Transmigrasi Twins Antagonist

Transmigrasi Twins Antagonist
30


__ADS_3

Glory diam duduk di dalam kelasnya, jaket yang ia kenakan tak ia lepas karena meraa dingin, sangat dingin jika begini ia cukup hangat.


Mengingat semua yang Aksa lakukan membuat dirinya berfikir, alur tetap berjalan meski dirinya ada. Aksa lebih memmpedulikan Aruna dan dirinya tetap menjadi figuran. Glory ingat jika Aksa nanti akan mengnsumsi obat terlarang juga akibat dari depresi berat tak bisa memiliki Aruna.


Aksa yang melihat Aruna bersama dengan Dava menikah diusia muda, membuat Aksa memasuki pergaulan bebas, memasuki Clubing dan mengonsumsi yang tidak seharusnya ia konsumsi, jadilah dirinya menjadi liar dan bebas, apalagi tak ada bimbingan dari orang tua disini semakin membuat jiwanya menjadi liar.


apakah dirinya bisa mengubah alur? membuat Aksa selamat dan juga Glora keluar dari takdir buruknya.


Glory akui jika dirinya tidak peduli pada takdir orang lain, tapi dia tidak bisa diam saja rasanya saat melihat secara langsung. semua terlalu jahat jika tetap diam...


Plak..”Astaga..!” Glory memegang dadanya merasa dirinya kaget. Ia menatap kebawah melihat apa yang mengenai dadanya ternyata spidol, ia mendongak menatap guru menatapnya tajam.


Glory diam menjadi takut. ia melamun lupa ada mata pelajaran.” Siapa yang memperbolekah menggunakan jaket saat mata pelajaran? Dan mengapa melamun di jam Maya pelajaran?” Tanya Guru dingin.


Suasana sangat mencekam karena memang guru ini bernama pak sigit. Guru matematika paling menakutkan disekolah, kepala botak dengan tinggi 180cm menambah kadar dirinya berwibawah. Glory menggeleng pelan melirik.” Anu pak, saya kedinginan mangkanya makek jaket dan, melamun, saya hanya berfikir....iya.” Jawab Glory pelan. jantungnya terasa lebih cepat terpacu.


Pak sigit menatapnya melotot.” Kamu gilak? Kamu pikir saya percaya? Ini kelas memang menggunakan AC Tapi tidak sedingin itu sampai kamu pakai jaket, didalam sini saja orang-orang harus berebut oksigen jadi AC kurang terasa. Apa tadi kamu bilang? Berfikir? Kamu memikirkan apa ha? Mikir anak dirumah sudah di susu atau belum? Atau mikir suami yang direbut pelakor sampai tidak mendengarkan saya menjelas?” suara tawa nyarring terdengar dikelas akibat ejekan pak sigit.


Suara besi yang berbenturan dimeja terdengar keras membuat semua yang dikelas terdiam. Glory diam mendongak menatap pak Sigit.


Nando dan Nanda menatap Glory dengan tatapan miris. Glory menghela nafas.


“Jawab...!!”


Glory menggaruk pipinya pelan menatap pak Sigit takut. Bingung mau jawab apa.


“Nggak bisa jwab? Silahkan keluar.. keliling lapangan sepuluh putar, dan Azka ketua kelas awasi dia. Jangan sampai ada kebohongan. CEPAT..!!” Tegas pak Sigit.


Glory bangkit dengan takut mengangguk. Pak sigit menatapnya tajam.”Kenapa masih pakai jaket? BUKAA,..!! JANGAN KAYAK ORANG HAMIL KAMU..!” Tegasnya pelan.


Glory segera mebuka jaket miliknya pelan merasa takut. ia melangkah memegang tangan Nando untuk segera bergeser supaya dia bisa lewat.


Nando tertegun, tangan Glory memang sedingin itu. ia menatap Glory khawatir menatap pak Sigit.”Pak Glory memang benar-benar kedinginan. tangan diia dingin banget.” Ujar Nandoo khawatir menatap Glory melangkah kedepan.

__ADS_1


Pak sigit menatap nya tajam,.”Mau gantiiin dia dihukum kamu?!” Tanya Pak sigit tegas dan keras. Nando diam melirik Glory. Glory menggeleng tersenyum kepadanya. Nando menatapnya dengan lirih.


”Biar saya pak..!” Regas Nanda yang bangkit segera mendekati Glory. Nanda yang sedari tadi menyaksikan tak tega. Dia tau jika kembarannya tidak pernah berbohong.


Pak sigit mendengar keduanya mengepalkan tangan.,”Kalian semua keluar. Saya hukum kalian. Azka awasi semuanya. Dan kamu Glory. Kamu membuat kelas saya kacau saya tambah kamu 15 keliling..!!”


“Pak bag—“


“ Berami bantah kamu ha?!!” Pak Sigit membanting besi penggaris yang dia pegang ke lantai.


Suara yang membuat murid menutup telinga, nanda dan Nando diam melangkah keluar bersama Glory. Azka yang disuruh pun ikut keluar karena ingin menyawasi mereka.


Akza sebagai lelaki teladan diam dibelakang. Lelaki berparas tampan dan juga baik-baik saja menggunakan kaca mata itu diam mengikuti Glory dibelakang. Nanda nan Nando mengikuti Glory segera menahan tubuh Glory. Glory menatap Nando dan Nanda tersenyum kecut.


“Loe enggak apa-apa Na?”Tanya Nando lirih memegang tangan Glory sangat dingin.


Glory menggeleng pelan. dia memang tidak apa-apa tapi entah kenapa suhu tubuhnya sanat dingin, Nanda yang berfikir itu efek semalam Glory pulang kemalaman menjadi diam mengusap tangan Glory.”Nanti kamu keliling dua keliling saja supaya tubuh kamu hangat yah.” Ujarnya pelan. Glory mengangguk pelan menatap Azka.


Azka diam ditatap Glory pun bingung. Nanda memegang tangan Azka untuk menyentu tangan Glory. Azka kaget saat dirinya ditarik, tetapi lebih kaget saat merasa tangan Glory seperti es saking dinginnya. Ia segra menarik tangan menatap Glory khawatir. “Loe enggak apa-apa Na?”Tanyanya khawatir memegang pipi Glory. Lebih dingin membuat Azka kaget.


Dan itu membuat hatinya merasa hangat dan lembut.


Azka menatap Glory lirih.”Yaudah Na, loe enggak usah lari biar gue bilang sama pak Sigit loe udah lari aja nanti, tapi loe lari sekeliling aja yah biar nanti nggak keliatan banget gue boong. “ Ujar Azka lirih.


Glory mengangguk pelan membuat ketiganya slaing tatap mengangguk melangkah kearah lapangan.


Glory duuduk di kursi didekat lapangan bersamaan Azka. Nanda dan Nando terlihat berlari. Glory merrasa tak enak kepada kedua temannya. Azka melangka pergi sebentar lalu kembali dengan Teh hangat ditangannya.


" Dari mana?" Tanya Glory lembut pada Azka. Mereka memang bukan teman tetapi Glory tidak pilih teman.


“Tadi gue ke UKS buat ini. minum yah biar loe anget.” Ujar Azka pelan memberi Teh tersebut.


Glory tersenyum mengangguk.”Makasih yah.” Jawabb Glory mulai meminum teh tersebut.

__ADS_1


Enak.. Tapi terlalu manis...


Azka tersenyum mengangguk menatap Nanda dan Nando yang berlari sambil tertawa, Glory jadi ikut tertawa. Haha dunia novel ini terasa nyata bagi dirinya. Apakah ini ilusi atau bagaimana?


“ Disini panas banget, disana aja teduh.”Azka menunjuk kearah bangku penonton yang dingin.


Glory menggeleng.” Disini aja soalnya biar bisa hangat,.”Ujar Glory. Azka mengangguk paham mencoba memahami Glory meski dirinya terasa sangat panas.


Glory diam merasa jika tubuhnya menjadi tambah dingin saat ini. ia diam menatap kedepan mengabaikannya. Sampai pada mereka semua sudah selesai baru Glory memilih pindah duduk membelikan minum untuk keduanya. Tepat saat itu bel berbunyi.


"Kita langsung aja ke kantin yuk.. gue teraktir hehe sebagai permintaan maaf gue dan juga sebagai terimakasih karena udah mau bantu gue.” Ujar Glory pada ke tiganya.


Nando dan Nanda yang memimnum minumannya mengangguk. Baju mereka sudah terbuka menampilkan kaos putih saja karena keringat dan panas “Boleh Na hehe.” Ujar Nando cengengesan..


Nanda menggeplak kepada kembarannya.”Makanan aja cepet.” Nnado hanya menatap Nanda mengejek.


Nanda mendenggus menatap Gllory. Glory terkekeh disana tersenyum menatap keduanya..


" Tapi gue ke ruang pak Sigit dulu yah buat laporan." Ujar Azka canggung.


Nando dan Nanda mengangguk. " Santai Man. kita tunggu yah disini. kami juga lagi mau istirahat." Ujar Nanda menepuk bahunya.


Azka mengangguk tersenyum tipis. Tidak buruk juga mereka.


.


.


.


.


Novel ini cukup santuy jadi jangan nanya konflik yah hehehe.... Nanti ada yah tapi ga berat.

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya yah!


__ADS_2