
**
Assalamu'alaikum,,, dan selamat siang.
Maafkan othor,, karena selama dua hari kemarin othor tidak up,, dikarenakan othor ada masalah yang menguras tenaga, hati dan pikiran. Membuat othor tidak bisa fokus mengetik, makanya othor memilih break sesaat. Untung aja kandungan othor ga kenapa-napa, karena sempat kram karena pikiran.
Hari ini othor up lagi,, dan bakalan double up,, sabar dan tunggu aja ya.
Happy reading All,,
**
*
*
*
" Will,,, "
" Hemm,,, "
" Berapa usia kandungan Kakak,,? " tanya Alish.
" Dokter tadi belum bisa memastikan, karena harus USG terlebih dahulu untuk lebih jelasnya. Namun menurut Dokter tadi, perkiraannya kurang lebih hampir tujuh minggu. " jawab William jujur,, sesuai ucapan Dokter tadi yang memeriksa Alish. Alish tersenyum lebar.
Sesampainya didepan ruangan VVIP satu,, William mengetuk pintu sebelum membukanya. Dilihatnya Rayhan sedang duduk disofa sambil memangku laptopnya. Rayhan mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya saat William dan Alish masuk.
Rayhan meletakkan laptopnya disofa lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri William dan Alish. Sementara William mendorong kursi roda Alish dan berhenti di samping ranjang Zehan terbaring.
Alish menatap tubuh Zehan dengan mata yang sudah berkabut. Dia senang,,, bahagia,, karena melihat tubuh suaminya yang sudah lepas dari beberapa alat-alat medis.
" Tuan Choi,, Nona Alish,, " sapa Rayhan ramah.
" Mama kemana, Ray,,? " tanya William setelah melihat diruangan itu hanya ada Rayhan sendiri.
" Nyonya besar sedang keluar sebentar, Tuan. Mungkin membeli makan siang, karena Nyonya memang belum makan. " jelas Rayhan, sementara William mengangguk-angguk, mengerti.
" Hyeong masih belum sadar lagi,,? " tanya William lagi, sambil menatap kearah Zehan.
" Belum, Tuan. " jawab Rayhan sambil menggeleng.
Dengan isyarat dari matanya, William mengajak Rayhan keluar. Rayhan hanya mengangguk mengerti arti tatapan itu.
" Kakak ipar,, kami keluar dulu sebentar. Mau makan siang. " pamit William beralasan. Alish mengangguk.
" Baiklah, Will. "
" Saya permisi sebentar, Nona. " Rayhan ikut berpamitan. Alish pun hanya mengangguk.
William dan Rayhan keluar dari ruangan, sementara Alish meraih tangan Zehan dan menggenggam nya. Dikecupnya lembut punggung tangan Zehan.
" Terimakasih,,,. Terimakasih, karena Hubby sudah mau kembali. " ucap Alish dengan lirih sambil menahan air matanya.
Tiba-tiba tangannya merasa digenggam. Alish menatap wajah Zehan yang perlahan mulai membuka matanya. Bibirnya tersenyum kecil,, sangat kecil.
" Hubby,,, " panggil Alish.
Alish bangun dari duduknya lalu berdiri, mendekatkan wajahnya ke wajah Zehan. Ditatap nya wajah yang masih ada sedikit bekas luka disana, dengan penuh kerinduan.
__ADS_1
Zehan kembali tersenyum, tangannya terangkat dan membelai pipi Alish yang terlihat tirus. Alish berusaha untuk tersenyum walau matanya sudah mulai berair.
" Maaf,,, " ucap Zehan dengan lirih dan pelan.
Alish menempelkan tangannya ditangan Zehan masih berada di pipinya. Alish menggeleng pelan, dan air mata itu pun luruh.
" Tidak,, jangan meminta maaf. Aku sudah sangat bahagia karena Hubby sudah mau kembali. " jawab Alish sambil terisak.
Zehan kembali tersenyum,, kali ini lebih lebar. Ditatapnya wakah sang istri yang terlihat sangat tirus, sayu dan sangat lelah. Namun tidak ada sedikit pun keluhan yang keluar dari bibir mungilnya.
" Maafkan aku,, sudah membuatmu sedih dan susah. Kamu pasti sangat lelah,, hingga tubuh dan wajahmu menjadi sangat kurus. Lagi-lagi aku hanya bisa membuatmu menangis. " Alish kembali menggelengkan kepalanya.
" Tidak,,,. Aku tidak apa-apa,, aku justru sangat bahagia saat ini. "
" Bagaimana kabar mereka,,,? " Alish mengernyitkan dahinya, bingung.
" Mereka,,,? " Zehan mengangguk.
" Siapa,,? " tanya Alish.
" Anak-anak kita, sayang. " Alish tersentak kaget.
Bagaimana Zehan bisa tahu,, sementara dia sendiri saja baru mengetahui kalau dirinya sedang hamil. Alish menatap lekat Zehan.
" Darimana Hubby bisa tahu, kalau aku sedang hamil,,? Sementara aku sendiri baru saja mengetahui nya. Dan kenapa Hubby bisa bilang mereka,,? " tanya Alish bingung.
Zehan kembali tersenyum lembut dan mengusap pucuk kepala Alish.
" Karena mereka lah yang sudah membawaku kembali, sayang. "
Alish semakin bingung dengan ucapan Zehan. Ditatapnya Zehan penuh dengan tanda tanya. Dengan perlahan,, Zehan pun mulai menceritakan kejadian, dimana anak kembar mereka datang dan membawanya kembali.
Alish setengah tidak percaya,, namun itulah yang terjadi pada diri Zehan. Sejak awal pertama kecelakaan dan koma pertama kali, Zehan sudah mengalami hal yang aneh dan diluar nalar.
" Karena memang mereka yang sudah membawaku kembali, sayang. Bahkan mereka juga yang meyakinkan ku untuk kembali, karena kamu yang sedang sakit dan lemah. Mereka bilang, kalau aku tidak kembali, mereka akan pergi menyusul ku juga karena kamu lemah hingga tidak bisa bertahan. "
" Kamu tahu, sayang. Aku benar-benar merasa hancur, saat tahu kalau kamu sakit dan lemah, ditambah lagi sedang hamil namun kamu sendiri tidak tahu itu. Aku benar-benar akan merasa sangat bersalah dan menyesal kalau aku sampai pergi. "
" Saat itu, aku hanya berpikir kalau kamu adalah wanita kuat. Kamu pasti bisa menerima kenyataan kalau aku memang benar-benar harus pergi. Namun ternyata aku salah,, sayangku ini juga ternyata bisa sangat rapuh. "
" Maafkan aku, sudah membuatmu menderita dan bersedih. Kamu pasti sangat lelah hingga dirimu sendiri tidak kamu urus. "
Alish sudah tak sanggup lagi menahan airmatanya. Kepalanya terus menggeleng karena tidak setuju dengan ucapan Zehan.
" Aku tidak apa-apa,,. Sungguh,,, " isak Alish.
Zehan menarik pelan tubuh Alish lalu memeluknya. Meluapkan rasa rindunya yang sudah menggunung. Mereka benar-benar saling melepaskan rindu.
" Aku ingin ikut saat kamu di USG nanti, sayang. " ucap Zehan seraya melepaskan pelukannya.
" Tapi kamu masih lemah, Hubby. "
" Aku kuat, sayang. Aku ingin membuktikan kalau ucapan anak kembar yang membawaku kembali, benar atau tidak. " jelas Zehan.
" Tapi,,,, "
" Aku mohon,,, " pinta Zehan dengan memelas.
Alish menghela nafas dan membuangnya kasar sambil menatap wajah memelas sang suami.
__ADS_1
" Baiklah,,. Nanti kita tanyakan dulu pada Dokter yang memeriksamu. Bila dia memperbolehkan,, kita pergi berdua. Tapi bila tidak boleh,, kita tunda dulu sampai kamu sembuh betul. Oke,,,? " Zehan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, persis seperti anak kecil yang diberi hadiah permen. Sangat bahagia sekali.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, membuat pasangan suami istri itu kompak menoleh kearah pintu. Mama Zehan yaitu Sabilla, masuk sambil menatap kembali ke arah Zehan dan Alish. Mama Zehan tersenyum bahagia melihat sang anak sudah sadar.
" Ma,,, " panggil Zehan lirih.
Mama Zehan mendekat,, airmatanya sudah menggenang di matanya.
" Ze,,. Kau sudah bangun, Nak. " suara Mama Zehan serak, karena terlalu banyak menangis.
Zehan hanya mengangguk, Alish sedikit menggeser tubuhnya supaya Mama Zehan bisa memeluk sang anak. Air mata Mama Zehan pun luruh, saat tubuh nya memeluk tubuh Zehan.
" Jangan lagi seperti ini, sayang. Mama benar-benar bisa kena serangan jantung karenanya. Lagipula,, kasihan istrimu ini. "
Mama Zehan melepaskan pelukannya,, sementara Zehan hanya mengangguk sebagai jawaban dari ungkapan sang Mama.
" Maafkan Ze, Ma. " Mama Zehan pun mengangguk.
" Ma,, " panggil Alish. Mama Zehan menoleh lalu tersenyum.
" Sayang,,. Bagaimana keadaanmu,,,? " tanya Mama Zehan pada Alish.
" Alish baik-baik saja, Ma. "
" Mama benar-benar khawatir saat Will memberitahu kalau kau pingsan disaat Ze sedang anfal. Kalian berdua benar-benar membuat Mama sport jantung,,. " keluh Mama Zehan.
" Maafkan Alish, Ma. Alish benar-benar shock saat mendengar bunyi yang sangat panjang dari alat-alat itu. Alish merasa dunia Alish runtuh saat itu juga. " Alish menundukkan kepalanya,, menyesal.
Mama Zehan tersenyum lalu mengusap kepala Alish penuh sayang.
" Mama mengerti, sayang. Mama pun mungkin tidak akan sanggup berdiri apabila Mama ada disini saat itu terjadi. "
" Kau dengar, Ze. Kau sudah membuat menantu Mama cemas dan khawatir. Bahkan Will bilang, dia tidak menjaga tubuhnya sendiri. Banyak menangis dan tidak mau makan. "
" Awas saja kalau sampai ini terjadi lagi,,!! " omel Mama Zehan pada Zehan membuat Zehan terkekeh pelan.
" Lihat, sayang. Bahkan Mama sekarang lebih menyayangi mu karena sudah mengomel padaku. " keluh Zehan membuat dua wanita yang dicintainya itu tertawa pelan.
Zehan benar-benar merasa beruntung, karena dapat kembali bersama orang-orang yang dicintainya. Zehan bersyukur dalam hati. Matanya menatap dua wanita beda usia itu, yang sedang saling memeluk.
" Semoga semua cobaan ini cepat berlalu. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama anak dan istri ku. Walaupun harus hidup sederhana,, asalkan bersama mereka. "
" *Aku tidak peduli dengan harta ataupun perusahaan Papa. Karena dia sudah merendahkan istriku dan calon Ibu dari anak-anak ku. Sudah cukup sekali aku melihatnya menangis dan berniat pergi meninggalkan ku karena ulah Papa. "
" Air matanya membuat hatiku hancur dan hanya senyumannya yang dapat mencerahkan hari dan dunia ku. " ucap Zehan dalam hati*.
*
*
*
~~ ***Bersambung,,
Nanti satu bab lagi,, mungkin malam baru othor up.
Jangan lupa tekan like, vote, comment dan hadiah kopi atau bunganya.
Salam love and peace dari othor,,
__ADS_1
❤❤✌✌***
**