
Kadang Zehan merasa kesal sendiri, tapi apa daya dia, wajah gadis dengan senyum manisnya itu, sukses membuat harinya sedikit kacau.
" Sejujurnya, aku sangat berharap dapat bertemu dengan mu, gadis dalam mimpi. Tapi aku harus mencarimu kemana,,? Aku ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku disaat aku koma dulu,,? Benarkah hanya dirimu yang mengetahui nya, wahai gadis dalam mimpi,,? " gumam Zehan bermonolog.
Hingga akhirnya Zehan kembali masuk kedalam dunia mimpi. Dia tertidur setelah lama bergumam dan melamun sendiri.
****
****
Beberapa hari kemudian,,,
Setelah merasa kondisi kesehatan nya menjadi lebih baik, dan kebetulan hari ini weekend,, Zehan memutuskan untuk kembali ke Yayasan Ksaih Bunda.
Yayasan yang beberapa hari lalu dia lewati dan membuatnya semakin kacau, karena bayangan gadis itu semakin sering datang dan mengganggu nya.
Zehan datang seorang diri, dan saat ini dia masih diam terpaku didepan gerbang Yayasan. Tangannya membawa dua buah paper bag besar berisikan makanan kecil untuk anak-anak di Yayasan itu.
Entah kenapa dia mau melakukan itu, hal yang sangat jarang terjadi. Tapi keinginan kuat dalam hatinya, ingin dia melakukan itu.
Setelah memantapkan hatinya dan berulang kali menarik nafas, Zehan akhirnya masuk kedalam Yayasan.
" Permisi,,,!! " seru Zehan agak kencang.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya keluar dengan beberapa orang anak kecil, keluar dari dalam.
" Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu,,? " sapa Bunda Ani sopan.
" Selamat pagi juga, Bu. Saya datang kesini hanya ingin memberikan makanan kecil ini untuk anak-anak. " jawab Zehan dengan sopan pula seraya memberikan kedua paper bagian yang ada ditangannya.
" Panggil saja saya, Bunda. Anak-anak,, lihatlah,,. Om ini membawa kan apa,,? " seru Bunda Ani seraya menunjukan kedua paper bag itu.
Anak-anak kecil yang berada dibelakang Bunda Ani, meloncat-loncat girang. Pemandangan yang sangat mengharukan untuk Zehan.
" Hanya makanan kecil saja, mereka sudah sangat senang. Ya Tuhan,, betapa membahagiakan nya melihat mereka semua tertawa. Hatiku terharu,, aku belum pernah merasakan seperti ini. " ucap Zehan dalam hati.
" Terimakasih,, Om..!!! " seru anak-anak itu dengan girangnya.
Zehan tersenyum, ada kepuasan tersendiri dalam hatinya.
" Maaf, Bunda. Boleh saya melihat-lihat Yayasan ini,,? " tanya Zehan dan dibalas senyuman hangat oleh Bunda Ani.
" Tentu saja, Tuan. Silahkan anda melihat-lihat sebentar. " jawab Bunda Ani.
" Terimakasih, Bunda. "
__ADS_1
" Sama-sama, Tuan. Saya tinggal kedalam dulu. " pamit Bunda Ani.
Zehan hanya mengangguk lalu mulai berjalan berkeliling, melihat-lihat sekitar Yayasan. Zehan menyatukan kedua alisnya, lagi-lagi terlihat familiar.
" Kakak datang lagi,,? " sapa seorang anak laki-laki yang cukup membuat Zehan terkejut.
" Lagi,,? " ulang Zehan dan anak laki-laki itu mengangguk.
" Kamu kenal Kakak,,? " tanya Zehan dan anak itu mengangguk lagi.
" Apa Kakak pernah datang kesini sebelumnya,,? " tanya Zehan lagi dan laki-laki anak itu hanya mengangguk tanpa menjawab.
Anak laki-laki itu berjalan menuju ayunan, diikuti oleh Zehan.
" Kakak ingat ayunan ini,,? " tiba-tiba anak itu mengeluarkan suaranya lagi.
Zehan terdiam dan matanya menatap kearah ayunan yang ditunjuk anak laki-laki itu.
Ya,, anak laki-laki itu adalah Andi.
" Kakak tidak ingat, tapi itu terlihat familiar. " jawab Zehan sambil menggeleng.
Andi duduk di salah satu ayunan.
Zehan melangkahkan kakinya mendekat ke ayunan. Zehan masih terdiam didepan ayunan itu. Hatinya merasa ragu dan masih diam menatap ayunan itu.
" Tidak usah ragu. Bukankah Kakak datang kesini karena ingin mencari tahu ingatan Kakak yang selama ini hilang,,? " Zehan terkejut mendengar ucapan Andi dan menatapnya penuh tanda tanya.
Sementara yang ditatap, hanya memasang wajah datar dan cueknya. Zehan pun akhirnya duduk. Rasa penasaran nya mengalahkan keraguan nya.
" Namaku Andi, hanya sekedar mengingatkan Kakak. " ucap Andi seraya mengulurkan tangannya.
Zehan menyambut uluran tangan Andi dan bersalaman dengannya. Tiba-tiba saja,,
Berbagai macam bayangan dan kejadian datang dan memenuhi otaknya. Seperti video yang berputar. Zehan memejamkan matanya.
Bayangan dalam mimpinya kembali datang, dan kali ini bukan hanya berupa potongan puzzle saja. Lebih jelas dan terperinci tepatnya.
Kejadian bagaimana dia bisa kecelakaan, jiwanya yang berkelana, berteman dengan si Ocong, lalu bertemu dengan Alish dan tinggal bersama nya.
Hari-hari yang dilalui bersama Alish terekam jelas dipikirannya. Ingatan yang selama ini hilang, kembali lagi.
Sakit di kepalanya dan rasa sesak di dadanya, kembali menyerang. Tangannya kanannya terlepas begitu saja dari tangan Andi dan Zehan memegang kepalanya, sementara tangan kirinya memegang dadanya.
Perlahan, Zehan mulai membuka matanya. Perasaan yang sama dirasakannya lagi setelah beberapa bulan berlalu.
__ADS_1
Zehan mengalihkan pandangannya, menatap kearah Andi, yang saat ini tersenyum tipis.
" Sudah ingat,,? " tanya Andi.
Mata Zehan mulai berkabut, dan mengangguk.
" Terimakasih,, " ucap Zehan parau.
Senyum Andi melebar dan mengangguk.
" Apa yang Kakak rasakan saat ini,,? " tanya Andi lagi.
Zehan menggeleng pelan.
" Kakak tidak tahu, Ndi. Yang jelas, Kakak sangat senang. Selama beberapa bulan ini, Kakak merasa tersiksa karena mimpi-mimpi Kakak yang tidak jelas. Selalu datang menganggu setiap malam. Dan yang paling sering datang, wajah cantik dengan senyuman manisnya. " jawab Zehan. Andi diam mendengarkan.
" Setelah Kakak sadar dari koma, orangtua Kakak bertanya siapa Alish,,? Nama yang Kakak ucapkan tanpa sadar begitu Kakak membuka mata. Saat ditanya, Kakak bingung mau jawab apa, sementara Kakak sendiri tidak ingat siapa itu Alish. Hanya merasa nama itu sedikit familiar terdengar. "
" Kaka juga sering merasa sakit dikepala dan sesak di dada Kakak, saat Kakak berusaha untuk mengingat siapa Alish, dan beberapa tempat yang terlihat familiar dimata Kakak. Termasuk Yayasan ini. "
" Beberapa hari yang lalu, Kakak lewat sini, dan Kakak merasa sangat ingin masuk kedalam. Perasaan familiar dan nyaman saat melihat Yayasan ini, tapi lagi-lagi, sakit dikepala dan sesak didada Kakak kembali menyerang. "
" Hingga akhirnya, hari ini, Kakak memantapkan hati Kakak untuk datang kesini dan mencari tahu sendiri. Dan lagi-lagi, kamu,,, Andi. Baik dulu atau sekarang, kamu yang selalu membantu Kakak. Terimakasih,, " jelas Zehan panjang lebar.
Andi kembali tersenyum, kali ini terlihat hangat. Andi mengangguk.
" Sebenarnya beberapa hari yang lalu, saat Andi melihat Kakak melintas dan berhenti didepan Yayasan ini, Kak Alish sedang ada didalam. Hatinya sedang kacau dan tidak fokus. Saat Andi bertanya, Kak Alish berpura-pura kuat dan tegar. Padahal tanpa Andi tanya, Andi sudah tahu apa yang sedang Kak Alish pikirkan. "
****
~~ **Bersambung dulu ye,,
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤❤✌✌✌**
****
__ADS_1