
" Kau yakin ini cinta, Nak,,? Bukan sekedar kasihan atau simpati,,,? " tanya Sabilla lagi. Zehan menggeleng pelan.
" Tidak, Ma. Ze benar-benar mencintainya dan ingin menikah dengan nya, bersama selamanya. " jawab Zehan yakin.
Brraakkk,,,
Mark menggebrak meja kerjanya dengan kencang, Zehan menutup matanya. Hal yang sudah dapat diduganya.
" Tidak bisa,,!!! Kau sudah Papa jodohkan dengan anak dari rekan bisnis Papa. " seru Mark dengan suara menggelegar.
Seketika Zehan membuka matanya dan membelalak karena terkejut. Begitu juga dengan Sabilla, dia tidak menyangka kalau suaminya sudah melakukan perjodohan anaknya tanpa memberitahu nya.
" Kenapa Papa tidak memberitahu Mama rencana perjodohan itu,,,? " tanya Sabilla memprotes Mark.
" Ze itu anak kita satu-satunya. Dia pewaris tunggal Lee's Corporation. Jadi harus menikah dengan wanita yang keluarganya sederajat dengan kita. " sahut Mark dengan tegas.
Zehan memejamkan matanya, dan mengatur nafasnya perlahan. Inilah yang dia tidak suka dengan keluarganya. Selalu memaksakan kehendak.
" Sepertinya sifat buruk ku adalah salah satu keturunan dari mereka. " batin Zehan lirih.
" Tapi maaf, Pa. Ze tidak setuju dan tidak mau. " jawab Zehan tak kalah tegasnya.
" Kau berani menentang keputusan Papa,,,? " tanya Mark dengan mata yang memerah karena marah.
" Ze tidak bermaksud menentang dan durhaka pada Papa, tapi ini adalah hidup Ze,,. Pernikahan bukanlah sebuah bisnis, tapi sebuah bentuk ibadah. Sekali lagi maaf,, Ze menolak perjodohan ini,,. " tegas Zehan sekali lagi.
" Kau tahu apa resikonya menolak perjodohan ini,,? " tanya Mark semakin marah. Zehan menggeleng pelan.
" Ze tidak tahu. Tapi keputusan Ze sudah bulat, Ze akan tetap menikah dengan Alish. " jawab Zehan masih dengan tekad bulatnya.
" Baiklah,, kalau itu sudah menjadi keputusan mu. Mulai detik ini, namamu akan dicoret dari keluarga Lee. Kembalikan semua fasilitas yang sudah Papa berikan dan segera pergi dari rumah ini. " seru Mark kasar membuat Sabilla tak lagi kuasa menahan air matanya.
Dengan sikap tenangnya dan tanpa bicara sepatah katapun, Zehan mengeluarkan beberapa kartu sakti dan surat kepemilikan kendaraan bermotor dari dalam dompetnya, dan meletakkan nya diatas meja.
" Ini semua fasilitas yang sudah Papa berikan. Tapi untuk dua kartu ATM ini, murni hasil dari kerja keras Ze sendiri. Begitu juga dengan mobil merah yang biasa Ze pakai, itu menggunakan uang pribadi Ze sendiri. Ze juga tidak akan membawa pakaian dan jam tangan mahal yang Papa belikan. Ze hanya membawa pakaian yang Ze beli sendiri dengan uang Ze. " jelas Zehan.
" Terimakasih,, untuk semua kebaikan yang sudah Papa berikan pada Ze. " lanjut Zehan membuat wajah Mark semakin memerah karena menahan marah.
" Cepat bereskan barang-barang mu dan segera pergi dari sini. " perintah Mark.
" Baik, Pa. " jawab Zehan tenang.
__ADS_1
" Kau sudah bukan bagian dari keluarga Lee lagi, jadi kau tidak boleh lagi kerja di perusahaan Lee. Dan jangan pernah lagi memanggilku dengan sebutan Papa. " seru Mark tegas.
" Baik, Tuan Mark Lee. " jawab Zehan.
Sabilla menangis dan terisak mendengar keputusan suaminya. Dan sikap Zehan yang keras kepalanya.
" Pa,,. Jangan usir anak kita, Mama mohon. Nanti dia mau tinggal dimana,,? mau kerja dimana,,?. Tolong lah, Pa,, jangan terlalu kejam pada anak kita. Dia anak kita satu-satunya, Mama mohon. " Sabilla memohon dengan memelas dan wajah yang sudah sembab dan bengkak karena menangis.
" Sudahlah, Ma. Ze tidak apa-apa. Ini sudah menjadi keputusan Ze. " Bukan Mark yang menjawab tapi Zehan.
" Kau dengar sendiri, Ma. Anak kurang ajar ini lebih memilih pergi dan hidup susah. Jadi jangan salahkan Papa. Dan kau,,, segera pergi dari sini. " tegas Mark sambil menunjuk Zehan lalu pergi dari ruang kerjanya itu.
" Baik, Tuan. " jawab Zehan.
Sabilla meraih tangan Zehan dan menggenggam nya.
" Mama mohon jangan pergi, Nak. " pinta Sabilla. Zehan tersenyum tulus.
" Ma,,. Sudah saatnya Ze hidup mandiri. Maafkan Ze, Ma. Ze janji, kita pasti akan selalu bertemu bila Mama kangen Ze. " jawab Ze lembut sambil menghapus air mata Sabilla.
" Kau yakin ingin menikah dengannya, Ze,,? " tanya Sabilla meyakinkan lagi. Zehan mengangguk.
" Ze yakin, Ma. Dan hanya satu permintaan Ze pada Mama. "
" Tolong restui Ze, Ma. Alish pernah mengatakan, kalau surganya seorang istri ada di suaminya, dan surga seorang suami, ada di ibunya. Jadi Ze mohon sama Mama, tolong restui Ze. " pinta Zehan dengan suara parau karena menahan tangis.
" Apa kau bahagia bersamanya, Nak,,? " tanya Sabilla lagi.
" Ze selalu merasa bahagia dan nyaman bila bersamanya, Ma. " jawab Zehan. Sabilla tersenyum, walau airmatanya masih mengalir.
" Selama kau bahagia, Mama pasti akan merestui kalian. Semoga kalian selalu bahagia bersama. Kebahagiaan mu adalah kebahagiaan Mama, Ze. " jawab Sabilla, membuat Zehan memeluk sang Mama erat.
" Terimakasih, Ma. " ucap Zehan dan air mata yang sudah menggenang pun, akhirnya lolos juga, jatuh perlahan di pipinya.
" Ze harus segera membereskan barang-barang Ze, Ma. " Zehan melepaskan pelukan Sabilla.
" Mama bantu ya, sayang. " Zehan mengangguk.
Zehan dan Sabilla pun beranjak keluar dari ruang kerja Mark dan pergi menuju kamarnya. Zehan memasukkan barang-barang yang memang hanya dibelinya dengan uang pribadinya, bukan pemberian Mark.
Sabilla membantu masih dengan air mata yang terus keluar. Ya,, Ibu mana yang tidak akan sedih, bila anak yang dikandungnya selama sembilan bulan, diusir dengan kejamnya oleh suami sekaligus ayah kandungnya sendiri.
__ADS_1
Sabilla keluar menuju kamarnya dan kembali ke kamar Zehan beberapa menit kemudian.
" Ze.. " panggil Sabilla.
Zehan yang sudah selesai merapikan barangnya, menoleh kearah sangat Mama.
" Ya, Ma,,? " Zehan duduk dipinggir ranjang, diikuti oleh Sabilla.
Sabilla memberikan sebuah kartu ATM pada Zehan dan hanya menatapnya tanpa menerimanya.
" Terimalah, Nak. Ini uang tabungan Mama sendiri. Gunakan lah untuk biaya pernikahan mu nanti. " ujar Sabilla. Zehan menggeleng pelan.
" Tidak usah, Ma. Ze sudah uang tabungan sendiri. Simpan saja buat keperluan Mama. " tolak Zehan dengan halus.
" Tidak, Nak. Menikahkan seorang anak adalah kewajiban orangtuanya, dan ini salah satu dari kewajiban itu. Mama mohon terimalah, Ze. " Sabilla memohon pada Zehan, membuat Zehan terharu.
" Terimakasih, Ma. Zehan akan terima, apabila Mama mau berjanji satu hal pada Ze. "
" Apa itu sayang,,? " tanya Sabilla dengan cepat.
" Mama harus janji sama Ze, kalau Mama akan datang saat pernikahan Ze nanti. Bisa Ma,,? " Sabilla tersenyum.
" Tentu saja, sayang. Mama pasti akan datang bersama Paman Rahmad dan Bi Minah mu. " jawab Sabilla membuat Zehan tersenyum dan menarik nafas lega.
" Sekali lagi, terimakasih Ma. " ucap Zehan seraya memeluk erat sang Mama.
Mereka terharu untuk beberapa saat dan menangis bersama. Berat rasanya harus berpisah dari orang yang berarti untuk kita.
******
~~ *****Bersambung lagi ye,,
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
__ADS_1
❤❤❤✌✌✌******
****