The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
TGH 80


__ADS_3

Mark memegang batu nisan milik Abdul. Dan sesaat kemudian, bulir bening yang keluar dari matanya mengalir di pipinya.


" Ab,,, "


Suara Mark serak dan parau dan terdengar sangat lirih. Seperti tercekat dan susah untuk keluar. Bahu Mark bergetar, karena menangis.


Dunianya seakan runtuh melihat makan yang ada didepannya.


" Aku datang, Ab. " ucap Mark lagi dengan suara sedikit bergetar.


" Maafkan aku yang baru datang sekarang, aku benar-benar tidak tahu keberadaan mu. "


" Maafkan aku yang terlambat mengetahui keadaanmu yang sebenarnya. Kau pergi terlalu cepat, sahabat. "


" Kenapa kau sudah pergi,,? Aku bahkan belum sempat membalas semua kebaikanmu. Membalas hutang budi ku padamu. "


" Maafkan aku pula, yang sudah merendahkan, menghina dan menyakiti hati anakmu. Seandainya aku tahu,,, tanpa berpikir dua kali,, aku akan menerima anakmu menjadi menantuku. "


" Saat ini,, didepan makammu, aku berjanji,, akan menerima anakmu dan menjadikannya menantu sekaligus anakku. Setelah ini, aku akan akan membuatkan pesta besar untuk mereka dan mengenalkan anakmu pada dunia sebagai menantu keluarga Lee. "


" Aku memang tidak bisa berjanji untuk selalu membahagiakan nya, namun aku pastikan akan selalu melakukan yang terbaiknya untuk nya agar dia selalu bahagia. "


" Tenanglah kau disana, sobat. Anakmu sudah ada yang menjaga. Kau sudah bisa tersenyum disana. "


Alish terharu mendengar ucapan Papa Zehan. Dia menutup mulutnya dengan ujung jarinya. Air matanya sudah mengalir mulus di pipinya.


" Terimakasih,, Pa. " ucap Alish parau.


Mark menatap Alish dengan sendu. Dia benar-benar menyesal, sudah membuat Alish menangis karena hinaannya. Mark hanya bisa mengangguk.


" Ayah,, Ibu,,,. Maafkan Alish,, karena baru sempat datang kesini membawa menantu kalian. "


" Kenalkan,, ini Zehan, suami Alish. Anak dari sahabat Ayah dulu. Dan maafkan Alish juga, karena menikah tanpa datang kesini terlebih dahulu, menemui Ayah dan Ibu. " ucap Alish lirih.


" Ayah,, Ibu,,. Kenalkan, aku Zehan. Suami Alish, menantu kalian. Maafkan aku yang baru sempat datang mengunjungi kalian. "


" Aku berjanji,, akan melakukan hal yang dapat membahagiakan Alish. Dan aku juga ingin membagi kabar gembira dengan kalian. "


" Saat ini,, Alish sedang hamil. Cucu kalian kembar,,. Do'akan Alish dan calon bayinya supaya selalu sehat sampai waktunya melahirkan nanti. "


Alish dan Zehan memanjatkan do'a untuk kedua orangtua Alish sekaligus mertua Zehan. Begitu juga dengan Mark.


" Ayah,, Ibu,, kami pulang dulu. Lain kali,, kami akan datang lagi. " pamit Alish seraya bangun dari jongkoknya, dibantu oleh Zehan.


" Ab,,. Aku pulang,, aku pasti akan datang lagi lain kali. Sekali lagi,, maafkan Aku. "


Mark ikut berdiri dan matanya terus menatap kedua makam tersebut. Dirinya sudah berusaha ikhlas dan menerima kenyataan, kalau sahabatnya itu benar-benar sudah pergi.


Mereka bertiga pun akhirnya pergi meninggalkan makam.


" Papa tunggu kalian datang kerumah Papa. Mama kalian juga pasti akan senang kalau kalian datang. " ucap Mark saat mereka sudah sampai didekat mobil mereka.


" Kami pasti datang, Pa. " sahut Alish, membuat Zehan menoleh kearah Alish.


Alish balik menatap Zehan, tersenyum lalu kemudian mengangguk. Membuat Zehan mengembangkan senyumannya.


Mark pun ikut tersenyum mendengar jawaban Alish. Dia lalu membuka pintu mobilnya.


" Jangan lupa, Papa tunggu. Sekalian kita membahas masalah resepsi pernikahan kalian. "


Alish dan Zehan mengangguk kompak. Mark masuk kedalam mobilnya dan melajukannya, meninggalkan area pemakaman sahabatnya sekaligus besannya itu.


Zehan meraih tangan Alish lalu mengecup punggung tangannya. Lalu menatap Alish penuh cinta.


" Terimakasih,, sayang. " Alish mengangguk.


Mereka pun kemudian masuk kedalam mobil. Melanjutkan rencana mereka untuk berbelanja keperluan dapur.


Sesuai rencana,, mereka berbelanja di pusat perbelanjaan dekat proyek pembangunan, tempat Zehan, William dan Rayhan bekerja sama.

__ADS_1


Senyum Zehan mengukir dibibirnya sepanjang mereka berbelanja. Hatinya sudah tenang, karena masalah restu dengan sang Papa telah selesai.


Zehan mendorong troli sementara Alish yang mengambil belanjaannya. Tak lupa juga, Alish membeli susu hamil yang sudah direkomendasikan oleh dokter obgyn yang memeriksanya.


Hati Alish juga sudah tenang dan merasa bahagia, karena mertuanya sudah mau menerima pernikahan mereka dan menjadikannya menantu dirumah keluarga Lee.


Sepasang suami istri tersebut, pulang dengan hati yang penuh kegembiraan, setelah mereka selesai berbelanja.


*


*


*


Seminggu kemudian,,


Alish dan Zehan mendatangi rumah utama keluarga Lee. Zehan tak menyangka, kalau dia akan kembali pulang kerumah itu, dalam waktu beberapa bulan saja.


Sementara Alish juga tak menyangka, akan datang ke rumah sang mertua, setelah dia dan sang suami menghadapi berbagai ujian dan cobaan.


Kedua orang tua pengasuh Zehan saat kecil, menyambut mereka, saat mereka turun dari mobil.


Zehan yang sudah lama tak bertemu dengan kedua pengasuh suami istri tersebut, langsung memeluk mereka setelah Zehan sampai didepan pintu utama.


Paman Rahmad dan Bi Minah memang sengaja menunggu kedatangan putra majikan yang mereka asuh sejak kecil didepan pintu.


Zehan memeluk mereka erat,, menyalurkan kerinduannya. Sementara Alish, menatapnya penuh haru. Dia tidak menyangka, kalau sang suami begitu menyayangi kedua pengasuhnya tersebut.


Alish mencium punggung tangan kedua pengasuh tersebut dengan takzim, setelah Zehan melepaskan pelukannya.


" Bagaimana kabar kalian, Nak,,? Paman sempat khawatir saat mendengar, kalau Ze kecelakaan dan kembali koma. " tanya Paman Rahmad.


" Alhamdulillah,, kabar kami baik, Paman. Dan kesehatan ku juga sudah pulih. " jawab Zehan membuat kedua orangtua tersebut tersenyum lega.


" Dan kami juga punya kabar baik untuk kalian. " lanjut Zehan.


" Kalian berdua akan segera menjadi Kakek dan Nenek. "


Mata kedua orangtua tersebut berbinar dan senyum mereka pun mengembang.


" Alhamdulillah,,,,. Selamat untuk kalian. " ucap Bi Minah.


" Terimakasih, Bi. " jawab Zehan dan Alish berbarengan.


" Ya sudah,, Ayo masuk dulu, Tuan dan Nyonya sudah menunggu kalian didalam. " ujar Paman Rahmad.


Zehan dan Alish mengangguk dan kemudian mereka pun masuk kedalam diikuti oleh Paman Rahmad dan Bi Minah. Mama dan Papa Zehan sudah menunggu mereka diruang keluarga.


" Ma,, Pa,, kami datang. " ucap Zehan begitu mereka sampai diruang keluarga.


Sabilla dan Mark menoleh kearah sumber suara, dan sesaat kemudian senyum menghiasi bibir keduanya.


Sabilla bangun dari duduknya lalu berjalan mendekati anak dan menantunya. Sabilla memeluk keduanya erat.


" Akhirnya kalian datang. " Mark pun ikut bangun dari duduknya dan menghampiri ketiganya yang sedang berpelukan.


Sabilla segera melepas pelukannya dan bergantian dengan Mark yang memeluk anak dan menantunya.


" Bagaimana kabar calon cucu Papa,,,? " tanya Mark setelah dia melepas pelukannya.


Sabilla mengajak Zehan dan Alish untuk duduk terlebih dahulu.


" Kabar mereka baik, Pa. Dan Alhamdulillah,, mereka tidak rewel. " jawab Alish seraya mengusap perutnya.


" Tunggu,,,. Maksudnya,, 'mereka' itu siapa,,? " tanya Sabilla bingung.


Sabilla memang tahu kalau Alish sedang hamil, namun dia tidak tahu kalau calon cucunya tersebut kembar.


" Lho,,,? Mama tidak tahu, kalau calon cucu kita itu kembar,,? " Mark balik bertanya karena terkejut dengan pertanyaan dari istrinya.

__ADS_1


" Tidak,,!. Memangnya kembar,,? Dan Papa tahu,,? " Mark mengangguk.


Sabilla menoleh kearah Zehan dan Alish dan menatapnya penuh tanda tanya. Sementara yang ditatap, hanya tersenyum manis.


" Iya, Ma. Calon cucu Mama kembar. " jawab Zehan.


" Ya Tuhan,,,.!! " Sabilla benar-benar terkejut sekaligus bahagia.


Sangat terlihat dari mata tuanya yang berbinar walau terdapat bulir bening disana. Mark merangkul bahu Sabilla lalu mengelus nya.


" Cucu kita kembar, Pa. " suara Sabilla sedikit bergetar karena menahan tangis, Mark hanya bisa mengangguk sambil tersenyum.


" Ini awal kebahagiaan keluarga kita, Ma. " sahut Mark, dan Sabilla mengangguk setuju.


" Kalian akan tinggal disini kan,,? " tanya Sabilla.


" Untuk sementara, kami akan tetap tinggal dirumah keluarga Alish, Ma. " wajah Sabilla berubah sendu.


" Tapi setiap akhir pekan kami akan datang menginap disini. Dan setiap Ze berangkat kerja, Alish akan disini menemani Mama. Ze tidak tega meninggalkan nya sendirian dirumah."


" Setiap pagi, Ze akan mengantarnya kesini dan sorenya akan Ze jemput. Tidak apa-apa kan, Ma,,? "


Sabilla langsung mengangguk setuju, takut Zehan berubah pikiran. Mark pun setuju dengan ucapan Zehan.


" Dan saat kehamilan Alish sudah tujuh bulan, baru kami akan tinggal disini sampai Alish melahirkan nanti. " wajah Sabilla semakin berbinar bahagia saat mendengar lanjutan ucapan Zehan.


" Baiklah,, Papa dan Mama setuju. Kami sudah tidak sabar menanti kehadiran kedua cucu kami. "


" Do'akan kami selalu sehat, Pa, Ma. " Alish mengusap perutnya.


" Tentu saja. Dan kami juga ingin memberitahu kalian, kalau dua minggu lagi, pesta resepsi pernikahan kalian akan dilaksanakan. "


" Tapi Pa,,,, "


" Tidak ada penolakan,, dan kalian hanya tinggal tahu beres. " tegas Mark, membuat Alish dan Zehan tidak bisa berbuat apa-apa.


" Papa masih pemaksa,,. " gerutu Zehan, membuat Mark terkekeh.


Dari dapur,, Paman Rahmad dan Bi Minah tersenyum bahagia melihat kehangatan keluarga majikannya tersebut. Kehangatan keluarga yang sudah puluhan tahun menghilang.


Paman Rahmad merangkul sang istri dan mengusap bahunya.


" Semoga akan selalu seperti ini biasanya ya, Bu. " do'a Rahmad.


" Aaminn,,, " sahut Minah.


*


*


*




\*\*\*Akan ada bonus chapternya,, silahkan di tunggu.


Othor ga terlalu suka konflik yang berat. Ada konflik tapi yang ringan-ringan aja.



Dan jangan lupa masukan dalam favorit,, bintang lima,, dan tekan like, vote dan comment nya.


Salam love and peace dari othor,,


❤❤✌✌\*\*\*


\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2