
❤ Untuk Bab sebelumnya sudah othor revisi,, ada typo dan beberapa tambahan kata. Terimakasih untuk yang masih setia menanti cerita receh othor ini,, 🙏🙏❤.
*
*
*
" Kau hanya tinggal memilih. Ingin melihat anakmu tetap hidup tapi dalam penjara,,? atau ingin melihatnya tidak dipenjara tapi dalam keadaan mati,,? Silahkan Anda pikirkan baik-baik, Tuan. " lanjut William.
Zehan bergidik ngeri. Dia tidak menyangka kalau Adik sepupunya itu bisa bersikap kejam. Begitu pun dengan Rayhan, dia sama sekali tidak pernah berpikir, kalau Tuan Muda yang sangat Narsis dan sedikit konyol itu, bisa begitu kejam.
Tuan Kevin kembali menggeleng. Dengan wajah memelasnya, dia terus memohon pada William untuk mengampuni anaknya, yaitu Alexander Smith.
" Saya mohon, Tuan Muda Choi. Ampuni anak saya,, jangan penjarakan dia apalagi sampai membunuhnya. Saya mohon, Tuan. "
William semakin geram mendengar permintaan Tuan Kevin yang masih berlutut dihadapannya. Sementara Zehan dan Rayhan hanya diam sambil menatap drama mereka berdua.
" Aku tidak akan memberikan pilihan lain, Tuan Kevin yang terhormat. Anda hanya tinggal memilih,, Alex tetap hidup atau mati ditanganku,,? " gertak William.
Zehan mengulum senyumnya mendengar ucapan Adik sepupunya itu.
" Aih,, aih,,. Adikku ini ternyata berbakat untuk menjadi aktor. Akting nya benar-benar terlihat real. " batin Zehan.
" Wow,,,. Anda hebat Tuan Muda Choi,,,. Akting Anda sangat bagus. " ucap Rayhan dalam hati.
" Saya mohon, Tuan. " pinta Tuan Kevin memelas.
" Saya memberi Anda waktu lima detik untuk berpikir. Pilihan Anda hanya dua, hidup atau mati,,? " tegas William.
" Satu,,, " William mulai menghitung.
" Dua,,, " Tuan Kevin semakin cemas.
" Tiga,,, " Tuan Kevin mulai berpikir yang terbaik.
" Empat,,, " Waktu semakin habis.
" Li,,, "
" Baiklah, Tuan. Saya pilih Alex dipenjara, setidaknya dia masih dalam keadaan hidup. " Tuan Kevin mengambil keputusan sesaat sebelum waktu habis.
William tersenyum disudut bibirnya. Senyuman mengejek untuk keputusan yang telah diambil Tuan Kevin.
" Anda yakin,, Tuan,,? " tanya William. Tuan Kevin mengangguk dengan cepat.
" Saya yakin, Tuan. Daripada saya harus melihat jenazah anak saya, lebih baik saya melihatnya tinggal di balik jeruji besi. " jawab Tuan Kevin.
" Baiklah. Anda bisa bangun dan kembali duduk di kursi Anda. "
Tuan Kevin pun beranjak bangun dan kembali duduk di kursi yang berhadapan dengan Zehan. Wajahnya sudah sembab dan penampilan nya sudah berantakan.
" Terimakasih, Tuan Muda Choi. " ucap Tuan Kevin setelah dia duduk.
" Masalah selesai. Anda bisa segera pulang, Tuan Kevin. " ucap Zehan.
" Maaf Tuan Muda Lee,,. Tidak bisakah Anda membujuk Ayah Anda untuk menarik keputusannya dan tetap menanam saham diperusahaan saya,,,? " ucap Tuan Kevin tanpa rasa malu.
Braakk,,,
Zehan dan Rayhan terkejut saat William menggebrak meja dengan kencangnya. Bahkan Zehan sampai sedikit lompat dari duduknya, dan Rayhan sampai mundur selangkah karena kagetnya.
Ingin rasanya Zehan dan Rayhan mengeplak kepala William saking kesalnya.
" Anda benar-benar tidak tahu malu ya, Tuan Kevin. " hardik William.
Tuan Kevin terdiam dan dia hanya bisa menelan salivanya.
" Bisa-bisanya Anda meminta Papa Mark untuk kembali menanam saham diperusahaan Anda, setelah Anda meminta keringanan hukuman untuk anak Anda,,? "
__ADS_1
" Dimana otak cerdas Anda,,? Apakah dia menghilang bersamaan dengan rasa malu Anda,,? " ejek William.
" Maafkan saya, Tuan. " ucap Tuan Kevin pelan dan lirih.
" Sebaiknya Anda segera pergi dari hadapan saya, sebelum saya bertindak kasar pada Anda. Anda dan anak Anda sudah membuat emosi saya memuncak dan siap untuk meledak. " tegas William.
" Tapi,, Tuan,,, "
" Sebaiknya Anda segera pergi, Tuan Kevin. Tentunya Anda tidak mau kalau sampai keluarga Choi bertindak lebih dari pada ini bukan,,? " ucap Rayhan yang sejak tadi diam.
Tuan Kevin menarik nafas panjang dan perlahan bangun dari duduknya. Dengan setengah membungkuk, Tuan Kevin berpamitan pada Zehan, William dan Rayhan.
" Terimakasih atas waktu Anda, Tuan Muda Lee dan Tuan Muda Choi. Maafkan saya,,, permisi. " pamit Tuan Kevin.
Zehan dan Rayhan mengangguk sementara William hanya memalingkan wajahnya. Tangannya masih mengepal kuat, karena menahan emosinya yang ingin memberikan sebuah bogeman mentah pada wajah tua Tuan Kevin.
Tuan Kevin mulai beranjak dan keluar dari ruangan Zehan dengan langkah nya yang sedikit gontai. Tubuh dan kakinya terasa lemas karena keputusan dari Zehan yang tetap ingin menarik saham, dan keputusan William yang ingin memenjarakan putranya.
Plok,, plok,, plok,,,
Rayhan dan Zehan bertepuk tangan setelah Tuan Kevin benar-benar sudah menghilang dari balik pintu ruangan Zehan.
" Hebat,,,!! Kau benar-benar hebat, Will. " ucap Zehan masih tetap bertepuk tangan.
William mengernyitkan dahinya dan menatap bingung Zehan dan Rayhan.
" Hebat,,? " Zehan mengangguk.
"Wae,,? " William semakin bingung.
" Aktingmu tadi benar-benar meyakinkan. Terlihat real,, benarkan, Ray,,? " tanya Zehan pada Rayhan.
" Benar, Will. Aku tidak menyangka, kalau kau benar-benar pandai berakting. " sahut Rayhan.
" Akting,,? " ulang William, Zehan dan Rayhan mengangguk.
" Siapa yang berakting,,? " William balik bertanya.
" Bukankah kau tadi sedang berakting saat kau bilang kalau kau ingin membunuh Alexander Smith,,? " tanya Zehan.
" Tapi aku tadi benar-benar tidak sedang berakting. Aku sungguh-sungguh ingin membunuh anak dari Tuan Kevin itu dengan tanganku sendiri. "
Zehan dan Rayhan membelalakan mata saat mendengar ucapan William.
" Kau gila,,,!! " hardik Zehan.
" Tapi aku serius, Hyeong. Aku ingin sekali menabrak tubuh si Alexander itu dengan mobilku sendiri. Bahkan kalau perlu,, kutabrak dengan truk tronton sekalian, biar hancur lebur tubuhnya. "
Zehan menganga sementara Rayhan bergidik ngeri. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau William bisa sampai mempunyai pikiran yang begitu kejam.
" Kenapa tidak sekalian dengan menggunakan excavator, Will,,? " celetuk Rayhan, membuat Zehan melotot kearahnya.
" Kau benar, Ray. Kurasa itu lebih pantas untuknya. " ucap William dengan santai, membuat Zehan semakin melotot.
" Diam kalian berdua,,,!! " seru Zehan.
" Kau,,,!!! Sejak kapan bisa mempunyai pikiran yang kejam seperti itu,,,? " tanya Zehan tegas pada William.
" Dan Kau,,,!! Jangan kau memperkeruh situasi dengan mengompori Willi. " tegas Zehan pada Rayhan.
" Maafkan aku, Ze. " ucap Rayhan menunduk.
" Mianhae,, Hyeong. " ucap William pelan.
Zehan menghela nafas panjang untuk sesaat, menetralkan emosi didadanya.
" Sudahlah,,,. Kalian bisa pergi,, kalian sudah tidak ada urusan lagi kan,,,? "
William dan Rayhan mengangguk. Mereka berdua pun berjalan keluar dari ruangan Zehan, sementara Zehan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sekali lagi, Zehan menghela nafas panjang.
__ADS_1
*
*
*
Dua minggu kemudian,,
William sedang berdiri didepan sebuah rumah sederhana. Sudah hampir lima menit dia disana, mengumpulkan keberanian untuk mengetuk pintu rumah itu dan bertemu dengan sang pujaan hati, yang sudah dua minggu tidak dilihatnya.
William tahu, kalau saat ini, Fatimah sudah berada dirumah. Tangan William kembali terangkat untuk mengetuk pintu. Setelah menarik nafas panjang, William pun mengetuk pintu.
Tok,, tok,, tok,,
" Assalamu'alaikum,,, " ucap William dengan sedikit kencang.
{ Lho, lho,,lho,,,,, bukannya William bukan muslim ya,, kok ngucapin salam secara islam,,,?
😊😊😊,, nanti ada di bab selanjutnya othor jelasin,, kenapa William ngucapin Assalamu'alaikum,,. Apakah William sudah menjadi mualaf,,? Nanti ya,, sabar,, }
" Wa'alaikumsalam,,, " sahut seorang wanita dari dalam rumah.
Suara yang terdengar merdu ditelinga William. Ya,, begitulah kalau orang sudah bucin..
Dengan jantung yang berdebar kencang, William menanti pintu itu terbuka dan dia bisa bertemu dengan Fatimah, si pujaan hati.
Sesaat kemudian,, pintu pun terbuka. Sosok cantik yang sudah tiga bulan ini memenuhi hati William pun keluar.
" Ada yang bisa saya bantu,,,? " tanya Fatimah dengan sopan, membuat William semakin terpana dibuatnya.
William tidak menjawab, namun matanya masih tetap menatap sosok cantik dihadapannya. Fatimah menjentikkan jarinya didepan wajah William, membuatnya kembali tersadar
" Maaf,, Tuan. Ada yang bisa saya bantu,,,? " Fatimah mengulang pertanyaannya.
" Apa kau tidak ingat padaku,,? " William balik bertanya.
Fatimah mengernyitkan dahinya, lalu menatap William dari atas sampai bawah, lalu kembali keatas lagi.
" Apa kita pernah bertemu, Tuan,,? " tanya Fatimah. William tersenyum.
" Ahh,, sepertinya aku harus mengingatkan mu kembali. " William diam untuk sesaat.
" Tiga bulan yang lalu,, di sebuah jalan dekat restoran XX,, penjambret handphone,,. Sampai disini, apa kau sudah ingat,,? " lanjut William.
Fatimah terdiam dan berusaha untuk mengingat kejadian. Dan tak butuh waktu lama,, Fatimah pun mengingatnya.
" Ahh,, Anda Tuan yang waktu itu. " William tersenyum lebar saking senangnya Fatimah mengingatnya.
" Kau ingat,,? " Fatimah mengangguk.
Baru saja Fatimah ingin bertanya lagi, sebuah suara membuat Fatimah mengurungkan niatnya.
" Om Willi,,,. " panggil Ali yang baru keluar dari dalam rumah.
" Om Iyyi,,, " seru Alif dengan cadelnya memanggil nama William.
Fatimah terkejut dan membulatkan matanya, lalu menatap William yang berjongkok didepan Alif.
*
*
*
~~ **Bersambung,,
Jangan lupa tinggalkan jejaknya, Kakak.
Salam love and peace dari othor,,
__ADS_1
❤❤✌✌**
**