
Pengawal yang berjaga di depan pintu ruangan Alexander sudah mengumumkan kedatangan ku dan sahutan dari dalam mempersilahkan ku masuk.
Pintu ganda itu terbuka dan aku melangkah masuk, didepan sana aku langsung menemukan keberadaan Alexander yang duduk dibalik meja besar nya sibuk dengan tumpukan kertas di hadapan nya.
Aku mendekat lalu memberi salam.
”Keberkahan pada Yang Mulia dan Heaven Land\~”
Alexander mendongak menatap ku datar, tangan nya memberi isyarat untuk aku segera berdiri.
Alexander merapikan tumpukan kertas yang sebelum nya dia kerjakan dan mendekat kearah ku.
“Wajah mu terlihat pucat” Tegur nya begitu sampai di hadapan ku.
Apa kau mengharapkan wajah segar merona dan berseri dari seseorang yang sudah sakit selama dua hari, meski Lela sudah bekerja keras menutupi nya dengan riasan tapi tidak bisa tertutup sempurna.
“Duduklah”
Baru saja Alexander hendak meraih lengan ku untuk digandeng, aku sudah menghindar terlebih dahulu.
“Hamba bisa berjalan sendiri Yang Mulia” Ucap ku sambil tersenyum.
Alexander hanya mengangkat bahu acuh dan berjalan lebih dulu menuju kursi di sudut ruangan.
“Kau masih tetap berdiri di sana?” Sindir Alexander.
Baiklah, aku mengalah dan duduk dihadapan nya.
Hening…
Alexander tidak mengeluarkan suara sedikitpun tapi aku tahu sejak tadi mata nya tak lepas menatap ku.
__ADS_1
“Ada perlu apa Yang Mulia meminta hamba kemari?” Tanya ku memulai obrolan.
Diam, dia tidak menjawab.
“Yang Mulia” Tegur ku lagi, kapan dia sadar dan berhenti menatap ku seperti itu.
“Tanda merah dileher mu itu apa bekas cekikan pejabat Ruby?” Tanya nya dingin.
Ahh. Sejak tadi dia meneliti bekas merah ini.
Aku mengangguk ragu sebagai jawaban.
Alexander beranjak dari kursi nya dan pindah ke kursi yang tepat disamping ku, gerakan tiba-tiba nya membuat ku terkejut.
Dia menyentuh leher ku, belum sempat aku mengindar Alexander sudah lebih dulu menahan lengan ku membuat ku tidak bisa bergerak.
”Apa masih sakit?” Tanya nya datar.
“Sedikit” Jawab ku jujur.
“Apa kau masih sakit?” Tanya nya lagi ada raut khawatir diwajah nya, meski hanya sekilas.
“Tidak Yang Mulia, sudah lebih baikan” Aku berusah tersenyum dan melepaskan jemarinya dari leherku.
“Apa Yang Mulia memanggil hamba kemari untuk membahas perihal pendapat hamba saat rapat pejabat?” Ucap ku berusaha mengalihkan perhatian nya.
Alexander mengangguk dan meraih gulungan kertas yang sejak tadi terletak di meja lalu menyerahkan nya padaku.
“Buka dan bacalah” Perintah nya singkat.
Sesuai perintah, ku buka gulungan kertas itu dan membaca isi nya setelah beberapa menit aku masih tidak bisa memahami isi kertas ditangan ku.
__ADS_1
“Emm—Yang Mulia, apa maksudnya?” Tanya ku ragu.
“Kau tidak bisa membaca” Cerca nya kesal.
“Hamba bisa membaca, tapi tidak paham maksud dari gambar-gambar ini” Tunjuk ku pada bagian gambar yang tidak aku mengerti.
Untuk mengerti dan membaca tulisan tangan orang-orang pada zaman ini saja aku harus belajar ekstra pada Lela dan sekarang bagaimana bisa aku menerjemahkan gambar-gambar abstrak ini tuan!
“Ini waktu perkiraan bulan surga timbul”
Aku melihat kertas ini dan Alexander bergantian, masih tidak paham.
“Kau memang bodoh, kalau bodoh begini bagaimana kau bisa melawan para pejabat di rapat pejabat berikutnya”
“Yang Mulia, bisa jelaskan saja secara lisan. Hamba benar-benar tidak mengerti dengan gambar-gambar ini”
“Kau memerintah ku?“ Sergah nya sewot.
Cih, kenapa sensitif sekali sih.
”Emm bukan Yang Mulia, mana berani hamba memerintah seorang Raja seperti Yang Mulia” Jawab ku tergugup.
“Lalu?”
“Hamba hanya meminta tolong”
“Kau harus membayarnya, tidak ada yang gratis di dunia ini nona Weas—ah tidak apa aku harus memanggil mu nona Lily..?”
Lily? Apa aku tidak salah dengar, Alexander baru saja memanggil ku Lily.
ASTAGA!
__ADS_1
BAGAIMANA BISA!!?
...👑👑👑...