The Heaven Kingdom

The Heaven Kingdom
THK—Tidak Ingin


__ADS_3

...THE HEAVEN KINGDOM...


“Kau tidak menolak duduk berduaan dengan Duke Eros dipinggir danau biru tapi sekarang kau menolak saat ku suruh duduk!?” Sentak nya marah.


Kenapa Leon terus sih yang dibahas, aku dan Leon hanya duduk bersampingan tidak pangku-pangkuan jelas aku tidak masalah sedangkan pria ini menyuruh ku untuk duduk dipangkuan nya. Wajar kan jika aku menolak.


“Bukan begitu Yang Mulia, hamba hanya merasa tidak pantas” Jawab ku.


“Bangun sekarang atau ku tebas kepala mu!” Ancam nya sambil menarik pedang yang selalu tersimpan dibalik punggung nya.


Mendengar ancaman dan gesekan suara antara pedang dan sarungnya itu aku langsung berdiri meski tidak langsung duduk dipangkuan nya.


“Am ampun Yang Mulia” Aku memohon dengan tubuh gemetar ketakutan.


“Kau takut, kalau begitu ikuti perintah ku karena aku tidak pernah main-main dengan ancaman” Jawab nya sambil mendorong kembali pedang nya kedalam sarung.


Aku mengangguk tanpa menjawab, siapa yang tidak takut jika kau bicara dengan suara menakut kan itu ditambah gerakan cepat mu menarik pedang. Bisa saja dalam hitungan detik kepala ku sudah gelinding dibawah kaki nya.


“Duduk disini atau—“


Grep


Dengan gerakan cepat aku sudah melayangkan tubuh untuk duduk dipangkuan nya, benar aku harus gerak cepat sebelum pedang itu menebas leher ku yang mulus ini.


Sesaat bisa kurasakan tubuh nya membeku begitu aku duduk diatas pangkuan nya, hanya sesaat setelah itu tubuh kekar nya duduk menyender dengan santai.


“Kenapa kau tegang sekali, lebih nyaman duduk dengan Duke Eros ya?” Tanya nya penuh selidik.


Astaga! Eros lagi Eros lagi, kenapa tidak ada habis nya kau menyinggung Duke Eros.

__ADS_1


“Tidak Yang Mulia ini nyaman” Ucapan ku tidak sepenuh nya bohong, karena memang duduk dipangkuan nya sangat nyaman ditambah aroma tubuh nya yang menenangkan ini.


Tapi yang membuat ku tidak nyaman adalah ini pertama kali nya aku duduk dipangkuan pria dewasa dan—kekasih wanita lain. Jiwa suci ku meronta penuh penolakan, nona Ruby maafkan aku.


“Bagus”


Dengan lancang kedua tangan nya melingkari pinggang ku dari samping setelah itu dia menumpukan dagu nya di pundak kiri ku.


Menyadari gerakan tidak nyaman ku dia semakin mengeratkan tangan nya dipinggang ku dan bertanya.


”Kenapa kau sangat gelisah?”


Apa dia bodoh menanyakan hal yang sudah jelas dia tahu jawaban nya, bagaimana kalau ada seseorang yang menerobos masuk ke ruangan ini dan mendapati aku yang duduk dipangkuan Raja. Sudah pasti aku menjadi pihak yang disalahkan karena menggoda Raja padahal sebenarnya adalah korban kemesuman Raja.


“Hamba hanya takut jika ada seseorang yang masuk keruangan ini dan melihat kita” Jawab ku.


”Katakan tujuan mu menemui ku” Ulang nya lagi tanpa menghentikan kegiatan nya mengendus leher ku.


“Dengan posisi begini Yang Mulia?” Cicit ku pelan dan dia hanya menjawab dengan anggukan tanpa dosa.


Sabar\~


Sabar\~


Berulang kali aku membaca mantra dan menarik nafas pelan guna menenangkan diri.


“Apa mulia tahu kapan bulan surga timbul?” Aku bertanya langsung untuk mempersingkat waktu.


“Aku tidak tahu”

__ADS_1


“Kenapa tidak tahu, bukan kah hanya Yang Mulia Raja yang bisa menebak kemunculan bulan surga?” Tanya ku mendesak.


“Tidak tahu dan tidak mau tahu!” Jawab nya tegas terus mengeratkan rengkuhan nya dipinggang ku.


“Yang Mulia tidak boleh acuh begitu karena bagaimana pun kemunculan bulan surga itu berarti untuk Yang Mulia sebagai pemimpin masa depan” Duh, kenapa aku jadi lancang begini menasehati nya.


“Tidak juga, muncul atau tidak nya bulan surga itu aku tetaplah pemimpin masa depan” Jawab nya dingin.


“Maksud ku hari itu berarti karena merupakan hari penobatan calon Ratu masa depan jadi Yang Mul—“


“Kau menantikan hari itu?” Tanya nya memotong ucapan ku.


Apa aku bisa menjawab jujur, kalau bisa aku ingin menjawab TIDAK!


Ini bukan karena aku menyukai Alexander hanya saja fakta yang baru ke ketahui dari pria asing yang aku temui dipasar beberapa waktu lalu membuat ku bimbang.


“Kalau menjawab iya, maka aku tidak segan untuk menebas leher mu disini”


Aku mendongak menatap tepat dimata biru menyala milik Alexander, sekilas aku bisa melihat pancaran sedih yang berusaha dia sembunyikan dibalik tatapan tajam nya.


“Tidak! Aku tidak menantikan hari itu—“ Aku mengangkat tangan ku dan tanpa sadar mengelus rahang kokoh nya.


”Justru aku berharap hari itu tidak datang” Jawab ku lantang.


Alexander terpaku sesaat dan memejamkan matanya seperti tengah menikmati sentuhan ku. Setelah itu aku dengar dia bergumam pelan dan aku tidak bisa mendengar nya.


”Aku juga tidak berharap hari itu datang jika bukan kau yang ada di sisi ku”


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2