
“Maaf jika mengecewakan Yang Mulia, tetapi hamba sudah tidak tertarik dengan tujuan itu. Jadi hamba tidak perlu hadir di rapat pejabat yang memuakkan itu”
Alexander menoleh dengan wajah sedikit terkejut “Kenapa?” Tanya nya lalu.
“Kenapa? Tentu saja karena hal itu tidak ada untung nya bagi hamba” Jawab ku acuh.
Alexander maju selangkah “Kau…aku sudah akan menyetujui usulan mu agar kau dipermudah, namun apa sekarang!” Geram Alexander menatap ku marah.
“Hamba tidak meminta Yang Mulia untuk menyetujui nya bukan? Jadi jangan salahkan hamba”
“Berhenti bersikap seperti ini!” Titah nya cepat.
“Sikap seperti apa Yang Mulia maksud?” Meski aku tau betul sikap apa yang dia maksud namun aku tidak ingin menuruti nya seperti yang lalu lau.
“Bersikaplah seperti biasa” Jawabnya datar.
“Maaf Yang Mulia, ini adalah sikap biasa dari seorang rakyat kepala Raja jadi hamba tidak salah” Ucap ku sopan dalam posisi yang masih membungkuk hormat tidak menatap ke arahnya.
__ADS_1
Alexander menggeram marah lalu melangkah cepat kearaku dengan spontan pula aku memundurkan langkah guna menghindari berhadapan langsung dengan nya.
”Maaf jika tidak bersikap sopan, hamba hanya ingin menjaga jarak. Sesuai permintaan Yang Mulia dan kekasih anda”
“Dia bukan kekasih ku”
Persetan! Pekik ku dalam hati, kenapa kau terus menekan kan padaku jika Aurelia bukan kekasih mu. Padahal saat Aurelia menghina ku kau sama sekali tidak membela.
“Itu bukan urusan hamba Yang Mulia, sebaiknya jika tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi hamba permisi” Aku menunduk hormat dan mundur.
“Lepp…shh” Aku meringis kesakitan saat Alexander merem*as pinggang ku kuat.
“Tingkah mu membuat ku jengah, berhenti bersikap formal seperti itu” Bisiknya marah.
Aku menghembuskan nafas marah “Yang Mulia lah yang seharusnya berhenti bersikap baj!ngan seperti ini” Ku angkat wajah ku lalu menatap mata biru menyala nya “Beberapa waktu lalu kau yang mendorong ku untuk pergi dengan kata-kata menghina mu. Mulut bajingan mu itu bungkam saat kekasih mu menghina ku wanita penggoda, kau tidak membela sedikitpun meski kau tau aku tidak melakukan apapun untuk menggoda mu!!” Cercah ku penuh emosi.
“Aku sudah berkali-kali meminta maaf atas sikap Rosenne Weasly dulu yang telah menggoda mu, aku juga sudah berusaha untuk menjauh dari mu. Namun kau yang datang padaku, mencium, menyentuh, melakukan apapun sesuka mu. Kau pikir aku semurah itu BAJ!NGAN!!” Aku berteriak frustasi tepat diwajah Alexander karena jarak kami memang sangat dekat, sialnya aku adalah tipe manusia lemah yang akan menangis dengan mudah jika rasa amarah sudah menggerogoti hatiku.
__ADS_1
Ya aku menangis (lagi) di hadapan nya.
“Ku mohon berhenti, aku sudah tidak tertarik dengan tujuan awal ku. Persetan jika hasil ramalan pemimpin masa depan itu tidak jujur atau jika adapun campur tangan orang lain aku tidak peduliii” Sembur ku lalu mendorong tubuhnya menjauh.
Aku berusaha mengatur nafas ku yang sesak karena luapan emosi yang berlebihan.
”Bukan kah menikah dengan nona Ruby adalah impian mu? Sekarang kau meminta ku untuk maju di rapat pejabat dan mengusulkan penolakan atas kebijakan kerajaan. Untuk apa? Membuat ku terlihat buruk dihadapan pejabat lain…lalu mereka menghukum ku—“
“Jika memang ingin aku mati, kenapa tidak langsung kau bunuh saja Yang Mulia. Tidak perlu repot-repot menciptakan drama seperti ini…” Cicit ku lemah, habis sudah tenanga ku.
Mata biru menyala itu menatap ku lekat, banyak emosi yang diperlihatkan oleh pancaran mata itu saking banyaknya aku tidak bisa menyimpulkan apapun.
“Aku menemukan bukti, jika hasil ramalan itu tidak benar dan wanita yang sebenarnya terpilih dari hasil ramalan itu adalah kau….nona Weasly”
“APA!?”
...👑👑👑...
__ADS_1