The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
TGH 56


__ADS_3

***


Maaf,, baru sempet up. Lagi sibuk bolak balik periksa kehamilan othor,, masih trisemester awal jadi masih rawan.


Harap maklum ya sama bumil,,


Happy reading,,,


***


Keesokan harinya,,,


Zehan bangun lebih dulu dari Alish, sesaat sebelum adzan subuh berkumandang. Dia menatap wajah Alish yang masih terlelap dan terlihat sangat lelah namun tetap tersenyum.


Zehan membelai pipi Alish dengan lembut. Hatinya terus saja mengucapkan rasa syukur, karena dia merasa sangat beruntung bisa bertemu dan dapat memiliki istri seperti Alish.


Alish sedikit menggeliat namun masih tetap tertidur saat tangan Zehan membelai pipi Alish. Zehan kembali tersenyum. Didekatkan bibirnya ke telinga Alish dan berbisik.


" Sayang,,,. Ayo bangun,,!! Sudah subuh,, waktunya bangun, mandi lalu shalat. "


Alish kembali menggeliat dan perlahan membuka matanya. Alish tersenyum malu saat melihat wajah Zehan yang sangat dekat dengan wajahnya, masih terus memandangi wajahnya.


" Kamu sudah bangun, Kak,,,? " tanya Alish dengan suara sedikit serak karena baru bangun tidur.


" Sudah sejak tadi. Ayo bangun,, dan kita mandi bersama, supaya lebih cepat. Kemudian kita shalat. " jawab Zehan.


Wajah Alish seketika memerah saat mendengar jawaban Zehan yang mengajaknya mandi bersama. Pikirannya kembali melayang ke kejadian semalam.


" Tidak usah berpikir macam-macam. Kita hanya mandi lalu shalat. Masih ada banyak waktu kalau kita ingin mengulang kegiatan semalam. " ucap Zehan seakan bisa membaca pikiran Alish, sambil menyentil pelan kening Alish.


Zehan bangun dan turun dari ranjangnya, masih dalam keadaan polos dan mendekat kearah Alish. Seketika Alish menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, saat melihat keadaan Zehan.


Zehan mengangkat tubuh Alish dan menggendong nya ala bridal style, membuat Alish sedikit memekik dan mengalungkan lengannya dileher Zehan.


Zehan menatap wajah Alish yang masih memerah karena malu, lalu tersenyum.


" Tidak usah malu. Baik aku dan kamu, sama-sama sudah saling melihat dan merasakan tubuh masing-masing. Untuk apa ditutupi lagi. " ucap Zehan dengan santai, tanpa rasa malu sedikitpun.


Zehan menggendong tubuh Alish dan membawanya masuk kedalam kamar mandi. Mereka hanya mandi,, tanpa ada plus-plus. Karena waktu subuh yang hanya sebentar.


Setelah mandi dan shalat berjamaah,, Alish turun ke bawah untuk membuat sarapan. Sementara Zehan menyalakan ponselnya yang sejak semalam di non aktifkan, karena tidak mau diganggu.


Zehan mengerutkan keningnya saat ada banyak panggilan masuk dan pesan dari nomer yang tidak dikenalnya.

__ADS_1


Zehan membuka satu persatu pesan masuk tersebut, dengan rasa penasaran.


[ " Hyeong,,, " ]


[ " Kau dimana,,? " ]


[ " Mengapa ponsel mu tidak aktif,,? " ]


[ " Benarkah ini nomer ponsel mu, Hyeong,,? " ]


[ " Oiii,,, Hyeong,,!!! Apa yang sedang kau lakukan,,? " ]


[ " Angkatlah telepon ku..!!! " ]


[ " Hyeong,,,!!!! " ]


Zehan tersenyum dan hampir terbahak. Dia sudah dapat menebak, siapa yang menghubungi nya puluhan kali. Hanya satu orang yang memanggilnya " Hyeong ".


Ya,, dia adalah adik sepupunya, yang bernama William Choi. Ibunya William adalah adik kandung ayahnya, Mark Lee yaitu Sarah Lee. Sarah Lee menikah dengan Jonathan Choi, sehingga William mengikuti marga sang Ayah.


Zehan meletakkan kembali ponselnya, tanpa berniat membalas pesannya atau menelepon balik. Karena Zehan tahu,, jam segini William pasti masih tidur.


Zehan beranjak dari duduknya lalu turun kebawah untuk menemani sang istri yang sedang membuat sarapan.


Alish sedikit memekik karena terkejut dengan perlakuan Zehan. Sesaat kemudian, Alish tersenyum sambil mengusap lengan Zehan yang melingkar dipinggangnya.


Dagu Zehan berada di bahu Alish sementara bibirnya menyusup ke ceruk leher Alish dan mengecupnya lembut. Alish sedikit bergidik karena merasa geli.


" Aku hanya membuat omlet dengan capcay, tidak apa-apa kan,,? " Alish balik bertanya, sementara Zehan masih asyik mencium leher Alish.


" Hmm,, tidak apa-apa. Apapun masakannya selama itu kamu yang membuatnya, aku akan menyantapnya. " jawab Zehan di sela-sela kegiatan bibirnya yang bermain di leher Alish.


" Kak,,. Sudah,,, aku geli. Sebentar lagi masakannya siap. " ucap Alish sambil bergedik.


" Huhh,,, baiklah. " Zehan sedikit mengeluh sambil melepaskan pelukannya lalu duduk di kursi meja makan, sambil memandangi Alish yang melanjutkan kegiatan memasaknya.


Setelah menunggu hampir sepuluh menit, akhirnya masakan Alish selesai. Zehan membantu Alish menyiapkan makanannya diatas meja.


Alish menyeduh teh panas dan menyediakan air hangat untuk mereka minum. Zehan sudah duduk dikursinya, saat Alish selesai menyeduh teh.


Alish meletakkan cangkir berisi teh didepan Zehan dan segelas air hangat. Tak lupa juga, Alish mengambilkan nasi dan juga lauknya untuk Zehan sarapan.


Alish duduk berhadapan dengan Zehan, setelah dia meletakkan piring berisi sarapan untuk Zehan.

__ADS_1


" Terimakasih, sayang. " ucap Zehan sambil tersenyum.


" Sama-sama,, Kakak. " Alish membalas senyuman Zehan.


Zehan sedikit merengut dan kembali meletakkan sendoknya dipiring, membuat Alish menatap Zehan.


" Kenapa, Kak,,? " tanya Alish bingung.


" Kita itu suami istri,, bukan Kakak Adik. Kenapa kamu masih memanggilku dengan Kakak,,? " keluh Zehan lirih.


Alish tersenyum kecut mendengar keluhan dari suaminya itu. Alish menghela nafas.


" Lalu aku harus memanggilmu dengan panggilan apa,,? " tanya Alish.


" Aku memanggilmu, sayang. Kamu bisa memanggilku dengan panggilan yang sama. Atau hubby juga boleh. " jawab Zehan membuat Alish melongo.


" Tapi aku sudah biasa memanggilmu Kakak. Rasanya sulit kalau harus mengubah panggilan baru untukmu. " sahut Alish.


" Tidak sulit,, hanya tidak terbiasa. Tapi lama-lama pasti akan biasa. Please,, sayang,,. " mohon Zehan memelas. Alish kembali menghela nafas.


" Hufftt,, baiklah. Hubby,,, " gumam Alish pelan namun masih dapat terdengar oleh Zehan, membuatnya tersenyum sumringah.


" Terimakasih, sayang,. " ucap Zehan lalu mulai memakan sarapan nya.


Alish hanya mengangguk sambil tersenyum kecut. Alish sedikit merasa risih dengan panggilan nya barusan untuk Zehan. Namun mau tidak mau, suka tidak suka, Alish harus tetap melakukan nya.


Alish pun kembali memakan sarapannya yang tadi sempat tertunda. Dia juga harus segera bersiap untuk berangkat kerja. Karena Zehan memang tidak melarang nya untuk tetap bekerja.


******


~~ **Bersambung ,,,,


Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.


Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.


Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.


Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.


Salam love and peace dari othor,,


❤❤❤✌✌✌**

__ADS_1


__ADS_2