
** Happy reading,,
*
*
*
Setelah beberapa jam Zehan dan Alish tertidur dan makan siang dengan memesan secara online, mereka pun mulai membersihkan rumah.
Zehan hanya mengijinkan Alish melakukan hal yang ringan-ringan saja, seperti mencuci piring, membersihkan debu dan memilah isi lemari es yang sudah tidak layak pakai.
Sementara Zehan mulai mencuci pakaian dengan menggunakan mesin cuci. Selagi menunggu cucian, Zehan menyapu dan mengepel rumah. Semua dia lakukan tanpa mengeluh.
Setelah beberapa jam bekerja sama membersihkan rumah dan mencuci pakaian,, Alish dan Zehan duduk disofa ruang keluarga sambil minum teh dan menikmati cemilan sore.
" Hubby,,, "
" Hmm,,, "
" Sepertinya untuk makan malam dan sarapan esok pagi,, mau tidak mau kita harus memesan secara online. Karena aku sudah membuang banyak bahan masakan yang sudah tidak layak untuk dimasak. " lapor Alish sambil merebahkan kepalanya dibahu Zehan.
" Baiklah, sayang. Dan besok kita pergi belanja keperluan dapur dan kamar mandi. " jawab Zehan lalu mengecup singkat pucuk kepala Alish.
Alish mengangguk, masih betah menyandarkan kepalanya dibahu Zehan.
" Yang,,, "
" Ya,,,? "
" Kamu beneran sudah berhenti bekerja,,? " tanya Zehan dengan serius.
" Benar, Hubby. Aku memutuskan berhenti bekerja karena saat itu aku ingin fokus merawat dan menemani mu dirumah sakit. " jawab Alish sambil memeluk lengan Zehan dengan manja.
" Maafkan aku yang sudah menyusahkan mu, sayang. " ucap Zehan penuh penyesalan.
Alish tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
" Tidak, Hubby. Memang sudah waktunya aku berhenti kerja. Sekarang,, setelah Hubby kembali sehat, aku kini bisa lebih fokus mengurusmu dan kehamilan ku. "
" Terimakasih,,, " ucap Zehan tulus dan kembali mengecup pucuk kepala Alish.
" Sudah sore,, sebaiknya kamu mandi lebih dulu. Tidak baik wanita hamil mandi menjelang maghrib. "
Alish mengangguk,, dan dia pun bangun dari duduknya diikuti oleh Zehan.
" Sepertinya aku harus membuat kamar dibawah, sayang. " ucap Zehan saat mereka sedang menaiki tangga.
" Kenapa,,,? " Alish bingung, karena kamar atas sudah ada tiga.
" Aku tidak mau kamu terlalu lelah karena naik turun hanya untuk ke kamar. Apalagi kalau nanti kehamilan mu sudah besar,, pasti itu sangat menyusahkan mu. " jelas Zehan, membuat Alish tersenyum lembut.
" Terserah padamu saja, Hubby. Karena aku tahu,, semua yang kamu lakukan pastilah yang terbaik untukku dan juga anak kita. "
" Baiklah,,. Untuk sementara, ruang kerjaku dibawah akan aku renovasi sedikit, dengan menambahkan ranjang dan lemari pakaian. " ujar Zehan dengan mantap, saat mereka masuk kedalam kamar.
" Iya,, Ayah. Terimakasih,, karena sudah memikirkan yang terbaik untuk kami. " ucap Alish menirukan suara anak kecil sambil mengusap perutnya.
Zehan tersenyum lalu berjongkok, berhadapan dengan perut Alish. Dia mengecup lembut perut Alish yang sudah sedikit membuncit itu.
" Sama-sama,, anak Ayah. Kalian yang sehat diperut Mama ya,,. Jangan membuat Mama susah, oke anak-anak Ayah yang pintar,,? " Zehan berbicara dengan perut Alish, seakan calon bayi mereka bisa mendengarnya.
" Oke, Ayah..!! " sahut Alish, lagi-lagi menirukan suara anak kecil.
" Mandilah lebih dulu,,, jangan terlalu lama, tubuhmu masih lemah, takut masuk angin. " ucap Zehan sambil berdiri dari jongkok nya.
Alish mengangguk sambil tersenyum. Lalu masuk kedalam kamar mandi. Zehan menatap punggung Alish, sebelum akhirnya pintu kamar mandi itu tertutup. Zehan duduk diatas ranjang sambil bersandar. Lagi-lagi hatinya mengucap syukur.
__ADS_1
*
*
*
Keesokan harinya,,,
Setelah semalam melakukan olahraga malam yang sudah dua minggu lebih tidak mereka lakukan, cukup membuat Alish kelelahan karena digempur sampai tengah malam.
Bahkan Alish sendiri sampai bingung,, Zehan baru saja sembuh dan baru melewati koma,, namun masih banyak mempunyai tenaga untuk menggempur nya hingga beberapa ronde.
Wajah Zehan terlihat bersinar bahagia sementara Alish walau terlihat bahagia namun tidak dapat pungkiri kalau dia masih sangat lelah dan mengantuk.
Selesai sarapan, Zehan mengajak Alish untuk berbelanja keperluan dapur dan kamar mandi. Zehan sengaja mengajaknya berbelanja di pusat perbelanjaan yang berada dekat dengan lokasi proyek.
Zehan ingin memantau pembangunan rumah elit tersebut, setelah vakum selama dua minggu lebih. Bahkan saat ini, Zehan masih mengambil cuti, karena William yang memaksanya agar pulih seperti sediakala.
Zehan juga ingin mengambil mobilnya dan dia pun sudah menghubungi Rayhan untuk membawa nya ke lokasi proyek. Walau Alish sempat menolak karena terlalu jauh, namun setelah dijelaskan, Alish pun mau tidak mau menuruti keinginan Zehan.
Dan saat ini, mereka sedang berada di lokasi proyek. Zehan segera menemui Rayhan, untuk menanyakan perkembangan pembangunan sekaligus mengambil mobilnya.
Zehan menggenggam tangan Alish selama mereka ada didalam lokasi proyek. Rayhan menyambut kedatangan Zehan. Dia sangat senang, karena Tuan Muda nya itu kembali selamat dari kecelakaan dan kembali sadar dari koma.
" Selamat datang, Tuan muda, Nona Alish. " sapa Rayhan dengan hormat dan mengulurkan tangannya pada Zehan.
" Apa kabar, Ray,,? " tanya Zehan sambil menyambut uluran tangan Rayhan.
" Saya baik, Tuan. Bagaimana dengan Tuan sendiri,,? Sudah lebih baik dan lebih sehat,,? " Rayhan balik bertanya.
" Ya,, seperti yang kau lihat. Aku sudah sehat dan aku ingin segera kembali bekerja. Namun kau tahu sendiri bagaimana cerewet nya William. Masih saja menyuruhku cuti. Yang hamil itu istriku, bukan aku,,. " sungut Zehan kesal, membuat Rayhan terkekeh mendengarnya.
" Itu karena Tuan Muda Choi sangat menyayangi anda, Tuan. " sahut Rayhan masih terkekeh.
" Cih,,, jangan meledek ku, Ray. "
" Bagaimana dengan perkembangan pembangunan nya, Ray,,? " tanya Zehan, berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Semua berjalan sesuai rencana, Tuan. Walau sempat terjadi masalah karena tidak ada Tuan, namun Tuan Muda Choi dapat mengendalikan nya. Beliau dibantu oleh Tuan besar Choi. " jelas Rayhan.
" Syukurlah,,,. Aku sempat khawatir. Lalu saat ini sudah berapa persen yang sudah dibangun,,? " tanya Zehan lagi.
" Sudah tiga puluh lima persen, Tuan. "
" Hemm,,, masih cukup bagus, walau menurut perkiraan ku harusnya sudah lebih dari empat puluh persen. Namun tidak masalah,, semua akan kembali berjalan sesuai rencana saat aku kembali bekerja nanti. "
" Hubby boleh kembali bekerja,, namun aku tidak mau kalau sampai Hubby terlalu memforsir tenaga Hubby dan tenaga para pekerja, terlalu keras. " Alish ikut menanggapi pembicaraan Rayhan dan Zehan.
Zehan menoleh kearah Alish lalu tersenyum dan mengangguk.
" Iya, sayang. Aku janji padamu,, " Alish pun ikut tersnyum.
" Oh ya, Ray,,. Mobilku sudah kau bawa kesini,,? " tanya Zehan tiba-tiba teringat dengan mobilnya.
" Sudah, Tuan. Ada ditempat biasa anda memarkirnya. " jawab Rayhan, lalu memberikan kunci mobil milik Zehan.
" Terimakasih, Ray. Maafkan aku,, selama ini sudah terlalu sering merepotkan mu. " ucap Zehan tulus seraya menerima kunci mobilnya itu.
Rayhan sedikit terkejut mendengar ucapan permintaan maaf yang keluar dari mulut Zehan. Baginya,, ucapan itu sangat langka terucap.
" Tidak, Tuan. Semua memang sudah menjadi tugas saya. " sahut Rayhan setelah kembali ke alam sadanya.
" Baiklah, Ray. Kalau begitu, kami permisi dulu. Kami ingin berbelanja sebentar,, dapur kami kosong melompong. " pamit Zehan sambil bergurau.
Rayhan kembali terkekeh mendengar gurauan dari anak bos besarnya tersebut.
" Kami permisi, Kak Ray. " pamit Alish.
__ADS_1
" Baik, Tuan, Nona. Selamat berbelanja dan hati-hati dijalan. "
Zehan dan Alish pun pergi meninggalkan Rayhan dan menuju mobilnya yang diparkir tepat disamping mobil Rayhan.
Disaat Zehan ingin membuka pintu mobil, sebuah pesan masuk di ponselnya. Zehan pun membatalkan kegiatannya dan membuka pesan tersebut.
Papa,,
Zehan mengerutkan dahinya saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Dengan terpaksa sekaligus penasaran, Zehan membaca pesan tersebut.
* Sekarang juga datang ke cafe depan proyek. Papa tunggu,,. Datang sendiri,,!! *
Zehan mengeratkan genggaman ponselnya. Kenapa harus datang sendiri,, sementara dia saja datang bersama dengan sang istri,,?.
" Sayang,,,. "
Alish yang sudah berniat masuk kedalam mobil, mengurungkan niatnya. Dia menatap Zehan dengan tatapan bertanya, ada apa,,?.
" Papa ingin bertemu denganku dicafe seberang. Namun dia hanya meminta ku datang sendiri,, apa kamu tidak apa-apa,,? " Zehan merasa sedikit tidak enak pada Alish.
Alish sempat terdiam untuk sesaat namun tak lama, dia tersenyum kecil.
" Ya sudah,, Hubby datang sendiri saja. Biar aku tunggu didalam mobil. "
" Benarkah,,? " Zehan memastikan. Alish mengangguk.
" Benar, Hubby. Tapi nanti tolong belikan aku ice lemon tea dan cupcake keju, boleh,,? "
" Tapi itu asam, sayang. Apa perutmu tidak apa-apa,,? " Zehan sedikit keberatan dengan permintaan Alish.
" Aku mohon,,, " Alish memasang wajah memelas nya, membuat Zehan menjadi tidak tega lalu menghela nafas panjang.
" Baiklah,, untuk istri dan kedua anakku. " Alish tersenyum sumringah seketika.
" Terimakasih, Hubby. "
" Ya sudah,,. Aku tinggal dulu sebentar. Apa perlu ku panggilkan Rayhan untuk menemanimu disini,,? " Zehan sedikit cemas kalau harus meninggalkan Alish seorang diri.
Alish kembali tersenyum lalu menggeleng.
" Tidak usah, Hubby. Jangan ganggu pekerjaan Kak Rayhan. Aku tidak apa-apa sendiri. "
" Baiklah,,. Hati-hati didalam mobil,, kalau ada apa-apa, hubungi aku atau Rayhan. " Alish mengangguk.
Zehan menghampiri Alish lalu mengecup keningnya.
" Aku tinggal sebentar. " lagi-lagi Alish mengangguk.
Zehan pun meninggalkan Alish lalu berjalan keluar dari lokasi proyek. Dengan hati-hati, Zehan menyebrang. Kecelakaan kemarin, membuatnya harus lebih waspada.
Dengan hati penuh tanda tanya, Zehan masuk kedalam cafe. Dan dilihatnya sosok sang Papa, duduk tak jauh dari pintu masuk cafe. Zehan menghela nafas panjang, lalu berjalan menghampiri meja sang Papa.
*
*
*
~~ **Bersambung,,
Maaf,, kemarin othor ga sempat up. Tau sendiri pekerjaan emak-emak, kagak ada habisnya. Malam mau up,, malah ketiduran.
Jangan lupa like, vote, comment dan hadiah kopi atau kembangnya.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤✌✌*
__ADS_1
*