan basket, tempat dulu mereka biasa menghabiskan waktu senggang.


Tidak terlalu jauh,, hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. Sesampainya dilapangan,,


Zehan menatap tempat kenangan saat mereka sering bermain disana.


" Tempat ini masih tidak berubah. " gumam Zehan lalu berjalan masuk kedalam lapangan.


" Kau sudah siap, Hyeong,,? " tanya William sambil memegang bola dengan satu tangannya.



" Tidak usah banyak bicara, cepat main. " sahut Zehan dengan posisi bersiap.


" Cih,, kau benar-benar menyebalkan. " ejek William.


" Itulah aku. "


Mereka pun memulai permainan. Saling melempar, saling merebut bola. Dan sesekali mereka saling ledek hingga akhirnya tertawa bersama.


******


~~****Bersambung ,,,,


Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.


Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.


Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.


Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.


Salam love and peace dari othor,,


❤❤❤✌✌✌****


*****

__ADS_1


__ADS_2