The Heaven Kingdom

The Heaven Kingdom
THK—Debat Saudara?


__ADS_3

...The Heaven Kingdom...


“Apa yang kau rencanakan dengan ayah?” Suara dingin nan berat itu menganggu kesibukan ku.


Aku menoleh dan menemukan keberadaan seseorang “Oh hai, kau sudah kembali” Tanya ku acuh.


“Jawab aku, apa rencana mu!” Suara nya meninggi karena aku mengabaikan pertanyaan pertama nya.


“Tidak bisakah kau bicara dengan baik-baik pada adik perempuan mu ini, Ragnar?” Aku menutup buku yang ku pegang dengan kesal.


Pria ini datang tidak diundang mengganggu ku yang sedang mencari ketenangan di perpustakaan.


“Jangan basa-basi, jawab saja pertanyaan ku” Tekan nya geram.


“Kenapa tidak kau tanyakan saja pada ayah mu” Jawab ku acuh, membuka kembali buku ditangan ku.


KREEEKK


Kursi dihadapan ku pun tertarik kebelakang sudah pasti pelaku nya Ragnar, pria yang datang tidak diundang. Dia duduk dengan tenang dan melipat kedua tangan nya di dada.


Cuih sombong sekali, aku sungguh penasaran apa jabatan kakak tidak berguna ini di kerajaan.


“Benar, seperti nya kali ini kita perlu bicara baik-baik selaku kakak dan adik” Ucap nya dingin.


Klap


Aku menutup buku ku kesal dan menyimpannya di meja, entah kenapa aku tidak suka dengan nada bicara nya yang sinis.


“Apa mau mu, kakak?“ Kalau dia peka, pasti bisa meraskan jika aku memanggil nya kakak dengan nada ejekan.

__ADS_1


“Tidak perlu memanggil ku dengan sebutan kakak, jika kau tidak suka” Jawab nya.


Waaahh di luar dugaan, ternyata dia peka dengan ketidaksukaan ku.


“Kau cukup peka” Aku melipat tangan di dada mengikuti gayanya dengan gestur tubuh malas.


“Sejak dulu aku cukup peka dengan mu yang tidak menyukai ku” Ragnar menyeringai tipis.


Ada apa ini, kenapa pria ini seperti ingin mengajak ku debat antar saudara.


Hahah kau salah mengajak ku debat saudara, karena aku bukan saudara asli mu.


“Ah benarkah? Kedengaran nya cukup bagus jika kau benar-benar peka tentang ketidaksukaan ku pada mu. Yaa setidak nya lebih baik—“ Ucap ku mengejek.


“Lebih baik apa maksud mu?” Tanya Ragnar.


Ragnar hanya terkekeh pelan, entah apa yang lucu sampai membuat dia yang dingin tiba-tiba terkekeh tidak jelas.


“Apa kau tidak peduli jika ucapan mu barusan bisa membuat ku tersinggung?”


“Ahhh maaf jika kau tersinggung, tapi asal kau tahu AKU TIDAK PEDULI” Aku sengaja menekan kata diujung kalimat ku.


See? Kekehan diwajah nya seketika menghilang digantikan wajah dingin andalan nya, tatapan nya cukup mengintimidasi tapi bukan aku nama nya jika takut.


“Wajah ku bisa berlubang jika kau terus menatap ku tajam begitu, kalau wajah ku berlubang dan berubah menjadi jelek maka aku adalah pihak yang disalahkan oleh ayah mu” Aku berucap enteng membuat Ragnar kebingungan.


Membuang nafas pelan, aku melepas lipatan tangan ku di dada dan beralih meraih buku yang ku sempat ku letak kan di meja.


”Kau bingung?” Tanya ku sambil membuka halaman buku itu.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari nya “Tentu saja Emmett akan marah jika wajah ku rusak dan kemungkinan mendapatkan perhatian Raja akan semakin kecil dan yahh…kau bisa tebak sendiri akhirnya”


“Emmeett? Kau memanggil ayah hanya dengan namanya nya?” Tanya nya geram.


“Ya, bukan kah dia juga selalu memanggil ku dengan sebutan anak sial?”


“Kau..” Geram nya marah.


“Ssstttt jangan marah, yang tidak pernah dipanggil ‘anak sial’ diam saja. Karena kau tidak akan tahu rasanya” Tidak berniat untuk menenangkan, aku hanya ingin membuat marah.


“Kau keterlaluan, bagaimana jika ayah mendengar kau bicara seperti ini dia akan sakit hati melihat mu”


“Lalu bagaimana dengan ku, aku dipanggil anak sial tepat didepan wajah ku dan pria tua itu tidak pernah memikirkan perasaan ku. Aku hanya melakukan seperti yang dia lakukan lagi pula kau tenang saja. Disini tidak ada siapapun yang mendengar obrolan kita dan Emmett tidak akan tahu kecuali kau yang mengadu” Aku tertawa pelan membayangkan Ragnar dengan wajah seram dan tubuh besar nya berlari ke Emmett dan mengadukan adik nya yang kurang ajar ini.


Lucu sekali, pasti seperti anak gajah yang mengadu pada induk nya.


“Kau pikir aku seorang pengadu?”


Aku mengangkat bahu acuh “Hemm, entalah. Aku bahkan tidak mengenal mu dengan baik. Jadi bagaimana aku bisa memastikan jika kau bukan orang yang pengadu”


“Kau—“


Aku mengangkat pandangan dan menatap tapat dimata tajam berwarna biru terang milik nya.


“Kau tahu kenapa aku sangat membenci mu?” Lanjut nya bertanya.


Aku berpikir sejenak lalu menjawab “Mungkin banyak alasan, tetapi yang menjadi alasan utama nya pasti karena kelahiran ku yang menyebab kan ibu mati? Aku benar atau ada alasan yang lain?”


...👑👑👑...

__ADS_1


__ADS_2