
Bubur dalam mangkuk ku habis tak bersisa, seperti nya makan memang adalah bakat alami ku. Jadi meski dalam keadaan sakit dan tidak berselera makan, aku tetap bisa menghabiskan semangkuk bubur.
Huehehe
“Silahkan nona” Lela yang sejak tadi berdiri disamping meja ku menggeser mangkuk ramuan obat itu.
“Aku minum nanti saja Lela, perut ku sudah penuh” Lirih ku pelan sambil meraba perut datar ku.
“Tapi nona harus segara meminum nya selagi hangat” Pinta Lela lagi.
“Perut ku akan kembung jika meminum ramuan itu sekarang, sudalah nanti saja. Aku ingin rebahan sebentar” Ucap ku pelan.
Kebiasaan yang buruk tapi menyenangkan yaitu rebahan setelah makan.
Haha jangan ditiru ya!
“Tapi nona, tuan Ragnar akan marah jika saya tidak memastikan nona meminum ramuan obat ini sekarang” Lirih Lela.
Langkah ku terhenti, menoleh kearah Lela dengan tatapan ragu.
“Ragnar?” Beo ku.
“Benar nona, tadi tuan Ragnar memerintahkan hamba untuk memastikan nona menghabiskan makanan dan segera meminum ramuan obat ini. Jika tidak hamba dan seluruh pelayan dapur akan dihukum” Lela berucap ragu sambil menunduk.
“Apa benar Ragnar begitu?” Tanya ku ragu.
Kami tidak bertemu lagi setelah kejadian dihari rapat pejabat itu, bahkan aku kira dia tidak mengetahui jika aku sedang sakit karena dia tidak menemui ku begitupun Emmett.
__ADS_1
Tapi diluar perkiraan, Ragnar bahkan mengancam pelayan untuk memastikan ku untuk makan dan meminum obat.
Bayangan raut wajah marah Ragnar pada hari itu membuat ku terharu, dia melindungi ku dari amukan pejabat Ruby dan tidak ragu mengancam balik pejabat Ruby jika berani melukai ku lagi.
“Benar nona, sejak kemarin tuan Ragnar terus menanyakan keadaan nona Anne pada hamba”
Jawaban Lela membuat ku semakin terharu atas perhatian Ragnar, meski dia tidak menyampaikan rasa khawatir nya secara langsung.
Aku menghela nafas lelah, baiklah kali ini aku harus menghargai rasa khawatir nya dan juga demi keberlangsungan hidup pelayan di kediaman ini. Aku yakin jika Ragnar tidak pernah main-main dengan ancaman nya.
“Baiklah” Aku kembali duduk dan meraih mangkuk berisi ramuan obat.
Ditegukan pertama tidak ada rasa pahit sedikitpun layaknya obat pada umum nya, ramuan ini manis seperti teh rasa melati. Jadi dengan dua kali tegukan aku sudah menghabiskan ramuan nya.
“Selesai, sekarang pergilah. Aku ingin istirahat” Pinta ku pada Lela dan kembali berjalan kearah ranjang.
Tidur ku sangat nyenyak sampai melewatkan makan siang ku, tapi sudalah aku juga tidak lapar.
Saat bangun rasanya tubuh ku lebih baik meski masih sedikit lemah, pintu diketuk dan Lela pun muncul dari balik pintu.
“Nona sudah bangun, hamba sudah menyiapkan makanan dan obat. Silahkan dinikmati nona” Lela menunjuk kearah meja.
Aku hanya mengangguk.
“Nona” Sapa Lela menganggu kegiatan ku mengumpulkan nyawa.
“Hm?“ Jawab ku berdehem.
__ADS_1
“Saat siang, pengawal Raja datang untuk menyampaikan pesan dari Raja”
“Pesan apa?” Tanya ku tanpa minat.
“Yang Mulia Raja meminta nona untuk segera menemui beliau” Lanjut Lela.
“Kau tidak bilang jika aku sedang sakit?” Kesal ku, untuk apa dia meminta ku menemui nya disaat seperti ini.
“Sudah nona, tapi pengawal itu bilang jika Raja memaksa.
Astaga, apa pria itu tidak berperikemanusiaan hah?
Orang sakit, dipaksa-paksa yaa meski badan ku sudah terasa lebih baikan tapi tetap saja aku malas bertemu dengan nya.
“Untuk apa memaksa ku kesana?”
“Pengawal bilang jika Yang Mulia Raja ingin membahas lebih lanjut perihal pendapat nona saat rapat pejabat” Jawab Lela.
Membahas lebih lanjut?
Bukan kah, dia bilang akan mengadakan rapat berikut nya untuk hasil rapat.
“Baiklah Lela, bantu aku bersiap!” Seru ku semangat.
“Tapi non—“
“Aku tidak bisa menolakkan?” Sambar ku sebelum Lela beralasan.
__ADS_1