The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
Seasons 2 : Cowok Narsis dan Gadis Bar-bar # Bab 11


__ADS_3

" Om Willi,,,. " panggil Ali yang baru keluar dari dalam rumah.


" Om Iyyi,,, " seru Alif dengan cadelnya memanggil nama William.


Fatimah terkejut dan membulatkan matanya, lalu menatap William yang berjongkok didepan Alif.


" Hai,, Boy. Apa kabar,,? " tanya William dengan lembut sambil mengusap kepala Alif.


" Atu bait, Om. Om to nda ain ain ci,,,? Tata Ta Ayi, Om Iyyi cibut telja ya,,. " tanya Alif dengan suara cadelnya.


William tersenyum lalu mendudukan Alif diatas pahanya.


" Iya, Alif sayang. Om Willi kemarin sibuk kerja, maaf ya,, Om Willi baru sempet dateng. " jawab William.


" Nda pa pa, Om. Tapan tapan Tita ain adi ya, Om. " William kembali tersenyum lalu mengangguk.


" Oke, Boy. Nanti kita main lagi. Sekarang Alif main sama Kak Ali dulu ya. Ini,, Om bawain Alif mainan baru. " ujar William seraya menyerahkan sebuah paperbag pada Alif.


Alif segera turun dari pangkuan William lalu mengambil paperbag yang diberikan William.


" Apa itu, Om,,? " tanya Ali penasaran. William berdiri dari jongkok nya lalu mengusap kepala Ali.


" Itu tablet permainan dengan tiga bahasa. Kamu bisa mengajari Alif,, sekaligus kamu juga bisa buat belajar. " jelas William. Ali tersenyum.


" Terimakasih, Om. " seru Ali dengan wajah berbinar.


" Alif,, bilang apa sama Om Willi,,,? " ucap Ali pada Alif yang sedang memeluk paperbag pemberian William.


" Ma'acih Om Iyyi. " William tersenyum.


" Sama-sama, Boy. "


" Ali,,,. Kamu kenal sama Tuan ini,,? " tanya Fatimah tiba-tiba, karena sejak tadi dia diam. Menyaksikan interaksi antara William dan kedua adiknya. Ali mengangguk.


" Kenal, Kak. Om ini kan yang waktu itu nolongin Ade Alif waktu kepalanya Ade Alif bocor kena ujung meja. " jelas Ali membuat Fatimah sontak langsung menatap William.


Sementara yang ditatap hanya tersenyum dan menatap balik Fatimah.


" Om ini juga yang udah kasih Ali peralatan sekolah yang dititipin ke suster waktu itu, Kak. " lanjut Ali.


" Ya udah. Sekarang kamu masuk dulu, ajak main Ade Alif ya. " ujar Fatimah dengan lembut dan Ali mengangguk.


" Iya, Kak. " Ali kemudian menatap William.


" Om,, Ali sama Ade Alif masuk dulu ya. Terimakasih untuk mainannya. " ucap Ali dan William mengangguk.


" Iya, Sama-sama. "


Kemudian Ali dan Alif kembali masuk kedalam rumah, William menatap kedua bocah laki-laki itu, sementara Fatimah menatap tajam William.


" Sebelumnya terimakasih atas pertolongan Tuan waktu itu, karena sudah menolong Alif. " William tersenyum.


" Tapi kalau saya boleh tahu, untuk apa Tuan melakukan semua ini,,,? " lanjut Fatimah membuat senyuman dibibir William memudar.


William menghela nafas panjang untuk sesaat lalu menatap Fatimah lekat.


" Anggap saja semua itu sebagai balas budi dariku karena dulu kau sudah menolongku. " jawab William.


" Tapi kan saya sudah bilang kalau saya melakukannya dengan ikhlas. "


" Dan aku pun ikhlas melakukan hal yang sama pada Ali dan Alif. Apalagi kedua anak laki-laki tampan itu yatim piatu. " sahut William dengan cepat.


Fatimah tersentak kaget karena ternyata William tahu kalau Ali dan Alif yatim-piatu.


" Dan aku pun juga tahu, apa yang membuat kedua orangtua Alif meninggal, hingga akhirnya dia memanggilmu Bunda. " lanjut William yang membuat Fatimah kembali tersentak kaget.


" Anda memata-matai saya,,,? " tuduh Fatimah, William menggeleng pelan sambil tersenyum.


" Bukan memata-matai,, mencari tahu lebih tepatnya. Dan untuk itu, aku punya alasan tersendiri. "


Baru saja Fatimah ingin menyahut, suara William kembali terdengar.

__ADS_1


" Dan aku kesini juga karena ada hal penting yang ingin aku beritahu. "


" Apa,,? "


" Sebaiknya kau ikut denganku dan memastikan benar atau tidak, dia pelakunya. "


" Ikut kemana,,? Dan pelaku apa,,? " tanya Fatimah membuat William menghela nafas.


" Sebelumnya, aku minta maaf. Aku sudah tahu perihal kau menjadi sangat membenci kaum borju alias orang kaya. Dan aku ingin membuktikan padamu, kalau tidak semua orang kaya itu jahat, kejam dan semena-mena. "


" Aku ingin mengajakmu ke kantor polisi, karena pelaku penabrakan kedua orangtua Alif sudah ditangkap. " jelas William membuat Fatimah membulatkan matanya.


" Benarkah,,,? " William mengangguk.


" Bagaimana bisa,,? Sementara semua bukti dan saksi menghilang. " tanya Fatimah sedikit tidak percaya, membuat William tersenyum.


" Bukankah tadi sudah kubilang, tidak semua orang kaya itu jahat. Dan aku ingin membuktikan itu. Dengan bantuan dari teman dan saudaraku, pelakunya sudah tertangkap dengan semua bukti yang lengkap. "


Fatimah menggeleng tidak percaya,, bahkan dia mundur selangkah kebelakang.


" Tidak mungkin,,, " lirih nya pelan.


" Oleh karena itu, aku ingin mengajakmu ke kantor polisi, untuk melihat pelaku tersebut. Agar kau benar-benar percaya, apa yang sudah aku katakan tadi. " jelas William dengan sabar.


Fatimah memejamkan matanya sesaat lalu menghela nafas panjang. Berusaha mencerna semua ucapan William.


" Anda tidak sedang membohongi saya kan, Tuan,,,? " William menggeleng dengan bibir yang tersenyum.


" Baiklah,,. Saya akan ikut dengan Anda. Saya pamit pada kedua Adik saya dulu. " William mengangguk dan Fatimah pun masuk kedalam.


Dia pamit pada Ali dan Alif sekaligus berganti pakaian. Fatimah dan William pun pergi setelah Fatimah kembali keluar.


William berhenti di sebuah pohon besar lalu keluarlah dua orang pria gagah dengan pakaian rapi, dari persembunyiannya. Fatimah kaget saat mereka keluar.


" Kalian jaga mereka baik-baik. Aku akan pergi sebentar. " tegas William pada kedua orang pria suruhannya yang menjaga rumah Fatimah.


" Baik, Tuan. " sahut mereka berdua kompak.


" Ayo masuk. " Fatimah mengangguk lalu masuk kedalam mobil dan duduk di samping kursi kemudi.


William pun ikut masuk kedalam mobil dan duduk di kursi kemudi setelah dia menutup pintu mobil.


" Mereka tadi siapa,,? " tanya Fatimah setelah mobil melaju dijalan raya.


" Ohh,, mereka hanya orang suruhanku yang menjaga Ali dan Alif saat kau pergi mengamen. Aku menyuruh mereka berjaga setelah kejadian yang menimpa Alif waktu itu. " jelas William tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.


Fatimah terdiam. Dia merasa sangat terharu akan kebaikan dan perhatian yang sudah William lakukan pada kedua Adiknya.


Suasana kembali hening hingga akhirnya mereka pun sampai dikantor polisi. Fatimah menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


" Kau sudah siap,,,? " tanya William sesaat sebelum mereka turun.


Fatimah menoleh kearah William dan menatapnya. Seakan ingin meminta kekuatan. William tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


Fatimah menguatkan hatinya lalu turun dari mobil, diikuti oleh William. Fatimah masuk kedalam kantor polisi dengan perasaan campur aduk.


Namun langkah William berhenti saat Fatimah berhenti sesaat setelah masuk kedalam. Fatimah terlihat ragu.


" Apakah benar kalau pelaku yang sebenarnya sudah ditangkap dan ditahan didalam,, ? " tanya Fatimah memastikan, dan William pun mengangguk.


" Dia benar keluarga Smith,,,? " lagi-lagi William mengangguk.


Fatimah kembali menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dengan menguatkan hatinya, perlahan Fatimah masuk kedalam diikuti oleh William.


" Kalau kau tidak ingin bertemu dengannya, kau bisa bertanya pada salah satu dari polisi itu. " ujar William dan diangguki oleh Fatimah.


Fatimah mendekat pada salah polisi dan bertanya. Namun belum sempat polisi itu menjawab, dia langsung bangkit dari duduknya lalu menyapa William.


" Selamat siang Tuan Muda Choi. " sapa polisi itu ramah.


" Siang. " sahut William sambil senyum.

__ADS_1


" Anda datang lagi, Tuan. "


" Ya,,. Aku datang lagi karena keluarga korban ingin bertemu dengan pelaku. " jelas William.


Polisi itu lalu mengalihkan pandangannya pada Fatimah.


" Anda keluarga korban tabrak lari satu tahun yang lalu,,,? " tanya Polisi itu pada Fatimah.


" Benar Pak Polisi. " sahut Fatimah.


" Anda ingin bertemu dengan pelaku,,? " tanya Polisi itu lagi. Fatimah menggeleng.


" Saya hanya ingin bertanya, Pak Polisi. Apakah boleh,,? " Polisi itu mengangguk dan kemudian mempersilahkan Fatimah dan William untuk duduk.


Fatimah terlihat gemetar dan gugup. Jari tangannya saling bertaut. Entah apa yang dirasakannya saat ini.


William menatap Fatimah. Ingin rasanya dia meraih salah satu tangan Fatimah dan menggenggamnya. Menyalurkan kekuatan dan meyakinkannya kalau dia akan selalu mendampingi Fatimah. Namun,,, William kembali berpikir, memang siapa dia,,?.


Fatimah mulai bertanya dan Polisi menjawab dengan jujur semua pertanyaan Fatimah. Sementara William hanya memperhatikan Fatimah yang masih sibuk bertanya.


Namun hati William merasa sakit saat melihat airmata Fatimah mengalir mulus di pipinya. Dia menangis,,, tangisan bahagia karena akhirnya pelaku dapat tertangkap setelah berkeliaran bebas selama satu tahun lebih.


Fatimah menarik nafas lega, seakan semua bebannya menghilang. Senyuman mulai menghiasi bibirnya walau airmatanya masih keluar.


" Terimakasih untuk semuanya, Pak. " ucap Fatimah.


" Sama-sama, Nona. Semua memang sudah menjadi kewajiban kami, Nona. Tentu saja kami juga dibantu oleh keluarga Choi dan keluarga Lee,, hingga semuanya bisa terungkap. " sahut Polisi itu.


" Sekali lagi, Terimakasih Pak. " Polisi itu mengangguk.


" Kalau begitu, kami permisi. " pamit William.


Polisi itu beranjak dari duduknya lalu menjabat tangan William dan Fatimah bergantian.


" Hati-hati dijalan Tuan Muda Choi. Dan terimakasih untuk semua bantuannya. " William mengangguk.


William dan Fatimah keluar dari kantor polisi itu. Fatimah masih terisak, namun hatinya sudah merasa lebih lega dan tenang.


" Sudah percaya,,? " tanya William, Fatimah mengangguk.


" Sudah tenang dan lega,,? " lagi-lagi Fatimah mengangguk.


" Kita pulang. " ajak William.


Fatimah mengikuti langkah William, yang berjalan menuju mobilnya.


" Terimakasih, Tuan. " lirih Fatimah setelah mereka berdua masuk kedalam mobil. William tersenyum.


" Semua sudah menjadi kehendak Allah,,,. Pelaku tertangkap atas ijin dari Allah melalui diriku dan juga polisi. Keluargaku pun ikut membantu. " jawab William dengan bijak.


Fatimah mengangguk dan tersenyum tulus, membuat William terpana untuk sesaat lalu mengalihkan pandangannya. Bila-bila dia menabrak karena tidak fokus.


William melajukan mobilnya kembali menuju rumah Fatimah. Dan Fatimah pun tak henti-hentinya mengucapkan puji syukur pada Allah, karena sudah memberikan keadilan pada orang sudah bersalah .


*


*


*


~~ **Bersambung,,


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, Kakak.


Terimakasih untuk yang masih setia di karya recehku ini.


Salam love and peace dari othor,,


❤❤✌✌*


**

__ADS_1


__ADS_2