
Rahmad pun mulai menceritakan kedatangan Alish bersama Zehan dan tentang permintaan maaf dari Zehan. Minah mendengarkan dan sesekali menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Tapi Minah tidak memotong cerita Rahmad.
" Makanya tadi Mas telepon kamu. Itu karena gadis itu tiba-tiba menjerit dan bilang Ze kita minta maaf untuk yang kesekian kalinya dan mengucapkan terimakasih, lalu pergi. Gadis itu menangis dan menjerit jangan pergi pada Ze. Mas panik,,, lalu berlari kedalam kamar dan menelepon mu. "
" Benar-benar terdengar mustahil, tapi kenapa gadis itu sepertinya bisa dipercaya,,? Siapa nama gadis itu, Mas? ".
" Dia bilang namanya Alish. Dan saat Mas keluar dari kamar, setelah selesai menelepon mu, gadis itu ternyata sudah pergi. Karena panik ingin ke rumah sakit, Mas tidak sempat mencarinya. "
" Semoga saja gadis itu kembali dengan selamat kerumahnya. Karena hari sudah sangt larut. "
Rahmad menghela nafas lelah.
" Semoga saja, Bu. Tapi Ibu jangan bilang dulu sama Tuan dan Nyonya. Termasuk Ze, kecuali mereka bertanya baru kita jawab. "
" Tapi kenapa, Mas,,? "
" Aku takut, mereka berpikir kalau Non Alish itu seorang penipu. Lagipula kita juga belum tau perkembangan kesehatan nya Ze. "
" Baiklah, Mas. "
" Mad,, Nah,,. Kalian pulang saja, besok baru kesini lagi. Kita bergantian berjaganya. " perintah Mark Lee begitu dia keluar dari ruang rawat Zehan.
" Baik, Tuan. Kalau begitu, kami permisi dulu. Besok pagi, kami datang lagi. " pamit Rahmad.
Mark mengangguk, Rahmad dan Minah pun beranjak untuk pulang sementara Mark kembali masuk kedalam ruang rawat Zehan.
*****
Tiga hari berlalu dengan cepat, dan Zehan masih belum siuman dari koma nya. Mark dan Sabilla bergantian berjaga dirumah sakit dengan Rahmad dan Minah.
Sementara keadaan Zehan belum membaik, begitu juga dengan Alish. Hatinya masih terasa sakit. Dia merasa sepi setelah selama dua bulan ini ada yang menemani.
Alish duduk ditempat biasa Zehan tidur. Kakinya menekuk, tangan kanannya memegang ujung kakinya sementara tangan kirinya memegang lengan kanannya, dan wajahnya menunduk sedih.
Alish kembali teringat kenangan bersama Zehan. Alish berpikir, kalau Zehan sudah benar-benar pergi, meninggal dalam artian yang sebenarnya. Alish tidak mengetahui kondisi Zehan yang sebenarnya masih hidup.
Walau dalam hati kecil Alish, dia merasa belum ikhlas bila Zehan pergi. Tetapi dia berpikir lagi, kalau itu adalah yang terbaik. Dan Zehan harus menderita lagi dalam koma nya.
Alish tersenyum kecut, membodohi dirinya sendiri. Mengapa bisa sampai jatuh hati pada mahluk beda alam yang sangat tampan itu,,?.
Alish pun beranjak dari duduknya dan bersiap untuk kembali ke dunia nya yang sebenarnya. Bekerja lalu membantu mengurus yayasan Bunda dan adik-adik kecilnya.
****
__ADS_1
Zehan Pov
Entah sudah berapa lama aku berada di ruangan serba putih ini,,?. Setelah aku pergi dari rumah Paman Rahmad, tiba-tiba saja aku sudah berada ditempat ini lagi.
Tempat dimana pertama kali dia sadar setelah aku kecelakaan. Tempat dimana hanya ada sebuah suara yang terdengar. Aku kembali duduk setelah berkeliling ruangan putih itu, tanpa ada jalan masuk atau keluar.
Aku kembali teringat pada Alish. Keadaannya terakhir kali sebelum aku pergi. Melihatnya menangis dan berteiak histeris, mengatakan agar aku tidak pergi, membuat hatiku sakit. Dan yang membuatku merasa hangat saat dia bilang kalau dia juga menyayangiku.
Aku menghela nafas dengan sendu. Aku juga berat untuk pergi, tapi aku harus kembali ke kehidupanku yang sebenarnya. Ada sedikit rasa takut didalam hati kecilku.
" Akankah aku bisa hidup kembali,,? Apakah setelah aku hidup, aku masih akan mengingat Alish,,? Apakah aku akan kembali pada sifat burukku seperti dulu,,? ".
Tiba-tiba saja, suara itu muncul lagi.
" Ternyata kau hanya membutuhkan waktu selama dua bulan untuk bisa menyadari semua kesalahan mu. Dia benar-benar gadis yang luar biasa. Apa kau siap untuk kembali ke kehidupan nyata mu,,? "
" Aku siap. Tapi bisakah aku bertanya sesuatu,,? "
" Apa itu,,? "
" Apakah aku akan kembali pada sifat burukku,,? Dan apakah aku akan mengingat kehidupan ku selama dua bulan kemarin didunia astral,,? "
" Tidak,,. Sifatmu sudah berubah karena gadis itu. Dan kau tidak akan mengingat kehidupanmu dengan gadis itu. "
Aku mendadak menjadi sedih. Padahal dalam hati kecilku, aku sangat berharap bisa mengingatnya dan kembali bersama Alish.
Aku tersenyum lega mendengarnya. Setidaknya, aku masih bisa berharap bertemu dengannya, walau saat itu aku tidak mengingatnya.
" Terimakasih,,. " ucapku.
" Pejamkan matamu, dan bersiaplah untuk kembali ke dunia nyata mu. "
Aku pun memejamkan mataku, dan lagi-lagi semua terasa gelap. Sangat,, sangat gelap dan semua seakan berputar-putar.
*****
Author Pov
" Bangunlah, Nak. Maafkan kami,, karena telah mengabaikanmu selama lebih dari sepuluh tahun ini. Kembalilah pada kami, Nak. Kita bersama lagi seperti dulu. " pinta Sabilla dengan mata yang mulai basah seraya menggenggam tangan kanan Zehan.
Sebuah gerakan kecil di jari telunjuk Zehan, mengagetkan Sabilla. Matanya tertuju pada tangan Zehan yang tengah digenggam nya.
Gerakan kecil itu kembali bergerak di jari telunjuk Zehan. Sabilla segera memberitahu Mark.
" Pa,, cepat panggil dokter. Baru saja jari Ze bergerak. " pekik Sabilla pada Mark.
__ADS_1
Mark pun memencet tombol panggilan darurat yang tersedia diatas ranjang rawat Zehan.
Tak berapa lama kemudian, para dokter dan perawat pun datang. Mereka memeriksa Zehan dengan seksama. Beberapa alat ditubuh Zehan, di lepas salah satu perawat.
" Alhamdulillah,,,. Anak Tuan dan Nyonya sudah melewati masa kritisnya dan tak lama lagi akan segera sadar dari koma nya. "
Air mata Sabilla mengalir mulus di pipinya begitu mendengar kabar baik dari dokter itu. Senyuman menghiasi bibir Sabilla dan Mark.
" Terimakasih, Dokter. " ucap Sabilla dan Mark bersamaan.
" Kalau begitu, kami permisi dulu Tuan, Nyonya. Kami akan datang lagi nanti. "
Mark mengangguk sementara Sabilla kembali mendekat ketubuh Zehan. Sabilla mengecup pelan kening Zehan.
" Terimakasih, Nak. Terimakasih,, sudah mau kembali. " ucap Sabilla dengan suara parau.
Tak lama kemudian, Zehan mulai menggerakkan kepalanya. Dan matanya mulai mengerjap.
" Alish,,,. " ucap Zehan pelan, sangat pelan.
Sabilla mendekatkan telinganya ke mulut Zehan.
" Alish,,,. Maafkan aku,,,. " ucap Zehan lagi.
Sabilla berusaha menyadarkan Zehan.
" Ze,, sayang. Bangun, Nak. Ini Mama dan Papa. Buka matamu, sayang. "
Perlahan-lahan Zehan mulai membuka matanya. Dan mengerjapkan nya perlahan, untuk menetralkan silau. Zehan menoleh kearah Sabilla.
" Ma,,,. " panggilan Zehan lirih. Sabilla pun kembali meneteskan air matanya.
****
~~ **Bersambung
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
__ADS_1
❤❤❤✌✌✌**
****