Transmigrasi Twins Antagonist

Transmigrasi Twins Antagonist
39


__ADS_3

Mata Glory terasa berat dan panas, ia sudah bangun sedari sepuluh menit yang lalu tetapi tidak membuka bola matanya. kepalanya terasa sangat sakit, nyawanya terasa terpisah mengambang diawan, ini nyata yang Glory rasakan., apa ini salah satu efek karena jiwa dan tubuh ini memang bukan satuannya Glory tidak tahu.


Glory memaksa diri membuka mata yang terasa berat. Saat membuka mata ia sudah dapat mellihat Nanda yang duduk di sisinya memegang tangannya sendu. Glory terasa lemas hendak bicara terdiam saja mnenggerakkan tangan yang terasa enggap.


Nanda yang merasa ada pergerangan Glory memagap Glory yang sadar, wajahnya terlihat sangat pucat dan lemas.” Loe udah sadar Na. yaampun bentar gue panggil dokter..!!” Nanda memilih keluar meninggalkan Glory.


Glory diam merasa jiwanya masih belum menyatu, sangat lemas. Dadanya terasa terbakar membara. Berselang beberapa menit dokter sampai beserta satu perawat dan Nanda dibelakangnya. Glory kenal dan ingat tetapi tubuhnya sangat lemas.


Dokter Haris, kalian ingat dokter Haris? Yah dia dokter kepercayaan keluarga Faris ayah Glory yang asli. Haris mengecek nadi milik Glory dan juga mengecek beberapa bagian tubuh Glory.


Nanda diam melirik Glory dan Dokter bergantian panic. Haris mengangguk menyuruh perawat untuk melambankan infus milik Glory. “Tidak ada yang salah dengan tubuh kamu atau organ tubuh kamu. Tapi kenapa tubuh kamu sangat lemah, bahkan saya sulit mendeteksi nadii kamu.” Ujar Haris pelan pada Glory.


Glory diam memejamkan matanya. dirinya terlalu lemah tak mampu bicara. Haris mengecek nadi Glory lagi.”Kamu masih sangat lemas. Coba lihat ini angka berapa.”Haris menunjukan angka dua.


Glory menatap lemas dan mengangguk.”Dua.”Bisik Glory pelan.


Haris menghela nafas melirik Nanda yang diam saja. Azka, dan Vani didepan menatap mereka khawatir. Nando? Ia kembali ke sekolah untuk izin dan membawa semua tas yang tertinggal. Haris mengambil air putih membantu Glory minum. Glory meniurut saja dan minum dengan pelan.


“Bagaimana keadaan teman saya dok?”Tanya Nanda tak tahan bertanya. Haris melirik Nnada dan tersenyum.”Teman anda baik-baik saja. Seperti yang saya katakan, penyakitnya tidak terdeteksi, tetapi ia memiliki tubuh yang sangat lemah, apalagi tekanan darahnya sangat rendah, ia sudah mengeluarkan banyak darah sedari kemarin dan stress ringan menambah rusak pertahanan tubuhnya.”Ujar Haris pada Nnada,,


Nanda mengangguk melirik Glory yang sudah berusaha untuk membuka mata.” Saya baik dok.”Bisik Glory. Tangan Glory terlihat gemetar.


Nanda menahan tubuh Glory.” Tol0l banget si. Kalo sakit diem jangan sok kuat.” Tekan Nanda. Glory diam melirik Nanda sendu.


Haris tersenyum melirik keduanya.”Lebih baik kalian biarkan nona Nana untuk kembali istirahat. “ Nnada melirik Haris tak terima.


Tetapi melihat kondisi Glory yang lemah ia hanya pasrah mengikuri saja. Nanda mengangguk keluar bersamaan dengan Haris dan perawat meninggalkan Glory yang merasakan tubuhnya sangat lemah. Glory memilih tidur untuk memulihkan tubuhnya.. ini bukan pertama kali Glory masuk rumah sakit. Sudah berkali-kali dan penyakitnya tak bisa disimpulkan. Glorry menetapkan jika tubuh ini lemah karena memang jiwa yang tidak menyatu. Seharusnya tubuh ini sudah membusuk,


Aksa melangkah cepat memasuki rumah sakit, menatap nanar sekeliling ruangan mencari ruang mawar 231 milik Glory yang ia Tanya di meja repsionis tadi. Sesaat matanya bersitubruk dengan mata Nanda yang keluar dari ruangan, disana juga ada Vany dan Azka sekelas dengan Glory. Langkah Aksa melangkah cepat menuju mereka bertiga.

__ADS_1


“Gimana Glory?” Nafas Aksa naik turun mendekati Nanda yang menatap dirinya sulit diartikan.


Bugh... Kyaaa..


Vani teriak menatap Aksa yang dipukul keras oleh Nanda. Aksa dipukul dirahang terduduk memegang rahang yang memang sudah sakit akibat dipukul Dava. Nanda diam mendengus meninggalkan Aksa. Azka menarik Vani untuk pergi meninggalkan Aksa. Aksa diam menatap sendu mereka yang pergi. Ia hanya sendiri melirik ruang sang adik tangan Aksa terkepal. Memang salahnya, karena ia adiknya jatuh sakit.


...----------------...


Jam menunjukan pukul tujuh malam, tapi ruang Glory sangat sepi karena semua temannya sudah pulang. Glory diam menatap jam yang berdetak. Di sisinya ada bubur encer. Glory tidak suka. glory berdecap turun dari kasur melepaskan infus ditangannya cepas membuat darah menetes. Glorty diam mengabaikan nya mengambil tas miliknya yang disana. ia tak betah disini.


“ Mau kemana kamu?”Glory tertegun kaget saat Haris memasuki ruangan miliknya membawa plastik.


Glory menggeleng.”Mau pulang aja dok. soalnya saya nggak tahan lama disini.”


Haris diam melirik Glory.” Tunggu in- Loh infus kamu kok udah dicabut?”Haris menyentuh tanhgan Glory yang berdarah.


Glory tersenyum.”Sakit dok pakek infus. Saya mau pulang.”Ujarnya lirih.


Glory mendengarnya mengangguk saja. Haris ikut melangkah di samping Glory. Glory diam melirik ruangan demi ruangan yang dilewatkan.”Dimana keluargamu?” Glory melirik dokter Haris yang menatap dirinya dan bertanya.


Glory tersenyum.” Di kampung dok, saya disini Cuma sama abang saya skeolah.” Jawab Glory jujur.


Haris mengangguk melangkah mengikuti langkah Glory,”Dimana abang kamu? Dia tidak menemai kamu yang sakit memang?”Tanya Haris pelan.


Glotry menggeleng Tapi dia terdiam sesaat melihat satu ruangan yang terdengar gelak tawa yang keras dengan pintu terbuka. Glory menatap sendu dari dirinya berdiri. Haris yang melihat Glory yang menyendu memegang tali tasnya erat menatap dimana tatapan Gloty jatuh. Disana ada sekelompok orang yang tertawa bersama satu gadis yang sedang di suapi makan.. oleh lelaki tampan.


“kamu kenapa? Kenal?”Tanya Haris pelan pada Glory.


Glory memalingkan wajah, tersenyum.” Nggak. Yok dok pulang.” Ujar Glory. Glory menghela nafas melangkah meninggalkan Haris yang menatap titik tatapan Glory tadi. Sosok yang terluka duduk tertawa bersama yang lain disana. apa itu kekasihnya Glory?

__ADS_1


Haris menggeleng memegang tangan Glory


Glory menatap Haris sendu.”Jangan lari-lari. Nanti kamu jatuh lagi, kamu masih sangat lemah.”Ujar Haris pelan.


Glory mendengarnya tersenyum lebar mengangguk.”Dok, dokter sudah menikah?”Tanya Glory riang melupakan kejadian tadi.


Haris menggeleng.”Belum. "


“Loh kenapa? Umur dokter sekarang berapa?”Tanya Glory polos.


Haris terkekeh.”Umur saya 37tahun, belum menikah yah saya tidak mau nikah.”Ujar Haris yakin.


Glorry mencebikkan bibirnya.”Duh bukan nggak mau nikah tapi belum menemukan orang yang tepat saja.,” Ujar Glory memngangguk yakin.


Haris menggeleng.” Dan saya tidak berniat menemuinya .” Haris terkekeh.


Glory melipatlan tangan diatas dada menatap Haris.”Tapi jika Tuhan yang mempertemukan bagaimana? Nanti dokter minum ludah sendiri loh.” Ujar Glory mengejek.


Haris mengusap kepala Glory terkekeh.” Tuhan yang mana si Ra?? Dan saya tidak ada niatan untuk dipertemukan jadi berhenti biara pernikahan oke.” Ia terkekeh pelan menatap wajah Glory yang cemberut.


“ Emang dokter mau tua sendirian?” Tanya Glory mengejek.


“Iya nggak apa –apa, saya niatnya diatas umur 60tahun disuntik mati saja. Saya tidak berniat untuk umur panjang.” Jawan Haris santai.


Glory tertegun mendengar ungkapan Haris. Terdengar santay tapi itu mengerikan bagi Glory. Glory melirik Haris yang diam saja. Ada apa dengan dokter satu ini? macam tak nak hidup saja. Bukankah semua orang mau umur panjang.


.


.

__ADS_1


.


...Sorry gess baru Up.... Tinggalkan jejak yah!...


__ADS_2