
Mereka berdua menatap mobil Sabilla yang beranjak pergi. Zehan menggenggam tangan Alish, dan menoleh kearahnya. Alish pun menatap Zehan dan tersenyum.
" Kita pulang,,? " Alish mengangguk. Mereka pulang berjalan sambil bergandengan tangan.
" Kamu mau makan apa,,? " tanya Zehan. Biasa menggunakan panggilan 'kau' sekarang berubah menjadi 'kamu'.
" Terserah Kakak saja. " jawab Alish dengan tersipu malu.
" Oke. Aku pesen online aja ya. " Alish kembali mengangguk. Zehan memesan nasi ayam geprek dan minumannya ice lemon tea.
" Oh ya,, apa disini ada kost atau kontrakan lain,,? " tanya Zehan begitu mereka sampai didepan pintu rumah Alish, yang saat ini sudah berganti menjadi rumah mereka.
" Memangnya kenapa, Kak? " Alish balik bertanya sambil membuka kunci pintu.
" Aku rencananya mau membeli rumah ini. Dan setelah itu, aku ingin merenovasi nya sedikit. Supaya kita bisa tinggal dengan lebih nyaman. " jawab Zehan dan membuat Alish menunduk.
" Emm,, sebenarnya ini rumah peninggalan orang tuaku. " ujar Alish pelan tapi masih dapat terdengar oleh Zehan.
Zehan menoleh kearah Alish sambil mengernyitkan dahinya bingung.
" Tapi bukankah kamu bilang kalau rumah ini adalah rumah kontrakan,,? " Alish mengangkat wajahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
" Maafkan aku.. " ucap Alish lirih.
Zehan menghela nafas dan mendekat ke Alish. Dia pun segera membawa Alish kedalam pelukannya. Tangannya membelai lembut rambut panjang Alish.
" Sudah,, tidak apa-apa. Aku tidak akan marah. Aku justru senang, berarti uang yang harusnya digunakan untuk membeli rumah ini, bisa kita gunakan untuk tabungan kita nanti. Untuk biaya renovasi rumah dan membeli barang-barang, itu sudah ada budget nya. Kamu tenang saja, Oke,,? " Alish mengangguk masih dalam pelukan Zehan.
Baru saja Zehan ingin melanjutkan bicaranya, pesanan makanan mereka datang. Zehan pun membuka pintu dan menerima pesanannya.
" Sebaiknya kita makan dulu, setelah itu, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu. " Alish mengangguk sambil melepaskan pelukannya. Mereka pun mulai makan dalam diam.
__ADS_1
Setelah makan, Zehan membawa Alish ke kamar. Mereka duduk berdampingan di kasur busa lantai yang sudah mulai menipis. Zehan meraih tangan Alish dan menggenggam nya.
" Dengarkan aku. Mulai hari ini, kita hidup berdua. Susah senang bersama. Dan aku ingin, apabila salah satu dari kita ada masalah, bicarakan dengan jujur. Jangan sampai ada salah paham diantara kita. Kamu mengerti,,? " Alish mengangguk.
" Dan saat ini, aku ingin jujur padamu. Sebelumnya, aku bekerja di perusahaan ayahku. Ayahku berencana menjodohkanku dengan anak dari salah satu kliennya. Dan aku menolaknya karena aku ingin menikah denganmu. Beliau marah dan mengusir ku, melarang ku datang bekerja di perusahaan nya lagi, bahkan semua fasilitas yang ada padaku, sudah diambil semua. Maka dari itu, mulai besok, aku akan berusaha untuk mencari pekerjaan baru. " jelas Zehan membuat Alish menatapnya dengan sendu.
" Maafkan aku,, ini semua pasti gara-gara aku. " ucap Alish dengan lirih.
Zehan menggeleng sambil tersenyum. Dipeluknya tubuh Alish dengan erat dan penuh kasih.
" Bukan. Ini bukan salahmu, karena memang sejak awal, kami bermasalah. Termasuk dengan Mama. Hanya saja, semenjak aku mengalami kecelakaan, Mama sudah mulai berubah. Sebenarnya Papa juga sudah mulai sedikit berubah hanya saja, masih sering memaksakan kehendak nya."
" Semua ini murni keputusan ku. Rumah itu memang besar dan mewah, tapi hatiku merasa hampa dan kosong. Sangat berbeda saat aku bersamamu. Walaupun saat itu, hanya sekedar jiwaku saja yang bersamamu. Tapi dalam ingatanku, itu semua terasa hangat, nyaman dan damai. Walaupun hidup sederhana, tapi aku bahagia. "
" Bagiku, itu hal yang sangat penting, yaitu kebahagiaan. Jadi,, jangan pernah sekalipun kamu menyalahkan dirimu lagi dalam hal ini. Apa kamu mengerti,,? " jelas Zehan panjang lebar sambil menekankan kata kebahagiaan.
Alish terdiam untuk sesaat. Tangannya masih melingkar dipinggang Zehan. Pelukan yang terasa hangat dan membuatnya tenang. Wajahnya sedikit mendongak menatap Zehan.
Zehan tersenyum dan balik menatap Alish. Dikecup nya pucuk kepala Alish dengan lembut.
" Selama aku bekerja dan mendapatkan gaji, aku menabung tanpa sepengetahuan Papa. Dan mobil yang kubawa juga adalah mobil yang kubeli dengan uangku sendiri. Jadi kamu tidak perlu merasa khawatir. " jawab Zehan sambil mengusap bahu Alish.
" Lalu rencana mu selanjutnya apa,,? " tanya Alish lagi.
" Kamu akan tetap kerja seperti biasa. Hanya saja, saat kamu libur, kamu tidak boleh menerima pekerjaan tambahan lagi. Aku tidak suka itu. Kamu memang diam saja, tapi aku tahu, kamu pasti sangat lelah dengan upah yang tidak seberapa, benar kan,,? " Alish tersipu malu dan mengangguk.
" Untuk sementara, aku akan fokus merenovasi rumah kita dulu. Besok aku akan meminta bantuan Pak RT untuk mencarikan kita rumah kontrakan sementara. Aku ingin rumah ini sedikit diubah, menjadi dua lantai. Lantai bawah khusus untuk ruang tamu, ruang keluarga dan dapur. Sementara lantai atas, khusus kamar kita dan calon anak kita nanti. " penjelasan Zehan membuat Alish blushing karena Zehan menyebutkan tentang anak.
" Emm,, itu. Aku,, "
" Aku tahu, kamu masih belum siap. Dan aku akan sabar menunggumu. Sekarang lebih baik, kita ganti baju. Tidak mungkin kan kita tidur menggunakan kebaya dan jas seperti ini,,? " canda Zehan, berusaha membuat Alish tidak gugup lagi, karena mengingat malam ini adalah malam pertama mereka.
__ADS_1
Dan Zehan tahu, untuk saat ini, Alish masih belum siap. Alish mengangguk dan beranjak dari duduknya. Dia mengambil piyama dari dalam lemari pakaiannya dan menggantinya didalam kamar mandi. Sementara Zehan, dengan santainya, berganti pakaian diruangan itu.
Zehan memakai kaos oblong dengan celana pendek. Dia pun merebahkan tubuhnya diatas kasur tipis milik Alish. Tak lama kemudian, Alish keluar dari kamar mandi dengan sudah mengganti pakaiannya.
" Kemarilah,,. " pintar Zehan sambil menepuk bantal yang berada disampingnya.
Alish terdiam dan terlihat sangat gugup. Zehan tersenyum.
" Kita sudah menikah, dan saat ini, aku hanya ingin tidur dengan memeluk mu. Hanya memeluk,, boleh kan,,? "
Alish berpikir untuk sesaat lalu mengangguk sambil tersenyum. Alish pun berjalan mendekat kearah Zehan. Alish pun merebahkan tubuhnya disamping Zehan, dengan lengan Zehan sebagai bantalnya.
" Terimakasih,,, " ucap Zehan seraya melingkarkan tangan yang satunya dipinggang Alish.
Wajah Alish berada didada Zehan. Tangannya juga melingkar dipinggang Zehan. Mereka saling memeluk dengan posisi tidur miring. Zehan mengecup lembut kening Alish. Dan tak lama kemudian, Zehan pun mulai memejamkan matanya. Mereka sama-sama masuk kedalam dunia mimpi.
******
~~ ****Bersambung lagi ya guy's,,,,,
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤❤✌✌✌****
__ADS_1
****