The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
TGH 18


__ADS_3

Masih Flashback on,,


Zehan Pov


" Ze,,, mama mau bicara sama kamu. " tiba-tiba saja Mama sudah berdiri di pintu kamarku.


Aku menoleh sekilas kearah Mama lalu melanjutkan kegiatanku memakai sepatu.


" Ze,, mau sampai kapan kamu seperti ini, sayang,,? " tanya Mama seraya menghampiriku.


Aku yang telah selesai memakai sepatu, hanya bisa mendongakkan kepalaku.


" Seperti apa maksud mama,,? " Aku balik bertanya, lalu berdiri dan berjalan kearah walk in closet.


Aku meraih jaket kesayanganku yang berwarna hijau army dengan warna merah dibagian dalamnya, tak lupa topi dengan warna yang sama. Aku memakainya seraya berjalan menghampiri Mama yang masih belum menjawab pertanyaannya.


" Maksud Mama, mau sampai kapan kamu bersikap arogan, kejam, susah diatur, selalu pergi ke bar dan pulang larut malam sambil mabuk-mabukan,,? " Mama mengulang pertanyaannya.


Aku berdiri didepan Mama sambil mengerutkan dahiku, dan sedikit kesal.


" Salah siapa hingga Ze bertindak seperti ini,,? " Aku balik bertanya dengan suara lirih.


Mama terdiam sementara aku menghela nafas panjang dan membuangnya kasar.


" Ze kadang bingung dan sering bertanya-tanya, sebenarnya Ze anak kandung Mama dan Papa atau bukan,,? " tanyaku lagi.


Mama tersentak mendengar pertanyaanku.


" Tentu saja kamu anak kami, mengapa kamu bisa bertanya seperti itu, sayang,,? " sahut Mama dengan suara sedih. Entah itu benar-benar sedih, atau hanya pura-pura, aku tak tau dan tidak mau tau.


" Benarkah,,? Lalu mengapa dengan teganya kalian selama bertahun-tahun meninggalkan Ze sendiri disini hanya ditemani Bi Minah dan Paman Rahmad. Mama dan Papa menjadikan seorang pelayan dan sopir sebagai pengasuh Ze. Orang tua Ze disini mereka atau Mama Papa,,? " seruku kesal.


Plakk,,,


Mama tiba-tiba saja menampar pipi kananku. Aku memegang pipi bekas tamparan Mama sambil tersenyum kecut. Selang beberapa detik kemudian, kulihat Mama tersadar sambil melihat tangannya yang gemetar dan mata yang mulai berkaca-kaca.


" Terimakasih untuk tamparannya, Ma. Ze pergi,,. " ucapku lalu beranjak pergi meninggalkan Mama yang masih terdiam mematung dikamarku.


Kulirik Mama tersadar, dengan setengah berlari mengejarku yang sudah berjalan menuruni tangga. Ku percepat langkahku.

__ADS_1


" ZE,,!!! " Mama menjerit memanggilku.


Aku terus berjalan tanpa menoleh. Terlihat Bi Minah menantiku dibawah dekat tangga.


" ZE,,,!!! " kembali terdengar jertian Mama yang memanggil namaku lagi dengan lebih kencang.


" Den,,. Itu Nyonya memanggil Aden. " ujar Bi Minah begitu aku sampai didepannya.


" Biarkan saja, Bi. Ze pergi,,, dan tidak pulang malam ini. " sahutku sambil berlalu tanpa menoleh kearah Bi Minah.


Aku benar-benar kesal dan marah. Tanpa peduli dengan tangisan dan jeritan Mama yang masih saja terus memanggil namaku. Aku berjalan menuju garasi untuk mengambil mobilku. Terlihat Paman Rahmad sedang mengelap mobil milikku. Paman menoleh kearahku yang berjalan menghampirinya.


" Aden mau pergi lagi,,? " tanya Paman Rahmad lembut.


" Iya, Paman. Dan malam ini Ze ga pulang. " sahutku.


" Kenapa Den,,? Bertengkar lagi dengan Nyonya,,? " tanya Paman Rahmad masih dengan suara lembut.


" Ya, begitu deh. " jawabku cuek.


" Jangan begitu atuh, Den. Bagaimana pun juga Nyonya adalah Ibu kandung Aden. Tidak baik kasar pada orangtua. " ujar Paman Rahmad menasehati.


Paman Rahmad tersenyum.


" Itu memang tugas Paman, Den. Dan sudah menjadi tugas Paman juga untuk menasehati Aden untuk tidak bertindak kasar pada Nyonya. Dosa besar, Den,, bila kita menyakiti hati seorang Ibu, apalagi sampai membuatnya menangis. Seburuk-buruk seorang Ibu, dia tetaplah orang mulia bagi seorang anak, karena surga ada ditelapak kaki Ibu, Den. " nasihat Paman Rahmad bijak.


Aku yang memang sudah emosi dan kesal, semakin bertambah emosi dan kesal mendengar nasihat Paman Rahmad.


Plakkk,,,


Spontan saja aku menampar pipi Paman Rahmad kencang, membuat kaki Paman Rahmad mundur beberapa langkah. Aku mendorongnya dengan kasar.


" Minggir,,!! Ze mau pergi. Sekali lagi Ze peringatkan Paman, jangan ikut campur urusan Ze. Ingat,,!! Posisi Paman disini hanya seorang sopir,, jangan terlalu ikut campur urusan majikan. Mengerti,,,!! " bentakku kasar lalu masuk kedalam mobil.


Dapat kulihat dari kaca spion mobil, Paman Rahmad tersentak mendengar ucapanku. Dan wajahnya berubah mendung. Tapi aku seakan tidak peduli dengannya. Karena memang saat itu, aku benar-benar sedang marah dan emosi.


Aku menyalakan mobilku dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Seakan melampiaskan rasa kesal ku. Bahkan aku seakan tidak peduli dengan kondisi jalanan yang masih ramai. Aku semakin memacu mobilku dengan lebih kencang.


Entah karena sedang emosi hingga membuatku tidak fokus, atau memang karena aku sedang sial. Tanpa aku sadari saat melewati perempatan lampu merah, aku tidak melihat lampu lalu lintas sudah berubah merah. Aku tersadar kemudian dan berusaha untuk menginjak rem, tapi ternyata rem mobilku blong. Dan tiba-tiba saja dari arah sebelah kanan, sebuah truk besar menabrak mobilku dengan kencang.

__ADS_1


Bruaakkk,,,,,


Aku merasa dunia seakan berputar-putar. Mobilku berguling-guling. Aku merasa tubuhku sakit semua. Dan perlahan pandanganku mulai gelap,, gelap dan semakin gelap. Hingga aku benar-benar tidak tau apa lagi yang terjadi padaku.


Entah sudah berapa lama, aku berada di ruangan kosong, serba putih dan tidak ada apapun sama sekali. Aku hanya memandangi sekeliling dan merasa aneh dan bingung.


" Kenapa aku bisa ada disini,,? Dan apa yang sudah terjadi,,? Bukankah tadi aku kecelakaan,,? Mengapa aku tidak merasakan sakit,,? Ini dimana,,? Apakah aku sudah mati,,? " aku bertanya-tanya dalam hati.


" Arrrggghhh,,,, " jeritku karena tiba-tiba saja aku merasakan sakit yang luar biasa di kepalaku. Dan lagi-lagi semua kembali gelap.


Flashback off,,,


Author Pov,,


Zehan kembali menghela nafas panjang. Menyesal,,,?. Ya,, dia amat sangat menyesal. Zehan yang saat ini tengah duduk di halte tempat pertama kali bertemu dengan Alish, hanya duduk termenung dengan tatapan yang kosong. Kedua tangannya saling betaut.



* abaikan saja backgroundnya.


Zehan tengah menunggu Alish yang saat ini masih sibuk bekerja ditoko. Zehan masih memikirkan kata-kata yang tepat untuk berpamitan pada Alish.


*****


~~ Bersambung,,


Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan like, vote, comment and hadiahnya.


Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir di karya recehku ini.


Jangan menghina bila tidak suka, karena menulis itu tidak mudah.


Hargai karya pemikiran othor, karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.


Salam love nad peace dari othor,,


❤❤❤✌✌✌


****

__ADS_1


__ADS_2