
“Yang Mulia mengatakan sesuatu?” Tanya ku polos, berpura-pura tuli adalah jalan terakhir saat kau dalam keadaan genting.
Alexander menaikkan alis nya acuh lalu menyeringai tipis membuat ku merinding, sepertinya dia tahu aku sedang mengelak.
“Tidak” Jawabnya singkat.
“Lalu Yang Mulia, apa hanya dengan gambar ini kita bisa mengira kapan bulan surga timbul?”
Alihkan pembicaraan\~
Alihkan pembicaraan\~
Aku terus mengulangi mantra di kepala ku, berharapa Alexander terpengaruh dan tidak membahas lehih lanjut perihal nama “Lily”.
Sejujurnya aku sangat penasaran dari mana dia tahu nama ku, ah Leon!!
Hanya Leon yang tahu nama itu, seperti nya Leon tukang gosip itu menyampaikan nya pada Alexander.
Tapi tunggu—
Bukankah Leon sudah lama tidak berkeliaran di istana ini, terakhir kali bertemu Leon bilang dia akan pergi bertugas dalam waktu cukup lama. Lalu….
“Mengerti nona!” Sentak Alexander menyadarkan ku dari lamunan.
“Hah!?” Jawab ku refleks dengan wajah bodoh yang alami.
“Ah mohon maaf Yang Mulia, hamba melamun”
“CK! Kau membuat ku kesal” Alexander merebut gulungan kertas ditangan ku dan membanting nya ke meja.
__ADS_1
“Ma…maaf Yang Mulia” Aku langsung turun dari kursi dan duduk bersimpuh meminta ampun, begitulah cara yang benar saat meminta maaf pada Yang Mulia Raja. Kata Lela sih.
“Bangun!” Perintahnya pelan.
Aku menurut, tapi lebih memilih berdiri saja sambil menunduk.
Gerakan tiba-tiba itu sedikit membuat ku oleng saat akan berdiri sampai mundur selangkah dan menekan pangkal hidung guna mengurangi rasa pusing dikepala ku.
“Kau kenapa?” Alexander berdiri panik dan meraih pundak ku.
“Ti…tidak Yang Mulia, hanya sedikit pusing” Aku terus menekan pangkal hidung ku meksi tidak mengurangi rasa pusing itu sendiri.
“Duduklah, akan aku panggil pelayan” Alexander membantu ku duduk lalu pamit keluar sebentar.
Tidak berapa lama dia kembali dengan seorang pelayan pria dibelakang nya membawa nampan.
Pelayan pria itu dengan telaten menyusun isi nampan yang dia bawa ke meja, lalu pamit undur diri.
Lagi, ramuan obat?
Aku ingin menolak, tetapi tatapan datar Alexander sangat menakutkan.
Kuraih mangkuk tersebut dan ku habiskan cairan nya dalam sekali tegukan.
“Terimakasih Yang Mulia”
“Jika kau masih pusing, kenapa tetap datang kesini” Tanya nya tidak tahu malu.
Sialan! Dia yang memaksa ku datang kemari dan sekarang bertanya seperti itu.
__ADS_1
“Tidak apa Yang Mulia, hamba tidak mungkin menolak titah Yang Mulia” Jawab ku sok manis.
“Yang Mulia, bisa Yang Mulia jelaskan lagi maksud dari gambar dikertas itu?” Aku menunjuk gulungan kertas yang teronggok menyedihkan di meja.
“Kenapa kau ingin tahu sekali kapan bulan surga timbul?” Tanya nya penuh selidik.
“Karena, hamba ingin menyaksikan hari penobatan pendamping Raja” Jawab ku asal, kan tidak mungkin aku katakan niat ku sebenarnya.
“Ah benarkah, kau tidak sabar menunggu hari itu ya?” Dia mengangguk paham.
Tidak!
Sejujurnya aku ingin mengacaukan hal yang harus terjadi hari itu, tapi sampai sekarangpun aku tidak tahu harus melakukan apalagi.
“Bagaimana dengan pendapat mu saat rapat pejabat, kau tidak memperjuangkan mya?”
Aku menggeleng ragu, “Seperti Yang Mulia tahu, aku menerima banyak penolakan karena dianggap meragukan kebijakan kerajaan bahkan sampai mendapat tindak kekerasan seperti ini” Aku mengelus bekas merah dileher ku tidak lupa memasang wajah penuh kesedihan.
Aku harus bersandiwara sedikit menyedihkan, jika dia memang benar menyukai Roseanne sudah pasti tidak akan membiarkan Anne sedih.
Alexander masih bergeming tapi tetap tidak melepaskan pandangan nya dari ku.
“Baiklah”
“Baiklah?” Beo ku tak sadar.
“Kalau kau mau memperjuangkan pendapat mu, aku bisa membantu sedikit”
Kenapa harus sedikit, bukan nya kau seorang Raja harusnya perintah mu adalah hal mutlak yang harus dituruti siapapun.
__ADS_1
“Aku tidak bisa banyak membantu, karena ketika seorang Raja meragukan kebijakan isebelum nya itu sama saja aku meragukan leluhur ku”
...👑👑👑...