
William pergi dengan membawa dua paper bag yang berisi bingkisan dan nasi box dari acara tujuh bulanan Alish. Zehan memang sengaja membuat lebih banyak. Tak lupa juga, Zehan menitipkan dua amplop untuk kedua adik Fatimah.
William sengaja ingin mengantar sendiri barang-barang itu, karena dia sudah tahu kalau jam jam segini, Fatimah tidak ada dirumah.
Walau hatinya masih galau karena memikirkan ucapan Zehan, namun William masih dapat mengemudikan mobilnya dengan lancar. Setelah penyelidikan selama hampir dua bulan, William sudah mengetahui rumah kontrakan Fatimah.
William memasuki gang untuk dapat kerumah kontrakan Fatimah. Gang yang hanya bisa dilalui oleh sebuah mobil. Dan untung saja, jarang ada mobil yang melewati gang itu.
William menatap jejeran rumah kontrakan yang berada tak jauh dari mobilnya. Rumah kontrakan yang sangat sederhana dan cukup sempit menurut William.
William turun dari mobilnya. Baru saja dia ingin menutup pintu mobilnya, matanya melihat sosok anak laki-laki yang keluar dari rumah Fatimah dengan wajah yang panik dan hampir menangis.
Sontak, William langsung berlari mendekat kearah anak laki-laki yang masih bersekolah dasar itu. Mungkin sekitar baru kelas satu atau dua SD. William menghampiri anak itu yang sedang tengok kanan kiri, seakan berusaha mencari seseorang.
" Ada apa, Boy,,? " tanya William yang ikutan panik saat melihat wajah anak kecil itu.
" Om,,,,. To- tolong adikku, Om. " ucap anak itu dengan suara bergetar dan ketakutan.
" Memangnya adikmu kenapa,,? " tanya William lagi sambil memegang kedua bahu anak itu.
" Adikku terjatuh dan kepalanya kejedot meja, Om. Dan berdarah banyak, Om. "
Seketika William langsung masuk begitu anak itu selesai menjawab. William melihat balita kecil dengan kening yang berdarah-darah, hampir menutupi separuh wajahnya.
Balita itu menangis keras saat William masuk diikuti anak kecil tadi. William mengambil sapu tangan dari dalam saku celananya dan menutupi luka balita itu.
Kemudian William langsung menggendong balita tersebut dan berlari membawanya masuk kedalam mobil, diikuti oleh anak kecil yang wajahnya sudah pucat karena ketakutan sekaligus panik.
William membuka pintu belakang mobilnya lalu menoleh kearah anak kecil tadi.
" Kamu masuk duluan, setelah itu baru adik kamu. " Anak kecil itu mengangguk lalu masuk kedalam mobil.
William meletakkan kepala balita tersebut di pangkuan anak kecil itu sambil terus menekan pelan luka di kening balita itu.
" Kamu tekan sapu tangan ini ya,, biar darah tidak terus keluar. " lagi-lagi anak kecil itu hanya mengangguk.
William menutup pintu mobil, dan disaat yang sama, seorang wanita dewasa keluar dari rumah yang berada tepat disamping rumah kontrakan Fatimah.
William berlari kearah wanita itu, dan menitip pesan padanya, kalau adiknya Fatimah dibawa kerumah sakit XX karena luka dikepalanya. Dan William juga meminta tolong pada wanita itu agar menyampaikan pesan pada Fatimah untuk segera menyusul.
William lalu kembali ke mobilnya dan masuk setelah dia selesai menitip pesan pada salah satu tetangga Fatimah. Tak lupa juga, William menyempatkan untuk menutup pintu rumah Fatimah.
William segera melajukan mobilnya kerumah sakit XX, karena memang rumah sakit itulah yang terdekat. Dengan sedikit mengebut, William melajukan mobilnya, berusaha untuk bisa cepat sampai. Namun tentu saja, masih dalam batas kecepatan wajar.
William segera memarkirkan mobilnya setelah mereka sampai dirumah sakit, dua puluh menit kemudian. Balita tersebut sudah berhenti menangis namun masih terisak.
Mungkin dia mengerti atau mungkin juga karena sudah lelah menangis. Balita itu berusaha menahan rasa sakit di keningnya yang masih mengeluarkan darah. William membuka pintu mobil dan segera menggendong balita tersebut.
" Kamu ikuti Om. " perintah William pada anak kecil tadi dan anak itu mengangguk.
Dia pun turun dan mengikuti langkah William dengan setengah berlari. Karena langkah William yang lebar dan sedikit tergesa.
" Suster,,,!! Cepat tolong anak ini. "
William memanggil beberapa perawat yang berada tak jauh darinya berjalan. Mereka pun segera mendekat dan mengambil alih balita tersebut dari gendongan William. Mereka membawa balita tersebut keruang UGD.
William meraih tangan anak kecil tadi dan menggandeng nya. Mereka mengikuti para suster tadi ke ruang UGD. Suster tersebut masuk sementara William dan anak kecil itu menunggu didepan pintu.
__ADS_1
Seorang dokter mendekat dan berniat masuk kedalam ruang UGD. William pun menghampiri dokter laki-laki dan cukup muda tersebut.
" Dokter,,. Tolong lakukan yang terbaik untuk balita itu. Bahkan dibius saja, agar dia tidak merasakan sakit saat pengobatan. " Dokter muda itu tersenyum lalu mengangguk.
" Kami pasti akan melakukan yang terbaik, Tuan. "
" Terimakasih, Dokter. "
Dokter itu masuk dan segera mengobati luka balita tersebut. Cukup lumayan lama, William dan anak kecil tadi menunggu.
" Namamu siapa, Boy,,,? " tanya William memecah kesunyian.
" Namaku Ali, Om. " jawabnya pelan. Dia sudah agak sedikit tenang.
" Lalu nama adikmu,,? "
" Namanya Alif, Om. "
" Bisa Ali ceritakan pada Om, apa yang terjadi,,? " William ikut-ikutan menyebut dirinya Om, padahal dia belum setua itu. Kemana Narsis nya pergi,,?.
" Aku sedang bermain dengan Ade Alif. Dia mengejarku, dan aku sendiri tidak tahu bagaimana Ade Alif bisa kejedot meja. " jelasnya.
" Emm,, mungkin adikmu itu kesandung. "
" Aku ga tahu, Om. "
" Ya sudah,, tidak apa-apa. Kamu ga usah takut, adikmu pasti akan segera sembuh. Dokter yang tadi masuk, pasti akan bisa mengobati luka adikmu. " ucap William sok bijak.
Mungkin apabila Zehan ada disana, dia pasti akan meledek William habis-habisan.
Tak lama kemudian, Dokter itu keluar dari ruang UGD. William segera menghampiri sementara Ali masih duduk di kursi tunggu.
" Bagaimana Dokter,,? " tanya William.
" Tidak apa-apa, kami sudah menanganinya. Saat ini dia sedang tertidur, karena tadi anda meminta untuk membiusnya. " William menarik nafas lega.
" Bisakah saya memintanya untuk dipindahkan ke ruang rawat, Dokter,,? " Dokter itu tersenyum.
" Tentu saja bisa, Tuan. Kami akan segera memindahkannya. "
" Terimakasih, Dokter. " Dokter itu kembali mengangguk.
" Kalau begitu, saya permisi. " William pun mengangguk dan tersenyum.
Tak lama kemudian, sebuah brankar keluar dari ruangan UGD tersebut, dengan seorang balita mungil diatasnya. Ali beranjak dari duduknya dan mendekat ke William.
" Ade Alif mau dibawa kemana, Om,,? " tanya Ali.
William meraih tangan Ali dan menggandengnya, mengikuti kemana brankar tersebut pergi.
" Adikmu dibawa ke ruang perawatan, Li. Dia masih tertidur, biarkan dia istirahat dulu. " jawab William, dan diangguki oleh Ali.
Mereka masuk keruang perawatan kamar Anggrek 1. Setelah merapikan letak brankar, suster yang mendorong brankar tersebut pamit keluar.
Ali duduk di kursi samping brankar tempat adiknya itu berbaring. William menatap sendu wajah balita tersebut. Matanya sedikit bengkak karena menangis.
" Ali,,. " panggilan William dan Ali pun menoleh.
__ADS_1
" Om, mau menemui Dokter dulu. Kamu disini saja, tunggu adik kamu, Oke,,? " Ali mengangguk.
William keluar dari kamar itu. Dia pergi keruangan Dokter yang tadi mengambil tindakan pertolongan pada Alif.
" Permisi, Dokter. Boleh saya masuk,,? " tanya William.
" Oh,, silahkan Tuan. " William pun masuk dan duduk dihadapan Dokter tersebut.
" Ada yang bisa saya bantu, Tuan,,? ". tanya Dokter itu.
" Sebenarnya saya ingin bertanya tentang keadaan balita tadi. Apakah lukanya berbahaya,,? " tanya William to the point.
" Balita itu tidak apa-apa, Tuan. Hanya saja, lukanya tadi cukup dalam dan lebar. Kami terpaksa menjahit nya, ada dua jahitan. Karena kami khawatir, apabila tidak dijahit, maka luka tersebut akan mudah terbuka. "
" Karena kita semua tahu,, anak balita seusianya pasti lincah dan sedikit tidak bisa diam. Saya juga sudah menulis resep untuknya, supaya dapat mengurangi rasa sakit dan nyeri yang dideritanya. "
William mengangguk mengerti, dan dia pun menerima kertas yang berisi resep tersebut.
" Terimakasih, Dokter. " ucap William tulus.
" Sama-sama, Tuan. Itu sudah menjadi kewajiban saya untuk saling menolong. " balas Dokter itu ramah.
" Saya permisi, Dokter. "
" Silahkan, Tuan. "
William pun keluar dan membawa resep tersebut ke apotik rumah sakit . Dia menunggu untuk beberapa saat sampai obat itu siap dan nama balita disebut.
William ingin kembali keruangan Alif dirawat,
namun sesaat kemudian, dia justru berbalik arah dan justru pergi keluar rumah sakit. Dia menuju kearah mobilnya terparkir.
William membuka pintu mobil dan mengeluarkan dua paper bagian yang tadi dibawanya. Dia membawanya masuk kedalam.
William bukan menyerahkannya pada Ali, dia justru menitipkan nya di ruang informasi. Berikut dengan obat yang sudah ditebus nya.
William juga berpesan pada suster jaga tersebut, agar memberikannya pada seorang wanita yang bernama Fatimah. Keluarga dari pasien yang bernama Alif.
William juga sudah membayar semua administrasi biaya pengobatan Alif. William pun segera pergi dari rumah itu, tanpa pamit lagi pada Alif. William sengaja ingin cepat pergi, karena dia tidak mau bertemu Fatimah.
William juga pasti tahu, kalau saat ini Fatimah pasti sudah pulang ngamen dan sedang mencari adiknya. William terpaksa menitipkan semuanya.
*
*
*
~~ Bersambung,,
Jangan lupa tinggalkan jejaknya, kakak.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤✌✌
**
__ADS_1