
Setelah Alish membawakan barang jualan nenek tadi kerumahnya yang ada dibelakang toko tempat Alish bekerja, Alish melihat jam di ponsel bututnya.
" Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum aku masuk, Kakak mau makan dulu ga,, ? Kan tadi kita belum makan siang. " tanya Alish.
" Emm,,, boleh deh. Tapi mau makan dimana,,? Ga mungkin kan kita makan disini, Orang-orang bisa kabur lihat sendok melayang sendiri. " sahut Zehan sambil memasukkan kedua tangannya kedalam jaketnya.
" Kita masuk kedalam toko aja yuk,, kita makan digudang. Jarang ada orang masuk disana, gimana,,? " usul Alish yang hanya mendapatkan anggukan sebagai jawaban.
Alish masuk kedalam toko dan menyapa beberapa temannya. Alish pamit masuk kedalam gudang karena mau makan siang yang sudah telat. Zehan mengikuti Alish masuk kedalam sebuah ruangan yang terdapat banyak stok aneka macam barang.
Alish menggelar sebuah kardus untuk alas duduk. Zehan pun duduk berhadapan dengan Alish diatas kardus itu. Alish mengeluarkan bekal makan siangnya dan mulai untuk memakannya.
" Kakak aku suapin aja ya,,? Biar ga ada yang liat sendok melayang sendiri, gimana,,? " tanya Alish.
Zehan hanya mengangguk tanpa menjawab. Alish mulai makan bergantian dengan menyuapi Zehan. Alish menatap Zehan bingung, karena sejak tadi tidak ada satupun suara yang keluar dari bibirnya.
" Kakak sariawan,,? " tanya Alish memecah kebisuan. Zehan menggeleng.
" Lalu kenapa sejak tadi Kakak hanya diam saja,,? " tanya Alish lagi.
" Tidak apa-apa. "jawab Zehan singkat.
Alish pun akhirnya memilih diam. Alish membereskan wadah bekas makannya. Dan mengeluarkan seragam kerjanya. Alish beranjak dari duduknya dan pergi kekamar mandi untuk berganti pakaian. Zehan masih duduk terdiam dilantai yang beralaskan kardus bekas itu.
__ADS_1
" Aku kedepan dulu ya, Kak. Mau ganti shift soalnya. " pamit Alish. Dan lagi-lagi Zehan hanya mengangguk tanpa bicara.
Alish keluar dari gudang dengan bingung.
" Kakak itu kenapa,,? sejak tadi hanya diam saja. Apa aku sudah berbuat salah,,? " batin Alish bertanya-tanya dalam hati.
Alish melakukan pekerjaannya dengan riang tanpa beban. Sementara Zehan masih berdiam diri didalam gudang.
" Mengapa saat Alish membantu nenek dan anak kecil tadi, muncul ingatan samar-samar dan tidak jelas,,? Ingatan aku dulu saat masih hidup kah,,? Sayangnya masih belum begitu jelas. Bahkan aku seperti mendengar sebuah suara yang mengatakan ' dia-lah yang akan bisa menolongmu nanti '. Siapa yang akan menolongku,,? Alish-kah,,? Tapi menolongku dari apa,,? " gumam Zehan bertanya-tanya sendiri.
Ya,, Tiba-tiba saja beberapa ingatan muncul sesaat setelah Zehan melihat betapa tulusnya Alish membantu orang. Ingatan yang terlihat samar, dan membuat Zehan mendiamkan Alish tadi. Karena Zehan sibuk pikirannya sendiri.
Tak terasa malam pun tiba. Waktu jam kerja Alish sudah berakhir. Alish pun kembali masuk kedalam gudang dan melihat Zehan masih terduduk diam disana. Alish melihat sekeliling, apakah ada orang lain atau tidak.
" Kak,, mau pulang tidak,,? " tanya Alish sambil berjongkok dihadapan Zehan.
" Sudah malam,, ayo pulang. " ajak Alish dan Zehan mengangguk tanpa menjawab.
" Kakak mau makan malam apa,,? " tanya Alish begitu mereka keluar dari toko dan Alish mendorong sepedanya menjauh dari toko itu.
" Kamu mau makan apa,,? " Zehan balik bertanya.
" Aku mau makan 'nasi kucing', murah meriah. " sahut Alish membuat Zehan mengerutkan dahinya.
__ADS_1
" Nasi kucing,,? Maksudmu makanan untuk kucing,,,? " tanya Zehan bingung.
Alish terkekeh mendengar pertanyaan Zehan.
" Bukan, Kak. Disebut nasi kucing itu karena porsi makanannya itu sedikit, seperti porsi nasi untuk makan kucing. Nasi itu dijual diwarung angkringan. Isinya selain nasi biasanya ada capcay atau oseng tempe. Selain itu diwarung itu ada juga lauk tahu tempe bacem, bermacam jenis gorengan dan sate. " jelas Alish.
Zehan hanya ber-oh ria dan duduk di bangku boncengan sepeda Alish. Alish mengayuh sepedanya menuju warung angkringan dekat rumahnya dan membeli dua bungkus nasi kucing, tahu tempe bacem dan empat tusuk sate telur puyuh dan ati ampela ayam.
Lagi-lagi Zehan diam-diam mengagumi kesederhanaan Alish saat mereka sudah sampai rumah dan mulai makan makanan yang tadi dibeli Alish.
****
~~ Bersambung,,
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan ke haluan.
Salam love and peace dari othor,,
__ADS_1
❤❤❤✌✌✌
****