Transmigrasi Twins Antagonist

Transmigrasi Twins Antagonist
Part Angga


__ADS_3

Kamar Glory sudah kosong, tidak ada siapapun lagi yang datang lagi untuk menjenguknya


Semua teman temannya sudah pergi pulang. Glory menghela nafas memegang dadanya, dadanya sangat sakit tapi ia tidak bisa mengatakan kepada orang lain. Pelan ia memejamkan mata, ada sesuatu yang mengalir dibagian matanya. Glory mengernyit dan membuka matanya segera. Mengerjab dan menyentuh matanya.


Matanya melebar, darah..!!!! ia tertegun segera mengusapnya pelan, tapi darah itu semakin tidak berhenti., dan malah menyakitkan dirinya, matanya sangat sakit seperti ingin keluar sari sarangnya, Glory tidak bisa menahan diri.


Glory merasa pening, telinganya ikut melengking seperti ada yang berteriak-teriak nyaring dan hendak membunuh nya, Glory ia diam memegang telinganya gelisah dan khawatir, telinganya juga ikut mengeluarkan banyak darah, sangat perih dan menyakitkan. Glory menghela nafas gemetar, tangannya ikut gemetar, ini sangat sakit, semua tubuhnya seperti di potong potong dan dihancurkan dalam satu waktu.


Matanya seperti dicongkel menggunakan sendok dan dikeluarkan secara paksa, didalam telinga nya seperti ada seseorang yang mengorek kuat menggunakan pisau dan mencolok colok kuat hingga berteriak. glory nyaris kehilangan kesadaran karena menahan sakit ini.


Glory menarik nafas pelan menutup telinganya, tidak kuat untuk tetap terdiam.. Glory.memiringkan tubuh dan meringkuk dalam pulukannya sendiri. Memeluk tubuhnya sendiri.


“ Glory,..!!” glory membuka mata pelan tapi ia menggeleng menyuruh siapa yang datang untuk diam.


Angga yang baru saja masuk kaget dan segera mendekati adiknya, tangannya bergetar nanar menyentuh wajah Glory,.” Glory aku pang..” Glory menggeleng memegang tangan Angga.


Angga gugup hendak menangis melihat keadaan Glory sangat mengerihkan. Dimata Glory terus mengeluarkan darah, hidung dan juga telinga. Angga gemetar hendka keluar tapi tangan Glory mencengkram kuat tangannya,. Angga mengerjab menangis. Adiknya, selama ini ia sibuk diluar membantu pekerjaan ayahnya tapi pulang pulang melihat keadaan adiknya begini. Angga memang tidak bicara pada Glory selama Glory sampai, bukan karena tidak peduli. Tapi dirinya masih gugup dan juga tidak nyaman, apalagi adiknya sangat cantik, ada gejolak menolak Glory sebagai adiknya. Angga tidak mau glory menjadi adiknya.


Glory tertidur pelan dan memejamkan matanya, nyawa nya seperti ditarik paksa. Angga mengusap pelan kepala Glory dan mengambil tysu, ikut membantu membersihkan darah yang terus mengalir.” Ry.. dek. Kamu nggak apa apa dek? Dek..” panggil Angga terus menerus disana. Glory terbatuk mengeluarlan banyak darah. Angga terpekik hendak berlari memanggil dokter.


Tapi Glory menahgan tangannya sangat erat. Angga menekan tangan Glory melepaskannya.” LEPAS DEK. BIAR ABANG PANGGIL DOKTER.” Teriaknya nanar kepada Glory.


“ percuma.” Gumam Glory tipis, suara Glory tidak terdengar lagi membuat angga diam mendengar tajam. Glory meliriknya dan berkata.” Gue udah berkali kali priksa tapi nggak ada hasilnya. Ini gue udah ngerasaain sejak gue kecil. Jangan bilang sama siapa siapa, gue nggak mau ada yang khawatir. Gue nggak mau mami papi khawatir.” Bisiknya pelan.


Angga mengusap kepala Glory nanar, ia mengerjab dan air matanya berjatuhan. Tangannya lemas “ tapi kita usaha yah. abang pasti kasih yang terbaik, abang bakal bantu kamu buat sembuh. Kamu jangan nyerah.” Ia baru kali ini melihat penyakit semengerihkan ini. apa adiknya penyakit kanket? Gelenjar getah bening? Atau pengakit gagal ginjal kan? angga tidak tau.


Glory terkekeh, air matanya bercampur dengan darah.” Glory cape, kepala Glory pusing. Abang jangan keluar dan kunci pintunya. Jangan suruh dan jangan beri tahu siapapun. Kalo sampai ada yang tau abang akan tau akibatnya.” Biskk Glory sebelum memejamkan mata ringan. Angga menggigit bibir bawahnya dan memukul bantal. Abang seperti apa dirinya tidak tau adiknya sendiri sakit parah?


Angga merunduk dan menatap Glory terlelap nanar. Padahal tubuhnya masih penuh darah. Angga berdecap mengusap kepalanya bingung. Memeriksa nafas Glory ternyata maish ada. Angga mengambil tisu dan membersihkan bagian wajah, telinga dan juga leher Glory. Angga sangat menyayangi Glory.


Sangat sangat sangat menyayangi. Jika selama ini dia diam bukan karena dia tidak sayang tapi karena sikapnya dingin tidak bisa mudah dekat dengan orang, ia juga masih menyelidiki apakah Glory benar benar adiknya, takut jika ada orang lain menipunya, tetapi ternyata benar. Dan saat ia mengetahuinya Glory dikabarkan sakit. Angga buru buru pulang melihat keadaan sang adik.


Glory terbangun kembali dengan keadaan sudah bersih. Angga membersihkan seluruh darah ditubuhnya bahkan ia sudah mengganti baju luar. Glory mengeliat pelan, tapi ia terhenti sebab ada tangan melingkar diperutnya. Ia melirik ke kanan, disana ada Angga yang tidur memeluknya. Bibirnya terbuka dan juga terlihat sangat lelah dan mata yang bengkak. Glory tersenyum tipis. Glory tau angga ini baik hanya saja cuek layaknya abang abang lain.


Glory menatap jam dinding, sudah jam 4 sore, itu artinya ia tidur selama tiga jam, ia menghela nafas hendka kekamar mandi, tapi perutnya tertahan, pelukan Angga lebh erat.

__ADS_1


Glory menoleh dan mendapati angga yang sudha membuka mata merah khas orang baru bangun tidur.” Kenapa bangun?” tanyanya., Glory menatapnya lempeng.” Yah karena masih hidup. Kalo udah mati yah nggak bangun.” Jelas Glory plong dan polos pada Angga,


Angga segera duduk dan menarik wajah Glory. Glory kaget saat Angga tiba tiba menjentikkan bibirnya kuat. Gloty memegang bibirnya dan menatap angga yang menatapnya mengintimidasi.” Sekali lagi jawabnya gitu sama abang. Abang bakal hukum kamu lebih dari itu.” ujarnya tegas pada Glory.


Glory meneguk saliva keringnya dan juga meringsut menjauh. Angga masiih menatap Glory mengintimidasi. “ nggak asik, nggak bisa di ajak berjanda.” Gumam Glory kepada Angga.


Angga memutar bola matanya.” Iyalah. Abang berduda, kamu baru berjanda.” Ujar Angga tegas.


Glory terkekeh pelan mendengarnya” yah rupa eh rupanya bisa berduda juga abang nih.” Ia memukul pelan lengan Angga.


Angga menahannya dan menarik Glory lebih dekat. Glory kaget menatap kakaknya. Angga mengusap pipi Glory dan menatap Glory sendu.” Kamu sakit apa? Hmm?? masih sakit?” wajah mereka sangat dekat saat kakaknya bertanya


Glory tidak nyaman begini,. Glory menggeleng dan berkata.” Udah hilang, itu udah sering dulu, sekarang udah nggak, baru tadi kumatnya, “ jawab Glory sesantai mungkin.


Angga mendengarnya mencari kebohongan di mata Glory, tapi ia tidak menemukan apapun selain kejujuran. Glory meliriknya dan berkata. “ jangan kasih tau Mami papi takut mereka khawatir.” Jelasnya pelan. Glory tidak mau nanti ia malah menambah kadar luka Glora. Atau bahkan ia dicampakkan karena penyakitnya. Ada banyak pikiran menghantuinya


Angga menggeleng.”Iya. tapi syaratnya kamu harus berobat. Biar abang yang bantu, nemenin dan biayain kamu. Kamu harus sembuh.” Ujar Angga.


Glory mengangguk dan terbatuk,. Batuknya kembali mengeluarkan darah. Angga gelaggapan segera mengambil tysu. Ia memberi pada Glory dan memberikan minum. Glory mengusap dadanya yang terasa perih dan sakit. Kepalanya kembali pening dibuatnya.” Iya Glory kamu nggak apa apa Glory?” Tanya Angga panic.


“ Tapi ada syaratnya.” Ujar Glory tiba tiba.


Rangga menaikan satu alisnya menatap Glory yang bicara tiba tiba. Glory tersenyum.” Glory akan berobat dan nurut sama abang jika abang nurutin syarat dari Glory. Gimana?” Tanya Glory. Angga terdiam mendengarnya, menatap Glory penasaran. Apa yang di rencanakan anak satu ini?


...----------------...


Glora diam di kamarnya, matanya tidak bisa terpejam, terus menangi sepanjang hari melihat nasib buruknya. sudah pukul tuuh dan berarti ia sudah menangis hampur 8 jam lamanya.


Jrekk.. Glora mendongak menatap siapa yang datang. Itu pembantu. Ia mengernyitkan dahinya mengapa ada pembantu mau memasuki kamarnya.


“ non dipanggil tuan tuan buat makan di bawah.” Ujarnya dna sgera pergi. Glora belum menjawab dan mengangguk saja.


Glora siap siap dan bangun dari tidurnya. Glora ingin marah dan kesal, tapi entah mengapa hatinya selalu membunca bahagia saat orang tuanya memberikan sedikit saja perhatian mereka.


Ia merapikan diri, membersihkan muka dan menaruh sesuatu di bawa matanya. Ia juga meneteskan matanya dengan tetesan mata agar tidak terlihat merah. Glora tersenyum sendu dan segera ke bawah.

__ADS_1


Saat turun ia mendapatkan keluarganya dan keluarga lain.. ia terdiam dan duduk di kursi biasa ia duduk., tapi tidak ada Glory disana. dimana dia sekarang? kenapa tidak makan malam juga? Tapi tidak berani ia ucapkan.


” Yaampun, ini kembarannya Glory yah sayang?” Glora menoleh pada wanita yang menggunakan pakaian tertutup dan hijab, lelaki di sebelahnya juga tersenyum dengan brewok tipis tipis menatapnya sayang. Glory di tatap dan dibicarakan selembut itu tersenyum manis dan mengangguk.


“ yaampun sayang, kamu cantik banget. Glory bilang kamu itu wanita kuat dan luar biasa, dia sering ceritain kamu sama kami dan ternyata benar kamu benar benar cantik yah.” cerocos wanita itu lembut mengusap rambut Glory.


Glora menyembunyikan senyumnya dan mengangguk. Meliriknya dengan malu.” Terimakasih.” Ujar Glora lembut.


Komala tertawa mendengarnya dan melirik Panji yang juga tertawa. Tasya dan Faris tersenyum kepada mereka yang sedang membicarakan Glora. “ kami juga bawa oleh oleh dari kota Samara. Dan bawa makan makanan kesukaan kamu. Kamu suka makanan manis kan???” ujarnya segera memberikan beberapa oleh oleh di dalam bag.


Glory mendpaatkan oleh oleh mencelos. Menatap Komala haru dan juga bahagia. Mereka tau ia suka manis dari mana?


” ini buat Glora smeua tante?” tanyanya.


Komala mengangguk na tersenyum,.” Iya sayang..” ujarnya.


“ Yang Glory Ada tante?” Tanya Glora dengan pelan dan takut.


Komala menatap Glory gemas dan mencubit pipinya pelan.” yang Glory mah dia suka pedas asin, kalo manis tidak suka dia., dan udah dikasih kok., ini buat kamu semua dimakan dan dipakai yah.” ujarnya. Glora tidak bisa menahan kebahagiaanya, jujur ini baru pertama kali ada yang memberikan ia oleh-oleh dan orang ada yang tau jika ia suka manis.


Glora benar benar bahagia meski hanya tindakan kecil begini.


“ terimakasih yah tante.” Ujarnya sayu.


Komala berdehem di sana. Panji terkekeh juga disana.”lain kali mampir kerumah om tante yah sama Glory. “ ujar Panji.


Glora mengangguk di sana.” Nanti tante masakin brownis buat kamu. Kata Glory kamu suka brownis yang coklat kan??? tante jago buatnya asal kamu tau. Nggak kan nyesal deh kerumah tante nanti.” Ujar Komala membujuk.


Glora mengernyit sejenak, dari mana Glory tau dirinya suka manis? Suka brownis dan suka makan brownis? Padahalkan mereka sudah lama berpisah, dan untuk beberapa hari ini selama Glory sampai ke sini ia tidak pernah makan brownis. Dari mana dia tau???


Tapi Glora tetap tersenyum.” Iya tante.” Jawabannya. Komala terkekeh melihatnya.


Tasya yang melihat interaksi itu tidak nyaman, baru kali ini ia melihat senyum Glora setulus itu tanpa tekanan, Faris pun merasakan hal yang sama, ada rasa sesal di hatinya. Lihat Glora bahkan tidak melihat mereka sama sekali. Dan sejak kapan juga Glora suka makan manis? Bukankah Glora ini sukanya makan pedas?? Sama seperti Glory?? Iyakan?


Tapi itu kan bukan urusannya.!!

__ADS_1


__ADS_2