
Aku menghela nafas lelah setelah memastikan punggung Ruby benar-benar menghilang di balik pintu ganda ruangan ini.
Gadis itu, entalah dia sangat menyebalkan dengan kebodohan nya itu.
“Kau yakin ingin menikahi gadis bodoh seperti itu?” Celetuk ku tidak santai pada Alexander.
Alexander hanya mengangkat bahu nya acuh, tidak menanggapi perkataan ku yang menghina calon istri nya.
“Tapi ku rasa kalian beruda cocok, sama-sama bodoh” Gumam ku pelan, tapi aku yakin Alexander bisa mendengar nya dengan jelas.
Terbukti gerakan tangan nya yang hendak meraih gelas teh nya berhenti di udara.
“Apa maksudmu?” Tanya nya, niat meraih gelas teh itupun dia urungkan.
Memilih bersandar di sandaran kursi dan menatap ku tajam dengan mata biru menyala nya.
“Maksud ku kalian berdua cocok, karena sama-sama manusia” Jawab ku asal.
Dengan gerakan santai aku meraih gelas teh milik Alexander mendekatkan pinggiran gelas bibir ku lalu menyeruput isi nya pelan.
Mengabaikan tatapan tajam Alexander ”Aku haus, kau pikir berbicara panjang lebar seperti tadi pada kekasih bodoh mu itu tidak butuh tenaga hah. Bahkan air liur ku sampai kering rasa nya” Gerutu ku kesal, kembali meneguk teh dalam gelas sampai tandas.
“Apa sudah jadi kebiasaan bagimu mu asal meminum minuman orang lain huh?”
Cukup mengherankan, lagi lagi Alexander mengabaikan kata penghinaan ku terhadap kekasih nya. Padahal aku sengaja memancing amarah nya dengan menyebut Ruby bodoh, akan menyenangkan jika dia marah sehingga aku bisa menjadi kan dia pelampiasan rasa marah ku terhadap nona Ruby.
Tapi sayang sekali dia terlihat acuh dan tidak peduli.
__ADS_1
“Tidak juga, itu salah mu karena tidak menyediakan minuman untuk tamu. Dasar Raja pelit hanya segelas teh pun tidak mampu kau siapkan” Sindir ku penuh ejekan.
Tak
Gelas teh yang sudah kosong itu ku simpan kembali diatas meja, lalu duduk bersandar.
“Kau…apa rencana mu untuk pengadilan besok?” Tanya Alexander.
“Kenapa? Kau takut aku memperberat hukuman untuk calon mertua mu hah, ingin meminta ku seperti yang diinginkan kekasih bodoh mu itu?” Hardik ku langsung tidak senang.
“Aku hanya bertanya” Ketus Alexander balik.
“Ck! Kalian semua sama saja, sejujurnya aku tidak ingin memperpanjang masalah ini dipengadilan nanti tetapi melihat tingkah sok dan bodoh kekasih mu itu membuat ku menggebu ingin mengancurkan ayah nya besok!”
Aku diam, memejamkan mata sebentar untuk meredakan rasa kesal ku atas kebodohan orang-orang ini.
“Aku tidak pintar, tapi kekasih mu yang bodoh bahkn pelayan ku lebih pintar daripada calon nona Ruby. Cih mau jadi apa negeri ini memiliki Ratu masa depan bodoh seperti itu” Telak ku dengan emosi menunjuk kearah pintu.
Aurelia Ruby, setelah perdebatan panjang nya dengan ku gadis itu terdiam cukup lama lalu pamit dengan tergesa-gesa.
”Aku penasaran, apakah wanita bangsawan di negeri ini tidak ada yang belajar perihal politik?” Alexander menggeleng sebagai jawaban.
“Apa ada larangan tertentu untuk itu?”
“Tidak juga, wanita tidak diwajibkan mempelajari politik istana karena mereka hanya perlu mengabdi pada sang suami dan berada dibawah perlindungan suami mereka—“
“Jadi wanita bangsawan hanya akan mempelajari cara memuaskan suami di ranjang, begitu? Ck! Memalukan” Decak ku tidak terima.
__ADS_1
“Kenapa bisa di jaman yang maju begini, kalian masih berpikir primitif seperti itu” Lanjut ku.
“Berpikir primitif?” Beo Alexander.
“Ya, dengan kata lain bepikir kolot, kuno dan ketinggalan jaman. Kau tidak tahu ya jika diberi didikan yang sama bahkan kemampuan wanita bisa melebihi seorang pria bangsawan sekalipun”
“Pantas saja, pejabat Ruby menganggap ku remeh saat rapat waktu lalu. Ternyata begini cara negeri ini menekan para wanita nya”
“Kau sebagai Raja perlu melakukan gebrakan baru, sebagai pemimpin yang masih muda kau tidak boleh hanya menerima dan melanjutkan peraturan-peraturan dari pemimpin sebelum nya. Itu nama nya gaji buta!” Aku jadi menumpahkan kekesalan ku Pada Alexander.
Sementara pria itu hanya menatap ku tanpa ekspresi berarti.
“Ah sudalah, kepala ku jadi pusing. Lebih baik aku kembali sekarang”
SRETTT
“Aku belum selesai, duduk!” Perintah nya datar tetapi terdengar memaksa.
“Apa lagi, kau ingin memaksa ku memaafkan calon mertua mu?” Meski enggan aku kembali duduk.
“Tutup mulut mu, kau lupa tujuan awal mu bertemu dengan ku?”
“Aku tidak lupa, persetan dengan bulan surga! Aku sudah tidak peduli sekalipun kau menikah dengan kekasih bodoh mu itu HARI INI!
Setelah puas memaki Alexander aku berjalan cepat meninggalkan nya.
Sialan! Sepasang kekasih itu membuat ku kesal saja!
__ADS_1