
“Kau—mem…bunuh nya?”
Dia mengangguk santai tanpa rasa bersalah sedikitpun di matanya.
“Breng…sek kenapa kau membunuh nya” Persetan dengan rasa hormat, pria brengsek seperti Alexander tidak pantas mendapat nya.
“Kau yang membunuh nya bukan aku”
Aku mengangkat wajah langsung bertemu pandang dengam mata biru terang menyala milik nya.
“Aku ti—“
“Kau tidak ingat dengan janji mu? kau sudah berjanji pada ku tidak akan menemui nya, tetapi tadi pagi dengan niat kau berbohong pada dua pelayan mu dan menemui dia” Ucap nya memotong ucapan ku.
“Apa urusan mu jika aku menemui nya, aku tidak perlu ijin dari mu untuk menemui siapapun karena kau bukan siapa siapa!“ Seru ku marah.
“Sebenarnya aku ingin menebas kepala nya di hadapan mi seperti ucapan ku beberapa waktu lalu, tapi kau pingsan nya terlalu lama. Jadi aku selesaikan saja tanpa menunggu lama” Dia abaikan ucapan ku tadi.
“Jangan bilang pria aneh yang memanahnya dan membius ku adalah orang suruhan mu?”
Dia mengangguk sebagai jawaban, seketika rasa perih menghantam dada ku.
“Apa tujuan mu melakukan semua ini, kau membunuh orang yang tidak bersalah tanpa tahu apapun. Dia…..AKU HARUS PULANG BERSAMA NYAAA!!” Aku berteriak frustasi pada Alexander,
__ADS_1
Kedua mata ku sudah terasa perih dan berair tetapi dengan segenap rasa benci aku memaksakan tubuh ku untuk berdiri dan mendekati Alexander.
PLAK!
“Sialan! Brengsek! Baji ngan!” Setelah menamparnya aku memaki nya agar rasa sesak di dada ku sedikit berkurang.
Tidak ada perlawanan dia diam ketika aku menampar dan memaki nya.
Tangis ku pecah “Hikss….Aku harus pulang bersama nya, kami berdua harus pergi dari sini. Huhu” Dengan tergugu aku memegang kedua bahu nya dan menunduk.
Grep
Dengan sekali tarikan aku sudah jatuh di pangkuan nya, dia menyimpan gelas nya di meja. Kini satu tangan nya berada di pinggang ku dan satu nya lagi mengangkat dagu ku perlahan.
Aku menggeleng “ Tidak hiikks…aku tidak menyukai nya. Bahkan sampai sekarang pun aku tidak tahu nama pria pasar itu” Jawab ku tergugu dengan sesekali mengirup air yang keluar dari hidung ku.
Nasib buruk, dia mati bahkan sebelum aku mengetahui namanya lalu bagaimana cara ku mendoakan nya nanti?
Hah lupakan! Itu tidak penting sekarang.
“Lalu kenapa kau begitu kacau seperti ini setelah tahu dia mati?” Dia merapikan anak rambut ku yang berantakan menutupi sebagian wajah ku.
“Dia—“ Ucapan ku terpotong setelah sadar kalau aku harus nya marah sekarang.
__ADS_1
”Brengsek! Kenapa kau banyak bertanya!?” Maki ku kembali, tetapi tidak berusaha bangkit dari pangkuan nya demi apapun kepala ku semakin pusing dan tidak bertenaga untuk sekedar berdiri.
“Haha” Dia tertawa sarkas, entah apa yang lucu aku tidak tahu.
“Kau masih bisa tertawa setelah membunuh rakyat mu yang tidak bersalah, Raja macam apa kau!” Geram ku marah.
“Dia bersalah, karena telah berhasil menarik perhatian mu sampai kau berusaha mati-matian untuk sekedar menemui dan mengobrol dengan nya” Ucap Alexander datar.
“Kau tidak tahu apa-apa tentang ku dan dia, ini bukan sekedar mengobrol biasa. Kita berdua membahas masa depan”
“Masa depan?” Tanya Alexander dan aku mengangguk yakin.
“Ya masa depan, hal yang menentukan hidup dan mati kami berdua” Jawab ku.
Sejujurnya aku merasa bersalah pada pria pasar itu, bagaimanapun kematian nya adalah kesalahan ku. Andaikan aku mengingat janji dengan Alexander dan tidak datang menemui nya, pasti sekarang dia masih hidup dan berdagang dipasar.
Maafkan aku!
“Kau ingin menikah dengan nya di masa depan?” Pertanyaan tidak masuk akal itu keluar dari bibir Alexander.
“TIDAK BODOH!! AARRGHHH KAU MEMBUAT KU GILA!!”
...👑👑👑...
__ADS_1