The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
Seasons 2 : Cowok Narsis dan Gadis Bar-bar # bab, 4.


__ADS_3

Disaat yang sama,,


Seorang gadis dengan sebuah gitar dipunggungnya, masuk kedalam rumah kontrakan sederhananya. Gadis itu sedikit bingung, karena tumben rumah itu sangat sepi.


" Assalamu'alaikum,,,, " seru gadis itu seraya masuk kedalam rumah.


Dia masuk kedalam kamar dan meletakkan gitarnya. Gitar yang menjadi harta yang berharga untuknya. Gadis itu keluar lalu mencari keberadaan adik dan keponakan nya itu.


" Ali,,,. Kakak pulang.! " serunya.


Masih sepi, tidak ada suara atau sedikit gerakan.


" Alif,,, Nda pulang, sayang. " serunya lagi.


Ya,, gadis itu adalah Fatimah. Dan sejak kedua orangtua Alif yaitu Kakak kandung Fatimah meninggal, Alif dirawat oleh Fatimah. Dan semenjak Alif belajar bicara, dia memanggil Fatimah dengan sebutan Bunda.


Fatimah benar-benar bingung, kemana perginya kedua bocah tersebut. Mata Fatimah tiba-tiba saja melihat kearah meja. Di sudut meja tersebut ada bercak darah, begitu juga dengan lantainya, ada beberapa bercak darah yang sudah mengering.


Mata Fatimah membulat, dan hatinya mendadak merasa tidak enak. Panik dan sedikit tergesa, Fatimah keluar dari rumah. Dan disaat ingin menutup pintu, seseorang memanggil namanya.


" Imeh,,,!! "


Fatimah menoleh, dan seorang ibu dengan menggunakan daster rumahan sedang bergegas mendekat kearah Fatimah.


" Ya Alloh, Imeh,,,. Akhirnya loe pulang juga. "


" Memangnya ada apa ya, Bu,,? " tanya Fatimah, sambil berusaha menyembunyikan paniknya.


Perasaannya kembali merasa tidak enak, saat tetangganya itu tadi memanggil.


" Ade loe, Imeh. Dia dibawa kerumah sakit, palanya tadi bocor, kejedot meja. Tadi ada cowok ganteng yang nolongin Ade loe, bawa kerumah sakit. "


Deg,,,


" Astaghfirullahalazim,,,. Rumah sakit mana, Bu,,,? " tanya Fatimah cemas.


" Katanya sih tadi rumah sakit XX. Udah buruan loe nyusulin kesono. "


" Iya, Bu. Makasih ya. Saya kerumah sakit dulu".


" Iye,, ati-ati. "


Fatimah segera menutup pintunya, dan dengan setengah berlari, Fatimah pergi. Dia menuju pangkalan ojek yang ada didekat rumahnya.


Selain karena ingin cepat sampai, Fatimah juga berpikir, jarak ke rumah sakit itu tidak terlalu jauh, dan ongkosnya juga tidak terlalu mahal.


Selama dalam perjalanan ke rumah sakit, Fatimah terus saja beristighfar dalam hati. Berusaha menenangkan hatinya untuk yang gelisah dan panik. Dia pun berdo'a semoga adiknya tidak apa-apa. Tanpa dia tahu, kalau ternyata yang terluka adalah keponakannya bukan sang adik.


Sesampainya di rumah sakit, Fatimah langsung menuju tempat informasi, dan bertanya tentang pasien.


" Selamat sore, Sus. Saya ingin bertanya, apakah benar tadi ada pasien seorang anak kecil dengan luka dikepala,,,? " tanya Fatimah.


" Sebentar ya, Mbak. Saya cek dulu. " sahut Suster itu, Fatimah mengangguk.


Setelah memeriksa beberapa saat,,,


" Kalau untuk pasien anak kecil dengan luka dikepala, tadi memang ada, Mbak. Anak itu laki-laki dan baru berusia sekitar dua tahun. Apakah itu pasien yang Anda maksud, Mbak,,? "


Fatimah tersentak dan diam untuk sesaat.

__ADS_1


" Anak laki-laki dan usianya dua tahun,,? Jangan-jangan,,,, "


" Maaf Suster,, apakah pasien tersebut bernama Alif,,? " tanya Fatimah sambil menahan nafasnya.


" Benar, Mbak. " sahut Suster itu dan seketika tubuh Fatimah terasa lemas.


" Astaghfirullahalazim,,, " ucap Fatimah dalam hati.


" Apakah Mbak yang bernama Fatimah,,? " tanya Suster itu, dan Fatimah pun mengangguk.


" Benar, Suster. "


Suster itu menyerahkan dua paper bag dan sebuah kantong plastik kecil berisi obat.


" Ini ada titipan dari orang yang sudah membawa adiknya Mbak tadi. Dan ini obat untuk adik Alif. " jelas Suster tersebut.


Fatimah terdiam untuk sesaat sambil menatap kearah paper bag tersebut.


" Maaf Suster,, kalau boleh saya tahu, siapakah orang yang sudah menolong adik saya,,? "


" Kalau itu, kami mohon maaf, Mbak. Kami juga tidak tahu. Orang itu hanya datang membawa adik Alif dan mengobati lukanya. Dia juga sudah membayar lunas administrasi pengobatan adik Alif. " jelas Suster itu, membuat Fatimah kembali merasa lemas.


" Adik Alif saat ini ada diruang perawatan kamar Anggrek 1. Dari sini Mba lurus lalu belok kanan. " lanjut Suster tersebut. Fatimah tersenyum kecil.


" Baiklah, Sus. Dan terimakasih. " Mau tidak mau, Fatimah meraih dua paperbag tersebut, berikut dengan obat untuk Alif.


" Sama-sama, Mbak. "


Fatimah pun bergegas pergi ke ruangan yang dimaksud Suster tadi. Tangannya meremas kencang tali paperbag yang dipegangnya.


Fatimah langsung membuka pintu, begitu dia menemukan kamar yang disebutkan Suster tadi. Matanya membulat saat melihat sosok mungil Alif yang terbaring lemah diatas ranjang.


" Kakak,,,. " panggilnya dengan suara sedikit bergetar karena menahan tangis sekaligus merasa takut kalau Kakaknya akan marah besar padanya.


" Ya Allah,,,. Alif,,,, " Fatimah langsung mendekat dan duduk disamping tubuh mungil Alif.


Sementara Ali hanya bisa menundukan kepalanya. Dia benar-benar takut pada kemarahan sang Kakak.


Fatimah menatap Alif yang masih tertidur pulas. Lalu pandangannya beralih ke adik satu-satunya itu.


" Kamu ga apa-apa, De,,,? " tanya Fatimah dengan lembut.


Ali sontak mengangkat wajahnya lalu menatap sendu Fatimah. Ali menggeleng lemah, matanya sudah basah.


" Maafin Ali, Kak. Ali udah lalai jagain ade Alif. " ucapnya pelan.


Fatimah berusaha tersenyum. Tangannya terangkat lalu menyentuh pipi Ali.


" Ini semua bukan sepenuhnya salah kamu, Kakak juga salah karena pulang terlambat. Maafin Kakak ya,, " Ali mengangguk dan airmatanya pun luruh.


" Kamu tadi kesini sama siapa,,? " tanya Fatimah, berusaha mencari tahu siapa yang sudah menolong adik dan keponakannya.


" Ali ga tahu, Kak. Ali ga kenal. Waktu kepala ade Alif berdarah, Ali langsung keluar rumah, mau minta tolong sama orang. Terus Om itu nyamperin Ali dan langsung nolongin ade Alif. " jawab Ali yang lagi-lagi membuat Fatimah merasa lemas, karena gagal tahu siapa penolong keponakannya itu.


" Ya udah, ga pa-pa. Kita tungguin ade Alif bangun habis itu kita langsung pulang. " Ali hanya bisa mengangguk.


*


*

__ADS_1


*


Sementara itu dikediaman keluarga Lee,,


William masuk kedalam rumah setelah dia memarkir mobilnya digarasi. Dia berjalan lemah saat masuk kedalam.


" Willi,,,,!!! " pekik Mommy Sarah membuat William sontak kaget dan langkah nya berhenti.


William mengusap da da nya, karena kaget dengan teriakan sang Mommy. Sementara Mommy Sarah bergegas mendekat kearah William.


Mommy Sarah memutar-mutar badan William, entah apa yang sedang dicarinya.


" Mom,,,. Mommy kenapa,,,? " tanya William yang sudah merasa sedikit pusing karena tubuhnya yang diputar-putar sang Mommy.


" Kau yang kenapa,,,? " ketus Mommy Sarah balik bertanya.


" Memang Will kenapa,,,? " William mengerutkan dahinya bingung.


" Itu lihat,,,. Kemejamu banyak darahnya. Apa kau terluka,,,? " tanya Mommy Sarah panik.


Zehan, Alish, Mama Sabilla, Papa Mark dan Daddy Jo muncul dari dalam rumah setelah tadi mendengar teriakan Mommy Sarah.


" Will kenapa, Mom,,,? " tanya Zehan.


" Mommy juga tidak tahu, Ze. Tapi coba kalian lihat,, ini kemejanya banyak darahnya. Tapi sejak tadi anak ini hanya diam. Bahkan balik bertanya seperti orang bo*doh."


Zehan dan yang lain pun menatap kearah William dan membuatnya risih. Dia berdecak kesal.


" Ckk,, Will tidak apa-apa, Mom. Will tadi menolong seorang anak kecil yang terluka, dan ini adalah darahnya. Bukan darahku, lagipula Will tidak terluka sedikitpun. " jelas William membuat Mommy Sarah menarik nafas lega.


" Will ke kamar dulu, Mom. Mau mandi sekalian ganti baju. " pamit William dan diangguki oleh sang Mommy.


William juga pamit pada orang tua Zehan dan juga pada Kakak dan Kakak iparnya. Zehan menatap tajam punggung William yang kian menjauh.


Zehan merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh William. Lagipula, bukankah tadi William pamit padanya ingin kerumah Fatimah. Lalu kenapa tiba-tiba bisa menolong seorang anak kecil,,,. Begitulah yang ada didalam pikiran Zehan.


Sementara itu dikamar William,,,


William menatap kemejanya yang terdapat darah Alif tadi. Dia benar-benar tidak sadar bahkan hampir membuat sang Mommy terkena serangan jantung.


William membuka kemejanya lalu masuk kedalam kamar mandi, untuk membersihkan dirinya.


*


*


*


~~ ***Bersambung,


Maaf,, cuma sedikit. Othornya lagi kurang enak badan. Harap maklum dan Mohon do'a nya.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya Kakak.


Salam love and peace dari othor,,


❤❤✌✌***


**

__ADS_1


__ADS_2