
Zehan berdiri dan menghampiri Alish. Tangannya merapikan anak rambut Alish yang sedikit berantakan dan menyelipkan nya dibelakang telinga.
Zehan mengecup kening Alish dengan lembut. Dan membelai pipi mulus Alish yang sedikit chubby. Zehan tersenyum dan menatap Alish dengan hangat.
" Sudah sepantasnya, seorang suami perhatian pada istrinya. Itu salah satu tanggung jawabku sebagai suami. Memastikan kebutuhan pangan mu tercukupi walau hanya dengan menu yang sederhana. " ucap Zehan dengan suara yang sangat lembut. Alish mengangguk dan membalas senyuman Zehan.
" Sebaiknya kita berangkat sekarang,, " Alish kembali mengangguk.
Mereka pun keluar dari rumah bersamaan, tak lupa juga Zehan mengunci pintu rumah mereka.
" Kak,,. Kakak mengantarku naik mobil,,? " tanya Alish karena melihat Zehan tidak mengeluarkan sepeda milik Alish.
" Ya,,. Karena hari ini aku juga ada urusan diluar. " jawab Zehan seraya menggandeng tangan Alish.
Zehan membukakan pintu mobil untuk Alish, begitu mereka sampai dilapangan, tempat Zehan memarkirkan mobilnya. Sebelumnya Zehan, membuka kain penutup mobil dan juga kunci ganda mobilnya.
Zehan mengantar Alish sampai kedepan tokonya. Alish mengecup punggung tangan Zehan dan Zehan mencium kening Alish, sebelum Alish turun dari mobilnya.
" Aku pergi sebentar, mau menemui mantan asisten ku yang mengurus berkas-berkas pernikahan kita. " pamit Zehan dan diangguki oleh Alish.
" Kakak hati-hati, jangan ngebut. Aku tidak mau kalau Kakak sampai kenapa-kenapa lagi seperti dulu. " Alish mengingatkan Zehan tentang kejadian dana dia kecelakaan hingga berakhir dengan koma selama berbulan-bulan.
" Iya, sayang. Terimakasih sudah mengingatkan ku. " Wajah Alish kembali blushing saat Zehan memanggilnya sayang.
Alish buru-buru keluar dari mobil, dengan wajah yang masih memerah. Dia masuk kedalam toko tanpa menoleh lagi membuat Zehan mengulum senyumnya karena gemas.
Zehan mengambil ponselnya dari saku hoodie nya dan menghubungi asistennya, Rayhan. Untuk bertanya masalah surat nikahnya.
" Selamat pagi, Rayhan. "
" Pagi, Tuan. "
" Bagaimana perkembangan mengenai surat nikah ku,,? ".
"..... "
" Baiklah. Terimakasih, Rayhan. Aku tunggu kabar secepatnya. "
"..... "
" Sekali lagi terimakasih dan maaf sudah merepotkan. "
Zehan pun segera memutuskan panggilan telepon nya. Dia menghela nafas panjang mendengar kabar dari Rayhan.
" Semoga bisa cepat selesai semua berkas nya. " gumam Zehan lalu mulai kembali melajukan mobilnya kembali pulang kerumah.
__ADS_1
Zehan memarkirkan kembali mobilnya dilapangan. Dia tidak kembali kerumah melainkan pergi kerumah Pak RT.
" Assalamu'alaikum,,. " ucap Zehan begitu dia sampai didepan pintu rumah Pak RT.
" Wa'alaikumsalam,,, " sahut seseorang dari dalam rumah.
Pintu rumah itu pun terbuka, dan keluarlah seseorang dari dalam yang ternyata adalah Pak RT sendiri.
" Eh,, Nak Zehan. Selamat pagi, Nak. " sapa Pak RT sambil tersenyum.
" Selamat pagi, Pak. Apa saya menganggu,,? " tanya Zehan sambil membalas senyuman Pak RT.
" Tentu saja tidak, Nak Zehan. Silahkan duduk . " Pak RT duduk di sebuah kursi yang terbuat dari rotan, diikuti oleh Zehan.
" Ada yang bisa saya bantu, Nak Zehan,,? " tanya Pak RT tanpa basa basi.
" Begini, Pak. Saya ingin merenovasi rumah Alish, dan saya ingin meminta tolong pada Bapak untuk mencarikan saya beberapa tukang bangunan yang tinggal disekitar sini untuk membantu saya. Apa Bapak bisa menolong saya,,? " jelas Zehan to the point.
" Tentu saja saya bisa menolong. Dan disini memang ada beberapa orang yang bekerja sebagai tukang bagunan. Nak Zehan butuh kapan dan kira-kira butuh berapa orang,,? " jawab Pak RT lalu balik bertanya pada Zehan.
" Saya butuh secepatnya dan kalau bisa agak banyak supaya bisa cepat selesai. " Pak RT mengangguk-angguk.
" Baiklah, hari ini juga akan saya carikan orang nya. Ada lagi, Nak Zehan,,? " tanya Pak RT.
" Ada, Pak. Saya ingin mencari rumah kontrakan sementara untuk tempat tinggal saya dan Alish saat rumah kami direnovasi nantinya. " jawab Zehan membuat Pak RT kembali manggut-manggut.
Zehan mengangguk lalu Pak RT pun masuk kedalam menemui sang istri. Zehan menunggu untuk beberapa menit. Dan tak lama, Pak RT kembali keluar sambil tersenyum sumringah.
" Bagaimana, Pak,,? " tanya Zehan dengan tidak sabar.
" Kata istri saya, sebelah rumah kontrakan milik saya, ada yang baru kosong. Baru beberapa hari yang lalu. Kalau Nak Zehan mau, mari saya antar untuk melihat-lihat. " Zehan tersenyum mendengarnya dan menganggukan kepalanya.
" Baik, Pak. Terimakasih,,. Maaf kalau merepotkan. " Zehan merasa tidak enak.
" Tidak merepotkan kok, Nak Zehan. Sebentar, saya ganti baju dulu. "
Zehan kembali mengangguk dan Pak RT kembali masuk kedalam. Tidak sampai lima menit, Pak RT sudah kembali keluar.
" Mari, Nak. " ajak Pak RT dan Zehan mengangguk sambil berdiri.
Zehan berjalan mengikuti Pak RT menuju rumah kontrakan yang tadi dimaksud oleh Bu RT.
" Maaf, Pak. Kalau boleh, saya juga ingin menemui salah satu tukang, untuk melihat keadaan rumah Alish sekaligus saya akan langsung mengajaknya ke toko bahan bangunan untuk membeli barang-barang apa saja yang diperlukan untuk merenovasi rumah Alish. " Zehan merasa harus segera secepatnya merenovasi rumah Alish.
" Boleh, kok. Nanti sekalian saya antar ke rumahnya. " Wajah Zehan semakin cerah mendengarnya. Dia sudah tidak sabar untuk merombak rumah Alish.
__ADS_1
" Terimakasih, Pak." ucap Zehan dengan semangat.
Tak lama kemudian,, mereka sudah sampai dirumah kontrakan itu. Zehan melihat nya dengan seksama bangunan yang ada dihadapannya.
Pak RT pun mengajak Zehan untuk menemui pemilik kontrakan tersebut. Setelah seksi tanya jawab dan tawar menawar, Zehan pun akhirnya setuju untuk mengontrak rumah itu.
" Ini, Bu. Uang kontrakan rumah ini untuk dua bulan kedepan. Saya masih belum tau, berapa lama waktu yang diperlukan untuk merenovasi rumah Alish." Zehan memberikan setumpuk uang berwarna merah muda itu sebanyak tiga puluh lembar.
Sang pemilik kontrakan menerima nya dengan semangat. Memang,,, yang namanya Ibu-ibu itu pasti langsung hijau matanya kalau melihat benda ber nominal besar, seakan mereka melambai-lambai. 🤑🤑🤑
Si Ibu pemilik kontrakan itu segera masuk dan mengambil kunci rumah kontrakan tersebut. Dia langsung memberikannya pada Zehan dengan wajah dan mata yang bersinar terang.
" Terimakasih, Bu,,. " ucap Zehan dengan sopan.
Ibu itu mengangguk sambil tersenyum lebar.
" Sama-sama, Nak. Semoga kalian betah ya" sahut Ibu pemilik kontrakan. Zehan mengangguk.
" Maaf Pak RT,, bisa kita pergi sekarang untuk menemui tukang bangunan itu,,? " tanya Zehan beralih ke Pak RT.
" Bisa, Nak. Ayo kita pergi. "
" Baiklah. Kalau begitu kami permisi dulu, Bu. " pamit Zehan sopan.
" Mari,,, mari.. " sahut Ibu itu.
Zehan pun pergi dari rumah pemilik kontrakan itu lalu mengikuti langkah Pak RT, menuju rumah salah satu tukang bangunan yang sedang diperlukan oleh Zehan.
**
Mohon maaf, cuma bisa up sedikit, mata ngantuk berat. ga konsen ngetik 🙏🙏🙏.
******
~~ ****Bersambung lagi,,,,,
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
__ADS_1
❤❤❤✌✌✌********
****