The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
TGH 27


__ADS_3

Tak lama kemudian, Zehan mulai menggerakkan kepalanya. Dan matanya mulai mengerjap.


" Alish,,,. " desis Zehan pelan, sangat pelan.


Sabilla mendekatkan telinganya ke mulut Zehan.


" Alish,,,. Maafkan aku,,,. " ucap Zehan lagi.


Sabilla berusaha menyadarkan Zehan.


" Ze,, sayang. Bangun, Nak. Ini Mama dan Papa. Buka matamu, sayang. "


Perlahan-lahan Zehan mulai membuka matanya. Dan mengerjapkan nya perlahan, untuk menetralkan silau. Zehan menoleh kearah Sabilla.


" Ma,,,. " panggilan Zehan lirih. Sabilla pun kembali meneteskan air matanya.


Sabilla mendekat dan mengecup pucuk kepala Zehan dengan lembut.


" Iya, sayang. Ini Mama. Terimakasih sudah mau kembali,,. " ucap Sabilla lirih.


" Ze haus, Ma. " ucap Zehan dengan suara serak.


Sabilla segera meraih gelas yang berisi air. Sabilla mendekatkan sedotan ke bibir Zehan dan Zehan pun menyedotnya pelan. Hanya beberapa sedotan, Zehan pun melepaskan nya. Sabilla kembali meletakkan gelas itu diatas nakas.


" Ze,, " panggil Mark pelan.


Zehan menoleh dan tersenyum kecil.


" Pa,,. "


Mark mendekat dan mengusap kepala Zehan.


" Kau kembali Nak. Terimakasih,, sudah mau bertahan dan kembali pada kami. "


" Maafkan Ze, Pa,, Ma,,. " ucap Zehan pelan dan lirih.


Sabilla dan Mark menggeleng sambil tersenyum.


" Tidak, Nak. Kami yang seharusnya minta maaf padamu. Kami sudah terlalu lama mengabaikanmu. Maafkan kami ya, Nak. "


Zehan mengangguk pelan.


" Paman dan Bibi mana, Ma,,? "


" Mereka baru saja pulang. Kami gantian berjaga disini. Kalau tidak nanti malam, mungkin besok pagi mereka baru kesini lagi. " jawab Sabilla masih dengan menggenggam tangan Zehan.


Zehan mengangguk dan memejamkan matanya sebentar. Dia kembali merasakan sakit dan nyeri di sekujur tubuhnya.


" Ze,, " panggil Sabilla cemas.


Zehan membuka matanya perlahan dan menatap sang Mama.

__ADS_1


" Alish itu siapa,,? " tanya Sabilla dengan hati-hati.


Zehan menautkan kedua alisnya dan mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke langit-langit kamarnya.


" Ze tidak tahu, Mah. Memang siapa itu Alish,,? " Zehan balik bertanya.


" Mama sendiri tidak tahu siapa itu Alish. Kau menyebut namanya begitu sadar dari koma. " jelas Sabilla.


" Alish,,,? siapa itu,,? Mengapa namanya terdengar familiar,,? Apa aku pernah mengenalnya sebelumnya,,? " batin Zehan bertanya-tanya.


" Sudah,, sudah,,. Jangan banyak bertanya dulu, Ze baru saja siuman setelah sekian lama koma. Dan kau Ze,, jangan terlalu banyak berpikir. Istirahat saja dulu, pulihkan tenagamu. " ucap Mark.


Zehan mengangguk dan kembali memejamkan matanya. Dia kembali tertidur.


*****


Zehan Pov,


Aku merasa baru saja memejamkan mata dan bermimpi. Tapi mengapa aku berada di sebuah dapur,,? Aku melihat seorang gadis tetapi sayang, wajahnya tidak jelas. Hanya terdengar jelas suara gadis itu tertawa dan berbicara dengan ceria.


Gadis itu sedang memasak dan anehnya aku seperti sedang duduk mengamatinya.


" Makan dulu, Kak. " ucap gadis itu.


Lalu menaruh piring berisi makanan kehadapanku.


" Kakak mau dirumah saja atau ikut aku,,? " lagi-lagi gadis itu seakan berbicara padaku.


Aku merasa aneh, aku tidak mengenalnya. Tapi entah kenapa, aku merasa sangat familiar dengan tingkah dan suara gadis itu.


Dan entah kenapa, lagi-lagi aku kembali merasa aneh. Dadaku terasa sesak mendengar suara sedihnya.


" Kak, aku mohon,, Kakak jangan pergi. Aku akan merasa kesepian. " tiba-tiba saja gadis itu terisak, sangat sedih.


Dan suara isakan tangisnya terdengar sangat menyayat hatiku.


" Aku mohon, Kak,, jangan pergi. " gadis itu kembali memohon.


Tiba-tiba saja, tubuhku seakan melayang dan menjauh darinya. Bahkan aku kembali mendengar jeritannya memohon supaya aku tidak pergi.


" Hah,, hah,, hah,, " aku terbangun dari tidurku dengan nafas terengah.


Mama mendekat dengan wajah cemasnya.


" Kenapa, Nak,,? " tanya Mama dengan khawatir.


Aku tersenyum dan menggeleng.


" Tidak apa-apa, Ma. Hanya mimpi buruk saja. " ucapku sedikit berbohong.


" Siapa gadis itu,,,? kenapa dia menangis dan memohon supaya aku tidak pergi,,? apa aku mengenalnya,,? tapi mengapa dadaku terasa sesak dan sakit mendengar tangisannya,,? siapa dia,,? " aku bertanya-tanya dalam hatiku.

__ADS_1


" Kau mau makan, Nak,,? " tanya Mama dengan lembut dan aku hanya menggeleng.


" Ze belum merasa lapar, Ma. " sahutku masih lemah.


" Papa kemana, Ma,,? " tanyaku karena melihat Mama hanya sendiri.


" Papa sedang pulang dulu sebentar, sayang. Kenapa,,? Kamu ingin dibawakan sesuatu dari rumah,,? " Mama balik bertanya.


" Ze hanya ingin makan masakan dari Bibi Minah, Ma. Ze juga ingin bertemu dengan Paman dan Bibi. " jawabku.


Entah kenapa, aku merasa sangat ingin bertemu dengan Paman Rahmad dan Bibi Minah. Seperti ada perasaan sangat bersalah dan menyesal.


" Baiklah. Nanti Mama akan menelepon Minah. " Dan aku hanya mengangguk.


Aku kembali memejamkan mataku, dan rasa ngilu kembali menyerang. Aku hanya bisa menahannya. Karena aku menyadari, ini semua memang salahku.


Pergi dalam keadaan marah dan emosi. Aku juga lupa memeriksa keadaan mobilku, mana aku tahu kalau ternyata rem mobilku itu blong.


Aku menarik nafas dan membuangnya dengan kasar. Aku kembali teringat mimpiku. Sangat disayangkan, wajah gadis itu tidak jelas. Entah mengapa, hanya wajahnya saja yang tidak terlihat jelas, sementara yang lainnya sangat jelas.


Aku bahkan seperti sangat mengenal tempat itu. Kursi dan meja makan itu, dapur itu, bahkan suara gadis itu sangat jelas dan aku seakan mengenalnya.


Tapi bila aku ingin mengingat siapa gadis itu, kepalaku terasa sakit. Bukan hanya kepalaku, hatiku pun terasa sangat sakit dan sedih. Entah kenapa, tapi rasanya benar-benar sangat menyedihkan.


" Ma,, apakah ponselku masih ada,,? " tanyaku pada Mama sambil membuka kedua mataku.


" Sayang sekali, ponselmu sudah hancur saat kecelakaan itu, Nak. Tapi Papa sudah membelikannya yang baru, bahkan dengan nomer mu yang lama. Kau mau dibawakan juga,,? "


Aku hanya bisa mengangguk dan kembali memejamkan mataku sebentar.


" Baiklah, Nanti Mama hubungi Papa. "


" Terimakasih, Ma. " Sekilas kulihat Mama terkejut saat aku mengucapkan terimakasih. Tapi tak lama, Mama kembali tersenyum dan mengangguk.


Aku akui,, dulu aku sangat tidak berbakti. Kasar pada orangtua dan tidak ada sopan santun sama sekali. Setelah kecelakaan itu, entah kenapa, aku merasa sadar. Aku ingin berubah, aku merasa malu dengan semua sifat dan sikap burukku dulu.


" Terimakasih, Tuhan. Kau sudah memberikan kesempatan kedua untukku kembali hidup dan berubah. Aku janji, akan menjadi manusia dengan kepribadian yang baik dan sabar. " ucapku dalam hati.


****


~~ ****Bersambung


Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.


Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.


Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.


Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.


Salam love and peace dari othor,,

__ADS_1


❤❤❤✌✌✌****


****


__ADS_2