
...THE HEAVEN KINGDOM...
Siang ini cuaca nya cukup sejuk dengan angin sepoi yang bertiup menerpa wajah ku, aku masih duduk di tepian danau biru seorang diri menunggu Lela menjemput ku.
Aku duduk bersandar sambil menunduk dalam, rasa sakit diperut ku tidak berkurang sedikitpun meski sudah beberapa kali aku mengelus dan menekan nya pelan. Ku tebak, pasti tendangan Emmett tadi meninggalkan bekas membiru.
Apa disini ada dinas pemberdayaan perempuan tidak ya? aku ingin melaporkan perlakuan Emmett tadi. Aiihh sudalah.
Hufftt
"Kenapa kau terus mengehela nafas, seperti orang tua saja" Teguran suara yang tidak asing itu membuat ku langsung duduk tegak dan menengok ke sumber suara.
"LEONN!!" Seru ku girang, melihat keberadaan Leon membuat ku lupa diri dan bergerak cepat untuk berdiri.
"Ssshh" Sial, aku lupa perut ku.
"Eh! kenapa, ada yang sakit?" Dengan panik Leon mendekati ku.
"Ah tidak apa-apa aku hanya kesenangan melihat mu sampai lupa diri..hehe" Aku menyengir bodoh membuat Leon berdecih.
"Ada luka diperut mu?" Tanya Leon sambil memerhatikan tangan ku yang masih setia memegang bagian perut.
"Hem..hanya luka kecil" Aku tersenyum untuk menutupi kebohongan ku, luka kecil apa nya!
Leon menghela nafas "Duduk lah" Leon membantu duduk dengan pelan, setelah itu dia juga duduk disamping ku.
"Katakan ada apa? kenapa perut mu bisa sakit, kau terjatuh?" Leon mencecar ku dengan pertanyaan dan bisa ku lihat dia menatap ku khawatir.
Bahkan Leon yang orang lain saja bisa khawatir pada ku sedangkan ayah dan kakak ku sendiri, tidak peduli sama sekali. Dunia yang kejam.
"Kau sudah kembali dari bertugas?" Ucap ku mengalihkan pembicaraan.
Lagi-lagi Leon hanya mendengus melihat ku yang mengalihkan pembicaraan.
"Hemm..hanya dua hari lalu aku akan pergi lagi"
"Apa seorang Duke sesibuk itu?" Aku tidak tahu tugas seorang Duke secara detail, yang aku tahu seorang Duke adalah orang yang memimpin suatu wilayah yang berada di kekuasaan kerajaan itu.
"Hem begitulah, aku tidak seperti mu" Ucap Leon ketus menyindir ku.
__ADS_1
"Cih sombong sekali, aku juga bosan kalau tidak ada kerjaan seperti ini. Bagaimana cara nya agar aku bisa sibuk seperti mu?" Aku bertanya antusias.
Leon melirik ku sekilas dan membuang pandangan kaerah danah biru "Kau harus menjadi seorang Duchess" jawab nya kemudian.
"Benarkah? Lalu bagaimana cara ku untuk mendapatkan gelar Duchess itu?" Aku tertarik, setidak nya kalau aku memiliki jabatan ataupun gelar dikerajaan ini aku. Hidup ku sedikit terjamin dan sudah pasti bisa membantah si tua Emmett.
"Menikah dengan ku" Jawaban singkat Leon membuat membuat ku melongo.
"Kau bercanda, hahaha" Aku tertawa bodoh demi mengurangi suasana yang tiba-tiba canggung ini
"Aku tidak bercanda, untuk menjadi seorang Duchess kau harus menikah dengan seorang Duke. Dan aku adalah Duke berarti dengan kata lain kau harus menikah dengan ku baru bisa mendapat kan gelar Duchess" Leon menjelaskan panjang lebar
Aku mengangguk paham "Tapi aku tidak mau menikah dengan mu" Aku menjawab jujur.
"Eekkhmm....Aku tidak sedang melamar mu, tadi hanya perumpamaan saja" Leon berdehem parau gerakan nya juga terlihat sedikit salah tingkah.
"Aku mengerti...tapi..." Ucapan ku tergantung karena tiba-tiba ada pertanyaan muncul di kepala ku.
"Oh iya, Leon! Kau tahu tentang ramalan pemimpin masa depan?" Tidak mungkin Leon tidak tahu, dia penduduk asli di sini.
"Aku tahu, kenapa?"
Tadi, Emmett dan Ragnar membahas masalah ramalan pemimpin masa depan yang membuat ku penasaran.
"Harus nya kau tahu, karena kakak dan ayah mu adalah pejabat di istana--" Ucapan Leon berhenti dan belum sempat aku menjawab dia sudah lebih dulu melanjutkan "Astaga! aku lupa kalau kau bukan Roseanne yang asli"
"Syukurlah kau masih ingat, aku bukan penduduk asli di negeri ini aku tidak tahu persoalan ramalan pemimpin masa depan Leon. Jadi bisakah kau beritahu aku" Ucap ku memohon.
"Baiklah, jadi ramalan pemimpin masa depan itu adalah tradisi turun temurun yang dilakukan keluarga kerajaan untuk menentukan pemimpin di masa depan. Contoh nya Yang Mulia Raja saat ini adalah hasil dari ramalan pemimpin masa depan" Ucap Leon menjelaskan.
"Lalu siapa yang melakukan ramalan?" Aku mengernyit bingung.
"Peramal kepercayaan kerajaan" Jawab Leon.
"Emm..apa orang disini masih percaya dengan ramalan?" Aku tahu, novel The Heaven Kingdom imi berlatar zaman kerajaan. Tapi aku hanya tidak percaya jika tokoh-tokoh nya sangat mempercayai ramalan.
"Memang nya kenapa di dunia mu orang-orang tidak percaya ramalan?" Tanya Leon menatap ku.
"Yaa seperti itu, namanya juga ramalan yang tidak ada jaminan kebenaran tentang sebuah ramalan. Contoh nya ramalan cuaca di ponsel ku yang sering salah. Yang kata nya cerah ehh.. malah hujan deras. Hahaha....juga rasanya sedikit lucu, ketika para pemimpin ditentukan dan dipilih melalui sebuah tradisi ramalan. Sangat berbeda dengan di dunia ku" Mendengar ucapan ku Leon langsung menengok.
__ADS_1
"Ah maaf, bukan maksud ku membandingkan mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk. Jangan tersinggung" Aku buru-buru meminta maaf sebelum Leon salah paham.
"Tidak tersinggung, memang nya di dunia mu bagaimana?"
"Di dunia ku, para pemimpin dan pejabat akan dipilih melalui tahapan yang namanya pemilu, Mengumpulkan semua suara rakyat lalu dengan pemilik suara terbanyak maka dialah yang menang dan jadi pemimpin" Aku hanya ingin menjelaskan secara sederhana, karena kalau dijelaskan secara rinci Leon akan ikut stress apalagi jika menyangkut tentang kecurangan-kecurangan oknum yang tidak bertanggung jawab dalam kegiatan pemilu.
Eekhhmm! kembali ke topik.
Leon hanya mengangguk, aku tidak paham dia mengerti atau tidak.
"Apa hanya Raja saja yang dipilih melalui ramalan pemimpin masa depan atau semua pejabat kerajaan juga?" Tanya ku.
"Tidak hanya Raja tetapi pendamping Raja juga dipilih melalui ramalan pemimpin masa depan"
Sebentar....otak ku tidak bisa memproses informasi yang diberikan Leon.
"Maksud nya?" Cicit ku pelan.
"Yaa...Pedamping Raja atau yang disebut Ratu"
"Jadi maksud nya, Raja tidak bisa memilih pendamping hidup pilihan nya sendiri? semua ditentukan sesuai ramalan itu?" Leon mengangguk menjawab pertanyaan ku.
Kalau itu benar berarti Alexander dan Aurelia Ruby bukan lah sepasang kekasih yang sebenar nya, maksud ku. Mereka berdua menjadi sepasang calon pemimpin masa depan yang telah diramal kan.
Astaga! Fakta apalagi ini.
"Berarti....Nona Ruby--"
"Yaa nona Ruby terpilih saat ramalan pendamping Raja digelar" Ucap Leon memotong kalimat ku.
Aku terkejut, aku pikir seorang Raja adalah satu-satu nya orang yang bebas dalam melakukan apapun semau nya. Tetapi mengetahui fakta ini membuat ku berpikir ulang, bahkan Alexander tidak bisa memilih pendamping yang sesuai keinginan nya.
Tidak! bagus saja kalau Alexander benar-benar menginginkan nona Ruby menjadi pendamping nya, dia tidak akan kesulitan.
Tetapi bagaimana jika Alexander terpaksa? Dan entah kenapa otak ku tiba-tiba memutar ulang semua tingkah mesum Alexander terhadapku.
Dia mencium, memeluk bahkan membawa ku keranjang nya saat dia sudah memiliki calon pendamping. Apa aku terlalu percaya diri jika menganggap Alexander sebenar nya menyukai Roseanne tetapi tidak bisa memiliki nya karena ramalan yang telah memilih nona Ruby?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Kasihan banget jadi mas Raaja yak!