The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
TGH 19


__ADS_3

Author Pov,,


Zehan kembali menghela nafas panjang. Menyesal,,,?. Ya,, dia amat sangat menyesal. Zehan yang saat ini tengah duduk di halte tempat pertama kali bertemu dengan Alish, hanya duduk termenung dengan tatapan yang kosong. Kedua tangannya saling bertaut.



* abaikan saja backgroundnya.


Zehan tengah menunggu Alish yang saat ini masih sibuk bekerja ditoko. Zehan masih memikirkan kata-kata yang tepat untuk berpamitan pada Alish.


Tiba-tiba saja,,,


" Woyy,, Ze. Ngapain loe bengong aje,,? " seru teman astral Zehan.


Zehan menoleh seketika, dan dilihatnya teman astralnya yang memakai kain putih.


" Eh,,, elo, Cong. "


" Lagi ngapain, Ze,,? Sore-sore begini malah bengong disini. " tanya teman Zehan yang biasa dipanggil Ocong.


" Biasa,, lagi nunggu si Alish gawe. Dikit lagi pulang dia. " jawab Zehan.


" Ohh,, kirain loe ngapa, dari tadi gue liatin loe diem aje disini. "


" Loe sendiri ngapain ke sini,,? " tanya Zehan lalu menundukkan kepalanya.


Si Ocong duduk disamping Zehan karena melihat perubahan dari raut wajah Zehan.


" Ada juga gue kali yang nanya, loe ngapa,,? " tanya Ocong.


Zehan membuang udara dari mulutnya, dan masih terdiam tanpa menjawab pertanyaan Ocong. Zehan mengalihkan wajahnya dan menatap Ocong.


" Cong,, kalau suatu hari nanti gue menghilang, loe gimana,,? " tanya Zehan lalu menundukkan kepalanya lagi.


" Menghilang gimana maksudnya,,? " Ocong balik bertanya.


" Maksud gue,, kalau suatu saat nanti, tiba-tiba gue pergi kembali ketempat asal gue, loe gimana,,? " Zehan memperjelas pertanyaannya.

__ADS_1


" Kalau loe pergi nya ketempat yang seharusnya loe berada, dan itu lebih baik dari disini, gue ga masalah. Gue malah seneng, karena itu berarti loe udah terbebas dari masalah loe. Ga kayak gue, masih dipenuhi dendam. " jawab Ocong.


" Gue udah inget siapa diri gue yang sebenarnya, Cong. Gue juga udah tau alasannya, kenapa gue bisa begini. Dan selama gue hidup bersama dengan Alish, gue bisa inget segalanya dan bisa menyadari kesalahan gue. Gue juga udah ga dendam lagi sama orang yang bikin gue kayak gini. " jelas Zehan sambil mengangkat kepala nya dan menatap lurus kedepan. Tatapan yang terlihat begitu kosong.


" Syukur deh kalau loe udah inget semua dan udah bisa ikhlasin semuanya. Semoga loe bahagia ya dimana pun nantinya loe berada. Do'ain gue juga, biar gue juga bisa bebas dari dendam yang ada didalam hati gue. " ucap Ocong dengan lirih.


Zehan tersenyum kecut,, ikhlas,,? Benarkah dia sudah bisa mengikhlaskan semuanya,,?.


Belum sempat Zehan menjawab, dari kejauhan Zehan melihat Alish datang kearahnya.


" Gue balik dulu ya, Cong. Si Alish udah pulang tuh,, " Zehan menunjuk kearah Alish dengan dagunya.


Ocong menoleh kearah dagu Zehan menunjuk.


" Oke,, loe hati-hati ya. Semoga loe bahagia di manapun loe berada. " Ocong mengulangi ucapannya tadi.


Zehan mengangguk lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Alish. Mereka pun berjalan pulang berdampingan. Zehan menoleh sekilas kearah Ocong dan tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya.


Seminggu kemudian,,


Hari ini adalah libur Alish dan waktunya kembali berkunjung ke Yayasan milik Bunda Ani. Tak lupa juga, makanan ringan untuk adik-adiknya dan bahan sembako untuk Bunda Ani.


Langkah Zehan terasa berat saat memasuki Yayasan itu. Zehan berharap waktu dapat berhenti saat ini juga. Dia tidak ingin pergi tapi dia harus. Pikirannya terasa melayang dan tatapan nya kosong. Hingga sebuah suara menyadarkan nya.


" Kakak sudah datang. " sapa Andi dan Zehan tersadar dia sendiri didepan Yayasan, dan sudah ditinggal masuk kedalam oleh Alish.


" Kakak sudah siap,,? " tanya Andi sambil menarik tangan Zehan dan membawa nya kembali duduk di ayunan. Tempat kemarin mereka bicara.


Zehan menurut saja saat tangannya ditarik. Bahkan Zehan masih terdiam saat ditanya oleh Andi.


" Malam ini, Kakak harus datang kerumah orang itu dan Kakak harus meminta maaf padanya. Minta tolonglah pada Kak Alish. " lanjut Andi sambil memaju mundurkan ayunannya.


" Harus malam ini,,? " Andi mengangguk.


" Siapa orang itu,,? " tanya Zehan pelan.


" Orang yang sedari dulu sudah sangat berjasa dalam hidup Kakak. Bahkan dia lebih menyayangi Kakak daripada orang tua kandung Kakak sendiri. " jawab Andi enteng.

__ADS_1


Sontak Zehan terkejut. Matanya membulat sempurna dan menatap tajam kearah Andi.


" Dia,,? Paman Rahmad,,? " dan lagi-lagi Andi mengangguk.


" Kenapa harus dia,,? " tanya Zehan lagi.


Andi menghentikan laju ayunannya dan menoleh kerahasiaan Zehan dan menatap nya dengan tajam. Tatapan yang mengintimidasi.


" Perlukah Andi ingatkan lagi, perbuatan kasar dan menyakitkan apa yang sudah Kakak lakukan pada beliau terakhir kali,,? " seru Andi setengah kesal.


Zehan terdiam dan menundukkan wajahnya.


" Sakit di pipinya tidak seberapa bila dibandingkan rasa sakit dihatinya. Perasaan tulusnya pada Kakak, tapi Kakak balas dengan perbuatan kasar yang sangat melukai hatinya yang lembut. " lanjut Andi.


Zehan masih terdiam.


" Minta tolonglah pada Kak Alish. Ceritakan semuanya kecuali keadaan Kakak yang sedang kritis. Jangan bilang padanya, bagaimana keadaan Kakak yang sebenarnya " . tegas Andi lalu beranjak dari duduknya.


" Jangan lupa nanti malam. "


Andi kembali mengingatkan sebelum akhirnya masuk kedalam Yayasan. Meninggalkan Zehan seorang diri ditaman itu. Zehan kembali menundukkan kepalanya.


Siapkan dia,, untuk kerumah orang itu,,? Entahlah,,, yang pasti Zehan kembali kalut, dan kembali memikirkan bagaimana cara mengatakan yang sebenarnya pada Alish.


*****


~~ ***Bersambung,,


Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan like, vote, comment dan hadiahnya.


Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir di karya recehku ini.


Jangan menghina bila tidak suka, karena menulis itu tidak mudah.


Hargai karya pemikiran othor,, karena othor juga berpikir dengan dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.


Salam love and peka dari othor,,

__ADS_1


❤❤❤✌✌✌***


__ADS_2