
Zehan merebahkan tubuhnya diranjang big size nya. Lengan kanan menutup kedua matanya.
" Harus kucari kemana gadis itu,,? Berikanlah aku sebuah petunjuk, Tuhan. " gumam Zehan.
Karena kondisi yang masih belum pulih seratus persen, Zehan mudah merasa lelah. Tak butuh waktu lama, dia pun mulai terlelap dan melewatkan makan siangnya.
****
Satu minggu kemudian,,,
Zehan baru saja pulang dari rumah sakit. Rutinitas setiap satu minggu sekali untuk check-up kesehatannya pasca kecelakaan beberapa bulan yang lalu.
Sudah satu minggu ini, Zehan mengalami sakit dan nyeri dikepala, dan rasa sesak didada. Walaupun berusaha untuk tidak memikirkan gadis dalam mimpinya itu, tapi tetap saja, bayangan gadis itu selalu hadir setiap saat.
" Sakitnya kepalaku ini. Bayangan gadis itu selalu saja datang. Wajah cantiknya, senyum manisnya, tawanya yang khas serta suaranya yang terdengar merdu saat memanggilku dengan panggilan Kakak. Si*l,,,!! benar-benar sangat menyakitkan. " ucap Zehan dalam hati seraya memijat keningnya pelan.
" Kenapa, Nak,,? " tanya Rahmad cemas, karena melihat Zehan memijat keningnya.
" Tidak apa-apa, Paman. Hanya sedikit sakit. " jawab Zehan berusaha tenang supaya Rahmad tidak terlalu khawatir. Zehan tersenyum kecil.
Rahmad kembali fokus mengemudi mobilnya sementara Zehan mengalihkan pandangannya keluar kaca mobil.
Zehan mengerutkan keningnya saat melewati sebuah daerah yang tidak dia kenal tapi lagi-lagi terasa familiar.
" Berhenti sebentar, Paman. " ucap Zehan mendadak.
Dengan perlahan, Rahmad menepikan mobilnya. Zehan keluar dari dalam mobil dan berdiri menatap tempat yang ada di hadapannya.
" Tempat ini,,,? " gumam Zehan.
Zehan berjalan menghampiri tempat itu. Sebuah lapangan yang tidak terlalu luas, menarik perhatian Zehan.
" Lagi-lagi,, perasaan aneh apa ini,,? Lapangan ini,,,? Aahh,,, dadaku kembali sesak. Kepalaku sakit seakan mau pecah. " gumam Zehan sambil memegangi kepalanya.
" Ze,,,!! Mau kemana,,? " seru Rahmad setelah membuka kaca pintu mobilnya.
" Sebentar Paman,, Ze merasa aneh. Sebentar saja,,. " sahut Zehan lalu berjalan menyusuri lapangan itu.
Hingga sampailah Zehan di sebuah tanah kosong yang ditumbuhi banyak pepohonan besar. Persis seperti hutan hanya saja lebih kecil.
Zehan masuk dengan perlahan kedalam hutan kecil itu. Kembali lagi perasaan familiar yang dirasakan Zehan saat memasukinya.
" Tempat apakah ini,,? apakah aku pernah kesini? kenapa lagi-lagi terasa familiar,? " gumam Zehan sambil berdiri dan menundukkan wajahnya, dibawah sebuah pohon besar.
" Ada dengan diriku yang sebenarnya, Tuhan,,? perasaan apakah yang kurasakan saat ini,,? bantu aku, beri aku petunjuk, Tuhanku. " gumam Zehan lagi dengan kedua tangan yang masuk kedalam kantong celananya.
__ADS_1
Tak lama, Zehan pun keluar dari kecil itu, dan kembali ke lapangan tadi. Pandangannya tiba-tiba tertuju ke sebuah rumah yang amat sangat sederhana. Rumah kecil yang terlihat sangat tua. Walau dilihat dari kejauhan, tapi dapat terlihat sangat kontras dengan beberapa rumah dengan yang ada disekitarnya.
Zehan menarik nafas sambil memegangi dadanya, karena lagi-lagi dadanya terasa sangat sesak, lebih sesak dari yang biasanya. Dan ada rasa sedih didalamnya.
Karena tidak tahan, Zehan kembali ke mobilnya, masih dengan memegangi dadanya. Zehan masuk lalu duduk sambil bersandar.
" Kau kenapa, Ze,,? " tanya Rahmad khawatir karena melihat Zehan memegangi dadanya.
Zehan tersenyum kecut dan menggeleng.
" Ze tidak apa-apa, Paman. " jawab Zehan dengan suara pelan
" Benar,,? " Rahmad memastikan.
Zehan hanya mengangguk sebagai jawaban. Rahmad pun menghela nafas lalu mulai melajukan mobilnya lagi.
" Paman,,,. Apa Ze pernah ketempat tadi sebelumnya,,? " tanya Zehan dengan rasa penasaran yang tidak dapat ditahan.
Rahmad terdiam sebentar sambil berpikir, kemudian menggeleng.
" Setahu Paman belum pernah, tapi entah kalau Ze pernah kesana sendiri. Yang jelas, Paman belum pernah mengantar ketempat tadi. "
" Tapi kenapa, lagi-lagi, Ze merasa tempat tadi itu sangat familiar, Paman,,? Tempo hari sebuah toko waralaba, lalu sebuah halte. Lalu saat ini sebuah lapangan, hutan kecil dan sebuah rumah sederhana. Nanti apa lagi,,? Ada apa dengan pikiranku ini, Paman,,? " tanya Zehan lirih.
" Paman sendiri tidak tahu, Nak. Mungkinkah tempat-tempat yang Ze sebutkan tadi, adalah pengalaman jiwa Ze, yang Ze lalui bersama dengan gadis yang bersama Alish itu,,? " Rahmad menebak-nebak.
Zehan terdiam dan berpikir sejenak, mencerna ucapan Rahmad.
" Bisa mungkin,, bisa juga tidak. Paman kan tidak tau, Nak. Selama ini jiwamu berkelana kemana saja. " jawab Rahmad.
" Hahh,, sudahlah, Paman. Ze mau istirahat sebentar, kepala Ze sakit lagi. " ucap Zehan seraya memejamkan matanya.
Rahmad pun diam dan kembali fokus pada jalanan.
**
Mobil berjalan dengan perlahan karena macet. Zehan membuka matanya perlahan karena merasa perjalanan pulang mereka sangat lama.
" Kenapa kita belum sampai, Paman,,? " tanya Zehan sambil melihat sekitar.
" Macet, Ze. " jawab Rahmad tanpa mengalihkan pandangannya.
Zehan diam dan manggut-manggut. Pandangannya melihat keluar, samping kaca mobilnya. Dilihatnya sebuah rumah lumayan besar dengan sebuah plang yang bertuliskan ' Yayasan Kasih Bunda '.
Zehan melihat dengan seksama kedalam yayasan itu, karena pagarnya yang terbuka. Dilihatnya ada seorang anak laki-laki tengah menatapnya, yang seakan ditujukan kearahnya dengan tajam.
Zehan kembali merasa sakit dikepala dan sesak di dadanya. Pandangannya beralih kesamping yayasan. Terdapat beberapa mainan untuk anak-anak.
__ADS_1
Matanya tertuju pada ayunan yang terdapat dua buah ayunan bersampingan. Kembali rasa sakit dan sesak menyerang dadanya. Zehan meremas kuat dadanya.
" Ada apa lagi ini,,? Yayasan itu,,? Dan ayunan itu,,? Ahh,,, sakit sekali dadaku ini. " ucap Zehan dalam hati.
" Sakit lagi, Ze,,? " tanya Rahmad cemas. Zehan mengangguk pelan sambil menarik nafas perlahan.
" Apa perlu kita kembali kerumah sakit, Ze,,? " tanya Rahmad lagi.
Zehan menggeleng pelan.
" Tidak usah, Paman. Sakit ini, sama seperti tadi. Walau lebih sakit, tapi Ze tidak apa-apa, Paman. " jawab Zehan pelan karena menahan sakit.
Rahmad melihat sekilas Yayasan yang tadi dilihat Zehan. Mobilnya masih merayap perlahan.
" Kenapa,,? Terasa familiar lagi,,? " tebak Rahmad dan di angguki Zehan sebagai jawaban.
" Apa perlu kita turun, dan mencari tahu, Ze,,? "
tanya Rahmad.
" Tidak usah, Paman. Lain kali saja, Ze masih belum siap. Lagipula, dada Ze sakit sekali. Ze ingin merebahkan tubuh Ze dikasur. Badan Ze terasa sangat lelah. " jawab Zehan sambil menggelengkan kepalanya.
" Baiklah,,. " ucap Rahmad.
Dan untung saja, jalanan mulai lancar. Rahmad pun mulai menaikkan laju mobilnya. Tak butuh waktu lama, sekitar dua puluh menit, mereka pun sampai dirumah mewah milik keluarga Lee.
" Terimakasih, Paman. " ucap Zehan lalu keluar dari dalam mobil.
Rahmad hanya mengangguk sambil tersenyum.
" Ze kecilku benar-benar sudah berubah. Terimakasih, Tuhan. " ucap Rahmad bermonolog.
Rahmad pun ikut keluar dan mulai membersihkan mobil yang habis dipakai nya mengantar Zehan.
****
~~ **Bersambung
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
__ADS_1
❤❤❤✌✌✌***
****