The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
TGH 15


__ADS_3

" Kakak juga harus bisa berjanji, setelah Kakak sadar, Kakak tidak akan membalaskan dendam pada orang yang sudah melukai Kakak. Anggap saja itu sebagai hukuman untuk Kakak. Dan sebelum Kakak bisa kembali ke tubuh Kakak, Kakak juga harus menemui seseorang untuk meminta maaf dengan tulus. Karena Kakak telah melukai hati dan fisik orang itu. Orang yang sangat berjasa pada Kakak. " jelas Andi panjang lebar.


Tanpa terasa, air mata menetes dari sudut mata Zehan. Hatinya benar-benar sakit mendengar penjelasan Andi. Menyesal,, ya,, Zehan sangat menyesal. Zehan meraup wajahnya dengan kasar. Dan Zehan jatuh terduduk karena lemas.


" Lalu Kakak sekarang harus bagaimana, Ndi,,? " tanya Zehan dengan suara bergetar.


Andi tersenyum kecil.


" Bersihkan hati Kakak dengan berusaha memaafkan mereka yang sudah membuat Kakak terluka. Belajar mengikhlaskan segala sesuatu yang bukan menjadi milik Kakak. Belajar untuk berbuat baik dan hilangkan semua sifat iri, dengki dan dendam dalam hati Kakak. Belajar untuk membuka hati Kakak untuk memaafkan orangtua Kakak yang sudah membuat Kakak kecewa. Dan saat ini mereka sudah menyesalinya. Belajarlah dari Kak Alish. Bukankah Kakak sekarang tinggal bersama Kak Alish,,? " Nasehat Andi pada Zehan.


Zehan mengangguk pelan, walau dalam hati sempat bertanya-tanya, bagaimana bisa anak kecil umur enam tahun bisa sebijak itu,,?.


" Sabarlah,,, dan tak lama lagi Kakak akan mengingat semuanya. Dan jangan lupa, perbaiki sikap dan sifat buruk Kakak. Saat Kakak sudah mengingat semuanya, Kakak datang kesini lagi. Temui Andi, dan setelah itu baru bicarakan semua dengan Kak Alish. " ujar Andi.


Lagi-lagi Zehan mengangguk dan berdiri. Begitu juga dengan Andi, turun dari ayunannya.


" Andi masuk kedalam dulu, Kak. Takut dicariin sama Bunda. " pamit Andi dan diangguki Zehan.


" Kakak masih mau disini. " sahut Zehan.


Andi mengangguk dan beranjak pergi masuk kedalam yayasan. Zehan kembali duduk diayunan tempat tadi Andi duduk. Zehan mengadahkan kepalanya menatap keatas langit.


Pikiran Zehan masih dipenuhi dengan kata-kata bijak dari Andi. Air mata mengalir dari sudut matanya.


" Bila semua yang diucapkan Andi adalah benar adanya, maka aku adalah orang hina dan penuh dosa. Dan betapa sangat menyesalnya aku. Maafkan aku, Ya Tuhan,,,. Maafkan segala kelakuan kejamku dulu. Maafkan semua sifat burukku dimasalalu. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,,. " Zehan memohon dalam hati.


Zehan masih terdiam duduk diayunan dengan berbagai macam pikiran. Sementara Alish tengah sibuk membantu Bunda Ani memasak untuk makan siang Adik-adiknya. Alish sempat melirik kearah Andi saat masuk tadi hanya seorang diri.


" Dimana Kak Zehan,,? Kenapa Andi hanya sendirian,,? " Alish bertanya-tanya dalam hati.


Alish berusaha tetap tenang dan fokus pada pekerjaannya. Alish menata piring-piring plastik dimeja untuk makan para Adiknya nanti. Nasi dan sayur sudah dihidangkan diatas meja makan. Hanya tinggal menunggu lauknya saja.

__ADS_1


Alish meletakkan lauk diatas meja begitu Bunda memberikan padanya. Alish menatap hidangan diatas meja itu. Hidangan yang sangat sederhana yang terdiri dari sayur bayam dengan jagung dan wortel, serta tahu goreng dan telur dadar sebagai lauknya, tapi setidaknya lumayan untuk mengganjal perut.


" Kau panggil Adik-adikmu, Lish. " perintah Bunda Ani.


" Baik, Bunda. " sahut Alish.


Alish pun memanggil para Adiknya yang bermain didepan. Tak lupa juga Alish mendekat kearah Andi yang duduk sendirian sambil membaca.


" Ndi,, dipanggil Bunda untuk makan siang bersama. " panggil Alish.


Andi menurunkan bukunya dan menatap kearah Alish. Andi mengangguk dan beranjak dari duduknya.


" Baik, Kak. " sahut Andi singkat.


" Ndi,, Kakak yang tadi kemana,,? " tanya Alish pelan.


" Masih duduk didepan. " jawab Andi lalu masuk kedalam ruang makan.


" Kakak kenapa,,? " tanya Alish begitu dia sampai disamping Zehan. Alish pun duduk diayunan sebelah Zehan.


Zehan masih terdiam dan termenung. Tanpa menyadari kedatangan Alish, bahkan Alish juga sudah menyapa Zehan. Alish mengerutkan keningnya. Alish menepuk pelan bahu Zehan, membuat Zehan tersentak dan sadar dari lamunannya.


Zehan menoleh kearah Alish dan tersenyum kecut. Zehan menatap lekat wajah Alish, wajah yang diam-diam selalu dia kagumi saat malam.


" Kakak kenapa,,? " Alish mengulang pertanyaannya.


" Aku ga apa-apa. " jawab Zehan sambil menggelengkan kepalanya. Dan memalingkan wajahnya.


" Tapi dari tadi Kakak hanya duduk melamun, bahkan sampai tidak sadar saat aku bertanya tadi. " ujar Alish khawatir.


Lagi-lagi Zehan tersenyum kecut.

__ADS_1


" Tidak apa-apa. Kau tidah usah khawatir. Aku baik-baik saja, hanya sedikit teringat masalalu yang masih belum begitu jelas. " jawab Zehan berusaha menyakinkan Zehan.


Alish menghela nafas dan membuangnya kasar.


" Ya sudah. Sekarang kita makan siang dulu ya. " ajak Alish dan bangkit dari duduknya.


Alish mengulurkan tangannya didepan Zehan, sementara Zehan mengangkat kepalanya dan kembali menatap Alish dengan hangat.


" Kau makanlah lebih dulu. Aku sedang tidak berselera. " jawab Zehan pelan.


Lagi-lagi, Alish menghela nafas panjang.


" Baiklah,,,. Tapi bila Kakak merasa lapar, Kakak bisa masuk dan mencariku atau Andi. " sahut Alish dan Zehan hanya mengangguk.


Alish pun beranjak pergi meninggalkan Zehan masih terus termenung, kembali masuk kedalam yayasan. Alish bingung dengan apa yang terjadi dengan Zehan setelah tadi berbicara dengan Andi.


*****


~~ **Bersambung,,


Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan like, vote, comment and hadiahnya.


Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.


Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.


Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.


Salam love and dari othor,,


❤❤❤✌✌✌**

__ADS_1


******


__ADS_2