
Rahmad dan Minah mendekat ke Alish, dan lagi-lagi, Alish meraih tangan mereka berdua dan mengecup punggung tangan mereka secara bergantian. Sabilla memandang Alish dengan takjub.
" Selain cantik, dia juga ramah dan sopan. Semoga saja dia juga tidak matre. " ucap Sabilla dalam hati.
Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil juga berhenti tak jauh dari mereka. Bunda Ani turun dari mobil itu dan mendekat menghampiri Alish.
" Lish,,,. " panggil Bunda Ani.
Alish menoleh dan langsung tersenyum lebar begitu melihat Bunda Ani ada dibelakangnya. Alish memeluk erat Bunda Ani, Bunda yang selama ini selalu ada untuknya, pengganti sang Ibu yang sudah pergi menghadap Sang Ilahi.
" Bunda,,. Terimakasih,, sudah mau datang. " ucap Alish sambil melepaskan pelukannya.
" Tentu saja Bunda harus datang, karena kamu adalah anak Bunda. " sahut Bunda Ani sambil mengusap pipi Alish dengan lembut. Alish tersenyum.
" Ani,,,.!! "
Bunda Ani menoleh kearah asal suara yaitu Sabilla. Seketika mata Bunda Ani membulat, terkejut karena seseorang yang sedang berada disampingnya itu.
" Ani,,,. Kamu benar-benar Ani kan,,? " Sabilla memastikan kalau penglihatannya tidak salah.
" Billa,,,. " panggil Bunda Ani pelan.
Dan sesaat kemudian, kedua wanita paruh baya itu saling berpelukan. Melepas rindu karena puluhan tahun tidak bertemu.
" Ya ampun,, Ani. Aku benar-benar ga nyangka akan bisa ketemu kamu lagi. "
" Aku juga ga nyangka, kita bisa ketemu lagi. "
Mereka pun saling melepaskan pelukan mereka. Tangan mereka saling bertaut, menyalurkan kerinduan mereka berdua.
" Kamu ngapain disini,,? " tanya Bunda Ani.
" Ini,, anak aku mau nikah. " sahut Sabilla.
" Jangan bilang kalau anak kamu ini yang akan menikah dengan anakku,,,? " tebak Bunda Ani yang sontak membuat mata Sabilla terbelalak.
" Anakmu,,? Jadi Alish ini anakmu,,? " tanya Sabilla seraya menoleh kearah Alish.
" Iya, Alish ini anakku. Anak asuh ku. " jawab Bunda Ani sambil tersenyum kecil.
" Anak asuh,,? " ulang Sabilla. Bunda Ani mengangguk.
" Aku dan Mas Firman membangun sebuah Yayasan, karena kami berdua tidak diberi kepercayaan untuk menjadi orangtua. Tapi itu tidak membuat kami putus asa. Hingga akhirnya, Alish menjadi anak asuh pertama kali saat kedua orangtuanya meninggal dan mereka menitipkan nya padaku. " jelas Bunda Ani dengan mata yang menerawang jauh.
Sekilas terlihat kesedihan terpancar dimatanya, membuat Sabilla menghela nafas lesu.
" Maafkan aku. Aku tidak tahu, lalu dimana Mas Firman,,? Kenapa dia tidak ikut,,? " tanya Sabilla.
" Mas Firman sudah kembali pada Sang Khaliq. " Bunda Ani tersenyum lirih.
Sabilla menutup mulutnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sementara Zehan, Alish, Rahmad dan Minah hanya bisa diam menyimak.
__ADS_1
" Maaf,, aku turut berduka, Ni. " ucap Sabilla penuh sesal. Bunda Ani tersenyum lagi.
" Tidak apa-apa. Oh ya,, Apa kamu tidak merasa familiar saat bertemu dengan Alish,,? " Seketika Sabilla menatap lekat Alish.
" Dia anaknya Dul. " Lagi-lagi mata Sabilla membulat mendengar ucapan Bunda Ani.
" Dul,,,? Abdullah,,??? " Bunda Ani mengangguk.
" Abdullah dan Aisyah,,,? " lagi-lagi Bunda Ani mengangguk.
Seketika Sabilla langsung memeluk Alish dengan erat, membuat Zehan dan Alish bertatapan dengan bingung.
" Maafkan, Mama. Mama tidak tahu kalau kamu anaknya si Dul. Mama turut berduka atas kepergian Abdullah dan Aisyah. " Sabilla terisak, membuat Alish semakin bingung.
" Ehemm,,,,. Ma,, bisa kita pergi sekarang,,,? Ze takut Pak RT telah lama menunggu kita. " Zehan berdeham .
Sabilla melepaskan pelukannya dan tersenyum.
" Kau benar, Nak. Maafkan Mama. "
" Sebenarnya Ze masih bingung, tapi kita lanjutkan nanti, bisa kan Ma,,? Bunda,,? " Sabilla dan Bunda Ani mengangguk.
" Tentu saja, sayang. "
Mereka pun beranjak pergi menuju rumah Pak Rt, yang mungkin sudah sejak tadi menunggu kedatangan mereka.
" Assalamu'alaikum,,,. " sapa mereka begitu mereka sampai didepan rumah Pak RT.
" Maaf,, kami datang terlambat, Pak. " ucap Zehan, Pak RT tersenyum.
" Tidak apa-apa, Nak Zehan. Bapak mengerti, kalian juga pasti memerlukan waktu untuk mempersiapkan semuanya. Mari,, silahkan masuk,, " Pak RT mempersilahkan mereka masuk dan duduk secara lesehan diatas karpet yang sudah digelar.
" Maafkan anak saya apabila sudah merepotkan Bapak. " Sabilla merasa tidak enak.
" Tidak apa-apa, Ibu. Alish adalah salah satu warga saya, sudah menjadi kewajiban saya bila dia memerlukan bantuan saya. " jawaban Pak RT membuat Sabilla sedikit lebih lega.
" Perkenalkan,, ini Ustadz Hj Mahmud. Beliau yang akan menikahkan kalian. " Pak RT memperkenalkan seorang pria paru baya yang sangat terlihat pembawaannya sangat hangat, berwibawa dan bersahaja.
" Assalamu'alaikum,,,. " sapa Ustadz itu sambil menyatukan kedua telapak tangan didepan dadanya.
" Wa'alaikumsalam,,. " sahut semua yang ada diruangan itu.
" Pak RT sudah menceritakan nya pada saya. Lalu siapa yang akan menjadi saksi dari pihak Nak Zehan sendiri,,? " tanya Ustadz itu dengan suara yang sangat merdu.
" Paman saya, Ustadz. Rahmad namanya. " jawab Zehan sambil menunjuk kearah Rahmad dan Rahmad hanya membalasnya dengan tersenyum sambil mengangguk.
" Baiklah, . Karena dari pihak wanita tidak ada sanak saudara yang bisa menjadi Wali nikah dan saksi, maka yang menjadi walinya adalah saya dan saksinya adalah Pak RT, benar begitu,,? " Yang lain hanya mengangguk.
" Benar, Ustadz. "
" Untuk mas kawin nya sendiri sudah dipersiapkan, Nak Zehan,,? " Zehan mengangguk seraya memasukan tangannya kedalam saku jas.
__ADS_1
" Sudah, Ustadz. " Zehan mengeluarkan sebuah kotak kecil dan meletakkan nya diatas meja, tepat didepan Ustadz itu. Zehan tadi memang sempat memindahkan kotak itu dari dalam saku celananya.
Zehan juga mengeluarkan sebuah amplop coklat yang cukup tebal dan meletakkan nya disamping kotak kecil berwarna putih tadi.
" Ini Mas kawinnya berupa cincin berliannya dan uang lima puluh juta, Ustadz. " jelas Zehan membuat beberapa mata yang ada disana membulat karena terkejut.
" Baiklah, karena waktu juga sudah beranjak malam, lebih baik kita mulai ijab qabul nya. Nak Zehan sudah siap,,? " tanya Ustadz itu pada Zehan
" Saya siap, Ustadz. " sahut Zehan tegas.
" Para saksi sudah siap,,? " tanya Ustadz itu lagi.
" Siap, Ustadz. " sahut Rahmad dan Pak RT bersamaan.
" Baiklah, kita mulai. Silahkan Nak Zehan jabat tangan saya. Bismillahirrahmanirrahim,, " Zehan pun menjabat tangan Ustadz diatas meja.
" Zehan Lee,, "
" Saya,, "
" Ananda Zehan Lee bin Mark Lee, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Ghaziyah Alishbah binti Abdullah dengan Mas kawinnya berupa cincin berlian dan uang lima puluh juta rupiah dibayar tunai. " ucap Ustadz itu seraya menghentakkan tangannya.
" Saya terima nikah dan kawinnya Ghaziyah Alishbah binti Abdullah dengan mas kawinnya tersebut dibayar tunai. " ucap Zehan dengan lantang dalam satu tarikan nafas.
" Bagaimana para saksi,,? "
" SAH,, "
" SAH,, "
" SAH,,, "
" Alhamdulillah,,, "
Mereka pun membaca do'a yang dipimpin oleh Ustadz. Selesai membaca do'a, Alish meraih tangan Zehan dan mencium punggung tangannya, sementara Zehan membalasnya dengan mengecup pucuk kepala Alish lembut.
******
~~ ******Bersambung lagi ya guy's,,,,,
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤❤✌✌✌********
__ADS_1
****