
...*T*he Heaven Kingdom...
...👑...
“Ah jadi kau gelisah karena mengantuk nona Weasly?”
Aku mengangguk, aku adalah orang yang mudah sekali mengantuk ketika dalam perjalanan.
“Haha..aku memang begitu, abaikan saja”
Aku hanya menyengir tanpa dosa, lalu menyenderkan kepala ku ke sandaran kursi dan membuang pandangan keluar jendela kereta.
“Kau boleh menyandar padaku nona, kalau merasa tidak nyaman”
Tawaran yang menyenangkan dari pria yang tampan, tapi aku harus menjaga image ku dihadapan orang-orang ini dan tatapan tajam dari pria yang duduk disamping kekasih nya itu membuat ku merinding.
“Tidak perlu Tuan emm—“
Aku belum menemukan sebutan yang cocok untuk pria tampan ini, karena ini merupakan pertemuan pertama ku dengan nya.
“Jangan panggil tuan, panggil Duke Eros saja nona”
Ah! Dia sangat peka.
“Apa boleh memanggil mu dengan sebutan Leon?”
Aku kurang mengerti sistem jabatan kerajaan di dunia novel ini, yang aku tahu Duke itu hanya seseorang yang jabatan nya setingkat dibawah Raja yang bertugas untuk menjaga suatu wilayah teritorial dibawah kepemimpinan kerajaan tersebut.
“Tidak boleh nona Weasly”
Bukan Leonidas yang menjawab tetapi Aurelia yang sedang menatap ku lembut, tapi bisa ku simpulkan tatapan nya itu seolah mengatai ku bodoh.
“Bagaimanapun kedudukan Duke Eros lebih tinggi dari padamu nona Weasly, kau hanya seorang puteri perdana menteri tidak sepantas nya kau hanya menyebut dengan nama. Apa Tuan Emmett tidak mengajari puteri nya tata krama”
Ya ya aku tahu kalau aku hanya puteri perdana menteri disini, tapi tidak perlu kau perjelas juga membuat ku rendah diri saja.
“Kalau begitu maaf kan atas ketidak sopanan puteri perdana menteri ini, Duke Eros”
Aku sengaja menekan setiap kata biar mereka tahu kalau aku sadar diri.
“Tidak mengapa nona Weasly, kau bebas memanggil ku apa saja”
Dia tersenyum tipis kearah ku.
“Tidak boleh, aku harus mengikuti perintah calon Ratu kita. Benarkan nona Aurelia Ruby?”
Aku menatap Aurelia Ruby dan tersenyum tipis, secara tidak langsung sejak tadi dia seolah mempertegas siapa dia dan siapa aku.
Aku tersentak ketika Leonidas bergeser mendekat kearah ku dan berbisik pelan ditelinga ku.
”Kau bisa memanggil ku Leon ketika hanya ada kita berdua, nona…Anne?”
Suara berat dan hembusan nafas hangat nya membuat ku meremang, dan tiba-tiba wajah ku terasa panas.
Dan tadi apa katanya…aku diizinkan memanggil Leon disaat kita hanya berdua?
Ugh! Aku merasa di spesial kan oleh nya.
“Wajah mu memerah nona Weasly”
Astaga pria ini tidak tahu apa aku sedang salah tingkah, kenapa dia tambah menggoda ku.
“Ah tidak, itu hanya efek karena aku mengantuk”
Buru-buru aku menggeser duduk ku ke pojok. Menjauh dari nya.
Tidak sengaja mataku bertemu pandang dengan mata tajam Alexander, kenapa dia menatap ku seperti orang sedang marah?
Apa aku melakukan kesalahan?
Ah abaikan dia!
Aku bersandar nyaman lalu memejam kan mata menutup sepenuh nya kepala ku dengan tudung jubah yang ku kenakan.
.
.
Setelah dua hari perjalanan, akhirnya kami berhenti di salah satu pedesaan yang kecil.
Para pelayan sibuk mendirikan tenda-tenda tempat peristirahatan dan tidak jauh dari sini ada sungai yang menjadi sumber mata air penduduk setempat.
__ADS_1
Disaat semua orang sibuk berberes aku justru memilih untuk duduk di bebatuan besar yang terletak dipinggir sungai, pemandangan sore hari ini sangat bagus. Langit yang mulai menguning, bunyi gesekan dedaunan yang ditiup angin dan suara aliran air sungai adalah perpaduan yang sangat pas.
“Nona Weasly”
Aku menengok dan melihat Duke Eros berjalan mendekati ku.
“Ya ada apa, Duke Eros?”
Kenapa dia bisa tahu aku ada disini.
“Tidak ada, aku hanya ingin bergabung dengan mu. Apa boleh?”
”Oh tentu saja boleh, silahkan”
Aku menggeser duduk ku memberi ruang untuk dia duduk.
“Sedang apa disini?”
Kami sudah duduk bersampingan diatas batu besar.
“Hanya menikmati langit sore”
Dia mendongak mengikuti ku memandang kelangit yang menguning.
“Apa kau menyukai langit sore nona Weasly?”
”Tidak juga, aku hanya sedang merindukan seseorang yang menyukai langit sore”
“Benarkah? Apa aku boleh tahu siapa yang sedang nona Weasly rindukan”
Aku menatap nya sekilas lalu kembali mendongak menatap langit.
“Diriku sendiri”
Cicit ku pelan, aku harap dia tidak mendengar jawaban ku.
“Kau merindukan diri mu sendiri, begitu?”
Dia sudah terlanjut mendengar jawaban ku, jadi ku teruskan saja.
“Ya, aku merindukan diri ku sendiri. Apa aku baik-baik saja disana?” apa…”
Kalimat ku menganggantung otak ku membayangkan beberapa kemungkinan buruk yang terjadi pada tubuh asli ku.
”Apa kau pernah merasa merindukan diri mu sendiri Duke Eros?”
Aku harus mengalihkan pembicaraan sebelum otak bodoh ku bicara asal.
“Panggil Leon saja, kita sudah berjanji bukan?”
Aku kira dia hanya bercandaa saat dikereta.
“Baiklah aku ulangi, apa kau pernah merasa merindukan dirimu sendiri Leon?”
”Selalu, tetapi kau baru saja mengobati rasa rindu ku nona Weasly”
Aku langsung menatap nya bingung dan dia hanya terkekeh tampan.
“Dengan kau memanggil ku Leon, itu sudah mengobati rasa rindu yang kau maksud”
Ku lihat dia mendongak rambut hitam nya tertiup angin pelan menambah kadar ketampanan nya dimata ku.
“Sudah lama sekali sejak terakhir kali ada seseorang yang memanggil ku dengan sebutan Leon, sekitar sepuluh tahun yang lalu”
Tatapan nya kosong dan terlihat menerawang ke masa lampau.
“Berarti kau merindukan diri mu yang dipanggil Leon?”
Hanya itu yang bisa kutangkap dari ceritanya.
“Ya benar, karena seseorang yang biasa memanggil ku Leon sudah tiada”
“Siapa Leon?”
“Ibuku”
Ibunya sudah meninggal? Aduh aku jadi merasa tidak enak kalau begini.
“Maaf, aku tidak bermaksud mengingatkan mu Leon”
Dia hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
”Tidak apa, aku sudah cukup senang kau mau memanggilku Leon. Kau tahu? Mereka selalu memanggil ku Duke Eros, tuan dan lain-lain. Membuat ku muak”
“Hahaa, memang seharus nya begitu. Tapi tenang saja kalau kau merindukan dirimu lagi datang saja padaku. Aku akan ada untuk mengobati rindu mu…Leon”
“Coba panggil Lagi”
Pinta nya sambil menatap ku lekat.
“Leon..”
“Lagi!”
“LEON! LEON! LEON! LEON! LEEEOOOONNN!!”
Aku berteriak terus memanggil nama nya.
”Sudah puas?”
Dia tertawa lebar yang menambah kadar ketampanan nya dimataku, lalu tangan besar nya mengacak surai panjang ku.
“CK! rambut ku berantakan!”
Seru kesal menyingkirkan tangan nya lalu merapikan kembali rambut ku.
“Kau lucu sekali nona Weasly”
Ucapan nya membuat ku menunduk malu, siapa yang tidak malu jika dipuji lucu oleh pria tampan.
“Kau tidak seperti yang ku kira Leon”
Ucapku setelah dia selesai dengan tawanya.
“Memang nya kau mengira ku seperti apa?”
“Awalnya aku kira kau orang yang menyeram kan, galak dan kejam”
Aku menjawab jujur, meski aku selalu memuji nya tampan tapi tetap saja saat pertama melihat nya dia menyeramkan.
“Wah benarkah? Lalu sekarang aku orang yang seperti apa?”
Tanyanya lagi.
“Ternyata kau orang yang baik dan tentu saja bisa diajak bercanda…”
“Tidak seperti Alexander”
Bisik ku pelan, takut ada orang yang mendengarkan obrolan kami.
“Alexander? Maksud mu Yang Mulia Raja?”
Aku mengangguk semangat.
“Apa kau juga memanggil nya dengan sebutan nama?”
Dia menatap ku penasaran.
“Awalnya begitu, tetapi kekasih nya langsung memarahi ku”
“Sudah pasti nona Ruby memarahi mu karena tidak ada orang yang berani memanggil seorang Raja dengan sebutan nama. Astaga kau berani sekali”
Dia menggerutu pelan.
“Lupakan kebodohan ku dan sekarang aku sudah memanggil nya dengan benar”
”Syukurlah kau sadar sebelum kepala mu penggal pejabat istana…hahahah”
Aku hanya berdecak sebal karena dia menertawai ku yang tidak tahu apa-apa.
“Tunggu…apa karena itu Yang Mulia Raja terus memperhatikan mu?”
“Maksudnya?”
“Selama perjalanan ini, aku selalu memergoki kalau Yang Mulia Raja terus memerhatikan mu”
“Aku sudah memanggilnya dengan benar, tidak memanggil Alexander lagi”
”Lalu, kenapa dia terus memerhatikan mu. Apa karena dia menyukai mu?”
Sontak aku memukul bahu nya kuat.
”Jangan asal bicara, nanti ada yang dengar dan salah paham”
__ADS_1
...👑👑👑...