The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
TGH 08


__ADS_3

" Kak,,, Kak,,, Kakak kenapa,,? " panggil Alish sambil melambaikan tangannya didepan wajah Zehan.


Zehan tersadar, dan memalingkan wajahnya.


" Si*l,,,!!! " umpat Zehan dalam hati.


" Kakak kenapa,,? " tanya Alish.


" Tidak apa-apa. Hanya sedikit kesal saja. " sahut Zehan sambil berusaha menetralkan getaran yang ada didalam dadanya.


" Kesal sama siapa,,? Sama aku,,? " tanya Alish lagi.


Zehan menggeleng..


" Bukan sama kamu, tapi sama hantu wanita yang ada ditanah kosong sana. Berisik, mengesalkan dan sedikit menyeramkan. " jawab Zehan.


Alish mengerutkan dahinya bingung.


" Hantu wanita,,? Memang Kakak tadi darimana,,? " Alish bertanya dengan suara sedikit bergetar, takut.


" Dari berkeliling dekat lapangan sana yang ada tenda pengantinnya. Dan tak jauh dari sana ada tanah kosong yang banyak pohonnya, mirip hutan kalau aku bilang. Terus disana, aku ketemu hantu wanita. Sangat berisik dan menyeramkan. " jelas Zehan membuat Alish merinding karena takut.


Zehan melihat raut wajah ketakutan Alish.


" Kamu tenang aja, dia ga akan berani mengganggumu. Aku sudah mengancamnya tadi. Lagipula ada aku disini yang akan menjagamu, jadi kau tidak usah takut, Oke,,? " lanjut Zehan.


Alish menarik nafas lega dan mengangguk.


" Aku sudah siap mau berangkat. Kakak jadi mau ikut aku,,? " tanya Alish.


Zehan mengangguk seraya berdiri. Alish merapikan tas kainnya yang berisi bekal dan seragam kerjanya. Zehan mengikuti Alish keluar dari rumah. Tak lupa Alish mengunci pintu rumahnya. Alish membuka kunci gembok sepedanya, dan menuntunnya pergi.


" Untuk apa kau membawa kantong plastik kresek besar seperti itu,, ? " tanya Zehan begitu dia melihat Alish menggantungkan sebuah kantong plastik besar distang sepedanya.


" Nan,,, "


" Tidak usah dijawab. Kau pasti mau bilang, ' nanti Kakak juga akan tahu ', begitu kan,,? " belum selesai Alish bicara, Zehan sudah memotong ucapannya.

__ADS_1


" Tuh,, Kakak tahu. " sahut Alish sambil nyengir.


Zehan mengikuti Alish yang masih mendorong sepedanya. Zehan tidak bertanya walau sebenarnya dia bingung, kenapa Alish mendorong sepedanya bukan menaikinya.


Zehan memperhatikan setiap tindakan Alish tanpa bertanya. Saat sudah lumayan berjalan cukup jauh,, tiba-tiba,,,


" Nenek,,. Nenek sudah selesai merapikan dagangan Nenek,,? " Alish berhenti dihadapan seorang Nenek yang sedang menggendong barang dibelakang punggungnya.


" Eh,, Neng Alish sudah datang. Nenek sudah siap, Neng. " jawab Nenek itu.


" Ya sudah, Nenek pulang saja duluan. Nanti Alish yang membawa sisanya. " ujar Alish lembut.


" Iya, Neng. Nenek duluan ya,, " pamit Nenek itu lalu pergi.


Alish mengangguk dan tangannya mengangkat sebuah tas kain besar dan mengikatnya di boncengan belakang sepeda. Dan sebuah kantong plastik sedang ditaruhnya di keranjang depan sepedanya.


Zehan masih sibuk memperhatikan tanpa bertanya. Zehan kembali mengikuti Alish saat Alish mulai beranjak pergi. Dan sesekali Alish berhenti untuk memungut botol atau gelas plastik dan memasukannya kedalam kantong kresek yang tadi dibawanya. Sama seperti tadi sejak Alish berangkat dari rumahnya.


" Kau ngapain mungutin sampah sih, Lish,,? " akhirnya Zehan tak tahan untuk bertanya.


" Mungkin untuk sebagian orang, ini adalah sampah. Tapi untuk sebagian orang lain, ini adalah berkah. " sahut Alish bijak.


" Lalu Nenek tadi siapa,,? " tanya Zehan lagi.


" Ohh,, itu Nenek Iyum. Dia penjual sayur. Dan ini sisa jualannya. Aku membantunya membawa pulang. Rumahnya berada dikampung tepat dibelakang toko aku bekerja. Jadi sekalian saja aku membawanya. Tapi hanya saat aku kerja masuk siang saja. " jelas Alish.


Zehan kemudian diam dan tak bertanya lagi. Zehan sibuk mengagumi sifat baik hati Alish.


" Benar-benar manusia berwujud malaikat. Aku sangat mengaguminya. " batin Zehan.


Tak lama kemudian,,


Alish menghampiri seorang bocah yang sedang duduk dibawah pohon yang ada dipinggir jalan, sambil memegang sebuah karung besar.


" Yoga,, " panggil Alish.


Anak kecil itu mengangkat kepalanya lalu tersenyum begitu melihat siapa yang memanggilnya.

__ADS_1


" Kak Alish,, " sapa bocah itu seraya bangun dari duduknya.


" Yoga sudah pulang sekolah,,,? Sudah makan,,? " tanya Alish pada bocah itu yang bernama Yoga.


Yoga mengangguk.


" Sudah Kak. Tadi sekolah pulang cepat karena sedang ulangan tengah semester. " sahut Yoga.


" Ohh,, ya sudah. Ini,, tadi Kakak dapat lumayan. " Alish memberikan kantong plastik besar yang sudah penuh berisikan botol dan gelas plastik tadi.


Yoga menerimanya dengan tersenyum lebar dan menaruhnya didalam karung besarnya.


" Terimakasih, Kak. Kakak sudah mau susah payah membantu Yoga. " ucap Yoga girang.


" Sama-sama. Tapi besok Kakak libur dan ada kerjaan lain jadi kamu ga usah nungguin Kakak disini ya. " ujar Alish.


" Iya, Kak. Ya udah,, Yoga pergi nyari barang lagi ya. " pamit Yoga.


" Iya, Hati-hati. " sahut Alish.


Yoga hanya mengangguk dan beranjak pergi. Lagi-lagi Zehan hanya bisa terdiam melihatnya.


" Terbuat dari apakah hatimu, Lish,,? Mengapa kau bisa begitu baik, mau menolong siapa aja,,,? " Lagi-lagi Zehan hanya bisa mengagumi Alish dalam hati.


****


~~ Bersambung,,


Jangan lupa mainkan jempol kalian untuk menekan like, vote, comment dan hadiahnya.


Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mapir dikarya recehku ini.


Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.


Hargai karya pemikiran othor, karena othor berpikir nya dengan susah payah dan penuh dengan kehalu an.


Salam love and peace dari othor,,

__ADS_1


❤❤❤✌✌✌


*****


__ADS_2